ERK : Kamar Gelap, Charity Night.

 

Tidak bisa dipungkiri, bahwa saya rela datang ke sebuah acara penggalangan dana kemarin malam (Jumat 04 Februari 2011)
adalah semata-mata untuk mEReKa.
Bagian penggalangan dananya, itu adalah bonus bagi saya, dan semoga menjadikan pahala juga, walaupun tidak seberapa.
Ketika saya tulis kata mEReKa berulang kali di sini, yang saya maksud adalah Efek Rumah Kaca.
Sebuah band yang selalu mengisi hari-hari saya, beberapa tahun terakhir ini.

Tidak perlu terlalu lama dari rumah saya menuju ke tempat mEReKa berada malam itu.
Prefere 72 Dago, hanya cukup menempuh perjalanan 5 menit dari rumah saya,
dengan menggunakan kendaraan kebanggaan saya, angkot.
Venue rasanya cukup ramai untuk sebuah acara charity night seperti ini.
Panggungnya sejajar dengan penonton, kami harus menyimak mereka dengan berdiri.
Saya menemukan beberapa wajah penyimak setia mEReKa yang selalu menghampiri setiap kali mEReKa ke Bandung.
Sepertinya akan mengasyikkan, mari bernyanyi bersama.

Saya, Amie & her husband (Rento), Nova, Melinda & her bf, 2 teman dari Amie, dan 2 orang teman Nova (yang saya lupa namanya).
Lebih dari cukup mengamankan barisan di depan.
mEReKa menuju panggung, kami siap menghadap.

Malam itu mEReKa membawakan lagu banyak sekali.

Balerina, Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa, Hujan Jangan Marah, Lagu Kesepian,
Mosi Tidak Percaya, Laki-Laki Pemalu, Di Udara, Jangan Bakar Buku,Kenakalan Remaja di Era Informatika,
Kamar Gelap, Insomnia, Bukan Lawan Jenis, Sebelah Mata, Desember.

Bagian menyedihkannya, mEReKa tampil tanpa Adrian Yunan Faisal lagi.
Tentu saja kami akan selalu merindukan dan mendoakan beliau.
Tapi mEReKa pun tentu tidak akan mengecewakan kami,
Kesekian kalinya mEReKa membawa Hans Sabarudin (C’mon Lennon, The Upstairs) sebagai pemetik bass pengganti sementara.

>>

>>

Balerina, tepat dibawakan sebagai lagu pembuka.
Membuat penyimak yang masih di belakang, beranjak memenuhi barisan di depan panggung.

Menghimpun energi, mengambil posisi,
menjejakkan kaki, meniti temali,
merendah-meninggi, rasakan api, konsentrasi.
Biar tubumu berkelana,
lalui keglisahan, mencari keseimbangan,
mengisi ketiadaan, di kepala dan di dada.
(Balerina – Efek Rumah Kaca)

Lagu berikutnya, langsung membuat saya terperangah.
Harusnya saya tahu, lagu ini seringkali dibawakan sebagai lagu kedua kalau tidak sebagai penutup.
Lagu yang paling menyiksa bagi saya, Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa.
Saya jarang sekali menggemari sebuah lagu dari segi lirik dan irama secara bersamaan, lagu ini adalah pengecualian.
Di bagian ini, saya jarang sekali ikut bernyanyi.
Mata dan telinga saya akan terlalu berkonsentrasi ke arah mereka sambil mengepalkan tangan.

Hujan Jangan Marah, Lagu Kesepian, dan Mosi Tidak Percaya selalu menjadi lagu wajib
yang dibawakan disetiap penampilan mEReKa di Bandung selain Di Udara.
Oh iyha, mEReKa membawakan Laki-Laki Pemalu dan Bukan Lawan Jenis.
Dua lagu ini rasanya sudah lama sekali tidak saya dengar langsung dari mEReKa.

Nanti malam kan ia jerat rembulan
Disimpan dalam sunyi hingga esok hari
Lelah berpura pura bersandiwara
Esok pagi kan seperti hari ini.
(Laki Laki Pemalu – Efek Rumah Kaca)

Kita bertemu muka lagi.
Hanya menatap tanpa bahasa, tanpa isyarat memendam tanya
Masihkah aku di dalam mimpimu.
Aku takut kamu suka pada diriku
Karna memang aku bukanlah lawan jenismu
(Bukan Lawan Jenis – Efek Rumah Kaca)

>>

>>

mEReKa tampil tanpa ada set list, jadi selalu berembuk untuk menentukan lagu berikutnya.
Alurnya seperti ini : vokalis akan meminta pendapat kepada drummer (atau sebaliknya),
lalu mEReKa berdua mengangguk-angguk dan tertawa.
Kemudian drummer akan membisikkan judul lagu kepada bassis,
bassis ini beberapa detik akan terlihat kebingungan (mengingat-ingat) lalu mengangguk.
Drummer akan melakukan hitungan untuk memulai lagu, 1, 2, 3.
Di akhir lagu, vokalis akan meminta maaf karena lupa beberapa nada.
Semua cela luput dari pendengaran kami, kami tetap mendengarnya sempurna.

Di Udara dan Kenakalan Remaja di Era Informatika selalu membuat area penonton seperti tempat karaoke massal.
Lagu sindiran dan cacian terang-terangan yang menusuk.
mEReKa juga mengingatkan tentang Jangan Bakar Buku di antara keduanya.
Sayang sekali teman saya, Juwita Trisna tidak ikut menonton.
Seumur hidupnya, dia belum pernah melihat secara langsung mEReKa membawakan Jangan Bakar Buku dan Laki-Laki Pemalu, lagu kesukaannya.

Karena seriap lembarnya, mengalir berjuta cahaya
Karena setiap aksara membuka jendela dunia
Kata demi kata mengantarkan fantasi, habis sudah.
Bait demi bait pemicu anestesi, hangus sudah.
(Jangan Bakar Buku – Efek Rumah Kaca)

Jangan Bakar Buku adalah salah satu lagu inspirasi agar saya menuliskan banyak hal di blog ini.
Saya memilih untuk tidak menuliskan banyak hal di dalam buku, karena suatu saat buku tersebut bisa usang dan terbakar atau dibuang.
Sekali lagi, bukan Efek Rumah Kaca namanya kalau tidak menginspirasi.

Kamar Gelap dan Insomnia memuaskan banyak penonton yang meminta mEReKa membawakan lagu tersebut.
Seingat saya, ini adalah pertama kalinya saya mendengar lagu Insomnia di depan mata dan telinga saya.

Gerimis datang, musnahlah gersang
Ku tetap terjaga, aku tetap terjaga.
Habis terkuras kelenjar air mata
Ku tetap terjaga, aku tetap terjaga
(Insomnia – Efek Rumah Kaca)

>>

>>

Sebelah Mata tanpa Adrian rasanya benar-benar seperti ‘sebelah mata’.
Kami mendengar, memahami getirnya, tapi tak melihat warnanya.
Sedih sekali rasanya.
mEReKa menyempurnakan kesedihan kami dengan Desember sebagai lagu penutup.
Berapa kali pun menyimak mEReKa rasanya tidak akan puas.
Dan dapat dipastikan beberapa detik setelah mEReKa turun panggung,
banyak penyimak menghampiri mEReKa untuk menyapa, mengobrol dan berfoto.

Saya dan Nova membantu mEReKa menjadi merchandiser sementara.
Menunggui stand merchandise mengasyikkan juga.
Jadi banyak kenal dan mengobrol dengan beberapa pembeli dan penyimak.
Desain baju mEReKa bagus-bagus, penjualnya ramah, sudah pasti banyak laku terjual,😛
Venue mulai sepi, Nova dan Amie mengajak menemui dan menyapa mEReKa.
Entah kenapa yha, kali ini saya rasanya malu sekali akan ketemu mEReKa lagi..
Takutnya mEReKa menyangka kami hanya ingin ketemu mEReKa untuk berfoto bukan menyapa.

Begini, sebenernya bagi saya, berfoto bersama atau tidak bukan sesuatu yang utama .
Yang lebih utama bagi saya adalah menyapa dan berbincang bersama mEReKa.
Tapi masalahnya, sudah sesering ini pun bertemu mEReKa, saya tetap masih gugup berhadapan dengan mEReKa.😀
Ujung-ujungnya, untuk mengalihkan kegugupan, pasti salah satu dari kami mengusulkan untuk berfoto bersama.
Semoga mEReKa tidak menganggap kami para penyimak yang hanya menggunakan mEReKa sebagai fasilitas foto bersama semata. #eaaa

Dan setelah perbincangan ini-itu, beberapa saat kemudian, dari kami ada yang mengusulkan ini :

>>

>>

😀

Selamat malam.. malam ini saya insomnia..
Tadi malam, saya tidur nyenyak sekali..🙂

# photos by : me
go to my facebook page, for more photos.

 

2 thoughts on “ERK : Kamar Gelap, Charity Night.

  1. ulasan yang menarik dan lengkap. Secara umum, performa mereka hampir mirip dg di Provoke, Jaksel kemarin..Sangat dekat dan hangat dengan penggemar…l

  2. Terima kasih sudi membaca🙂
    Menuliskannya setiap kali selesai menonton gigs mEReKa selalu menyenangkan..
    mEReKa musisi yang ramah dan beretika.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s