Tag Archives: Adrian Yunan Faisal

ERK : Histeria | Sabuga. FH Unpad, May.22.2011

Melankolia
Menjadi Indonesia
“Gambang Suling”
Hilang
Sebelah Mata
Di Udara
Jalang
Desember

>>


>>


>>

>>

>>

Berapa kalipun menyimak mereka, saya sepertinya tidak akan pernah bosan. Padahal, hampir setiap ingat mereka, saya selalu memutar 2 keping itu.
Ketika menyaksikan mereka di atas panggung, euphorianya selalu semakin hebat dari waktu ke waktu.
Sudah sesering ini masih saja tak beretika meneriakkan nama-nama mereka sekencang-kencangnya dari barisan depan.
Pun meneriakkan setiap lirik dengan tanpa rasa malu, seolah sayalah yang paling ‘ERK’.

Dan ketika kami berada di satu lingkaran perbincangan di belakang panggung,
irama detak di hati saya akan bertambah cepat berkali-kali lipat dibandingkan ketika saya menatap mereka dari depan panggung tadi.
Kenapa selalu seperti ini yha ?
Teman saya yang lain bisa dengan luwesnya bercanda dengan mereka,
sedangkan saya hanya ‘senyam-senyum tidak keruan’ ketika mereka mulai melemparkan candaan kepada saya.
Menyedihkan. :D

Terimakasih, karena selalu baik sama saya. :)

Happy Birthday Adrian Yunan Faisal

 

Demi rupa, cahaya, dan warna.
Tiada celah bagi gelap untuk bertahta.
Denting itu berharga. Detak bertumpu hentak.
Mengawang, menengadah, tanpa tatapan. Hanya rasa, menyala.
Tak dayapun beban itu.
Hadirkan pada rindu, dia lakukan.
Lihat, dia adalah Sebelah Mata.

>>

>>

>>

Sebelah mataku yang mampu melihat
Bercak adalah sebuah warna-warna mempesona
Membaur suara, dibawanya kegetiran
Begitu asing terdengar.
Sebelah mataku yang mempelajari
Gelombang ‘kan mengisi seluruh ruang tubuhku
Terbentuk dari sel akut
Dan diabetes adalah sebuah proses yang alami.

Tapi sebelah mataku yang lain
Menyadari gelap adalah teman setia
Dari waktu-waktu yang hilang
(Sebelah Mata – Efek Rumah Kaca)

Untuk seluruh kebahagiaan, untuk segenap keberkahan,
semoga ALLAH selalu menyertakan anda didalamnya.

>>

>>

 

 

#pictures : here, here, here. Edited by me.

ERK : mEReKa Terus Menerus

 

Saya merasakan bahwa hari itu adalah hari yang paling sempurna dalam sejarah kehidupan per-mEReKa-an saya.
Bayangkan, itu adalah minggu terakhir di bulan Februari,
dimana selama 3 minggu berturut-turut sebelumnya saya menyimak mEReKa.
3 minggu setiap Sabtu, saya menyimak mEReKa di kota tempat saya tinggal, Bandung.
Sabtu pertama di Prefere Dago, Sabtu kedua di Universitas Parahyangan, Sabtu ketiga di Universitas Widyatama,
Dan Sabtu terakhir di tempat kedua personilnya menginjak bangku sekolah menengah atas di Ibukota.
Siapa yang tidak iri ?

Sebenarnya keputusan saya untuk menghadap ke ibukota di hari itu, bukanlah semata-mata untuk mEReKa.
Beberapa waktu sebelumnya memang saya telah merencanakan perjalanan ke ibukota untuk sesuatu yang lain.
Kenyataan bahwa saya sempat hadir ke acara yang mengundang mEReKa adalah bonus.
Tidak pernah menyangka juga, bahwa saya akan sampai ke tempat mEReKa berada waktu itu.
mEReKa sendiri pun terkaget melihat keberadaan saya disana.
Saya ini buta Jakarta, sungguh.
Tapi karena dibimbing oleh salah satu dari keluarga besar mEReKa, akhirnya saya berada di sana.
Senangnya, dan saya menikmati setiap bagian dari perjalananan menuju kesana.

Ketika sampai di pintu gerbang tempat acara berlangsung, saya mendengar suara mEReKa.
Ternyata kali ini saya terlambat lagi. Tidak ada waktu lagi, saya harus segera menghadap mEReKa.
Dan di depan mata saya, mEReKa sedang melantunkan Sebelah Mata.
Sesuai yang dijanjikan, ada Adrian Yunan Faisal disana.
Seketika saya mengikuti naluri untuk mencoba mendekat ke hadapan beliau. Dan kini saya berada tepat lurus di depannya.
Ini dia, yang selalu saya rindukan. Sebelah Mata dengannya.
Saya ini berdosa sepertinya. Bayangkan saya terus menerus menghadap dan mendongak ke arahnya dengan degup di dada.

>>

>>

Penonton disana beragam. Mulai dari siswa-siswi di sekolah tersebut, alumni, beberapa teman dari mEReKa,
dan outsider (seperti saya dan beberapa teman saya).
Untungnya yang di depan kami adalah mEReKa, jadi saya tidak merasa out of place.
Di sini semua bernyanyi dan bertepuk tangan bersama.
Akhir-akhir ini saya selalu menyimak mEReKa bersama beberapa teman yang saya kenal.
Rasanya aneh juga menyimak bersama orang-orang yang baru saya kenal pertama kali di kehidupan nyata.
Rasanya singkuh, walaupun sudah seringkali berbincang di dunia maya.
Akhirnya saya memisahkan diri, dan lebih dekat menuju garis lurus searah Adrian Yunan Faisal.

Saya tidak tau persis saya kehilangan berapa lagu disana.
Menurut teman saya (RuangHampaUdara yang agung) tadi, saya kehilangan 2 lagu sebelum Sebelah Mata.
(Entah itu benar atau tidak) Balerina dan Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa.
Apa ? Jadi saya terlewat Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa dengan Adrian ?
Rasanya kecewa juga. Tapi, memangnya saya bisa apa ? Jakarta macet salah siapa ? (loh ?)
Memang tidak perlu disesali, yang harus disyukuri itu karena saya bisa berada disana.
Di hadapan mEReKa tanpa sehelai benang pun menghalangi pandangan.

Saya berhasil menyimak mEReKa menyajikan 6 lagu berikutnya.
Saya lupa urutannya, kalau tidak salah sih Hujan Jangan Marah, Mosi Tidak Percaya, Banyak Asap Disana,
Kenakalan Remaja Di Era Informatika, Cinta Melulu, Desember.
Tidak ada Hilang disana, padahal jauh di hati saya, keberadaan Adrian membuat saya berharap Hilang.

>>

>>

>>

Sebagai outsider disana, saya tidak terlalu banyak mengikuti lagu.
Mata dan fikiran saya terbagi antara penonton sekitar dan ke depan.
bagian yang saya sukai adalah ketika Kenakalan Remaja Di Era Informatika.
Penonton disini antusias sekali. Semua hampir ikut bernyanyi. Penontonnya seru.
Tentu saja, Ini memang musisi kebanggaan sekolah mereka.
Fikiran saya disana berkecamuk. Ada hal selain mEReKa yang sedang saya fikirkan kala itu.
Jadinya saya tidak begitu menyadari ini hampir berakhir.
Vokalis mempersiapkan gitar akustiknya. Desember adalah penutup.

Satu persatu mEReKa turun dari panggung.
Saya melihat dari jarak beberapa meter mEReKa langsung dikerubungi puluhan penyimak untuk berfoto bersama dan menyapa.
Di awal keberanian saya menghampiri mEReKa, saya pun seperti itu.
Langsung menjerat ketika mEReKa turun dari panggung.
Sekarang saya sudah lebih bermanusiawi, membiarkan mEReKa beristirahat, baru menghampiri dan menyapa.

Beberapa menit kemudian saya melihat mEReKa memasuki sebuah ruangan, lalu menutup pintu.
Di saat yang sama, saya kembali ke teman-teman baru saya tadi yang sempat saya tinggalkan.
Tadinya mau langsung pulang, karena saya punya janji lain di hari tersebut.
Sampai akhirnya Bangku Aco yang baik (single, pekerja keras, ramah, supel, jago dagang, bijaksana, suka kopi)
memaksa saya masuk ke ruangan untuk menyapa mEReKa.
Saya sebenarnya malu mau menghampiri mEReKa, sungguh.
Sudah sesering inipun menonton, berbincang dan berdekatan dengan mEReKa, saya masih tetap segan bertemu.
Tapi Bangku Aco yang baik mengingatkan kalau saya mungkin saja akan dibilang sombong kalo tidak menyapa atau sekedar pamitan.
Deg-degan juga ketika memasuki ruangan, padahal saya ingin sekali menyapa Adrian.

Hampir setengah sadar, akhirnya saya berada di ruangan itu. Adrian dan Akbar. Vokalis entah kemana.
(Additional bassis yang janjian sama saya untuk bertemu disana, bahkan tidak tampak, dan tanpa konfirmasi)
Bersalaman dan bingung harus bicara apa dengan Mas Adrian.
Baru berbincang beberapa menit, Mas Adrian keluar ruangan bersama istrinya.
Beberapa temannya sedang menunggu mereka di kantin sekolah. Semacam reuni kecil-kecilan.
Saya kebingungan, takutnya tiba-tiba saya diserang gadis-gadis karena hanya berduaan dengan Bang Akbar.
(bagian ini bohong, karena sebenarnya ada satu orang selain kami berdua, yang tidak saya anggap keberadaannya).
Akhirnya beberapa teman saya yang lain masuk ke ruangan, juga Mas vokalis.
Terkaget karena saya benar-benar ada disana seperti yang saya janjikan Sabtu sebelumnya kepadanya.

Sekitar 15 menit disana, saya harus segera keluar darisana.
Saya tidak diusir sama Bangku Aco yang baik (jangan berprasangka dulu),
tapi saya harus menepati janji saya dengan teman lain untuk sebuah acara.
Akhirnya dengan terburu-buru dan ditahan habis-habisan sama semua yang disana,
(yang ini juga bohong)
saya keluar ruangan dan menuju jalan pulang bersama teman baru saya yang lain Anggie.
Terima kasih semuanya, telah menemani setiap akhir pekan Februari saya.
Satu pertanyaan yang sampai saat ini belum mEReKa jawab,
sebenarnya mEReKa lebih suka dipanggil Mas, Bang, Kang, Pak, atau apa ? menurut anda ?

Ngomong-ngomong, terus menerus menulis tentang mEReKa membuat bosan tidak yha ?
Saya sendiri sih tidak bosan, walaupun banyak terjadi pengulangan kalimat dan kata.
Tidak bosannya, karena menurut saya, setiap menonton mEReKa di beberapa tempat, atmosfernya berbeda.
Walaupun saya menyampaikannya dengan kata-kata yang sama. Bagi saya sih serupa tapi tak sama. Begitu.
Tapi sejujurnya, bagi penulis blog amatir seperti saya ini, susah sekali menemukan ide tentang kalimat apa lagi yang akan ditulis.
Pemilihan kata dan pengulangan kata di tulisan-tulisan saya tentang mEReKa payah sekali.
Yang saya takutkan itu, adalah kemungkinan setiap tulisan saya tentang mEReKa itu membawa dampak yang buruk bagi pencitraan mEReKa sendiri.
“mEReKa itu lebih keren dan lebih jenius daripada yang kamu bayangin dan kamu tulis, Milta..
Berkualitas dikit kek kalo nulis tentang mEReKa, jangan asal.”
Kan repot juga kalau tiba-tiba ada yang bilang seperti itu. (Sejauh ini sih belum mengalami hal seperti itu)
Entah yha, bagi saya sih setiap tulisan pribadi di sebuah blog seperti ini bersifat subjektif.
(Peduli amat sih, take it or leave it.)

 

ERK : mEReKa yang Jalang Tragis Di Udara

 

Dari beberapa hari sebelumnya, izin untuk menemui mEReKa dari orang tua sudah di tangan
Saya sendiri senang dengan kenyataan tersebut. Mengingat kenyataan tentang minggu sebelumnya.
Sore hari tanpa hujan, cuaca Bandung memihak.
Berjanji dengan beberapa teman (Nova, Amie, Clay dan crew mEReKa).
Ketika sampai di tempat acara, venue masih sepi, kami menunggu di depan sambil membantu menjual merchandise mEReKa.

Saya kira, acara besar-besaran (dengan flyer yang tersebar di mana-mana) akan dihadiri banyak sekali penyimak.
Apalagi performer adalah musisi-musisi yang banyak digemari (Munthe, Bottlesmoker, Efek Rumah Kaca, Glen Fredly)
Tapi ternyata perkiraan saya salah. Venue tidak terlalu sesak oleh penonton.
Secara kalkulasi, jumlah panitia rasanya akan lebih banyak daripada jumlah penonton.
Saya tidak terlalu peduli sebenarnya, toh sedikit atau banyak penyimak, kami akan tetap mengamankan barisan depan.
Dan seperti sebelumnya, teriakan kami akan mewakili lebih banyak suara di dalam ruangan ini.

Performer lain (Munthe, Bottlesmoker) tampil sebelum mEReKa.
Ketika memasuki venue, ternyata mEReKa sudah berada di atas panggung.
Sedang garangnya melantunkan Jalang. Dan kami ketinggalan beberapa baris lagu dari bagian lagu ini.
Padahal saya selalu meminta agar mEReKa membawakan lagu ini.
Sudah lama sekali tidak mendengarnya sejak awal tahun lalu.
Dalam diri saya, lagu kesukaan akan berubah sesuai dengan suasana hati saya.
Jika di minggu lalu, saya sedang menyukai Melankolia, minggu ini saya sedang sering sekali meneriakkan Jalang.
Tapi sekalinya mEReKa membawakan lagu ini, saya malah telat mendengarnya. kecewa.
Ya sudah, mau bagaimana lagi ?

Karena mereka paling suci, lalu mereka bilang kami jalang
Karena kami beda misi, lalu mereka bilang kami jalang
(Jalang – Efek Rumah Kaca)

>>

>>

Sudah saya duga, tidak ada lagi Adrian Yunan Faisal disana, karena Andi ‘Hans’ Sabarudin berada tepat di depan saya.
Tunggu, Akbar terlihat habis potong rambut, rapih sekali. ehm.
Cholil, saya selalu menyukainya ketika beliau menggenakan sweater atau sejenisnya. Kali ini pilihannya jatuh ke kemeja flanel.
Entah yha, mEReKa tidak pernah berlebihan dalam berpakaian, tapi di mata saya mEReKa terlihat istimewa.
Lantas kau mau apa ?

Lamunan saya terpecah ketika akhirnya Jalang berakhir.
Pelan-pelan kami mulai memasuki barisan depan. Debu-Debu berterbangan disajikan.
Lagu ini juga terakhir saya dengar secara langsung awal tahun lalu.
Saya termenung di bagian ini, merasakan lagu ini begitu menampar saya tanpa ampun.
Untuk semua dosa dan kekhilafan yang saya lakukan, apa yang akan saya bawa ke hadapan-NYA ?

Demi masa, sungguh kita tersesat.
Membiaskan yang haram, karena kita manusia.
Demi masa, sungguh kita terhisap
Kedalam lubang hitam, Karena kita manusia.
Pada saatnya nanti tak bisa bersembunyi.
Kita pun menyesali, kita merugi.
Pada siapa mohon perlindungan ? Debu-debu berterbangan..
(Debu Debu Berterbangan – Efek Rumah Kaca)

Bagi saya, mEReKa memang musisi yang sarat akan lagu-lagu religi.
mEReKa tidak mengemasnya dalam untaian kalimat pujian-pujian TUHAN atau rintihan-rintihan atas dosa-dosa.
mEReKa mengkaryakannya lebih dari itu.
mEReKa membawa wacana tentang amoral, tentang kezaliman,
tentang kebobrokan sistem kekuasaan, tentang kehidupan sesama manusia.
Di mata saya itu lebih dari apa yang dilakukan band-band musiman di bulan puasa melalui televisi.

>>

>>

Terbukti lagu berikutnya adalah lagu religi lainnya. Mosi Tidak Percaya jelas lagu religi dong !?
Sebuah lagu protes dan peringatan tentang rusaknya sistem kepemimpinan wakil rakyat di Indonesia.
Di bagian ini, hampir seluruh barisan depan ikut bernyanyi.
Teman saya, Amie dan Clay (menurut ceritanya) hampir membuat keributan
dengan 3 orang (1 perempuan dan 2 laki-laki) di sebelahnya.
Masalahnya karena tiga penonton itu terus-terusan menghina, meracau dan menjelek-jelekkan lagu mEReKa.
Untungnya, Amie masih cukup sabar dan lebih memilih menikmati penampilan 3 orang di depan kami
daripada mengikuti nafsunya untuk ribut dengan ketiga penonton itu.
Saya juga bingung dengan penonton seperti mereka.
Kalau mereka tidak suka, tidak usah menonton, silahkan mundur ke belakang. Simak saja musik kesukaan mereka.
Kan tidak perlu menghabiskan energi untuk menghina musik kesukaan orang lain.
Jadilah penikmat musik yang berbudaya.
Jangan seperti mereka yang berjubah putih tapi selalu menyulut pertikaian karena perbedaan.

mEReKa mempermainkan emosi kami dengan membawakan Tubuhmu Membiru, Tragis di bagian berikutnya.
Lagu dengan durasi terpanjang, kosong, dingin, biru.
Lantunan bass di tengah lagu yang panjang sangat menyayat.
Seperti mengajak saya menyaksikan seseorang yang sedang melakukan bunuh diri diatas sebuah jurang.

Kamu ingin melompat, ingin sekali melompat.
Dari ketinggian di ujung sana, menuju entah apa namanya.
Coba bukalah mata, indah di bawah sana.
Tutup rapat kedua telinga, dari bisikan entah dimana.
Kau terbang dari ketinggian mencari yang paling sunyi.
Dan kau melayang, mencari mimp-mimpi tak kunjung nyata.
(Tubuhmu Membiru, Tragis – Efek Rumah Kaca)

Sayang teman saya Chuii, tidak bisa ikut menyimak mEReKa kali ini.
Lagu ini adalah salah satu lagu kesukaannya. Dimanapun dia selalu minta lagu ini dibawakan.
Vokalis bilang lagu ini paling sulit dibawakan, jadi ada beberapa nada yang salah.
Menurutnya, memerlukan waktu lama untuk latihan lagu ini, sebelum dibawakan.
Di telinga saya, semuanya terdengar sempurna dari awal sampai akhir.

Sedang terlarut dengan Tubuhmu Membiru, Tragis, mEReKa mengagetkan kami dengan Di Udara.
Sebuah lagu kebangsaan kami.
hentakan drum dan raungan gitar serta bass di akhir lagu yang garang.
Kami mengiringinya dengan tepuk tangan hingga akhir.
Akhir-akhir ini mEReKa selalu memanjakan kami dengan sajian seperti ini di akhir Di Udara.
Atau saya baru memperhatikannya akhir-akhir ini ?
Sepertinya kemarahan dan emosi mEReKa ditumpahkan didalamnya.

>>

>>

Berikutnya adalah Kamar Gelap. Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa belum juga terdengar.
mEReKa belum ingin menyiksa saya sepertinya.
Saya kaget ketika mEReKa tiba-tiba bilang bahwa mEReKa hanya diberikan waktu 30 menit untuk tampil.
Setiap kali vokalis mengganti gitar menjadi akustik, sudah pasti selanjutnya Desember.
Dan mEReKa bilang ini adalah lagu terakhir untuk kali ini.
Setiap lagu paling akhir, kesedihan selalu menyertai.
Saya sudah 3 minggu ini mengisi Sabtu saya dengan mEReKa, tetap saja tidak puas :D

Harapan kami tentang belasan lagu di setlist musnah seketika.
Kenapa jadi begini kami juga tidak mengerti.
mEReKa sepertinya membicarakan penyebabnya ketika kami makan bersama,
tapi tidak terlalu kami dengarkan inti masalahnya.
Lagipula kesedihan kami terganti dengan apa yang terjadi setelahnya..
Percakapan, lelucon, dan tawa di antaranya.

Tadinya tidak mau ikut, malu dan sungkan. Tapi mEReKa dan kedua teman saya (Nova dan Amie) terus memaksa.
Saya jadi tidak bisa berbuat apa-apa selain ikut kata mereka. haha.
Posisi duduknya searah jarum jam adalah seperti ini :
Nova Stella Andini – Mas Arief – Mas Hans – Mas Rossi – Bang Aco – Pa Driver – Clay – Amie – Mas Akbar – Mas Yurrai – Bung Cholil – dan Milta Muthia Andika Ratu.
Sudahlah jangan tanya, bagaimana rasanya bersebelahan kursi dengan vocalist jenius.
Rasanya tidak mau beranjak pulang dari sana, haha.
oh iyha, sebelum kami bubar dan pulang menuju rumah masing-masing, ada ini :

>>

>>

Saya juga tidak tau itu kamera siapa, dan siapa yang memfoto. :)

Silahkan menuju ke halaman facebook saya untuk foto-foto selengkapnya.

 

 

ERK : Hilang di Era Melankolia

Di pagi hari itu saya senang sekali dengan kenyataan bahwa hari itu adalah hari Sabtu.
Itu berarti beberapa jam selepas petang, saya akan bertemu mEReKa lagi.
Saya merasa bahagia, karena bulan ini dipenuhi oleh mEReKa di depan mata.
4 Februari, 12 Februari, 19 Februari, saya menganggapnya sebagai salah satu berkat.

Kami sampai di venue (Universitas Parahyangan), 2 jam sebelum mereka tampil.
Acara dengan panggung hebat dan penonton yang sangat ramai seperti ini,
sangat disayangkan dengan kenyataan bahwa acara berjalan tidak tepat waktu.
Sambil menunggu, saya berkumpul dan berbincang dengan teman-teman di sana.
mEReKa baru tampil 2 jam kemudian dari yang dijanjikan.
Waduh, kali ini mEReKa dandan rapih sekali, unyu sekali anda Bung Cholil..
Teman di sebelah saya (Chuii), terus menerus berdecak melihat Akbar di balik drum,
yang terlihat makin bersinar di bawah lampu panggung (Nova, are you read this ?)
Lagi-lagi bagian menyedihkannya, karena kami tidak mendapati Adrian Yunan Faisal di panggung.
Hans kembali menggantikan beliau.
Itu loh Hans Sabaruddin (single, ramah, mahir bermusik, periang, pekerja keras) jagoan dari C’mon Lennon dan The Upstairs.

ok, skip

>>

>>

>>

Lagu Kesepian itu tidak jadi dibawakan, alasannya entah.
Dibuka oleh Melankolia.
Lagu ini sudah lama sekali tidak saya dengar secara langsung dari mEReKa.
Seingat saya sekitar awal tahun lalu, terakhir kali mendengar mEReKa membawakan lagu ini di depan saya.
Lagu ini termasuk lagu yang pertama saya suka ketika pertama kali mengenal musik mEReKa.
Kali ini mendengar secara langsung lagi di hadapan, rasanya seperti bertemu teman lama.
Penuh kerinduan akan lagu ini, atau mungkin karena memang sedang mewakili suasana hati.. :D
Suara sang vocalist (harus disebut namanya ?) sungguh indah di lagu ini.
9UnD4H, 94L4U, dan murungnya terasa. Apalagi di bagian reffrainnya.
Saya hafal lagu ini dengan baik, tapi susah juga mengikuti cara beliau menyanyikannya.

Murung itu sugguh indah, melambatkan butir darah.
Nikmatilah saja kegundahan ini,
segala denyutnya yang merobek sepi.
Kelesuan ini jangan lekas pergi.
Aku menyelami sampai lelah hati.
(Melankolia)

>>

>>

>>

Kali ini saya sudah bersiap-siap,akan kemungkinan mEReKa menyajikan Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa di bagian kedua.
Ternyata sampai di bagian akhir, saya tidak mendengarnya.
Saya juga bingung, saya ini maunya bagaimana.
Ketika mEReKa membawakan lagu ini, saya akan merasakan kesal (yang tak terdefinisikan) di akhir lagu.
Di sisi lain, ketika mEReKa tidak membawakannya, saya akan terus-menerus meneriaki mEReKa supaya membawakan lagu itu.
Ok, lupakan.

Siapa yang tidak suka Sebelah Mata ?
Siapapun tidak akan menolak ketika mEReKa membawakan lagu ini.
Lagu yang ketika kami turut menyanyikan dan mengikuti nada-nadanya,
seketika pula kerinduan akan Adrian Yunan Faisal menyelimuti kami.
Itulah dia, yang menjadikan kepasrahan akan sakit yang dideritanya menjadi sebuah karya.
(Ini tepat dimana saya sedang mendengarkan bagian reffrain ketika menuliskan ini)

Tapi sebelah mataku yang lain menyadari
gelap adalah teman setia dari waktu-waktu yang hilang.
(Sebelah Mata)

Saya benar-benar menitikkan air mata ketika menuliskan bagian ini.
I miss you, Adrian Yunan Faisal.

Kenakalan Remaja di Era Informatika membuat area di depan panggung
menjadi arena upacara masal menghadap ke arah tiga orang di atas panggung.
Lagu ini untuk mereka yang senang mengabadikan tubuh yang tak berhalang di dunia maya.
Setelah itu, teman di sebelah saya Chuii (single, jago bahasa Inggris, pintar memasak, imaginative, menyukai Lelaki Pemalu)
meneriakkan supaya mEReKa membawakan Tubuhmu Membiru Tragis dan Lelaki Pemalu .
Saya meneriakkan supaya mEReKa membawakan Jalang atau Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa.
Ternyata mEReKa membalasnya dengan Kamar Gelap dan Hujan Jangan Marah.

Lihatkah jantungku menyerah ?
Terbelah di tanah yang merah.
Gelisah, dan hanya suka bertanya pada musim kering.
(Hujan Jangan Marah)

3 lagu berikutnya, adalah protes tentang kehidupan berpolitik di Indonesia.
Mosi Tidak Percaya, Hilang, Di Udara (akan lebih baik mungkin, jika ditambah Jalang dan Menjadi Indonesia)
Korupsi, menyia-nyiakan amanat rakyat, menghilangkan dan menghabisi mereka yang jujur.
Mau mengumumkan produk susu bayi yang berbahaya saja susah sekali.
Padahal itu menyangkut kehidupan generasi calon penerus bangsa ini. Mau jadi apa sih negeri ini ?
Vote Cholil Machmud for the next president (ahh.. Milta !)

Pantas kalo kami marah, kamu dipercaya susah.
Jelas kalau kami resah, sebab argumenmu payah.
Kamu ciderai janji.. luka belum terobati.
Kami tak bisa dibeli.. Kami tak mau di beli.
Janjimu pelan-pelan akan menelanmu.
(Mosi Tidak Percaya)

Di Udara diakhiri raungan gitar vokalis. Penuh kemarahan, memekakkan telinga.
Kami memberikan tepuk tangan paling riuh dan paling lama untuk akhir tersebut.

Setelah itu, vocalis mEReKa mengganti gitarnya, menjadi gitar akustik. Sudah pasti Desember.
Saya selalu berkata dengan bangga bahwa saya menyukai seluruh karya mEReKa.
Tapi diantara sekian banyak lagu mEReKa, lagu ini yang paling jarang saya dengarkan.
Walaupun begitu, tentu lagu ini di telinga saya terdengar tanpa cela.
Hanya, memang ini masalah selera, tentu saja subjektif.
Masing-masing penyimak tentu punya urutan lagu kesukaan untuk setiap karya mEReKa.
Bagi saya, lagu ini ada di urutan terakhir sejauh ini.

Setelah itu mEReKa mundur ke belakang, dengan ucapan terima kasih tanpa ucapan selamat tinggal.
Penonton bubar, kami masih terpaku di depan panggung.
Tidak mungkin mEReKa meninggalkan panggung tanpa ucapan selamat tinggal.
Lalu kami melihat vokalis mengganti gitarnya ke gitar sebelumnya.
Berbisik-bisik dengan 2 orang lainnya. Lalu mengangguk-angguk setuju. UNYU.
Saya bilang juga apa ? ini pasti belum berakhir.
Akhirnya mEReKa kembali dengan lagu terakhir, Cinta Melulu.
Sorot lampu yang megah, lalu di atas kami puluhan cahaya kembang api.
Cukup mampu membantu kami merelakan, bahwa ini adalah akhir untuk kali ini.
Dan akhirnya, ketika venue sepi, itulah saat dimana kami mulai menjerat mEReKa.

overall, good stage, great performance.
Sayangnya kamera poket saya habis baterai di lagu pertama.
Jadi semua moment setelah itu dan bersama mereka, tidak dapat saya abadikan.
Lagipula, di dekat saya berdiri seseorang yang membawa seperangkat kamera seharga belasan juta seri 7D.
Saya hanya akan jadi kurcaci ketika terus memaksa memotret. :)

ERK : Kamar Gelap, Charity Night.

 

Tidak bisa dipungkiri, bahwa saya rela datang ke sebuah acara penggalangan dana kemarin malam (Jumat 04 Februari 2011)
adalah semata-mata untuk mEReKa.
Bagian penggalangan dananya, itu adalah bonus bagi saya, dan semoga menjadikan pahala juga, walaupun tidak seberapa.
Ketika saya tulis kata mEReKa berulang kali di sini, yang saya maksud adalah Efek Rumah Kaca.
Sebuah band yang selalu mengisi hari-hari saya, beberapa tahun terakhir ini.

Tidak perlu terlalu lama dari rumah saya menuju ke tempat mEReKa berada malam itu.
Prefere 72 Dago, hanya cukup menempuh perjalanan 5 menit dari rumah saya,
dengan menggunakan kendaraan kebanggaan saya, angkot.
Venue rasanya cukup ramai untuk sebuah acara charity night seperti ini.
Panggungnya sejajar dengan penonton, kami harus menyimak mereka dengan berdiri.
Saya menemukan beberapa wajah penyimak setia mEReKa yang selalu menghampiri setiap kali mEReKa ke Bandung.
Sepertinya akan mengasyikkan, mari bernyanyi bersama.

Saya, Amie & her husband (Rento), Nova, Melinda & her bf, 2 teman dari Amie, dan 2 orang teman Nova (yang saya lupa namanya).
Lebih dari cukup mengamankan barisan di depan.
mEReKa menuju panggung, kami siap menghadap.

Malam itu mEReKa membawakan lagu banyak sekali.

Balerina, Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa, Hujan Jangan Marah, Lagu Kesepian,
Mosi Tidak Percaya, Laki-Laki Pemalu, Di Udara, Jangan Bakar Buku,Kenakalan Remaja di Era Informatika,
Kamar Gelap, Insomnia, Bukan Lawan Jenis, Sebelah Mata, Desember.

Bagian menyedihkannya, mEReKa tampil tanpa Adrian Yunan Faisal lagi.
Tentu saja kami akan selalu merindukan dan mendoakan beliau.
Tapi mEReKa pun tentu tidak akan mengecewakan kami,
Kesekian kalinya mEReKa membawa Hans Sabarudin (C’mon Lennon, The Upstairs) sebagai pemetik bass pengganti sementara.

>>

>>

Balerina, tepat dibawakan sebagai lagu pembuka.
Membuat penyimak yang masih di belakang, beranjak memenuhi barisan di depan panggung.

Menghimpun energi, mengambil posisi,
menjejakkan kaki, meniti temali,
merendah-meninggi, rasakan api, konsentrasi.
Biar tubumu berkelana,
lalui keglisahan, mencari keseimbangan,
mengisi ketiadaan, di kepala dan di dada.
(Balerina – Efek Rumah Kaca)

Lagu berikutnya, langsung membuat saya terperangah.
Harusnya saya tahu, lagu ini seringkali dibawakan sebagai lagu kedua kalau tidak sebagai penutup.
Lagu yang paling menyiksa bagi saya, Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa.
Saya jarang sekali menggemari sebuah lagu dari segi lirik dan irama secara bersamaan, lagu ini adalah pengecualian.
Di bagian ini, saya jarang sekali ikut bernyanyi.
Mata dan telinga saya akan terlalu berkonsentrasi ke arah mereka sambil mengepalkan tangan.

Hujan Jangan Marah, Lagu Kesepian, dan Mosi Tidak Percaya selalu menjadi lagu wajib
yang dibawakan disetiap penampilan mEReKa di Bandung selain Di Udara.
Oh iyha, mEReKa membawakan Laki-Laki Pemalu dan Bukan Lawan Jenis.
Dua lagu ini rasanya sudah lama sekali tidak saya dengar langsung dari mEReKa.

Nanti malam kan ia jerat rembulan
Disimpan dalam sunyi hingga esok hari
Lelah berpura pura bersandiwara
Esok pagi kan seperti hari ini.
(Laki Laki Pemalu – Efek Rumah Kaca)

Kita bertemu muka lagi.
Hanya menatap tanpa bahasa, tanpa isyarat memendam tanya
Masihkah aku di dalam mimpimu.
Aku takut kamu suka pada diriku
Karna memang aku bukanlah lawan jenismu
(Bukan Lawan Jenis – Efek Rumah Kaca)

>>

>>

mEReKa tampil tanpa ada set list, jadi selalu berembuk untuk menentukan lagu berikutnya.
Alurnya seperti ini : vokalis akan meminta pendapat kepada drummer (atau sebaliknya),
lalu mEReKa berdua mengangguk-angguk dan tertawa.
Kemudian drummer akan membisikkan judul lagu kepada bassis,
bassis ini beberapa detik akan terlihat kebingungan (mengingat-ingat) lalu mengangguk.
Drummer akan melakukan hitungan untuk memulai lagu, 1, 2, 3.
Di akhir lagu, vokalis akan meminta maaf karena lupa beberapa nada.
Semua cela luput dari pendengaran kami, kami tetap mendengarnya sempurna.

Di Udara dan Kenakalan Remaja di Era Informatika selalu membuat area penonton seperti tempat karaoke massal.
Lagu sindiran dan cacian terang-terangan yang menusuk.
mEReKa juga mengingatkan tentang Jangan Bakar Buku di antara keduanya.
Sayang sekali teman saya, Juwita Trisna tidak ikut menonton.
Seumur hidupnya, dia belum pernah melihat secara langsung mEReKa membawakan Jangan Bakar Buku dan Laki-Laki Pemalu, lagu kesukaannya.

Karena seriap lembarnya, mengalir berjuta cahaya
Karena setiap aksara membuka jendela dunia
Kata demi kata mengantarkan fantasi, habis sudah.
Bait demi bait pemicu anestesi, hangus sudah.
(Jangan Bakar Buku – Efek Rumah Kaca)

Jangan Bakar Buku adalah salah satu lagu inspirasi agar saya menuliskan banyak hal di blog ini.
Saya memilih untuk tidak menuliskan banyak hal di dalam buku, karena suatu saat buku tersebut bisa usang dan terbakar atau dibuang.
Sekali lagi, bukan Efek Rumah Kaca namanya kalau tidak menginspirasi.

Kamar Gelap dan Insomnia memuaskan banyak penonton yang meminta mEReKa membawakan lagu tersebut.
Seingat saya, ini adalah pertama kalinya saya mendengar lagu Insomnia di depan mata dan telinga saya.

Gerimis datang, musnahlah gersang
Ku tetap terjaga, aku tetap terjaga.
Habis terkuras kelenjar air mata
Ku tetap terjaga, aku tetap terjaga
(Insomnia – Efek Rumah Kaca)

>>

>>

Sebelah Mata tanpa Adrian rasanya benar-benar seperti ‘sebelah mata’.
Kami mendengar, memahami getirnya, tapi tak melihat warnanya.
Sedih sekali rasanya.
mEReKa menyempurnakan kesedihan kami dengan Desember sebagai lagu penutup.
Berapa kali pun menyimak mEReKa rasanya tidak akan puas.
Dan dapat dipastikan beberapa detik setelah mEReKa turun panggung,
banyak penyimak menghampiri mEReKa untuk menyapa, mengobrol dan berfoto.

Saya dan Nova membantu mEReKa menjadi merchandiser sementara.
Menunggui stand merchandise mengasyikkan juga.
Jadi banyak kenal dan mengobrol dengan beberapa pembeli dan penyimak.
Desain baju mEReKa bagus-bagus, penjualnya ramah, sudah pasti banyak laku terjual, :P
Venue mulai sepi, Nova dan Amie mengajak menemui dan menyapa mEReKa.
Entah kenapa yha, kali ini saya rasanya malu sekali akan ketemu mEReKa lagi..
Takutnya mEReKa menyangka kami hanya ingin ketemu mEReKa untuk berfoto bukan menyapa.

Begini, sebenernya bagi saya, berfoto bersama atau tidak bukan sesuatu yang utama .
Yang lebih utama bagi saya adalah menyapa dan berbincang bersama mEReKa.
Tapi masalahnya, sudah sesering ini pun bertemu mEReKa, saya tetap masih gugup berhadapan dengan mEReKa. :D
Ujung-ujungnya, untuk mengalihkan kegugupan, pasti salah satu dari kami mengusulkan untuk berfoto bersama.
Semoga mEReKa tidak menganggap kami para penyimak yang hanya menggunakan mEReKa sebagai fasilitas foto bersama semata. #eaaa

Dan setelah perbincangan ini-itu, beberapa saat kemudian, dari kami ada yang mengusulkan ini :

>>

>>

:D

Selamat malam.. malam ini saya insomnia..
Tadi malam, saya tidur nyenyak sekali.. :)

# photos by : me
go to my facebook page, for more photos.

 

ERK : Adalah Sebuah Warna-Warna Mempesona

Sore hari Bandung ramah sekali, hujan tidak marah..
Akhirnya saya berada di tempat mereka akan berada..
Di luar dugaan, ketika sampai disana, hujan gerimis menyambut kami..
Tapi gerimis itu tidak mengurungkan kami dan mereka untuk menunggu mereka,
dengan penuh bangga, mari kita sebut mereka Efek Rumah Kaca..

Saya menonton bersama satu teman saya..
Beberapa teman yang berjanji untuk menonton, di menit-menit akhir menyatakan bahwa mereka tidak bisa datang..
Rasanya sedih juga mendengar alasan-alasan mereka tidak bisa menonton..
Ada yang sakit, ada yang rumahnya jauh, dan ada yang sedang berkonsentrasi untuk sebuah presentasi..
Akhir-akhir ini selalu menonton ‘mEReKa’ dengan mereka,
jadinya menonton tanpa mereka rasanya aneh..
Padahal dulu sebelum mengenal mereka, saya terbiasa menonton pertunjukan musik sendirian..

skip

Venue sudah penuh sekali, dan beberapa band sebelum mereka sedang tampil menghibur..
Sambil menunggu ERK tampil, saya dan teman saya menonton pertandingan sepak bola INA vs PHI..
Selamat atas kemenangan kita semua dan Menjadi Indonesia..
2 menit setelah tepuk tangan selesai pertandingan, riuh tepuk tangan di depan panggung terdengar pula..
Ini waktunya untuk mereka bersuara..
Kami selangkah-demi selangkah menuju ke barisan depan, gerimis reda, dan saya siap disiksa..

>>

 

.. set list ..

>>

Saya tidak mengerti kenapa jumlah, urutan dan judul lagu ternyata tidak sesuai dengan setlist mereka..
Ini urutan yang saya dengar di sana (dan mereka hanya membawakan 6 lagu) :

Menjadi Indonesia
Hujan Jangan Marah
Hilang
Di Udara
Sebelah Mata
Desember

Satu cewe di sebelah saya suaranya hampir mengalahkan suara pengeras suara yang ada,
ketika mengikuti lirik lagu mereka..
Yang patut diacungi jempol adalah bahwa dia hafal semua lirik lagu mereka tanpa cela..
teman di sebelahnya lebih patut diacungi jempol lagi,
karena menawarkan sendalnya untuk saya duduki,
dan akhirnya kami bersimpuh dan bernyanyi bersama :D

Sedangkan cewe di belakang saya,
terus menerus menanyakan apakah judul dari lagu yang sedang dibawakan
(waktu itu mereka sedang membawakan HILANG)
diikuti pertanyaan dimana bisa men-downloadnya..

skip

Beberapa jam yang lalu mereka masih berada di depan saya..
Merayu, menjerat, menghentak, dan menghempaskan tanpa ampun..
Apa yang harus saya lakukan kali ini ?
Mereka menamparkan HILANG untuk kesekian kalinya di depan muka saya..

Dedy Hamdun HILANG Mei 1997
Ismail HILANG Mei 1997
Hermawan Hendrawan HILANG Maret 1998
Hendra Hambali HILANG Mei 1998
M Yusuf HILANG Mei 1997
Nova Al Katiri HILANG Mei 1997
Petrus Bima Anugrah HILANG Maret 1998
Sony HILANG April 1997
Suyat HILANG Februari 1998
Ucok Munandar Siahaan HILANG Mei 1998
Yadin Muhidin HILANG Mei 1998
Yani Afri HILANG April 1997
Wiji Tukul HILANG Mei 1998
HILANG !

Saya terdiam, bersimpuh, menyerah dan menyembah..

>>

 

.. they're on stage ..

>>

Bagian lainnya yang saya sukai adalah Sebelah Mata..
Lagu ini selalu menjadi alasan mengapa saya selalu rela menghabiskan beberapa jam dalam hidup saya untuk mereka..
Lagu yang selalu membuat saya merindukan Adrian Yunan Faisal
dan cara ia memandang kami dengan Sebelah Mata-nya..

Sebelah mataku yang mampu melihat
Bercak adalah sebuah warna-warna mempesona
Membaur suara, dibawanya kegetiran
Begitu asing terdengar
Sebelah Mata

Saya tidak mendengar Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa disana..
Sepertinya mereka sedang berbaik hati dan tidak ingin menyiksa saya lebih jauh :D

>>

 

.. when a single photo is never enough ..

>>

Diakhiri Desember, sebuah lagu yang di telinga saya terdengar sebagai ‘tentang kesetiaan’..

Sampai nanti ketika hujan tak lagi meneteskan duka..
Menetas luka..
Sampai hujan memulihkan luka..
Aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember..
Seperti pelangi setia menunggu hujan reda..
Desember

Ini mungkin akan menjadi lagu terakhir mereka di 2010 di Bandung..
Rasanya singkat sekali, dan kami tidak puas..
Hampir seluruh suara di depan mereka meneriakkan ‘we want more’..
Walau bagaimanapun mereka harus selesai kali ini..

Beberapa jam yang lalu, mereka masih berada di dekat saya..
Saya ini bukan penyimak yang sombong, yang beberapa kali berbincang dengan mereka,
lalu kali ini harus pulang begitu saja..
Saya rela menunggu mereka, demi beberapa patah kata sapaan..
Bertanya kabar, menyampaikan salam, dan berterima kasih..
Oh iyha, saya tidak mengambil waktu untuk foto bersama..
Kali ini saya sedang berbaik hati untuk tidak membuat kalian semua menaruh iri kesekian kalinya..
Alibi lainnya, karena memang waktu percakapan kami cuma beberapa menit..
Lagipula mereka pasti bosan, kami ajak berfoto terus-menerus ! :D

Terima kasih kepada seluruh keluarga besar Efek Rumah Kaca..
Untuk selalu membuat dan memberikan yang terbaik..
Untuk semua keramahan dan pertemanan..
Untuk selalu mengalihkan saya dari penat..
Untuk tetap menjadi kalian, Efek Rumah Kaca..

Terima kasih, assalamualaikum dan selamat hari Senin, Jangan Bakar Buku yha ..

#location : Union Square, Ciwalk Bandung
#photos by : me, with a pocket camera ! :D
#go to here for more photos

ERK : Berelegi di Bulan Desember

Ini adalah cerita tentang kali kesekian saya menonton langsung
penampilan dari band band (saya tidak ingin menyebut sebuah genre) favorit saya Efek Rumah Kaca..
Saya bersyukur karena ada beberapa acara yang mengundang mereka untuk ke Bandung di akhir tahun ini..
Sejak pagi hari kemarin, saya sudah berbunga-bunga, bergembira, dan cerah ceria,
karena malam harinya akan bertemu mereka..
Selalu seperti syndrom yang terjadi beberapa jam sebelum bertemu mereka :D

Sepulang kerja, tanpa mandi dan hanya sempat ganti baju, dijemput teman, di antara hujan,
akhirnya kami sampai juga di New Majestic Braga.
Di parkiran bertemu Bang Hans (guitarist dari C’mon Lennon, keyboardist The Upstairs)
dan additional bassis dari Efek Rumah Kaca, jadinya kami bisa masuk venue tanpa tiket..
Lagipula sepertinya tidak ada penjual tiket disana
hanya ada security yang menjaga pintu masuk, tanpa menanyakan tiket kepada kami..
Kata Bang Hans, Bang Adrian ikut tampil, jadinya seketika saya langsung bersorak riang dan memalukan..

Penontonnya sepertinya lebih banyak yang lebih dewasa daripada kami (ehem !)
Sejauh mata memandang, sepertinya tidak ada yang <20.. hehehe..
Kata Amie, ini lebih mengasyikkan ! (Menurut saya juga)
5 menit setelah sampai di venue, ternyata mereka sudah siap-siap untuk perform..
Yang agak mengganggu menurut saya karena stagenya sejajar dengan kami,
Untuk menyimak mereka itu, menurut saya lebih nyaman sambil duduk..
Sedangkan venue disana sehabis hujan, tidak memungkinkan kami untuk duduk..

Saya tidak melihat ada setlist disana..
Jadi selama perform itu (13 lagu), setiap lagu ditentukan on stage..
Kalau tidak salah urutannya seperti ini :

Kamar Gelap
Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa
Melankolia
Efek Rumah Kaca
Hilang
Banyak Asap Disana
Balerina
Di Udara
Lagu Kesepian
Belanja Terus Sampai Mati
Kenakalan Remaja di Era Informatika
Desember

Saya tidak akan menceritakan emosi yang mengalir di diri saya pada setiap lagunya..
Saya ini tidak pandai me-review, sungguh !
Lagipula di luar sana, sudah banyak sekali yang sudah me-review setiap lagu mereka..
Bagian paling saya sukai tentu saja ketika mereka membawa saya Menuju Ruang Hampa..
Mungkin bagi saya, untuk hal sejenis inilah kata “sialan” itu diciptakan manusia..
Juga pada HILANG..
Mr. Adrian, Anda adalah orang yang membuat saya rela menyembah dan menyerah..
(kata-kata saya di atas terinspirasi dari tulisan Iga Massardi)

Di mata saya, tidak ada cela setitik pun..
Bagi saya, mereka selalu memukau sempurna, lantas kau mau apa ?

>>

>>

>>

.. The Almighty Adrian Yunan Faisal ..

>>

Pada akhirnya, mereka sampai pada lagu terakhir, walaupun kami tidak rela..
Menonton mereka di depan mata berapa kalipun rasanya memang tidak akan pernah puas..

Saya selalu senang, karena dibalik sinar lampu panggung dan riuh tepuk tangan,
di luar itu mereka adalah pribadi-pribadi yang ramah dan bersahabat..
Selalu banyak perbincangan diantara kami..
Dan saya merasa diberkati atas hal itu..
Ck.. sungguh, saya bingung harus menceritakan apa lagi tentang semalam..
Bagian akhirnya, tentu saja ini :

>>

>>

Saya juga tidak terlalu banyak memotret..
Tidak nyaman memang memotret sambil menikmati aksi mereka bersamaan..
Lagipula di depan saya sudah berjejer sederet fotografer handal
dengan seperangkat gear yang super, sedangkan saya hanya membawa kamera pocket :P
Hasil jepretan saya terkumpul di halaman facebook saya..
Feel free to taggin yourself, asal jangan dicuri.. :)

Selamat hari Sabtu, semoga anda semua diberkati ALLAH..amin..

ERK : Kau dan Aku Menuju Kamar Gelap

Sebelumnya saya mohon maaf karena harus menuliskan ini..
Mungkin diluar sana akan ada beberapa yang iri (atau mungkin memandang sinis) tentang apa yang akan saya tuliskan.
Begini, saya baru saja menonton langsung (lagi) Efek Rumah Kaca di depan mata saya beberapa jam yang lalu..
Dan saya senang sekali..
Setelah kejadian memalukan tentang saya yang dipanggil ke depan
(untuk sebuah hal yang memalukan yang tidak mungkin saya ceritakan disini)
akhirnya semua terbayar dengan penampilan mereka..
Dan yang lebih membuat saya senang, karena hadir kembalinya Adrian Yunan Faisal (bassist)
the one I adore so much, the one I raise my hands up for a praise..

Saya tidak pernah mengerti, tapi rasanya ini naluri, ketika mereka membawakan lagu-lagu mereka di depan saya,
saya seperti lupa diri, hanya ada teriakan dan hentakan di dada..
Lagu-lagu mereka seperti menyiksa dan melempar saya kesana kemari,
Di lain waktu mengangkat saya ke tempat paling tinggi,
dan sepersekian detik kemudian menghempaskan saya tanpa ampun..
(ahh Milta, prosa macam apa ini ?)

>>

.. is it disappoint you ? ..

>>

Hari ini mereka membawakan lagu banyak sekali, dan saya sangat bersyukur untuk ini..
Diawali Kamar Gelap, sebuah lagu tentang fotografi yang sepertinya disesuaikan dengan acara yang mengundang mereka ini..

“Yang kau jerat, adalah riwayat, tidak punah jadi sejarah
yang bicara adalah cahaya, dikonstruksi..dikomposisi..
Padam semua lampu..semua lampu “

Diikuti Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa..
Saya selalu dibuat kesal sekali oleh lagu ini..
Saya tidak mengerti, maunya mereka apa sih ketika membuat lagu ini?
Seperti ingin membuat saya tiba-tiba kehilangan kesadaran pada bait-bait terakhir..
Cukup, saya akan dianggap berlebihan kalau meneruskan ini..

Lalu mereka meng-HILANG..
Hilang selalu menjadi lagu kesukaan saya setelah Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa..
Ini kedua kalinya secara langsung saya mendengarkan dan melihat mereka membawakan lagu ini..
Bagian paling mendebarkannya, ketika Bang Adrian menyebutkan daftar orang HILANG seperti pada lirik aslinya..
Saya tidak bisa berkata apapun, dan hanya merinding..
Bayangkan mereka membawakan lagu Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa
Diikuti HILANG, lalu Sebelah Mata berturut-turut..
Bagaimana mungkin saya tidak kesal dengan mereka ?
Rasanya setelah itu saya ingin lari dari Kamar Gelap itu, lalu berteriak sekencang mungkin..
Anda juga pasti merasakan hal yang sama kan ?

>>

.. whoohoo, Efek Rumah Kaca lagi ! ..

>>

.. Complete Personel : Adrian, Cholil, Akbar ..

>>

Berikutnya berturut-turut Sebelah Mata dan Banyak Asap di Sana..
Lalu dilanjutkan dengan istirahat untuk Shalat Magrib.. alhamdulillah..

Setelah itu kami dan mereka kembali dengan lagu.. ahh, liat saja foto di atas..
Hanya saja ada beberapa urutan lagu yang di tukar..
Di tengah mereka meletakkan Di Udara dan Lagu Kesepian..
Mereka benar-benar tahu caranya menaik-turunkan mood dan meluluhlantakkan emosi..
Desember dibawakan di akhir..

Secara keseluruhan, tidak ada cela sama sekali di mata awan saya atas penampilan mereka..
Mereka selalu mempesona dengan cara mereka sendiri (di mata saya)..
Yang terakhir, kami menemui mereka dan mengucapkan selamat datang kembali untuk Bang Adrian
(Ya ALLAH, segerakan kesembuhan dan kesehatan atasnya)

>>

.. and I always love a moment like this ..

>>

Kalau saya tidak salah baca, bajunya Bang Adrian itu bertuliskan MILTA.. :P
Saya sungguh menghargai dan berterima kasih kepada penyelenggara yang telah mengundang mereka..
Untuk foto-foto selengkapnya, silahkan menuju ke halaman facebook saya.. :)
Goodnight everyone.. sleep tight, cause I will.. :)

Lyric of The Day : Hilang – Efek Rumah Kaca

Akhirnya saya mendapat kesempatan juga untuk menyimak secara langsung mereka membawakan lagu ini..
Tanggal 31 Oktober kemarin di Taman Pramuka..
Saya selalu bingung, bagaimana caranya  Cholil Mahmud selalu bisa membuat karya yang bagus seperti ini..
Bukan hanya dari segi lirik, tapi juga emosi yang mengalir di dalamnya..
Ini tidak dilebih-lebihkan, karena ketika mereka membawakan lagu ini di depan mata dan telinga saya,
saya benar-benar bergetar.. ingin marah ..
Untungnya dihentikan karena tiba-tiba masuk waktu Azan Zuhur..
Lupakan.. siapa peduli !

Oh iyha, ini lirik lengkapnya dalam versi pendengaran saya
Sayangnya,ketika mereka membawakan lagu ini kemarin,
Mereka melewatkan bagian lirik daftar orang hilangnya..

Rindu kami seteguh besi
Hari demi hari menanti
Tekad kami segunung tinggi
Takut siapa ? semua hadapi..

Yang hilang menjadi katalis.. Disetiap Kamis
Nyali berlapis..

Marah kami senyala api
Didepan istana berdiri..

Yang hilang menjadi katalis.. Disetiap Kamis
Nyali berlapis..
Yang ditinggal takkan pernah diam,
Mempertanyakan kapan pulang ?

Dedy Hamdun HILANG Mei 1997
Ismail HILANG Mei 1997
Hermawan Hendrawan HILANG Maret 1998
Hendra Hambali HILANG Mei 1998
M Yusuf HILANG Mei 1997
Nova Al Katiri HILANG Mei 1997
Petrus Bima Anugrah HILANG Maret 1998
Sony HILANG April 1997
Suyat HILANG Februari 1998
Ucok Munandar Siahaan HILANG Mei 1998
Yadin Muhidin HILANG Mei 1998
Yani Afni HILANG April 1997
Wiji Tukul HILANG Mei 1998
HILANG !
Hilang – Efek Rumah Kaca (Amnesty International Compilation,2010)


>>

.. HILANG ..

source
>>

Setiap kali mendengar lagu ini,
saya juga selalu teringat Alm. Karina Nurrahma (9)
Keponakan saya, anak perempuan dari kakak saya yang seorang mantan aktivis..
Juga selalu teringat dengan Alm. Ardyles Badri, mahasiswa Universitas Indonesia,
seorang teman baik yang meninggal pada Mei 1998,
Semoga ALLAH memberikan sebaik-baik tempat bagi mereka..
Amin..

#oh iyha, tentang lirik lagunya, mohon dikoreksi yha apabila ada kesalahan..
Ini versi pendengaran saya saja, mungkin saja bisa salah..Versi yang lebih tepat, silahkan ditanya langsung kepada penciptanya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.