ERK : mEReKa yang Jalang Tragis Di Udara

 

Dari beberapa hari sebelumnya, izin untuk menemui mEReKa dari orang tua sudah di tangan
Saya sendiri senang dengan kenyataan tersebut. Mengingat kenyataan tentang minggu sebelumnya.
Sore hari tanpa hujan, cuaca Bandung memihak.
Berjanji dengan beberapa teman (Nova, Amie, Clay dan crew mEReKa).
Ketika sampai di tempat acara, venue masih sepi, kami menunggu di depan sambil membantu menjual merchandise mEReKa.

Saya kira, acara besar-besaran (dengan flyer yang tersebar di mana-mana) akan dihadiri banyak sekali penyimak.
Apalagi performer adalah musisi-musisi yang banyak digemari (Munthe, Bottlesmoker, Efek Rumah Kaca, Glen Fredly)
Tapi ternyata perkiraan saya salah. Venue tidak terlalu sesak oleh penonton.
Secara kalkulasi, jumlah panitia rasanya akan lebih banyak daripada jumlah penonton.
Saya tidak terlalu peduli sebenarnya, toh sedikit atau banyak penyimak, kami akan tetap mengamankan barisan depan.
Dan seperti sebelumnya, teriakan kami akan mewakili lebih banyak suara di dalam ruangan ini.

Performer lain (Munthe, Bottlesmoker) tampil sebelum mEReKa.
Ketika memasuki venue, ternyata mEReKa sudah berada di atas panggung.
Sedang garangnya melantunkan Jalang. Dan kami ketinggalan beberapa baris lagu dari bagian lagu ini.
Padahal saya selalu meminta agar mEReKa membawakan lagu ini.
Sudah lama sekali tidak mendengarnya sejak awal tahun lalu.
Dalam diri saya, lagu kesukaan akan berubah sesuai dengan suasana hati saya.
Jika di minggu lalu, saya sedang menyukai Melankolia, minggu ini saya sedang sering sekali meneriakkan Jalang.
Tapi sekalinya mEReKa membawakan lagu ini, saya malah telat mendengarnya. kecewa.
Ya sudah, mau bagaimana lagi ?

Karena mereka paling suci, lalu mereka bilang kami jalang
Karena kami beda misi, lalu mereka bilang kami jalang
(Jalang – Efek Rumah Kaca)

>>

>>

Sudah saya duga, tidak ada lagi Adrian Yunan Faisal disana, karena Andi ‘Hans’ Sabarudin berada tepat di depan saya.
Tunggu, Akbar terlihat habis potong rambut, rapih sekali. ehm.
Cholil, saya selalu menyukainya ketika beliau menggenakan sweater atau sejenisnya. Kali ini pilihannya jatuh ke kemeja flanel.
Entah yha, mEReKa tidak pernah berlebihan dalam berpakaian, tapi di mata saya mEReKa terlihat istimewa.
Lantas kau mau apa ?

Lamunan saya terpecah ketika akhirnya Jalang berakhir.
Pelan-pelan kami mulai memasuki barisan depan. Debu-Debu berterbangan disajikan.
Lagu ini juga terakhir saya dengar secara langsung awal tahun lalu.
Saya termenung di bagian ini, merasakan lagu ini begitu menampar saya tanpa ampun.
Untuk semua dosa dan kekhilafan yang saya lakukan, apa yang akan saya bawa ke hadapan-NYA ?

Demi masa, sungguh kita tersesat.
Membiaskan yang haram, karena kita manusia.
Demi masa, sungguh kita terhisap
Kedalam lubang hitam, Karena kita manusia.
Pada saatnya nanti tak bisa bersembunyi.
Kita pun menyesali, kita merugi.
Pada siapa mohon perlindungan ? Debu-debu berterbangan..
(Debu Debu Berterbangan – Efek Rumah Kaca)

Bagi saya, mEReKa memang musisi yang sarat akan lagu-lagu religi.
mEReKa tidak mengemasnya dalam untaian kalimat pujian-pujian TUHAN atau rintihan-rintihan atas dosa-dosa.
mEReKa mengkaryakannya lebih dari itu.
mEReKa membawa wacana tentang amoral, tentang kezaliman,
tentang kebobrokan sistem kekuasaan, tentang kehidupan sesama manusia.
Di mata saya itu lebih dari apa yang dilakukan band-band musiman di bulan puasa melalui televisi.

>>

>>

Terbukti lagu berikutnya adalah lagu religi lainnya. Mosi Tidak Percaya jelas lagu religi dong !?
Sebuah lagu protes dan peringatan tentang rusaknya sistem kepemimpinan wakil rakyat di Indonesia.
Di bagian ini, hampir seluruh barisan depan ikut bernyanyi.
Teman saya, Amie dan Clay (menurut ceritanya) hampir membuat keributan
dengan 3 orang (1 perempuan dan 2 laki-laki) di sebelahnya.
Masalahnya karena tiga penonton itu terus-terusan menghina, meracau dan menjelek-jelekkan lagu mEReKa.
Untungnya, Amie masih cukup sabar dan lebih memilih menikmati penampilan 3 orang di depan kami
daripada mengikuti nafsunya untuk ribut dengan ketiga penonton itu.
Saya juga bingung dengan penonton seperti mereka.
Kalau mereka tidak suka, tidak usah menonton, silahkan mundur ke belakang. Simak saja musik kesukaan mereka.
Kan tidak perlu menghabiskan energi untuk menghina musik kesukaan orang lain.
Jadilah penikmat musik yang berbudaya.
Jangan seperti mereka yang berjubah putih tapi selalu menyulut pertikaian karena perbedaan.

mEReKa mempermainkan emosi kami dengan membawakan Tubuhmu Membiru, Tragis di bagian berikutnya.
Lagu dengan durasi terpanjang, kosong, dingin, biru.
Lantunan bass di tengah lagu yang panjang sangat menyayat.
Seperti mengajak saya menyaksikan seseorang yang sedang melakukan bunuh diri diatas sebuah jurang.

Kamu ingin melompat, ingin sekali melompat.
Dari ketinggian di ujung sana, menuju entah apa namanya.
Coba bukalah mata, indah di bawah sana.
Tutup rapat kedua telinga, dari bisikan entah dimana.
Kau terbang dari ketinggian mencari yang paling sunyi.
Dan kau melayang, mencari mimp-mimpi tak kunjung nyata.
(Tubuhmu Membiru, Tragis – Efek Rumah Kaca)

Sayang teman saya Chuii, tidak bisa ikut menyimak mEReKa kali ini.
Lagu ini adalah salah satu lagu kesukaannya. Dimanapun dia selalu minta lagu ini dibawakan.
Vokalis bilang lagu ini paling sulit dibawakan, jadi ada beberapa nada yang salah.
Menurutnya, memerlukan waktu lama untuk latihan lagu ini, sebelum dibawakan.
Di telinga saya, semuanya terdengar sempurna dari awal sampai akhir.

Sedang terlarut dengan Tubuhmu Membiru, Tragis, mEReKa mengagetkan kami dengan Di Udara.
Sebuah lagu kebangsaan kami.
hentakan drum dan raungan gitar serta bass di akhir lagu yang garang.
Kami mengiringinya dengan tepuk tangan hingga akhir.
Akhir-akhir ini mEReKa selalu memanjakan kami dengan sajian seperti ini di akhir Di Udara.
Atau saya baru memperhatikannya akhir-akhir ini ?
Sepertinya kemarahan dan emosi mEReKa ditumpahkan didalamnya.

>>

>>

Berikutnya adalah Kamar Gelap. Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa belum juga terdengar.
mEReKa belum ingin menyiksa saya sepertinya.
Saya kaget ketika mEReKa tiba-tiba bilang bahwa mEReKa hanya diberikan waktu 30 menit untuk tampil.
Setiap kali vokalis mengganti gitar menjadi akustik, sudah pasti selanjutnya Desember.
Dan mEReKa bilang ini adalah lagu terakhir untuk kali ini.
Setiap lagu paling akhir, kesedihan selalu menyertai.
Saya sudah 3 minggu ini mengisi Sabtu saya dengan mEReKa, tetap saja tidak puas😀

Harapan kami tentang belasan lagu di setlist musnah seketika.
Kenapa jadi begini kami juga tidak mengerti.
mEReKa sepertinya membicarakan penyebabnya ketika kami makan bersama,
tapi tidak terlalu kami dengarkan inti masalahnya.
Lagipula kesedihan kami terganti dengan apa yang terjadi setelahnya..
Percakapan, lelucon, dan tawa di antaranya.

Tadinya tidak mau ikut, malu dan sungkan. Tapi mEReKa dan kedua teman saya (Nova dan Amie) terus memaksa.
Saya jadi tidak bisa berbuat apa-apa selain ikut kata mereka. haha.
Posisi duduknya searah jarum jam adalah seperti ini :
Nova Stella Andini – Mas Arief – Mas Hans – Mas Rossi – Bang Aco – Pa Driver – Clay – Amie – Mas Akbar – Mas Yurrai – Bung Cholil – dan Milta Muthia Andika Ratu.
Sudahlah jangan tanya, bagaimana rasanya bersebelahan kursi dengan vocalist jenius.
Rasanya tidak mau beranjak pulang dari sana, haha.
oh iyha, sebelum kami bubar dan pulang menuju rumah masing-masing, ada ini :

>>

>>

Saya juga tidak tau itu kamera siapa, dan siapa yang memfoto.🙂

Silahkan menuju ke halaman facebook saya untuk foto-foto selengkapnya.

 

 

2 thoughts on “ERK : mEReKa yang Jalang Tragis Di Udara

  1. Hehe.. Momentnya memang sangat mengesankan, memang dicapture untuk membuat iri.. Wajar saja!😀

    Suatu saat anda berhasil menonton ERK di depan mata, tuliskan ceritanya.
    Beritahu dunia! Oke ?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s