ISO 2011 : Radiance of Melodies

Ini cerita pengalaman pertama saya menonton pertunjukan musik ‘sejenis’ ini.
Sejenis yang saya maksud adalah pertunjukkan musik instrumen piano, gitar akustik , dan saxophone.
(iyha..saya tahu, saya ini kampungan)
Ini pertama kalinya bagi saya, jadi saya bingung harus memakai kostum apa untuk acara seperti itu.
Di bayangan saya, dalam acara seperti itu kami harus memakai pakaian resmi dan serapih mungkin.
Jas bagi pria, dan gaun bagi wanita..😀
Kostum saya biasanya untuk menonton pertunjukan musik favorit adalah jins, kemeja/shirt, sepatu keds.
Tapi untuk menghormati acara, kali ini saya relakan lebih rapi, tapi jinsnya tetap..🙂

Ok, sampailah kami di tempat acara.
Yah, tidak terlalu salah kostum sepertinya.. wahey !
Acara yang dijadwalkan dimulai pukul 19.00, baru dimulai tiga puluh menit kemudian.
Dan kami sudah berada di tempat duduk kami 15 menit sebelum acara dimulai.
Mendapat tempat duduk di barisan ketiga dari belakang, maksudnya biar lebih mudah menuju jalan pulang.

>>

>>

Ini ruangan dingin sekali, dan kursinya nyaman.
Musik saxophone & piano bukan termasuk jenis yang saya suka (pengecualiannya adalah FRAU).
Jadi saya khawatir, saya hanya akan tertidur disana tanpa menikmati pertunjukannya.

Acara dimulai, sambutan-sambutan lalu mulai ke sesi 1.
Oh iyha, MC laki-lakinya adalah teman saya, Nur Islami Javad.
Tidak boleh hilir mudik, tidak boleh makan minum,
tidak boleh membuat keributan, tidak boleh memotret dengan menggunakan flash.
Ok, saya akan berusaha tidak melanggarnya.

>>

>>

Performer pertama, seorang pianis muda namanya Danti Felicitia Anjani dengan Hungarian Dance No.1,
saya tidak sempat mengabadikan fotonya.
Tentang musik dan lagu yang dia bawakan, saya tidak mengerti sama sekali, tapi yang jelas dia cantik sekali.
Jari-jarinya lincah, pindah dari saru tuts ke tuts lainnya.
Saya ingin bertepuk tangan, tapi tidak ada satupun dari penonton yang bertepuk tangan di tengah-tengah lagu.
Oh, saya baru ingat, acara seperti ini sudah pasti tepuk tangannya pun ada aturannya.
Kalau saya bertepuk tangan di tengah lagu, sudah pasti saya akan termasuk yang melanggar peraturan yang ketiga tadi.
Bagaimana kalau gara-gara tepuk tangan di tengah lagu, saya harus diusir keluar ruangan ?
Hehe..

Performer kedua adalah duet piano Ibrahim Adrian Nugroho dan Sebastian Adi Nugroho.
Nama belakang yang sama, mungkin mereka saudara kandung, saya tidak tahu.
Lagu yang mereka bawakan adalah karya Sergei Rachmaninoff (Slava Op.11, No 6).
Rachmaninoff, saya sering mendengar namanya, tapi tidak pernah terlalu mendengarkan karya-karyanya.

>>

>>

Berikutnya adalah seorang ksatria bergitar, Muhammad Aldi Wicaksono, dengan Tango En Skai karya Roland Dyens.
Apa lagi ini ? Siapa Roland Dyens ? Pengetahuan musik saya sungguh payah.
Dan tentang lagu yang sedang mereka bawakan itu, lagi-lagi saya tidak mengerti lagu itu menceritakan apa.
Saya ini payah dalam menebak isi dari lagu-lagu tanpa lirik.

Saya mulai menikmati bagian dari pertunjukkan ini ketika 2 ksatria bergitar lainnya (Muhammad Fadhillah Akbar dan Aditya Andria Putra)
hadir dengan Gigio 2 karya Depapepe.
Ok, lagu ini tidak terlalu jauh dari musik yang saya suka.
Folk, tentu saja hangat, kantuk yang menyerang pun teralihkan.
Dua orang ini memainkan lagunya rapih sekali.

>>

>>

Kemudian Yudovan Vidyan dengan Valse No. 2 Op.69 karya Chopin.
Chopin, belum ada satu lagu pun yang pernah saya dengar dari semua hasil karyanya.
Dan lagi-lagi saya saya tidak bisa menebak lagu tentang apa yang dia bawakan.

Sesi 1 ditutup dengan penampilan dari duet piano saudara kandung (Kresno Adityo Wibowo & Mahening Citravidya).
Terdengar banyak nada marah penuh emosi di antara mereka (di telinga saya).
Ternyata lagu yang mereka bawakan adalah Babad Alengka karya pribadi Mas Kresno ini.
Sebuah lagu tentang pertarungan Rahwana dan Rama di Alengka Dirja (saya baca di buku tiketnya).

>>

>>

Di beberapa bagian Kresno – Citra ini saya ingin sekali bertepuk tangan.
Tapi selalu saja teringat peraturan ketiga tadi.
Barulah di akhir lagu kami bisa bertepuk tangan.
Saya lagi-lagi tidak mengerti, berapa lama seharusnya bertepuk tangan untuk setiap akhir lagu.
Ketika saya berhenti bertepuk tangan, penonton yang lain (termasuk orang di sebelah saya ini) tetap bertepuk tangan.😀
Beberapa detik kemudian baru mereka berhenti.
Saya terbiasa bertepuk tangan sesuka hati ketika menonton pertunjukkan musik.
(Oh iyha, saya lupa, ini bukan gigs Efek Rumah Kaca, ini pertunjukan musik klasik)

Kami diberi waktu 15 menit untuk beristirahat sebelum menuju sesi 2.
Sesi 2 dimulai dengan penampilan dari duet gitar (Ivan Aditya Setiadi & Mohammad Digjaya), Depapepe tentu saja, Rosy.

Lalu duet piano & vokal ( Muhammad Aji Priandaka & Puspallia Panggabean).
Lagu yang lucu menurut saya yang awam tentang musik klasik.
Adele’s Laughing Song karya Johan Strauss.
Di tengah lagu ada banyak bagian tertawa terbahak-bahaknya, saya jadi ingin ikut tertawa juga.
Teringat lagi peraturan ketiga, saya setengah mati menahan tawa.
Dari seluruh penampilan, tepuk tangan paling riuh penonton sepertinya untuk bagian ini.
Saya tidak mengerti kenapa, mungkin karena memang suara si penyanyi wanitanya bagus sekali.

>>

>>

2 penampilan berikutnya adalah duet piano & saxophone (Tiaravanni Hermawan & Winda Bayudirja – Mysti karya Frank Sinatra),
duet piano, saxophone, dan gitar (Grace, Matheus Silitonga, Andreas Setiawan – Sway Karya Jorge Ben).
>>

>>

Ini bagian dimana kantuk saya tidak bisa ditahan lagi.
Beberapa kali menguap, saya tidak bisa menikmati ini.
Telinga saya terbiasa dengan Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa, mulut saya terbiasa meneriakkan Mosi Tidak Percaya,
disuguhi yang seperti ini saya (mohon maaf dengan sangat), jadi mengantuk.
Tidak apa-apa kan saya berkata seperti ini ? Musik itu tentang selera bukan ?

Mata saya kembali berbinar oleh sebuah penampilan setelah mereka.
Seorang solo pianis bernama Muhammad Faisal Wicaksono.
Di antara seluruh musisi di di dalam acara ini, penampilan dia yang paling saya sukai.
Dance of The Baroness, sebuah karya Frano Parac tentang dansa seorang putri yang menceritakan sisi amukannya di samping sisi kelembutannya.
Ini musik piano, tapi di beberapa bagian terdengar menghentak tajam.
Penuh emosi, penuh kembencian, amukan, sinis, marah, dan galak, waw !
Sebuah akhir yang tragis dengan hempasan tangan si pianist .
Saya bergumam ‘waw’ beberapa kali.

>>

>>

Hasil gambarnya tidak jelas, maafkan.

Penampilan terakhir adalah kuartet piano (Nabila’s Army – The Swan Lake (Pyotr Tchaikovsky).
Sebuah karya tentang kisah cinta seorang putri yang dikutuk menjadi angsa oleh seorang penyihir.
Jadi lagu ini tentang dongeng, atau bagaimana ? Di telinga saya terdengar seperti lagu nina bobo.
Sesi ini berakhir dengan penampilan special dari pianist Levi Gunardi.
2 lagu yang sangat panjang dan tentu saja lama.
Oh, saya pernah mendengar namanya, tapi tidak pernah mendengar karyanya (waduh, kampungan sekali anda Milta binti Zainal !)

>>

>>

Persembahan terakhir adalah dari seluruh ITB Student Orchestra (ISO) Guitar Ensemble.
Tidak tanggung-tanggung lagu (Maple Leaf Rag, Waltz The Flower, Chocobo Theme From Final Fantasy, Libertango),
Waduh, kantuknya ini, sudah tidak bisa ditahan.
30 menit terlama sepanjang hidup saya sepertinya.
Ingin keluar ruangan dan pulang tapi teringat peraturan pertama (tidak boleh hilir mudik).
Lagipula rasanya kami akan dianggap tidak menghormati acara.. hehe..

>>

>>

Rangkaian acara selesai, kantuk sudah tidak bisa tertahan.
Menuju mobil, dan pulang.
Sejauh ini, saya tetap belum jatuh cinta kepada orkestra klasik.
Musik klasik yang saya dengarkan adalah beberapa karya bergenre rock dan folk.
Lantas mau bagaimana ? Silahkan katakan selera musik saya payah.

Tapi perlu saya sampaikan, saya apresiasi atas setiap kerja keras tim Radiance of Melodies. Sebuah pertunjukkan besar seperti ini layak diapresiasi oleh penggemarnya. Dan tentu saja saya akan berjuang keras untuk dapat mengeksplorasi dan mengapresiasi kekayaan musik sejenis ini.🙂

Selamat malam (menjelang pagi). 0.42 am.

4 thoughts on “ISO 2011 : Radiance of Melodies

  1. Milta, terimakasih atas comment-nya tentang resital kami😀
    semoga ini bisa jadi masukan untuk kami agar lebih baik ke depannya..

    nggg btw…nggg…mau koreksi sedikit…saya dan Mahening Citravidya, bukan saudara kandung.. :p

    1. Sama sama Kresno..
      Sebenarnya, mungkin bagi orang lain yang memilik hobby mendengarkan musik klasik, penampilan Kresno dan yang lain di Moviemento kemarin akan terdengar sempurna..
      Hanya saya saja yang tidak mengetahui tentang musik tersebut..

      Sehari setelah acara tersebut, saya banyak mencoba mendengarkan karya-karya pianis klasik..

      semoga saya bisa menyimak lagi penampilan Kresno dan yang lainnya di April nanti..
      Maafkan yha tentang missunderstanding Kesno-Mahening itu.
      Terima kasih.🙂

  2. terimakasih buat Milta, buat “suguhan” feed back buat kami..
    mungkin kalau Milta belum jatuh cinta sama musik klasik, bisa dicoba lagi di Konser ISO April mendatang..
    kebetulan Muhammad Ajie Priandaka menjadi conductornya, dan saya, kresno, dan yudovan menjadi associate conductor..
    ditunggu kehadirannya ya Milta..😀

    1. waa.. jadi malu ternyata tulisan (payah dan sarkas) ini dibaca banyak orang..
      sedikit cerita, setelah membaca tulisan ini, beberapa teman saya malah menyesali kenapa bukan mereka yang mendapatkan invitationnya..😀

      seperti yang saya bilang, overall, acara berjalan rapih, tempat nyaman, performer ciamik, hanya selera saya saja yang berbeda..
      Dan saya mengagumi penampilan kamu Faisal..

      Tentang ISO April 2011, kasak-kusuknya sudah sampai di teling saya.. Tentu Faisal, kalo saya ada kesempatan insya ALLAH datang..

      Maafkan atas kata-kata dalam tulisan saya yang tidak berkenan dibaca yha.. Terima kasih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s