Suggestion #2

April 2009
Suatu ketika saya sedang bercerita dengan kaka saya Motih Zamaludin, tentang rumah yang akan dikontraknya..
Kaka saya menceritakan bahwa rumahnya itu mirip seperti rumah zaman dahulu..
Dan rumahnya itu sudah dibangun lebih dari 30 tahun yang lalu..
Di teras depannya terdapat taman dengan bunga-bunga..
Kaka saya tidak menceritakan keadaan di dalam rumah tersebut..
Anda tahu apa yang saya bayangkan ketika kaka saya bercerita itu ?

Yang ada di fikiran saya adalah..
Sebuah rumah dengan teras depan sekitar 3 x 3 meter..
Tegel teras yang berwarna merah tua, cat tembok putih yang mulai berlumut dan lembab,
2 jendela kecil berwarna cream berjarak sekitar 2 meter di atas lantai..
Di teras dipenuhi bunga-bunga berdaun lebar dan diwadahi pot-pot dari batu yang berukir..
Pot-pot itu bercat putih, sudah lapuk dan berlumut..
Dan ada beberapa pot gantung dari tanah liat, dan pagarnya akan berwarna putih setinggi kurang dari 1 meter..
Di teras terdapat 2 kursi rotan kayu dengan meja bundar..

Beberapa hari kemudian, saya berkunjung ke rumah kontrakan baru kaka saya itu..
Hmmm.. ternyata keadaan rumahnya tidak seperti yang saya fikirkan..
Rumahnya tidak “setua” yang saya fikirkan, dan juga tidak ada tempat untuk kursi di teras depannya..
Pokoknya, benar-benar berbeda dari yang saya fikirkan..

Mei 2010,
Saya sedang dalam misi berkeliling untuk mencari rumah kontrakan buat saya..
Dan saya sudah mulai kelelahan..
Ini daerah dekat sekali ke rumah kontrakan kaka saya, kalau jalan kaki paling hanya 10 menit..
Tapi saya terlalu lelah untuk berjalan kaki, dan dalam hati memutuskan untuk pulang saja..
Dalam kelelahan, saya mendengar seorang Ibu sedang berbicara bersama seorang anak balita di teras sebuah rumah yang saya lewati..
Ketika saya melihat sekilas ke arah rumahnya..
Dalam hati saya berbisik : “rumahnya asri sekali, padahal sudah terlihat tua dibanding rumah-rumah di sekelilingnya”
Terasa sekali udara sejuk ketika melewatinya..
Baru-beberapa langkah ketika saya melewati rumah itu, tiba-tiba saya teringat sesuatu dan membuat langkah saya terhenti..

Rumah itu.. kalau tidak salah tadi tegel terasnya berwarna merah tua..
Kursi di teras itu, kursi rotan bukan ? Jelas tadi saya melihat ada meja bundar di antar kedua kursi tersebut..
Benar-benar penasaran ingin memastikan, saya mundur perlahan-lahan menuju rumah tersebut..
Dan 3 langkah mundur, sudah mampu melihat seluruh teras rumah tersebut..
Pagar besi putih kurang dari 1 meter.. dan jendela berwarna cream berjarak jauh dari atas lantai..
Si Ibu dan si balita tidak tampak lagi di teras..
Dan sekarang kursinya jadi terlihat jelas.. itu kursi rotan yang dianyam..
Dinding tembok bercat putih yang lembab, pot-pot dari batu berukir dengan warna cat yang sama namun berlumut…
Hiasan lainnya adalah beberapa pot gantung kecil dari tanah liat berwana merah genteng..

Astagfirullah, saya pernah membayangkan halaman rumah ini sebelumnya..
Yha.. ketika itu.. ketika kaka saya menceritakan rumah yang akan dikontraknya..
Ya ALLAH.. ini apa namanya ?

#berlari dan menahan tangis sepanjang perjalanan pulang (entah menangis karena apa)..

Lihat suggestion #1, untuk pengalaman “sejenis” lainnya..

2 thoughts on “Suggestion #2

  1. Sist , malem nya abis mimpiin itu kali ya😀

    Lama2 nyaingin mama lorent tuh haaaaa (Pisss ah sist)

    Tp salut banget sm imajinasinya…teus kembangkan😀

    1. hadeh !
      paling males kalo temen-temen yang denger/baca cerita-cerita sugesti saya,
      lalu mengkaitkannya dengan mama lorent atau siapa lah..

      masalahnya itu, ini bagi saya sentimental, bukan dibuat-buat
      ada banyak goncangan di dalamnya !
      maaf🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s