55 Hours, 552 KM [Part 2]

Di tempat sarapan, tiba-tiba satu di antara kami merencanakan untuk mengunjungi Batu Hiu juga..
Kami yang lainnya setuju saja..
Tapi kami sepakat akan pulang sore ini juga..
Setelah menanyakan ke pemilik warung (dan akhirnya dia menunjukkan jalan yang salah)
Akhirnya kami menemukan jalan menuju kesana..
Melewati desa Parigi, dan beberapa desa di sekitar Pangandaran..
Cuaca cerah, dan jalanan yang kami lalui bersih sekali..
Rasanya berbeda sekali dengan Bandung yang padat dan kotor..

>>

>>

>>

45 menit kemudian kami sampai di di gerbang Batu Hiu, tiba-tiba rencana kami berubah.
Saya lupa siapa yang memulai (kalau tidak salah, memang saya hehehe..)
Entah, tiba-tiba tidak yakin untuk masuk ke dalamnya.
Bagaimana kalau ke Pantai Batu Karas saja ?
Saya dengar pantainya lebih bersih daripada Batu Hiu..
Lagipula kita bisa sekalian pulang..
Akhirnya yang lain menyetujui, dan kami beranjak menuju Pantai Batu Karas.

Beberapa tempat wisata pantai kami lewati, salah satunya Green Canyon.
Tapi kami sepertinya tidak punya waktu lagi mengunjuginya.
Pemandangan sekitar Green Canyon indah sekali..
Beberapa kali saya menemukan aliran rawa-rawa dengan warna air yang hijau..
Dan saya tidak bisa bersabar diri untuk mengabadikannya..

>>

>>

>>

Lihat senyum lebar kami kan ? Inilah liburan !😀

Sekitar satu jam dari Batu Hiu, akhirnya kami sampai di Batu Karas.
Pantai Batu Karas tidak terlalu ramai, bersih, dan kami menyukainya.
Batu Karas juga tempat yang nyaman untuk beristirahat.
Pantainya tidak terlalu panas, udaranya segar.
Bermain pasir, melawan ombak, berenang, dan mengabadikan beberapa moment.

>>

>>

>>

>>

Oh iyha, kami menyewa banana boat juga.
Mereka memaksa saya, karena ini memang akan menjadi pertama kalinya bagi saya.
Sungguh, cewe selemah-lembut (dan keturunan ningrat ?) seperti saya ini,
tidak pernah melakukan hal-hal yang akan memicu adrenalin berlebihan seperti itu.
Saya tidak bisa berenang sama sekali, saya takut tenggelam.
Bapa saya jago sekali berenang, naik bermacam boat, sedangkan saya payah urusan air laut.
Tapi karena paksaan mereka, akhirnya saya menyetujui.
Lagipula toh kami memakai pelampung kan !?

Satu dari kami (Budi) tidak ikut, dia tidak membawa baju ganti.
Karena memang rencana semula kami hanya akan berlibur 1 hari.
Akhirny dia bertugas menunggui barang kami.
Dan kami sudah siap, saya deg-degan.
Here we go !

>>

>>

Ternyata naik banana boat itu,
bagi saya yang baru mengalaminya sekali seumur hidup, itu sangat menakutkan.
Kami dijatuhkan di tengah laut, dan saya panik.
Saya berteriak dan tidak mau melepaskan pegangan dari pegangan badan boat itu,
Padahal banana boat kami sudah terbalik.
Saya berteriak kalo saya tidak bisa berenang, dan itu sungguh teriakan yang bodoh.

Guide : Ka, lepasin ka, jangan dipegang..
Saya : (panik) saya ngga bisa renang ka, sumpah !
Guide : iyha, lepasin aja, ngga akan apa-apa, ayo lepasin tangannya.
Rahmat : Milta, lepasin Milta..

Saya, menoleh panik ke Rahmat dan melihat dia dengan amannya tidak tenggelam.
Yang lain juga sama, semua dari kami tidak ada yang tenggelam.
Bahkan Rikfy yang juga tidak terlalu pandai berenang, dia tidak tenggelam.
Dia sedang asik mengapung sambil memangdang lucu ke arah saya.
Bodoh kamu Milta, kita kan pakai pelampung !”
Harusnya ada yang meneriakkan seperti itu, biar saya sadar, kalau kita semua pakai pelampung,
Jadi tidak mungkin tenggelam..😀

>>

>>

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan banana boat kami.
Beberapa kali banana boat dibalikkan guide kami ke laut,
Dan berapa kalipun saya tetap panik.
Tapi setelah yang pertama tadi, tidak ada teriakan ‘saya tidak bisa renang lagi’ dari mulut saya.
Sepanjang petualangan itu, saya tidak berhenti berteriak.
Kedua guide kami juga ramah dan baik sekali (sama saya).
Sepertinya dia tau, di antara kami yang paling ketakutan adalah saya.
Jadi setiap kali banana boat terbalik, dia akan pertama kali menolong saya.
Mereka perenang yang hebat sekali, seperti ikan, luar biasa cepatnya.
Ok, setelah bagian ini, sekarang saya izinkan anda menyebut saya “kampungan” !

>>

>>

Pengalaman pertama saya menaiki banana boat akhirnya selesai juga.
Deg-degannnya masih terasa hingga saya menuju tepi pantai.
Akhirnya saya berteriak ke arah laut untuk meredakan panik.
Dan itu cukup membantu.
Beristirahat sejenak, membilas badan, mengganti baju,
dan kami bersiap meninggalkan Batu Karas untuk pulang.
Bekal uang dan makanan kami pun sudah mulai habis.
Lagipula kami sudah berjanji untuk pulang ke Bandung sore ini kepada orang tua kami masing-masing.

Sampai bertemu lagi Batu Karas yang indah, saya jatuh cinta kepadamu..

To be continued..

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s