Category Archives: Poem

Great Man by Thomas Carlyle

Bagi bangsa Arab
Kelahiran Muhammad adalah kelahiran

dari kegelapan kepada cahaya
Arabia untuk pertama kalinya hidup karena kehadirannya
Bangsa-bangsa gembala yang miskin yang terasing di sahara
            sejak terciptanya dunia
Seorang nabi pahlawan dikirimkan kepada mereka
Dengan firman yang mereka percaya
Lihat bagaimana gembala-gembala yang tak dikenal

menjadi penguasa dunia
Bangsa yang kecil tumbuh menjadi bangsa yang besar

Dan dalam satu abad sesudah itu,
Arabia memanjang sejak Granadha sampai New Delhi
Cemerlang dalam segala cahaya dan kebesaran
Arabia menyinari abad-abad yang panjang pada bagian besar dunia

Imam memang besar dan memberikan kehidupan
Sejarah satu bangsa menjadi tumbuh subur
Menaikkan jiwa besar
            segera setelah bangsa itu percaya kepada orang Arab ini
Orang ini -Muhammad- dan satu abad saja

Bukankah ini sebuah percikan yang jatuh dari langit
Kepada dunia padang pasir yang tidak dikenal dan kelabu
Dan lihatlah, padang-padang pasir itu berubah
            menjadi amunisi yang meledak
Dan sinarnya naik ke langit, sejak Delhi hingga Granadha

And I said: the great man always acts like a thunder. He storms the skies, while others are waiting to be stormed

(mengutip ucapan Thomas Carlyle dalam bukunya Helden en Helden Vereering)

Hanya Ali,

Kesederhanaan menjadi istimewa bukan karena orang yang tidak bisa hidup mewah, namun karena orang yang bisa menikmati kekuatan, kemewahaan dan pemujaan, memilih hidup tanpa itu semua.

Tanpa Ali, kita tidak bisa menikmati kesederhanaan yang mulia..

Kerendahan hati dan kejelataan menjadi istimewa, bukan karena orang yang memang berada dalam lapis terendah dalam struktur masyarakat, namun karena orang yang tidak mempertahankan kekuasaan dengan keculasan meski mempunyai semua alas an untuk mengambil dan mempertahankan kekuasaan dengan keberanian dan keunggulan ilmu..

Tanpa Ali, pengorbanan hanya sebuah cerita tanpa fakta..

Keteraniayaan dan derita menjadi istimewa bukan karena memang orang yang tanpa daya, namun karena orang yang memenuhi semua syarat keunggulan, harus rela menjalani proses hokum alam dengan semua deritanya hanya karena dia harus menjadi contoh keteraniayaan dan perlawanan.

Tanpa Ali, kita tidak akan menemukan manisnya “derita”..

Kesendirian dan keterpinggiran menjadi istimewa bukan lantaran memang orang yang tak diperhitungkan atau lemah, namun karena orang yang selalu bisa menenggelamkan setiap orang karena pesona dan wibawa, namun memilih jubah kepapaan dan beralas tanah demi mengkerdilkan ketenaran, pemujaan dan gemerlap dunia.

Tanpa Ali, romantika keterpinggiran adalah ketololan pecundang semata..

Kedermawanan dan kepedulian menjadi istimewa bukan lantaran orang yang berderma dengan sisa atau setelah memastikan bagiannya tak ikut didermakan , bahkan kadang bila pamrih menjadi balasannya, namun karena orang yang memberikan apa yang diperlukan demi menghentikan raungan lapar dan cekikan dahaganya.

Tanpa Ali, kedermawanan mungkin hanyalah fatamorgana..

 

- Dr.Muhsin Labib (Moderate Institute)

 

 

Lesson From The Rain

ALLAH Maha Perkasa.
Ditunjukkan-NYA peringatan untuk takut kepada-NYA melalui gelegar halilintar.
ALLAH Maha Lembut.
Dilimpahkan-NYA rahmat ke jagat raya melalui tetesan butir-butir air hujan.

Hujan Di Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu
(Sapardi Djoko Darmono)

>>

>>

Soe Hok Gie : Puisi Terakhir

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah.
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza.
Tapi, aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku.
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal, dan lucu.
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mendalawangi.

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang.
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra.
Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku.
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya.
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu.

Mari sini, sayangku.
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku.
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung.
Kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita takkan pernah kehilangan apa-apa.

(CSD, Selasa, 11 November 1969)

Semesta Rindu

“Setiap mukmin punya dua tanah air; tanah lahirnya dan tanah suci.”

Saya pernah mendengar kutipan di atas beberapa tahun silam.
Kabarnya, ia bersumber dari hadis shahih.
Saya sendiri belum pernah membaca teks asli atau menemukan sumbernya.
Tapi, sepertinya, ia berkata teramat tulus.
Ia bercerita tentang kerinduan yang dimiliki oleh setiap insan.
Nun jauh di kedalaman hatinya, tersimpan selalu kerinduan: pada tanah lahir dan tanah yang disucikan.
Sebagaimana kita merindukan tanah lahir sekiranya dijauhkan,
sebagaimana kita menginginkan pulang setelah lama di perantauan,
sebagaimana kita mendambakan kehangatan keluarga setelah terpisahkan,
seperti itu juga kerinduan dalam hati seorang mukmin terhadap tanah yang penuh keberkatan.

Tanah suci adalah perlambang kemurnian dan kedamaian. Tanah suci juga simbol pelarian.
Bayangkan dunia yang sudah dijejali dengan beragam kesibukan, sederet beban, dan setumpuk permasalahan.
Ingin rasanya menjerit di tengah kerumunan. Ingin rasanya lari sejenak untuk mencari ketenangan.
Ingin rasanya kembali ke dekapan hangat yang penuh dengan kasih sayang.
Ingin rasanya keluar dan menyadarkan diri ini, bahwa dunia dan sekitarnya hanyalah sementara;
bahwa perjalanan yang sesungguhnya bukanlah perjalanan raga, melainkan perjalanan jiwa.
Karena itu, amatlah layak bila kita sesaat meluangkan waktu untuk membina jiwa.
Bukankah seumur hidup telah kita curahkan untuk kebaikan raga?
Tidakkah Dia Yang MahaPengasih senantiasa melimpahkan anugerahNya bagi kita?
Sudahkah ungkapan syukur kita haturkan, dengan bersimpuh penuh seluruh,
di bawah lantai pualam rumahNya yang diagungkan?

Ya Allah, inilah hamba-hambaMu yang mengakui seluruh limpahan nikmat, tetapi membalasnya dengan alpa dan maksiat.
Inilah pengakuan orang yang memohonkan perlindungan kepadaMu dari api neraka.
Ya Allah, anugerahkan pada kami kesempatan, untuk kembali kepadamu sepenuh jiwa,
yakin pada ketentuanMu, tenteram pada pemberianMu, pasrah pada kepastianMu.
Bantu kami mematrikan niat, getarkan lidah kami untuk berjanji sepenuh tekad, di depan rumah kebesaranMu,
di altar suci manusia terpilih sepanjang sejarah, di bawah naungan bendera Rasulullah Saw.

Kerinduan yang kedua di tanah suci, adalah kerinduan pada Rasulullah Saw.
Kerinduan pada sang utusan. Kerinduan pada senyumnya yang menenangkan.
Betapa bahagianya bila diri ini dapat memandang wajahnya.

Ya Allah, inilah kami yang beriman kepadanya tanpa sempat memandang wajahnya.
Anugerahkan pada kami di dunia kesempatan berziarah kepadanya,
dan di akhirat duduk dengannya, bermajlis bersamanya, bercengkerama di kehadirannya.
Rindu kami padamu, Ya Rasul.

Rindu kami padamu, Ya Rasul.
Kepada siapa kami berlari, mencurahkan segenap duka diri.
Kepada siapa kami menghadap, berbagi segala cemas dan harap.
Engkaulah yang dirindukan mentari ketika bersinar pagi. Engkaulah yang membahagiakan hati.
Engkaulah yang kini terbaring dipeluk bumi.
Betapa bahagianya, bila dapat kusampaikan salam kepadamu di samping bumi Madinah yang memeluk jasadmu.

(Rindu Rasul)

Tak Sepadan;

>>

>>

Tak satu juga pintu terbuka. Jadi baik kita padami, unggunan api ini.

(Tak Sepadan – Chairil Anwar)

Sapardi Djoko Darmono : Angin 3

Seandainya aku bukan …..”
Tapi kau angin !
Tapi kau harus tak letih-letihnya beringsut dari sudut ke sudut kamar, menyusup celah-celah jendela, berkelebat di pundak bukit itu

“Seandainya aku …..”
Tapi kau angin !
Nafasmu tersengal setelah sia-sia menyampaikan padaku tentang perselisihan antara cahaya matahari dan warna-warna bunga

“Seandainya …..”
Tapi kau angin !
Jangan menjerit, semerbakmu memekakanku.

Happy Birthday Adrian Yunan Faisal

 

Demi rupa, cahaya, dan warna.
Tiada celah bagi gelap untuk bertahta.
Denting itu berharga. Detak bertumpu hentak.
Mengawang, menengadah, tanpa tatapan. Hanya rasa, menyala.
Tak dayapun beban itu.
Hadirkan pada rindu, dia lakukan.
Lihat, dia adalah Sebelah Mata.

>>

>>

>>

Sebelah mataku yang mampu melihat
Bercak adalah sebuah warna-warna mempesona
Membaur suara, dibawanya kegetiran
Begitu asing terdengar.
Sebelah mataku yang mempelajari
Gelombang ‘kan mengisi seluruh ruang tubuhku
Terbentuk dari sel akut
Dan diabetes adalah sebuah proses yang alami.

Tapi sebelah mataku yang lain
Menyadari gelap adalah teman setia
Dari waktu-waktu yang hilang
(Sebelah Mata – Efek Rumah Kaca)

Untuk seluruh kebahagiaan, untuk segenap keberkahan,
semoga ALLAH selalu menyertakan anda didalamnya.

>>

>>

 

 

#pictures : here, here, here. Edited by me.

Pledoi Ghadir Khum

Demi Tuhan, awan, dan halilintar
Jubahku dipakai gelandangan
Puisiku dibaca orang-orang gila

Siapa rajawali ? Siapa kurcaci ?
Siapa ksatria ? Siapa pecundang ?
Mana mawa ? Mana gulita ?
Mana sabda ? Mana tipudaya ?

Perih, debu di mata
Nyeri, duri di rongga
Sesak, batu di dada

Mestikah kutabuh gendering perang ?
Niscaya iringan keranda bersambung

Mestikah kutari-tarikan pedang ?
Dan teriakan penari perut membumbung

Mestikah kuterjang ?
Lalu umat Muhammad kan terberai

Aku hela nafas
Aku tengadahkan paras
Aku labuhkan jiwa
Aku patahkan pedang sebilah
Aku serahkan pada sejarah

>>

.. The Investiture of Ali at Ghadir Khumm ..

source
>>

Poem Source : What Happened in Ghadir Khum ? (Muhammad Baqir Ansari)
Published by :Al-Huda Publishing

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.