Regret

I know its not normal when most of the time i think that current situation might be better if i decided to take the other choice, just not this. It’s a backward-looking, unpleasant feeling in which I tended to blame myself and wish I could undo the past.

Letting go is not as easy as how we think of it. Maybe..maybe time will heal everything. But it’s take everything on me to try to be honest to myself that I made mistake, that I should learn from the mistake instead of drowning myself in regret.

 

Tired of this feeling.

May Allah make it easier for me.

Advertisements

Tentang Kepergian

Beberapa saat lalu mendengar kabar mengenai kepergian salah seorang rekan. Sebenarnya saya dengan almarhum tidak begitu saling mengenal, sedikit sekali saling mengobrol untuk waktu yang lama. Namun setiap kali berpapasan, pasti almarhum menyapa lebih dahulu. Bahkan, mungkin.. almarhum tidak tahu nama saya. Hanya menyapa saja, karena itu sudah menjadi karakternya. Sebaliknya, saya hafal namanya, karena begitu seringnya nama almarhum disebut rekan-rekan saya yang lain. Almarhum begitu dikenal oleh kami.

Apa pasal? Mengapa beliau begitu dikenal? Adalah karena pengkhidmatannya yang luar biasa kepada sesama. Saya ceritakan sedikit saja apa yang membuatnya “bersinar”.

Misalkan dalam sebuah acara pengajian, beliau bukan mereka yang duduk di ruangan mendengarkan kajian, namun akan menjadi orang yang pertama membagikan penganan, membereskan sendal dan sepatu, membersihkan ruangan, memunguti sampah-sampah yang tercecer. Beliau juga begitu mudah dimintai tolong. Siapa saja yang pulang kemalaman, beliau akan sedia mengantar.

Saya pernah mendengar dari Ustadz, bahwa kita seringkali diberikan pilihan untuk mengambil atau memberi. Misal ketika berdesakkan di depan dinding Ka’bah, apakah kita akan turut serta berdesakan hingga mampu menyentuhnya, ataukah mendahulukan orang lain untuk menyentuhnya? Melihat orang tua berdiri di bus kota, apakah kita akan memberikan kursi kita kepadanya, ataukah kita akan tetap pura-pura terlelap?

Memberi atau mengambil. Kedua pilihan itu selalu menyertai kita.

Hujan ucapan duka dan doa mengiringi kepulangan rekan tersebut. Kebaikannya dikenang. Dan semua berduka. Betapa bahagianya beliau dapat beroleh kemuliaan yang demikian.

Mengingat rekan saya yang berpulang tersebut, saya memikirkan bagaimana kiranya kepergian saya akan dikenang orang lain.

On Jealousy

Saya merasa diri saya pencemburu yang parah terhadap suami. Tapi biasanya cemburu saya tidak berbentuk marah-marah dan berargumen keras dengannya. Jika cemburunya terlihat dalam suara yang lebih tinggi, dapat dipastikan itu bukan marah atau cemburu yang sebenarnya, hehe. Kebanyakan wanita memang memilih diam ketika ia marah. Saya termasuk yang demikian. Sebaper drama Korea saja, di dalam hati bergemuruh, menyedih-nyedihkan keadaan, lalu menangis mengasihani diri sendiri, menyalahkan keadaan, akhirnya sulit menentukan; sebenarnya yang membuat saya cemburu kepada suami itu apa.Ternyata hal itu terasa ga sehat banget. Kita jadi tidak respek terhadap diri sendiri. Fikiran juga jadi kalut terus.

Jadi ingat ucapan seorang teman, selayaknya lah semua bermuara dan kembali kepada Pemilik Hati. Kita tidak bisa menggenggam terlalu erat rasa cinta itu. Semuanya berada di genggamanNya.

Sebagai laki-laki, fitrahnya suami adalah makhluk yang bebas. Bebas berkehendak, tetapi setiap perbuatannya diikuti oleh tanggung jawab dan konsekuensi. Berbeda dengan seorang istri, ketika perjanjian agung diikrarkan, ia menikahkan dan menyematkan dirinya kepada suaminya (bukan sebaliknya), mahar dia terima, beberapa hak dalam kebebasannya ditebus. Rasa malu menjadi harga diri dan jihad terbesarnya. Ini bukan gap gender, tapi memang alaminya demikian.

Fitrahnya memang suami tidak dapat menghindar dari aktivitas sosialnya. Gravitasi hidupnya lebih banyak, hak-hak sosialnya lebih luas, oleh karenanya rentan dengan segala resikonya. Perlu tameng lebih lebih ekstra dari dirinya untuk mengendalikan fitrahnya itu. Sehingga, apa yang dapat mengontrolnya adalah tingkatan ilmunya mengenai tanggung jawabnya di dunia dan di akhirat. Harga dirinya ada pada fikiran dan sikapnya.

Sebagai istri, saya tidak berhak membatasi kehidupan interaksi sosial suami, itu jelas melawan haknya. Saya hanya dapat mengingatkan tentang tanggung jawabnya dan bahwa apapun yang kita miliki bermuara dan berakhir padaNya. Seorang istri tidak bisa menjadi gawang terus untuk membatasi gerak suami, lelah sendiri nanti. (:

Betapa manusianya kita yang dapat terlemahkan oleh sesuatu yang kita genggam terlalu erat. May Allah give us strength to manage jealousy…amin.

Cemburu wanita yang berlebihan akan menyebabkan kerusakan, sedangkan cemburunya laki-laki adalah kehormatan

– Imam Ali as

 

p.s : Sudah lama sekali tidak menuangkan fikiran di dalam tulisan, mungkin juga karena berkurangnya aktifitas membaca. Ini jelas sebuah kemunduran, mari berdayakan jiwa lebih baik lagi. (:

Backpacking ke Singapura Part 1 : Belajar Familiar dengan MRT dan Check In Backpacker Hostel

 

Day 1 : 8 Nov 2013

Adalah perjalanan backpacking pertama sendirian (dan dijebak sebetulnya, hehe!). Adalah seorang teman dekat menghadiahkan kado ulang tahun berupa tiket pulang-pergi Bandung-Singapore-Bandung include backpacker hotel di Singapura (he’s too kind!). Janjinya, dia akan pergi bersama..

Di hari-hari menjelang keberangkatan, berdalih pekerjaan di kantornya, dia tidak dapat ikut serta. Belakangan akhirnya tau, bahwa dia menyadari saya begitu menginginkan backpacking sendiri, namun tidak berani untuk memulai. Terjebaklah oleh akal bulusnya! hehe.

Untuk menghibur saya yang berang seketika, dia menyengajakan dirinya terbang dari luar pulau untuk melepas pengalaman saya berangkat backpacking sendiri itu. Such a good friend ya! Kami sampai di Bandara Hussein Bandung jam 9.00, dan flight masih 3 jam kemudian. Kami menunggu di vip lounge Bandara, all you can eat breakfast @75.000/orang, yeay! Sembari melihat ke arah landasan pesawat; minum teh panas, minum fruit smoothie, makan jagung rebus, pasta, coklat, dan entah apa lagi! Full like a bull!

109896099

Sedang asik makan tiba-tiba ada panggilan untuk saya segera melakukan checkin pesawat..bismillah.. (sebelumnya di rumah saya membuat 2 kotak nasi goreng dari rumah, 1 kotak saya berikan padanya, 1 kotak saya bawa terbang ke Singapura)..

Sampai di Bandara Changi 14.45, nervous! Abis ini mau ngapain?! Ini bandara gede banget, katanya salah satu bandara paling ramai (dan salah satu layanan paling bagus di dunia!). Mengisi formulir tinggal sementara (copy dokumen tersebut jangan hilang, simpan di tempat penting, karena akan diminta kembali ketika pulang dari Singapura), yang fungsinya sebagai bukti izin tinggal/bervakansi sementara di Singapura. Jam 05.00 pm nanti ada jadwal bertemu cod tiket wahana wisata sama timnya Mba Fransisca. Nemu threadnya Mba Sisca mengenai tiket wahana wisata melalui thread Kaskus di sini :  http://kask.us/gV0yG  Enak banget kerjasama dengan Mba Fransisca ini, helpful banget dan bahkan sampai kasih rekomendasi buat ittinerary biar waktu selama di sana bisa efektif banget.

Sambil nunggu waktu buat cod, dan belum tau dari Changi itu mesti gimana buat sampai ke St.Orchad, akhirnya explor dulu Bandara Changi sembari cari mushala. Usahakan ambil beberapa brosur/buku panduan wisata Singapura yang tersedia di sekeliling bandara. Ada banyak banget taman tematik di bandara Changi (Sun Flower Garden, Taman Biota Laut, Home Theatre, Bioskop, Kursi yang dapat memijat, dsb dan semua itu free!), tapi karena cuma punya waktu  2 jam dan mesti ada waktu buat belajar MRT, akhirnya hanya mengunjungi taman-taman yang dilewati sebelum menuju St. Changi.

IMG_0896

IMG_6735

SAM_0582

Refill dulu deposit Ez-link (kartu Ezlinknya minjem temen aja guys, biar irit! Hehe) 15SGD (kayanya cukup kalau buat mrt aja! Waktu itu kurs SGD cuma 7ribuan rupiah). Dan setelah refill Ezlink, welcome to the real super fast transportation! Bingung banget mesti gimana belajarnya. Dan dimulailah mempelajari garis-garis rute-rute merah-kuning-hijau-biru dan intersection. Agak mengerti sedikit setelah 30 menitan belajar. Jadi sedikit faham, untuk menuju Orchad mesti naik kemana (lupa rutenya, liat aja sendiri petanya). Yang jelas, setelah berhasil bertanya dan ditemani mas-mas oriental yang mau ketemuan sama pacarnya, akhirnya berhasil sampai di St. Orchad. 1 jam perjalanan, 2 kali intersection, yang ternyata mesti turun naik tangganya entah berapa kali macam di mall untuk mencapai stasiun-stasiun intersection itu.

Dan.. laper melanda! Maan.. sekeliling stasiun MRT include di dalam keretanya itu kan ga boleh makan sama sekali ya, dan ini itu udh lewat jauh dari jam makan siang, dan bahkan hampir sampai di jam makan malem. (notes, baru tau, kalau di lantai paling bawah tiap stasiun MRT itu ternyata surga makanan, banyak foodcourtnya, jadi kalau laper tinggal kesana.) Sepanjang perjalanan Changi-Orchad dibuat bingung, orang-orang Singapura pada makannya dimana ya pada ga laper apa?!

Janjian di St.Orchad jam 05.00 pm, dan jam 4.15 pm udh di St.Orchad. Daripada bingung mau ngapain, akhirnya belajar mrt lagi! Lapar membuat aliran oksigen ke otak jadi agak susah, jadinya cepat lupa, hehe. Akhirnya datanglah Mas Johny, whatsappan (dan wifi St. Orchad itu lambat banget), akhirnya sms yang mahal ampun! Yang penting tiket udah di tangan. Saya pesan: (detail wahana nanti yaaa.. :D)

1 Singapore River Cruise adult @S$11, 1 Singapore Flyer nonpeak (before 6pm) adult @S$21, 1 XD theater adult @S$12 , 2 Song of the Sea 2nd show on 09/11 @S$8.50 : Total S$52,5.

Selesai cod, bersiap lagi masuk ke kereta menuju Clarke Quay tempat hostel saya berada. Tidak terlalu jauh sih dari St. Orchad ke St. Clarke Quay itu, cuma tetap saja naik turun tangga dalam keadaan laper (tapi tetep mesti terlihat kece) itu penuh perjuangan banget! 😀 Dan ketika check out dari mrt St. Clarke Quay, teng-tong, kena fine 2SGD karena kelamaan berada di Stasiun MRT tanpa checkout katanya.. hehe..Fine itu sebetulnya untuk menghindari para penumpang yang modus cari tempat buat tidur di mrt dan menghindari terjadi penumpukan penumpang. Tapi karena Ibu petugasnya baik, akhirnya malah ngobrol cari jalan cepat buat keluar ke arah Clarke Quay.

Dan ketika menemukan wayout, ternyata way outnya itu dari dalam The Central Building. Keluar dari gedung itu rasanya menghirup udara segar, dan ternyata udah gelap banget, which is itu pasti udah lewat magrib. Bingung lagi mau ngapain, akhirnya buka peta buat cari jalan menuju penginapan Woke Home Capsule Hostel di area itu. Sedang kebingungan gitu, tiba-tiba ada mas-mas baik menghampiri dan menanyakan apa saya perlu bantuan. Dan ternyata itu beneran mas-mas loh, dari Jawa Tengah, namanya Hadi! 😀 akhirnya berjalanlah berdampingan (haha!) dengan Mas Hadi itu menuju Woke Home Capsule Hostel, dan baik mas Hadinya, ngga kurang ajar. Saying goodbyenya juga baik-baik, di bawah gedung Woke Home Capsule Hostel.

Woke Capsule Hotel itu berada di Ruko no 61 di South Bridge Road, accesssible banget sebenernya. Lupa di lantai berapa, kalau ngga salah Woke Home Capsule Hostel itu memakai 2 lantai dari ruko 61 itu (lantai 2 untuk campuran, lantai 3 khusus ladies). Lalu checkin, dan mulai ada hal aneh yang menyebalkan. Tapi bukan backpacking namanya kalau ngga menemukan pengalaman itu.

Tiba-tiba stafnya ngasih tau kalau kamar buat saya ngga available karena bocor sehabis hujan, dan akhirnya saya mesti dipindah ke Blissfull Loft (which is itu kondisinya agak lebih ngga nyaman dibanding Woke Home). Blissful Loft cuma berjarak sekitar 50meter dari Woke Home, tapi rukonya lebih terlihat spooky dan sepi. Yang paling membuat ngga nyaman di Blissful Loft itu sebenernya ruangan khusus ladies dan ruangan campuran itu cuma dikasih sekat hordeng doang! Masuk ke ruangan kamar saya mesti melewati dulu barisan ranjang campuran cowo-cewe turis yang lagi pada tidur dan aduh itu ada mas-mas rambut pirang yang bobo ga pakai baju atasan, di ranjang susun seberangnya mba-mba lagi bobo juga sambil peluk carrier!

Masuk ke kamar ladies dan menempati ranjang sesuai nomor yang dikasih staff tadi, bingung melihat sekeliling. Membayangkan di Woke Home pasti akan safety banget dan privacy banget karena tertutup capsulenya, sedangan di Blisfull itu adalah deretan ranjang susun yang open space, jika gorden dibuka oleh cowo.. habislah sudah!

338035_16111617160048783739

blissful-loft-i4376225x1

Mulai unpack dan mandi. Baru hari pertama, sudah rindu rumah. Apa pasal? Adalah karena menyadari bahwa semua toilet yang saya temui di Singapura tidak disediakan air untuk membersihkan, tapi pakai tissue! Dan saya sangat merasa tidak nyaman. Ditambah dengan kenyataan bahwa membeli air mineral untuk membersihkan diri di toilet itu akan sangat mahal sekali man! Alternatif? Jika di hostel masih mending, bisa menadah air di bathroom, lalu dibawa ke toilet, tapi jika di toilet umum? Damn. Akhirnya lifehacknya, membasahi tissue dengan air, dan tissue basah itulah yang dipakai untuk membersihkan. sedikit lebih baik.

Calming down sejenak di public space Blissful sambil makan sedikit nasi goreng yang dibawa dari rumah tadi pagi. Agendanya malam itu akan menuju ke pengajian Muharram di East Coast. Salah satu yang membuat keukeuh ke Singapore meskipun sendiri adalah Pengajian itu. Ada ulama favorit saya asal Iraq (Sayyid Hadi Qazwini) yang akan mengisi kajian Muharram yang diadakan salah satu komunitas di East Coast. Tadinya mau minta tolong bantuan teman saya disana untuk berangkat bersama, ternyata tidak memungkinkan karena faktor keluarganya. Akhirnya berfikir keras bagaimana menuju kesana.

Bertanyalah sejenak ke staff Blissful mengenai rute ke East Coast. Dan maaan, ternyata itu jauh sekali dari tempat saya berada ini. Perjalanan dengan taxi (tanpa macet) bisa 2 jam, dan biaya taxinya akan menghabiskan seluruh dari bekal saya! 😀 akhirnya merelakan pengajian itu, dan rasanya hancur, merasa putus asa karena tersesat padahal tidak tersesat.

…merasa sepi…

<bersambung ke part 2>

 

 

 

 

 

 

Lyric of The Day : About Our First Met

August 21, 2015. when i newly turn to 27 years old, that’s when the first time i met him.

Communication – The Cardigans

For 27 years I’ve been trying to believe and confide in
Different people I’ve found.
Some of them got closer than others
Some wouldn’t even bother and then you came around
I didn’t really know what to call you, you didn’t know me at all
But I was happy to explain.
I never really knew how to move you
So I tried to intrude through the little holes in your veins

And I saw you
But that’s not an invitation
That’s all I get
If this is communication
I disconnect
I’ve seen you, I know you
But I don’t know
How to connect, so I disconnect

You always seem to know where to find me and I’m still here behind you
In the corner of your eye.
I’ll never really learn how to love you
But I know that I love you through the hole in the sky.

Where I see you
And that’s not an invitation
That’s all I get
If this is communication
I disconnect
I’ve seen you, I know you
But I don’t know
How to connect, so I disconnect

Well this is an invitation
It’s not a threat
If you want communication
That’s what you get
I’m talking and talking
But I don’t know
How to connect
And I hold a record for being patient
With your kind of hesitation

Oh, I need you, you want me
But I don’t know
How to connect, so I disconnect
I disconnect

 

listen the song here :

Lagu ini sering sekali saya putar beberapa hari setelah bertemu dengannya. Karena mendapati ternyata ketika bertemu seseorang, kita mesti siap dengan segala apa yang telah dia lalui, apa yang tengah ia hadapi, apa yang ingin ia jelang.

menyedihkan di awal mulanya, betapa saya betapa sulit menerima kenyataan atas segala apa yang Tuhan hadirkan satu paket dengan kehadirannya. we totally strangers..

hingga kemudian… menyadari, begitu banyak orang-orang asing yang dihadirkan ke dalam kehidupan kita. Bukannya kebetulan, namun sudah ditentukannya, jauh sebelum ruang dan waktu tercipta. take them or leave them.

lots of fo R.