55 Hours, 552 KM [Part 3]

Rute pulang kami adalah dari Batu Karas adalah menuju Tasikmalaya.
Diantara kami yang mengetahui rutenya hanya Rahmat.
Dan dia pun masih merab-raba rute persisnya.
Batu Karas – Cijulang – Cimerak – Sindang Kerta – Tasikmalaya.
Kami menanyakan ke beberapa orang yang kami temui di perjalanan,
dan sejauh itu kami percaya rutenya seperti itu.

Di Cijulang kami mencari mesjid untuk shalat Dzuhur.
Setelah itu melanjutkan perjalanan sekalian mencari makan siang.
Setelah berenang dan berpacu di banana boat, rasa laparnya berlipat-lipat.
Di tas kami hanya tersisa 2 bungkus biskuit dan 1 bungkus roti.
Itu tidak akan cukup untuk kami berenam,lagipula kami sepakat untuk makan nasi.
Dari kemarin siang kami belum makan nasi yang cukup.
Perjalanan pulang akan panjang sekali, jadi kami perlu banyak energi.

Ujian timbul lagi, karena ternyata kami kesulitan mendapatkan tempat makan siang.
Tidak ada warung nasi yang kami temui sepanjang perjalanan Batu Karas – Cijulang.
Hanya ada yang jual makanan sejenis bakso dan mie rebus.
Akhirnya setelah sekitar 1,5 jam dari Batu Karas,
kami menemukan tempat makan yang kami setujui.
Di daerah Cimerak, sebuah warung bilik yang menjual sate,
pastinya kami akan menemukan nasi disana.

Pasangan suami istri penjualnya ramah sekali melayani kami.
Di tengah rasa lapar kami, sate yang mereka sediakan terasa enak di lidah kami.
Jika suatu waktu kami kesana lagi, kami akan menyempatkan ke warung itu lagi.
Udara segar, sate + nasi , teh panas, senyum ramah, ini jelas nikmat-NYA !

>>

>>

>>

Hari mulai sore, waktu itu jam menunjukkan pukul 15.00
Setelah cukup beristirahat, kami melanjutkan perjalanan.
Ternyata kami melewati jalanan yang jalannya rusak sekali.
Motor kami berjalan merayap.
Ujiannya saya mengalami kram perut.
Sepertinya karena habis makan, lalu berkendara pada jalan yang rusak seperti itu.

Kami sampai di persimpangan Sindang Kerta,
ke kanan ke arah Tasik kota, dan lurus ke arah Cipatujah, pilihannya hanya dua itu.
Kami memutuskan memilih ke arah kanan.
Sekitar 2 km, kami putar balik kembali ke persimpangan sebelumnya.
Setelah bertanya ke penduduk sekitar,
bahwa rute ke Cipatujah lebih dekat menuju Garut daripada melalui rute kota Tasik.
Mereka juga bilang bahwa jalanan yang akan kami lewati juga tidak rusak.
Setelah mengisi bahan bakar penuh, akhirnya kami sepakat untuk melewati Cipatujah menuju Garut.
Di antara kami tidak ada yang benar-benar bisa memastikan apakah ini pilihan yang benar atau tidak.

Ternyata informasi bahwa jalanan menuju Cipatujah itu bagus adalah informasi yang salah.
Jalanan rusak parah, motor kami kesulitan melaluinya.
Ini jelas pengalaman baru baru kami semua melalui jalan seperti itu.
Sepanjang perjalanan kami terus berdoa, sedikit sekali obrolan di antara kami.
Kram perut saya semakin terasa, sakit, rasanya mau pingsan.
Tapi saya tidak berani menghentikan perjalanan,
ini sudah terlalu sore, kami harus cepat mencapai Garut.

Kami masih belum menemukan petunjuk apakah kami berada di jalan yang benar😀
Kami berhenti di sebuah warung dan berisitirahat sambil menanyakan jalan kepada pemilik warung.
Saya gunakan kesempatan untuk beristirahat.
Pemilik warung bilang, kami berada di rute yang benar menuju Garut.
Dia memperkirakan perjalanan menuju Garut akan mencapai sekitar 85 KM lagi.
Dia juga bilang bahwa jalanan selanjutnya tidak akan separah jalanan sebelumnya.
Kami sedikit tenang mendengarnya.

>>

>>

15 menit beristirahat, kami kembali melanjutkan perjalanan.
Lagi-lagi informasi yang salah, karena jalanan yang kami lewati tidak lebih baik dari jalanan sebelumnya.
Bahkan rasanya ini lebih parah, rusak.
Dan 85 KM yang Ibu warung bilang tadi tidak terbukti, ini jauh lebih dari itu.
Kami kebingungan, sudah beberapa jam perjalanan, kami tetap melihat pantai.
Apakah itu artinya masih di sekitar Pangandaran ?
Pantai lagi, jembatan, pantai, rawa, pantai, dan terus seperti itu.
Jarang sekali kami menemukan rumah penduduk.

Waktu Magrib datang, kami mendengar suara azan.
Setelah beberapa kilometer akhirnya kami menemukan beberapa rumah penduduk dan mesjid.
Melanjutkan perjalanan, dan kami tetap tidak tahu apakah ini jalan yang benar atau bukan.
Kali ini kami melewati bagian yang lebih menyeramkan.
Masih terdengar gemuruh ombak pantai dari sebelah kiri jalan kami
dan terlihat samar-samar hutan di sebelah kanan jalan kami.
Kami terus berjalan, tanpa ada perbincangan.
Semua sibuk dengan doa dan fikiran masing-masing, juga berkonsentrasi.

Berkilo-kilometer, tetap masih terlihat pantai, hutan, gelap, dan hanya ada kami.
Kabar buruk lainnya, perut saya makin kram, jalanan rusak ini membuatnya semakin parah.
Tiba-tiba motor Vera pecah ban, suaranya mendesis.
Kami kebingungan, untungnya tidak lama kemudian kami menemukan sebuah warung kosong tanpa penghuni,
namun terdapat beberapa kursi kayu disana.
Kami melihat tidak jauh dari kami, ada beberapa sinar lampu dari rumah penduduk.
Kami baru menyadari bahwa telepon seluler kami tidak ada satupun yang terjangkau jaringan.
Mau mengabari keluarga kami juga tidak mungkin bisa, semakin sedih !
Kami beristirahat, satu dari kami mencari tempat tambal ban.
2 menit kemudian kembali, katanya tempat tambal ban tidak terlalu jauh.

Saya terlentang di salah satu kursi yang tersembunyi di pinggir warung.
Rasanya lumayan membaik, alhamdulillah.
Tidak mungkin kami sampai di Bandung sebelum jam 12 malam.
Akhirnya kami sepakat untuk meginap di rumah saudara Rifky di Samarang, Garut.
Saya menurut saja, yang penting kami menjalani semuanya bersama-sama.
15 menit kemudian ban selesai ditambal, kami melanjutkan perjalanan.
Lagi-lagi hutan, gelap, hanya ada kami, kami benar-benar tidak bertemu pengendara lain.
Ini baru jam 8 malam, tapi setiap perkampungan yang kami lewati sepi sekali.
Tidak ada penduduk yang berkeliaran di sekitar sana.
Kami mulai tidak mengetahui, berada di bagian bumi mana kami berada.

2 jam kemudian, kami masih tetap melihat hutan, namun tidak mencium wangi pantai lagi.
Kami sudah tidak memperhatikan lagi sekeliling kami,
hanya benar-benar berkonsentrasi kepada jalanan di depan kami untuk mencari akhir dari jalan ini.
Kapankah ini berakhir Ya ALLAH ?
Rasanya tidak ada lelah, hanya ingin terus melaju dan keluar dari sana.
Tanpa bicara, terus berdoa, berdzikir, degup jantung kami bersatu dengan alam, menakutkan dan menyeramkan.
Tentu saja yang kami takuti adalah suatu serangan dari “sesuatu yang terlihat”.
Saya memikirkan, bagaimana jila tiba-tiba ada yang merampok kami di tengah hutan seperti ini.
Tidak ada solusi lain untuk menenangkan kami, kecuali terus melaju menembus gelapnya.

Di tengah kepanikan kami, terdengar desis dari ban motor Vera lagi.
Lagi-lagi kami masih dilindungi, karena kami melihat perkampungan di sekitar kami ketika hal itu terjadi.
Tempat tambal ban hanya berjarak beberapa meter dari tempat kami berada.
Kami menghabiskan 20 menit disana sambil beristirahat.
Juga mengisi bahain bakar (semoga saja bukan oplosan) disana.
Kami semua tampak lelah, dan merindukan rumah.

Tidak ada pilihan lain, kami harus terus melanjutkan perjalanan menuju Garut.
Kata pemilik tambal ban tadi, kami akan mencapai Cikajang setelah 15 KM/20 menit dari sana.
Kami mengucap syukur, karena Cikajang adalah salah satu daerah yang pernah kami dengar sebelumnya.
Berarti perjalanan hutan yang gelap ini akan segera berakhir.
Lagi-lagi informasi yang mereka berikan salah.
20 menit kemudian kami belum melihat Cikajang, ini masih daerah entah apa namanya.
Dan 15 KM dari sana tetaplah hutan yang sepi dan gelap, rasanya ingin menangis.
Tapi kami terus menembus, ini harus kami selesaikan, kami harus pulang.

1 jam kemudian kami menemukan pemukiman penduduk, dan jalanan mulai ramai.
Kami melihat ada tanda-tanda kehidupan sejenis kami di sekeliling kami.
Tidak lagi hutan, namun hanya kebun-kebun, tapi jalanan tetap berkelok-kelok dan belum terlalu bagus.
Kami mulai bertemu dengan beberapa pengendara selain kami.
Dan 30 menit kemudian sampai di jalan raya di Cikajang.
Kami memberi kabar kepada keluarga kami di Bandung, bahwa kami baik-baik saja.
Untung menyambung nyawa dan menetralkan kepanikan, kami beristirahat di sebuah warung di jalan Cikajang.
Kami memberi kabar kepada keluarga kami di Bandung, bahwa kami baik-baik saja.
Terlihat sekali wajah lelah kami.
>>

>>

Kata Rifky, berarti ke rumah saudaranya tidak akan terlalu jauh dari sana, alhamdulillah.
Dan benar saja, 20 menit kemudian kami sampai di Samarang, 3 km sebelum Kampung Sampireun.
Kami sampai di rumah saudaranya Rifky.
Kali ini kami sudah percaya bahwa kami berada di jalan dan tempat yang benar.
Kami tidak terlalu banyak membicarakan perjalanan kami beberapa jam ke belakang.
Kami hanya ingin segera beristirahat, dan ini sudah hampir tengah malam.
Saya masih menyempatkan diri mandi dengan air hangat,
sementara yang lain langsung terlelap tidur sehabis shalat Isya.
Badan saya terasa gatal dan tidak nyaman, tidak mungkin tidak mandi sebelum tidur.
Rumah pamannya Rifky ini nyaman sekali, kami tertidur nyenyak kecapean.
Besok pagi kami akan pulang ke Bandung.

To be continued..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s