ERK : Hilang di Era Melankolia

Di pagi hari itu saya senang sekali dengan kenyataan bahwa hari itu adalah hari Sabtu.
Itu berarti beberapa jam selepas petang, saya akan bertemu mEReKa lagi.
Saya merasa bahagia, karena bulan ini dipenuhi oleh mEReKa di depan mata.
4 Februari, 12 Februari, 19 Februari, saya menganggapnya sebagai salah satu berkat.

Kami sampai di venue (Universitas Parahyangan), 2 jam sebelum mereka tampil.
Acara dengan panggung hebat dan penonton yang sangat ramai seperti ini,
sangat disayangkan dengan kenyataan bahwa acara berjalan tidak tepat waktu.
Sambil menunggu, saya berkumpul dan berbincang dengan teman-teman di sana.
mEReKa baru tampil 2 jam kemudian dari yang dijanjikan.
Waduh, kali ini mEReKa dandan rapih sekali, unyu sekali anda Bung Cholil..
Teman di sebelah saya (Chuii), terus menerus berdecak melihat Akbar di balik drum,
yang terlihat makin bersinar di bawah lampu panggung (Nova, are you read this ?)
Lagi-lagi bagian menyedihkannya, karena kami tidak mendapati Adrian Yunan Faisal di panggung.
Hans kembali menggantikan beliau.
Itu loh Hans Sabaruddin (single, ramah, mahir bermusik, periang, pekerja keras) jagoan dari C’mon Lennon dan The Upstairs.

ok, skip

>>

>>

>>

Lagu Kesepian itu tidak jadi dibawakan, alasannya entah.
Dibuka oleh Melankolia.
Lagu ini sudah lama sekali tidak saya dengar secara langsung dari mEReKa.
Seingat saya sekitar awal tahun lalu, terakhir kali mendengar mEReKa membawakan lagu ini di depan saya.
Lagu ini termasuk lagu yang pertama saya suka ketika pertama kali mengenal musik mEReKa.
Kali ini mendengar secara langsung lagi di hadapan, rasanya seperti bertemu teman lama.
Penuh kerinduan akan lagu ini, atau mungkin karena memang sedang mewakili suasana hati..😀
Suara sang vocalist (harus disebut namanya ?) sungguh indah di lagu ini.
9UnD4H, 94L4U, dan murungnya terasa. Apalagi di bagian reffrainnya.
Saya hafal lagu ini dengan baik, tapi susah juga mengikuti cara beliau menyanyikannya.

Murung itu sugguh indah, melambatkan butir darah.
Nikmatilah saja kegundahan ini,
segala denyutnya yang merobek sepi.
Kelesuan ini jangan lekas pergi.
Aku menyelami sampai lelah hati.
(Melankolia)

>>

>>

>>

Kali ini saya sudah bersiap-siap,akan kemungkinan mEReKa menyajikan Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa di bagian kedua.
Ternyata sampai di bagian akhir, saya tidak mendengarnya.
Saya juga bingung, saya ini maunya bagaimana.
Ketika mEReKa membawakan lagu ini, saya akan merasakan kesal (yang tak terdefinisikan) di akhir lagu.
Di sisi lain, ketika mEReKa tidak membawakannya, saya akan terus-menerus meneriaki mEReKa supaya membawakan lagu itu.
Ok, lupakan.

Siapa yang tidak suka Sebelah Mata ?
Siapapun tidak akan menolak ketika mEReKa membawakan lagu ini.
Lagu yang ketika kami turut menyanyikan dan mengikuti nada-nadanya,
seketika pula kerinduan akan Adrian Yunan Faisal menyelimuti kami.
Itulah dia, yang menjadikan kepasrahan akan sakit yang dideritanya menjadi sebuah karya.
(Ini tepat dimana saya sedang mendengarkan bagian reffrain ketika menuliskan ini)

Tapi sebelah mataku yang lain menyadari
gelap adalah teman setia dari waktu-waktu yang hilang.
(Sebelah Mata)

Saya benar-benar menitikkan air mata ketika menuliskan bagian ini.
I miss you, Adrian Yunan Faisal.

Kenakalan Remaja di Era Informatika membuat area di depan panggung
menjadi arena upacara masal menghadap ke arah tiga orang di atas panggung.
Lagu ini untuk mereka yang senang mengabadikan tubuh yang tak berhalang di dunia maya.
Setelah itu, teman di sebelah saya Chuii (single, jago bahasa Inggris, pintar memasak, imaginative, menyukai Lelaki Pemalu)
meneriakkan supaya mEReKa membawakan Tubuhmu Membiru Tragis dan Lelaki Pemalu .
Saya meneriakkan supaya mEReKa membawakan Jalang atau Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa.
Ternyata mEReKa membalasnya dengan Kamar Gelap dan Hujan Jangan Marah.

Lihatkah jantungku menyerah ?
Terbelah di tanah yang merah.
Gelisah, dan hanya suka bertanya pada musim kering.
(Hujan Jangan Marah)

3 lagu berikutnya, adalah protes tentang kehidupan berpolitik di Indonesia.
Mosi Tidak Percaya, Hilang, Di Udara (akan lebih baik mungkin, jika ditambah Jalang dan Menjadi Indonesia)
Korupsi, menyia-nyiakan amanat rakyat, menghilangkan dan menghabisi mereka yang jujur.
Mau mengumumkan produk susu bayi yang berbahaya saja susah sekali.
Padahal itu menyangkut kehidupan generasi calon penerus bangsa ini. Mau jadi apa sih negeri ini ?
Vote Cholil Machmud for the next president (ahh.. Milta !)

Pantas kalo kami marah, kamu dipercaya susah.
Jelas kalau kami resah, sebab argumenmu payah.
Kamu ciderai janji.. luka belum terobati.
Kami tak bisa dibeli.. Kami tak mau di beli.
Janjimu pelan-pelan akan menelanmu.
(Mosi Tidak Percaya)

Di Udara diakhiri raungan gitar vokalis. Penuh kemarahan, memekakkan telinga.
Kami memberikan tepuk tangan paling riuh dan paling lama untuk akhir tersebut.

Setelah itu, vocalis mEReKa mengganti gitarnya, menjadi gitar akustik. Sudah pasti Desember.
Saya selalu berkata dengan bangga bahwa saya menyukai seluruh karya mEReKa.
Tapi diantara sekian banyak lagu mEReKa, lagu ini yang paling jarang saya dengarkan.
Walaupun begitu, tentu lagu ini di telinga saya terdengar tanpa cela.
Hanya, memang ini masalah selera, tentu saja subjektif.
Masing-masing penyimak tentu punya urutan lagu kesukaan untuk setiap karya mEReKa.
Bagi saya, lagu ini ada di urutan terakhir sejauh ini.

Setelah itu mEReKa mundur ke belakang, dengan ucapan terima kasih tanpa ucapan selamat tinggal.
Penonton bubar, kami masih terpaku di depan panggung.
Tidak mungkin mEReKa meninggalkan panggung tanpa ucapan selamat tinggal.
Lalu kami melihat vokalis mengganti gitarnya ke gitar sebelumnya.
Berbisik-bisik dengan 2 orang lainnya. Lalu mengangguk-angguk setuju. UNYU.
Saya bilang juga apa ? ini pasti belum berakhir.
Akhirnya mEReKa kembali dengan lagu terakhir, Cinta Melulu.
Sorot lampu yang megah, lalu di atas kami puluhan cahaya kembang api.
Cukup mampu membantu kami merelakan, bahwa ini adalah akhir untuk kali ini.
Dan akhirnya, ketika venue sepi, itulah saat dimana kami mulai menjerat mEReKa.

overall, good stage, great performance.
Sayangnya kamera poket saya habis baterai di lagu pertama.
Jadi semua moment setelah itu dan bersama mereka, tidak dapat saya abadikan.
Lagipula, di dekat saya berdiri seseorang yang membawa seperangkat kamera seharga belasan juta seri 7D.
Saya hanya akan jadi kurcaci ketika terus memaksa memotret.🙂

One thought on “ERK : Hilang di Era Melankolia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s