BLACK STAR : Tentang Sebuah Konser Rahasia

 

Saya mendapati diri saya tersenyum ketika undangan itu tepat berada di atas meja kerja saya (di sebuah hari yang sangat padat)
Saya sedang membicarakan tentang undangan untuk menghadiri sebuah private concert
dari sebuah band (post blue, dark britpop, post rock, dan entah apa lagi, karena saya tidak terlalu peduli dengan genre)
yaitu Black Star (go to youtube to hear their music).
Mereka adalah (saya urutkan mulai dari sebelah kiri saat penampilan mereka kali ini) :
Ine (keyboardis) Jamie Yudistira (gitaris), Yan Remirza Mahmudin (vokalis), Robby Yuliadi (Drummer), Sonny Raharjo (bassis) dan Alul (gitaris).

Pengalaman pertama saya menonton mereka, saya abadikan di sini.
Ketika itu saya berhasil memiliki CD dari karya mereka, dan kemudian 3 bulan kemudian kepingnya scratchy,
tidak bisa lagi diputar, tidak ada gantinya, dan saya sedih atasnya.
Ini adalah kali kedua saya menonton langsung aksi mereka di depan mata.
Dengan bangga, di pagi harinya, saya pergi ke ibukota untuk menghadiri undangan mereka.
Umat Islam yang baik salah satunya adalah dengan berusaha selalu menghadiri undangan.
Bagi saya, sebagai umat musik yang baik, hal ini pun berlaku.
Sesuai yang dijanjikan, saya akan bertemu teman saya di sana, Elistania Tanya Mutia, Aditya Dewi Hapsari,
dan manajer mereka yang baik Mahdesi Iskandar.
(hey gadis-gadis dan jejaka-jejaka ibu kota, senang akhirnya kita bisa bertemu.. )
Pergi diantar sepupu saya, dan tidak terlalu sulit untuk menemukan tempat dimana acara akan diadakan.
Selepas Magrib di Be Bop Studio di seputaran Tebet Barat, selatan Jakarta.

Tempat ini nyaman. Tempat duduk yang nyaman pula, dan jarak yang hanya beberapa meter dari tempat mereka akan tampil.
Sekitar belasan penyimak (beberapa adalah undangan, dan beberapa lainnya adalah teman dari mereka)
mememuhi area tempat duduk.
Mereka benar-benar di depan mata saya, menyambut dengan jabat tangan, tatapan tak percaya dan senyuman.
Tidak pernah menyangka bahwa kami akan sedekat ini lagi.
Sebelum diselingi percakapan dan shalat, mereka akhirnya memulai acara.

Saya kaget, mereka tiba-tiba tampil tanpa kalimat-kalimat pembukaan dan langsung menyapa dengan Insomnia.
Saya mengintip setlis. Hati saya seketika bahagia. Daftar lagu yang panjang lebih dari yang saya bayangkan.
Lebih dari yang mereka janjikan sebelumnya, yang hanya akan membawakan sekitar 5 lagu.
Ternyata mereka membawakan 3 kali lebih banyak dari yang dijanjikan.
9 lagu adalah lagu-lagu mereka di album pertama BLACK STAR (Insomnia, Tetap Di Jiwa, Emosi, Miasma, Skizoprenia, Abnormal Aku, Whitewolf, Menghilang Pedofilia, KuTerluka adalah satu-satunya lagu di album pertama yang tidak dibawakan)
6 lainnya (Never Leave, Penuh Diksi, Euthanasia, Si Buta Si Tuli Si Bisu, Someday, Terhipnotis)
adalah lagu-lagu yang akan masuk ke album kedua (katanya).
Apa ? jadi kami termasuk yang pertama mendengarkan lagu-lagu album kedua mereka ?
Saya merasa diberkati.

>>

>>

Saya tidak sedang meriview satu demi satu lagu mereka. Saya cukup tahu diri kapasitas saya berada di titik mana.
Saya menyukai seluruh karya mereka. Pun lagu-lagu baru yang mereka kenalkan kali ini.
Saya ingin bercerita tentang bagaimana perasaan saya kala itu bisa menonton mereka lagi.
Di telinga saya, pada sisi yang paling ekstrim, mereka adalah musisi yang sedang menularkan ‘kesakitan’ mereka.
Merasuki otak dan meracuni telinga, rasakan yang mereka rasa. Menyerah, sungguh.
‘Pengiriman kesakitan’ itu terasa di hampir seluruh lagu (Insomnia, Skizoprenia, Abnormal Aku, Menghilang, Pedofilia).
Satu kata, sakit jiwa.

Tapi, semua ‘pengiriman rasa sakit’ itu hampir tidak terasa ketika mereka tampil di depan saya kemarin.
Maksud saya begini, mereka tentu saja serius dan menghayati dalam membawakan setiap bagian dari lagu-lagu tersebut.
Hanya saja, hari itu saya terlalu bahagia bahwa mereka benar-benar tampil di depan mata saya.
Jadinya hampir di seluruh bagiannya, saya tersenyum bahagia,
tidak merasakan tersiksa sama sekali dengan ‘pengiriman rasa sakit’ itu.
Dulu itu, ketika saya masih sering memutar Abnormal Aku dan Skizoprenia di kepingnya,
saya sering merasakan begitu kuatnya mereka mencoba mengajak saya merasa apa yang mereka derita.
Begitu puasnya mereka mencaci saya dengan Emosi dan Menghilang.
Kali ini saya merasa mereka tidak sekejam itu, saya merasakan penuh senyuman dan tawa pada diri saya di sana.

>>

>>

Hal yang menjadi perhatian saya lainnya adalah, bahwa untuk musik sejenius mereka,
mereka adalah pemain musik yang pemalu di atas area panggung.
Si vokalis lebih sering menunduk ke arah sepatunya, kalau tidak menatap lurus ke depan.
Saya tidak mendapati sekalipun dia menatap ke arah penyimak.
Intinya sih tidak seperti vokalis beranting yang bertepuk tangan di samping kepala
atau menggerakkan tangan dengan isyarat memaksa penonton ikut bernyanyi hampir di seluruh bagian lagu.
Personil lainnya pun hanya menatap ke alat musik yang mereka mainkan.
Oh mungkin sesekali tersenyum ketika mendengar kami bertepuk tangan, sesekali.
Saya rasa sih memang bukan hanya karena sedang berkonsentrasi penuh ke alat atau mengatur vokal.
Sepertinya pilihan untuk tidak melakukan kontak mata dengan penyimak disesuaikan dengan warna musik mereka.
Entah yha, di mata saya beberapa band dengan musik seperti ini, memang memiliki sisi pemalu sejenis ini ketika di atas panggung.
Bisa saja saya salah menduga, silahkan dikoreksi.

Saya ingin sekali seperti Wikileaks, yang akan pertama kali membocorkan bagaimana warna-warna lagu baru mereka.
Tapi saya belum terlalu banyak mengumpulkan informasi tentang lagu-lagu itu.
Baru sekali ini mendengar, tentu saja sulit untuk langsung menerka warnanya seperti apa.
Liriknya pun tidak saya ingat satu pun.
Seingat saya, Euthanasia adalah tentang salah satu etika dalam ilmu kedokteran,
Penuh Diksi, sepertinya akan menjadi lagu andalah di album kedua nanti.
Umumnya, beberapa lagu dari album kedua terdengar lebih berisik dari album sebelumnya.

>>

>>

Saya lupa di bagian mana, kalau tidak salah sih di antara Menghilang dan Someday,
mereka bercerita sedikit tentang sejarah terbentuknya mereka dan cerita tentang beberapa personil awal sebelumnya.
Saya tidak menyangka, orang yang pertama kali saya lihat di tempat itu adalah mantan vokalis mereka sebelum digantikan Emir.
Saya baru menyadarinya, ketika Emir memperkenalkannya kepada kami.
Adalah Gatet Juliardi Firdaus. Kami memaksanya untuk mencoba memamerkan suaranya.
Hasilnya, beliau memanjakan kami dengan High and Dry milik Radiohead.
Memukau dan menyegarkan.

>>

>>

Yang saya sesali, adalah bahwa di antara beberapa lagu, mereka menyediakan waktu untuk bertanya kepada mereka.
Sedangkan saya bahkan tidak menanyakan satu hal pun kepada mereka. Padahal banyak sekali yang ingin saya tanyakan.
Misalnya tentang idealisme musik mereka mengarah ke mana,
tentang kenapa mereka sudah mulai menyusun album kedua, padahal album pertama mereka belum terlalu banyak didengar,
juga tentang isi lagu dari Whitewolf.
Mungkin saja kan ketika saya sedang membayangkan penantian dan kesepian di Whitewolf,
mereka malah sedang menceritakan betapa gantengnya Jacob Black di film Twilight !?

Bagian yang paling saya sukai di malam itu adalah Emosi dan Pedofilia.
Emosi adalah saat dimana si vokalis meneriakkan bagian reffrain lagu di toa (benar kan namanya toa ?)
Saya sangat menggemari vokalis ini, karena lagu ini. Sangat Yan Emir Mahmudin sekali lagu ini.
Kenyataan bahwa sound system disana baik sekali juga bagian yang saya sukai
Rasanya tidak jauh berbeda dengan mendengarkan mereka dari kepingnya.

>>

>>

Selain itu Pedofilia. Menurut saya, kedua lagu inilah BLACK STAR itu..
Disimpan sebagai lagu terakhir, lagu ini sangat pas. Cukup bagi kami, kami puas.
Saya hampir tidak berhenti bernyanyi dan bertepuk tangan di Pedofilia. Penyimak yang lain pun sama.
Sebuah tepuk tangan panjang untuk akhir pertunjukkan.

Saat beberapa kru mulai membereskan alat, mereka beristirahat sejenak, dan mengobrol bersama kami.
Kami memutar Lotus Flower dan menontonnya bersama.
Tiba-tiba gitaris (Aloel) dan beberapa yang lain mengusulkan untuk berfoto bersama.
Kami ikut saja, tentu saja. seru sekali.

>>

>>

Setelah perbincangan, canda, berfoto-foto, dan sejenisnya, akhirnya saya harus pulang.
Rasanya ingin tetap disana, tapi itu sudah hampir jam 22.00, saya harus segera pulang.
Terimakasih teman-teman, untuk berada di malam tersebut.
Semoga nanti di lain waktu kita bisa bertemu lagi.🙂

 

#foto-foto diambil dari kamera poket, maafkan hasilnya tidak maksimal
#silahkan menuju ke halaman facebook saya, untuk melihat foto-foto lainnya.

 

2 thoughts on “BLACK STAR : Tentang Sebuah Konser Rahasia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s