Category Archives: Story Telling

Kemana Hak Pilih Saya?

Di atas adalah foto TPS (Tempat Pemungutan Suara) di depan rumah saya. Yang ironi, adalah bahwa saya dan 3 orang lainnya di rumah saya (rumah yang paling dekat dengan TPS) tidak mendapatkan surat panggilan untuk memilih. Saya mencoba mempertanyakannya kepada petugas desa yang berwenang, mereka bilang memang banyak yang tidak terbagi. Karena keinginan kuat saya untuk menggunakan hak pilih, saya pun membawa kartu tanda penduduk Bandung, tapi ternyata tetap tidak diperbolehkan menggunakan hak pilih. Tentu ini tidak fair, karena itu berarti mereka tidak mampu menunaikkan hak bagi yang seharusnya menerima hak pilih itu. Saya paling tidak menyukai apabila hak pilih kita sebagai warga negara tidak tertunaikkan hanya karena birokrasi administrasi. Harusnya tidak ada alasan. Padahal orang mengatakan Bandung adalah kota berkembang bukan kota tertinggal. Padahal saya sangat ingin sekali berpesta rakyat seperti mereka.

Silahkan, yang terjadi, terjadilah.. tidak berniat membawa urusan ini ke wilayah komisi pemilihan umum.

Zam-zam Water in Masjidil Haram.

Zam-zam Water in Masjidil Haram.

Saya ingin bercerita sedikit tentang gambar ini.

Saya rindu berada di sana. Dikenyangkan oleh air zam-zam. Meminum airnya, berwudhu dengan airnya, dan pulang dengan kantung airnya untuk digunakan mandi. Alhamdulillah untuk nikmat air zam-zam.

Salah satu yang membuat saya menyesal adalah, karena keran air zam-zam yang paling dekat dengan Ka’bah itu berhadapan dengan Ka’bah, saya kerapkali membelakangi Ka’bah ketika mengambil air zam-zam. Rasanya sungguh tidak beradab.

Sampai ketika, suatu saat saya sedang mengambil air zam-zam , saya membelakangi Ka’bah. Seorang Irani (orang akan mengetahui jamaah Irani dari tas yang mereka kenakan), mungkin sebaya saya, mungkin.. mendekati saya, dan berbicara dengan bahasa Irani (?) diiringi dengan isyarat agar saya tidak membelakangi Ka’bah ketika mengambil air zam-zam dan meminumnya. Dia juga ‘memindahkan’ dengan tangannya sendiri gelas berisi air zam-zam di tangan kiri saya, dan meminta saya memindahkan kamera di tangan kanan saya ke tangan kiri saya, lalu memberikan kembali gelas tersebut ke tangan kanan saya. Saya tersenyum malu. Kemudian dia memeluk dan mencium pipi saya. Masha ALLAH, how beautiful she is. She is a goddess.

Kemudian saya duduk di salah satu lantai masjid. Tidak lama kemudian dia kembali menghampiri saya. Di tangan kanan saya adalah sebuah buku doa warisan dari Imam Ali Zainal Abidin. Dia meraih tangan saya melihat buku yang saya bawa. Kemudian dia berbicara dengan bahasanya. Ada beberapa kata yang saya dapat tangkap (walaupun saya tidak akan menguraikannya di sini). Lalu dia meraih buku saya, mencium buku tersebut dan kembali memeluk saya dengan penuh persaudaraan.

Alhamdulillah atas dikirimnya ‘malaikat’ dalam hidup saya.

So, this is my new ring.. Hurray!

So, this is my new ring.. Hurray!

Kenapa dipakai di jari telunjuk ?

Tidak di jari kelingking karena terlalu kebesaran untuk di jari kelingking. Tidak di jari manis karena…. saya sedang menunggu seorang laki-laki yang akan saya cintai untuk saya izinkan memasangnya di jari tersebut, lol. Tidak di jari tengah karena orang tua saya bilang; memakai cincin di jari tengah itu simbol keangkuhan. Tidak di ibu jari karena… bukankah akan terlihat aneh memasang cincin di ibu jari ?

Akhirnya saya pilih di jari telunjuk.. Seorang teman bilang, seseorang yang memakai cincin di jari telunjuk itu seperti memberi kode antar penyuka sesama jenis. Saya berusaha untuk tidak peduli…

Alhamdulillah for everything.. :)

Pangeran Diponegore (RA)

Pangeran Diponegore (RA)

Patung Pangeran Diponegoro di Depan Benteng Van Der Wijk, Gombong, Jawa Tengah.

Spirit Al-Husain menjadi semangat pendorong bagi laskar Diponegoro dalam melawan kolonialisme Belanda, dengan pekikan slogan dari pangeran Diponegoro, seperti yang tertulis dalam Babadnya oleh R. Ng. Yosodipuro II:

“Den siro poro satrio nagari metaram nagarining Jawi hingdodotiro, sumimpin watak, wantune Sayyidina NGALI, sumimpin kawicaksanane Sayyidina KASAN, sumimpin kakendelane Sayyidina KUSEN. Den seksenono, hing wanci SURO, LONDO bakal den siro sirnaake soko tanah jawa. Krana sinurung pangribawaning para satrianing MUKHAMAD yoiku NGALI, KASAN, KUSEN. Siro podho lumaksanana yudha kairing takbir lan solawat, yen siro guguring bantala cinandra, guguring sakabate sayyidina KUSEN ing NAINAWA (KARBALA) sira kang wicaksana hing yudha, pinates tampa sesilih Ali Basya”

“Wahai kalian para ksatria negeri Mataram Negeri Jawa di hati kalian, dipimpin oleh watak keberanian Sayidina Ali, Dipimpin oleh kebijaksanaan Sayidina Hasan, dipimpin keberanian Sayidina Husain. Saksikanlah, pada saat bulan Muharram (Suro), Belanda akan kalian sirnakan dari Tanah Jawa. Karena didorong oleh kewibawaan para Ksatria Muhammad yaitu Ali, Hasan, Husain. Laksanakanlah perang, dengan iringan Takbir dan Shalawat. Jika kalian gugur dalam berperang, maka kalian akan gugur seperti gugurnya Sahabat Sayidina Husain di Nainawa (Karbala). Engkau yang bijaksana dalam peperangan, pantas mendapat julukan Ali Basya”

Maulidur Rasulallah (sawa) in my village, Kuningan.

>>

Image

>>

Keluarga besar saya berasal dari Palembang, saya lahir di Jakarta. Karena masalah politik, akhirnya saya dan keluarga kerapkali berpindah-pindah. Saya menghabiskan masa kecil saya di sebuah desa di Kabupaten Kuningan.

Di masjid tempat tinggal saya sewaktu kecil itulah saya mengaji. Hari yang terasa seperti hari raya selain dari Idul Fitri dan Idul Adha bagi masa kecil saya  adalah hari Kelahiran Rasulallah (sawa). Bapak-bapak membacakan kidung puji-pujian kepada ALLAH dan bershalawat sepanjang hari di mesjid. Lantunan shalawat itu akan diiringi oleh tabuhan rebana oleh mereka. Rangkaian shalawat dan tabuhan rebana itu di desa kami disebut Asyraqalan. Mungkin karena salah satu bait dari shalawat itu adalah :

Ya Nabi salam alaika, ya Rasul salam alaika

Ya Habib salam alaika, ya Rasul salam alaika

Asyroqol badru ‘alaina fahtafat minhul buduri

Mitsla husnik ma ro’aina, qottu yaa wajhassururi

Anak-anak dan ibu-ibu membawa mangkuk atau gelas berisi air dan bunga ke masjid untuk di simpan di dekat para orang tua (kebanyakan bapak-bapak)  melakukan shalawat. Bunga-bunga yang dimasukkan ke dalam mangkuk air biasanya serpihan bunga mawar, bunga melati, anggrek, dan dan bunga-bunga lain yang harum. Banyak pula yang menambahkan daun pandan ke dalamnya. Filosofinya, air tersebut mengandung berkah dari shalawat yang dibacakan di sekitar tempat tersebut, dan bunga di dalamnya adalah sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulallah (sawa).

Selain air bunga, beberapa orang juga membuat kantong makanan berisi nasi dan lauk-pauk, dan kue-kue tradisional. Daging sapi sangat mahal, kebanyakan lauk pauk utama adalah ikan yang diambil dari kolam mereka. Beruntung sekali apabila ada yang membuat kantong makanan dengan menu utama daging sapi. Kue-kue tradisional yang ditambahkan ke dalam kantong plastik beraneka ragam : bugis (pepais), opak, apem, leupeut, tape ketan, dan aneka macam penganan Jawa Barat lainnya. Adapula yang menambahkan uang lembaran 500 rupiah atau 1000 rupiah ke dalamnya.

Para pembuat kantong makanan itu percaya bahwa dengan bersedekah pada Maulidur Rasulallah (sawa) akan mendatangkan berkah. Oleh sebab itu, kantong makanan itu sendiri di kampung saya disebutnya berkat.

Setelah air bunga dibacakan doa, para penyimpan air bunga tersebut akan mengambilnya untuk dipakai membasuh wajah, berkeramas, atau mandi. Dan kantong makanan tersebut akan dibagikan kepada anak-anak yang mengunjungi masjid pada hari tersebut.

Saya mendapatkan foto ini dari ayuk saya yang tinggal disana. Alhamdulillah, sampai sekarang tradisi tersebut masih berlangsung. Kadangkala ingin kembali ke masa itu. Pagi-pagi mencari bunga segar, lalu mengurai helai-helai kelopak mawar dan melati, menyimpannya pada gelas, dan mengisinya dengan air. Membawanya ke masjid, dan berlomba agar gelas sayalah yang paling dekat dengan Bapak-Bapak yang membacakan shalawat. Kemudian menunggu bapak-bapak selesai bershalawat, kami akan bermain di halaman masjid. Lalu Bapak-bapak akan memanggil kami untuk berdoa bersama setelah selesai bershalawat, dan acara terakhir mengambil air bunga dan mengantri untuk mendapatkan berkat.

SubhanAllah, saya pernah hidup dalam masa kanak-kanak di mana orang-orang sekitar dan orang tua menanamkan kecintaan akan Rasulallah (sawa) kepada kami. Terharu..

#mengusap air mata..

In The Night of Dec 24th

Sangat dapat merasakan kedamaian dan kasih yang ditebarkan saudara-saudara kita yang sedang memperingati rangkaian Hari Raya kelahiran Isa (as). Oh, I really love my Christian brothers and sisters.

Dan untuk semua yang malam ini pergi berdoa dan bermunajat di malam Misa, semoga anda rela menyertakan nama saya ke dalamnya. I really need it.

Wish you a merry Christmast, happy holiday, happy family gathering, hugs! <3

Bubur Ayam H. Oyo

>>

>>

Saya benar-benar tidak menyukai bubur ayam.
Ini pengecualian, karena seorang teman yang mengetahui kemarin saya agak tidak enak badan, membawakannya kepada saya, kemarin pagi.

Puji TUHAN untuk nikmat memiliki teman baik.. :)

Sebuah Narasi : Teladan Abadi Imam Ali Bin Hussayn (as) al Zainal Abidin as Sajjad

Alfatihaah ma’ash shalawat untuk syahadah cucunda Rasulullah : Imam Ali Zainal Abidin As Sajjad, pada hari ini, 25 Muharram.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun.. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadamu, pada hari anda dilahirkan, pada hari anda syahid dan pada hari anda dibangkitkan hidup kembali.

Syahadah ibunya Syahzanin, memulai rangkaian derita dalam kisah hidupnya. Pada usia empat tahun, ia menyaksikan kakeknya yang dicintainya pulang dari masjid dengan berlumuran darah. Dengan hati kanak-kanak yang masih bening, ia mendengarkan nasehat terakhir Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib, kepada ayah dan pamannya. Kata agung lafzul jalalah “Allah, Allah” yang diucapkan Imam Ali, berulang kali yang terucap di sela-sela pembicaraannya, tidak pernah hilang dari kalbunya.

Sejak usia dini, Imam Ali As Sajjad mereguk kefasihan bicara dan kesucian hati dari Imam Ali Bin Abi Thalib. Setelah Ali pertama dibaringkan di perut bumi Kufah, di atas bumi Madinah kaki-kaki kecil Ali kedua melangkahi jejak yang ditinggalkannya. Dunia tidak pernah kehilangan Ali yang berlidah fasih dan berhati suci.

Dengan telinganya sendiri, ia mendengar para penguasa dan ulama yang disewa menghamun maki kakeknya di mimbar-mimbar Jum’at. Padahal seluruh muslim pun tahu, kalau tidak karena buyutnya Rasulullah (saw) dan pedang Ali bin Abi Thalib, mimbar itu tidak akan berdiri tegak.

Dengan matanya sendiri, Ali kecil melihat upaya pamannya, Imam Hassan untuk menegakkan keadilan dihancur leburkan Muawiyyah. Para pengikutnya dipecah belah dengan ancaman dan godaan. Seorang demi seorang pengikutnya meninggalkannya, sebagian karena takut, sebagian karena dibeli. Ketika berusia 12 tahun, Ali remaja ikut menangisi syahadah pamannya, Hassan Al Mujtaba yang diracun istrinya Ja’dah binti Asy’ats atas perintah penguasa. Dari sinikah muncul istilah haram jadah ?

Ketika ia mengantarkan jenazah yang mulia untuk dikuburkan di samping pusara kakeknya Rasulullah, ia melihat muka-muka garang dan galak menentangnya. Mereka bukan saja menggertak dengan makian, mereka juga menghujaninya dengan anak panah. Ia melihat ayahnya Hussayn berusaha mengendalikan dirinya dan mengalihkan jenazah pekuburan ke Baqi. Kelak jenazah suci inilah yang termasuk satu di antara beberapa pekuburan yang paling banyak diziarahi di Baqi.

>>

image

>>

picture

Dari ayahnya ia belajar mengendalikan diri menentang kezaliman. Ia mengerti, bahwa jalan yang harus ditempuh Ahlil Bayt ditaburi duri pengkhianatan dari orang-orang terdekat, dan hujan anak panah dari musuh yang jauh.

Akhirnya, pada puncak kemudaannya, Ali Bin Hussayn menjadi saksi hidup dari tragedi terbesar umat Muhammad saw; Karbala. (setiap kali dikisahkan tentang tragedi Karbala, hati manusia mana yang tidak tergetar ? Kuduk siapa yang tidak merinding, merasa ngeri ?). Di sanalah pengkhianatan sahabat dan kelaliman musuh bergabung. Betapa beratnya mata memandang. Pemandangan di Karbala yang mengerikan, tidak pernah lepas dari mata hatinya.

Bagaimana mungkin ia melupakan bongkah-bongkah daging yang bersimbah darah tercabik-cabik; padahal itu adalah jasad-jasad ayahnya, saudara-saudaranya, karib kerabatnya, dan sahabat-sahabatnya? Siapa yang dapat melupakan jerit tangis keluarga Nabi saw yang dibiarkan kehausan dan kelaparan, di arak ratusan kilometer sebagai tawanan ? Ia yang menguburkan jasad suci ayahnya, saudara-saudaranya, tanpa kafan setelah 3 hari lamanya jasad-jasad suci itu terasing di Karbala.

Salam atasmu wahai Hussayn syahid di Karbala, salam atasmu wahai Abu Fadl Abbas pengambil air di sungai Furat yang terpotong kedua tangannya dan terpenggal kepalanya, salam atasmu para ruh syahid di Karbala. Sungguh seluruh makhluk di langit dan bumi menangisi kalian. Sungguh, betapa berat musibah yang menimpamu, wahai Rasulullah saw, kekasih kalbu kami.

Di sisa hidupnya, dua puluh tahun lamanya Ali Bin Hussayn menangisi Karbala. Setiap kali makanan dan minuman dihidangkan, ia menangis seraya “Bagaimana mungkin aku bisa makan, padahal Aba Abdillah dibunuh dalam keadaan lapar ? Bagaimana mungkin aku dapat minum, padahal Aba Abdillah dibunuh dalam keadaan haus ?” Kadang-kadang Ali berangkat ke pasar. Bila ia melihat tukang jagal yang akan menyembelih binatang, ia mendekatinya. Ia bertanya, “Sudah kau beri minumkah dia?” Jagal itu menjawab, “tentu saja duhai putra Rasulullah. Kami tidak pernah menyembelih hewan sebelum memberinya minum walaupun sedikit.” Tangis Imam pecah, seraya bergumam “Abu Abdillah disembelih dalam keadaan kehausan”.

Hatinya lembut, karena berbagai musibah yang mewarnai senarai doa-doanya. “Aku adukan derita dan dukaku kepada ALLAH”. Imam memilih mengungkapkan kepedihan hatinya dalam ibadat dan munajat. Ia basahi tempat sujudnya dengan air mata. Ia bersujud setiap kali selesai shalat, setiap selesai membaca Al Qur’an, sehingga begitu seringnya ia bersujud, sehingga gelar As Sajjad sang ahli sujud disematkan padanya. Maha Suci Allah, yang Tiada yang Suci Selain-Nya.

Wahai Dia yang tak tersembunyi bagi-NYA

Berita orang-orang yang menyampaikan pengaduan

Wahai dia yang tak memerlukan kesaksian para saksi

Untuk mengetahui kisah mereka

Wahai Dia yang pertolongan-NYA dekat dengan orang yang teraniaya

Wahai Dia yang pertolongan-NYA jauh dari orang yang menganiaya

Ia beribadat berlama-lama. Bekas-bekas shalat tampak pada bagian-bagian tubuhnya yang mengeras. Karena itu ia digelari Dzu Tsafanat, yang memiliki kulit yang keras. Ketika ia beribadah, ia tidak lagi berada di tengh-tengah kita. Ruang dan waktu sudah tidak mengikatnya lagi. Dia tidak beribadat karena pahala atau siksa. Ia beribadat karena cinta. Sosoknya menjadi keindahan para abid, dia menjadi Zainal Abidin.

>>

image

>>

Narasi sebagian besar dikutip dari Kata Pengantar Shahifah Sajjadiyyah : Gita Suci Keluarga Nabi. Shahifah Sajjadiyyah adalah sebuah karya suci dari Imam Ali Zainal Abidin. Inilah senarai doa dari seorang wali ALLAH, yang bukan saja mengajari kita menyampaikan keperluan kita kepada ALLAH dengan bahasa yang indah, tetapi juga membimbing kita ke dekat-NYA. Sebuah senarai doa yang sangat indah dan menggetarkan hati. Teladan dalam berdoa dengan mengangungkan setinggi-tingginya DIA yang kepadaNYA kita berdoa, dan merendahkan diri sehina-hinanya diri yang penuh dosa.

Jejak-Jejak Rasul : Masjid Nabi Nan Berwibawa, Nabawi.

>>

>>

Inilah satu dari sekian tempat suci bagi umat Muslim. Disanalah jejak-jejak Rasulullah terpatri. Disanalah rumahnya berdiri, di sanalah makamnya diziarahi, dan disanalah taman-taman surga. Berjalanlah kaki kita dengan penuh kerendahan di atas lantainya . Kita sedang berada di lantai yang masih terpatri jejak-jejak kaki Rasulullah di atasnya. Bayangkan di setiap jejak langkah kaki kita, Rasulullah pun pernah melangkahkan kaki di sekitarnya. Mungkin pula di sekitar tempat kita beritikaf, disanalah tempat Rasulullah pernah bermajlis dan berdoa. Begitu dekatnya kita dengan manusia terpilih yang disucikan Tuhan. Kita, yang telah dipisahkan oleh jarak yang begitu jauh dan rentang sejarah yang begitu lama. Layangkan pandang ke arah kubah hijaunya. Disanalah tanda sebuah tanah yang diberkati, menjadi tempat jasad sang Nabi dipeluk bumi.

Saya mencermati, bahwa pengertian masjid yang kita lihat sekarang di sekitar kita, tentu saja berbeda dengan pengertian masjid pada zaman Nabi. Jika masjid yang kita lihat sekarang adalah sebuah bangunan tempat shalat dan berdoa, dengan kubah di atasnya, dengan lantai di bawahnya, maka, menurut riwayat sejarah, masjid Nabawi zaman Nabi adalah bangunan di samping rumah beliau, tanpa atap, tanpa lantai. Pada zamannya, Nabi memang shalat di atas tanah. Beritikaf di atas tanah, berdiri di atas tanah, rukuk di atas tanah, bersujud menempel ke tanah. Bangunan tanpa atap, karena di sekitarnya masih tumbuh pohon-pohon kurma menjulang. Mungkin itu pula sebabnya bahwa tiang di di dalam masjid Nabawi berdiri tidak beraturan letaknya. Karena menurut riwayat, tiang-tiang itulah yang didirikan untuk men-situskan pohon-pohon kurma yang pernah tumbuh di sekitar masjid. Dan ALLAHlah Yang Maha Tahu kebenaran.

Menurut sejarah, Masjid Nabawi adalah masjid kedua yang dibangun Rasulullah di Madinah setelah Mesjid Quba. Pada awal pembangunannya, masjid ini berukuran sekitar 50m x 50m, dengan tinggi atap sekitar 3,5 m (Wikipedia). Rasulullah turut membangunnya sendiri bersama keluarga dan kaum muslimin di masa itu. Melekat pada salah satu sisi masjid, dibangunlah kediaman Rasulullah dan kediaman Sayyidah Fathimah & suaminya, sayyidina Ali Bin Abi Thalib. Ada pula bagian undakan, yang dahulu zaman Nabi saw, digunakan sebagai tempat sahabat yang tinggal di sekitar rumah Nabi saw, dan tidak memiliki tempat tinggal. Belakangan, para sahabat tersebut dikenal sebagai ahlus sufah (para penghuni teras mesjid). Masjid Nabawi terdiri dari banyak pintu, terpisahkan antara pintu masuk laki-laki dan pintu masuk perempuan.

Ada pula riwayat tentang taman-taman syurga di sekitar mimbar dan rumah Rasulullah.Rasulullah pernah bersabda ” Antara rumahku dengan mimbarku adalah taman dari taman-taman surga”.

Oleh karena itu, setiap harinya dari dulu sampai sekarang, setiap waktu, wilayah Raudhah selalu dipenuhi peziarah, yang berdoa dan melakukan shalat di sekitar Raudhah. Wilayah Raudhah ditandai dengan karpet berwarna hijau, dan hanya dengan izin ALLAHlah kita dapat berziarah kepada Rasulullah dan berdoa kepada ALLAH disana. Wilayah Raudhah bagi perempuan hanya dibuka pada waktu-waktu tertentu; sehabis Shubuh sampai sebelum Zuhur, sehabis isya sampai sebelum tengah malam. Sedangkan bagi laki-laki, wilayah Raudhah terbuka 24 jam.

Karena sulitnya mencapai Raudhah, seringkali para jamaah berebut untuk memasukinya dan hampir menyakiti yang lain. Alangkah indahnya, apabila kita dapat membantu orang lain dan memberi kesempatan kepada orang lain untuk dapat saling menjaga ketika shalat dan berdoa di Raudhah, di hadapan Rasulullah.

Semoga dengan kerelaan dan kepasrahan kita memasuki taman surga, Rasulullah menjawab salam kita dan menerima ziarah kita, dan dengan kedudukannya di sisi ALLAH, doa kita di-ijabah ALLAH.

Menutup mata, kita sedang berada di atas pemadani hijaunya, langkahkan kaki dengan penuh kerendahan, mendekat ke pusaranya. Inilah salah satu bangunan yang paling menggetarkan hati ketika berada di dekatnya. Ziarahilah beliau dengan penuh kerendahan. Ucapkan salam bagi yang terkasih dengan penuh sayang. Bayangkan bahwa ia sedang menatap peziarahnya penuh kasih dan penuh sayang. Kita yang mendapat musibah, karena terputusnya wahyu sepeninggalnya.

Salam bagimu, yang kelahirannya dinanti, dan kepergiannya ditangisi. Kami telah ditimpa musibah karena kepergianmu, wahai kekasih kalbu kami. Betapa besar musibah itu, karena wahyu telah terputus dari kami dan kami kehilanganmu. Maka, sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya jua kami akan kembali.

#foto diambil dengan terlebih dahulu memohon izin kepada beliau, dengan tujuan memelihara kerinduan akan beliau dan Nabawi

Hari ke 6 Muharram, 61 H

Yazid memerintahkan tentaranya untuk menghalangi akses Imam Hussain beserta kafilahnya untuk mendapatkan makanan, dan mengambil air minum dari sungai Eufrat, sedangkan mereka membebaskan hewan-hewan untuk meminum sepuasnya dari sungai tersebut.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.