ERK : mEReKa Terus Menerus

 

Saya merasakan bahwa hari itu adalah hari yang paling sempurna dalam sejarah kehidupan per-mEReKa-an saya.
Bayangkan, itu adalah minggu terakhir di bulan Februari,
dimana selama 3 minggu berturut-turut sebelumnya saya menyimak mEReKa.
3 minggu setiap Sabtu, saya menyimak mEReKa di kota tempat saya tinggal, Bandung.
Sabtu pertama di Prefere Dago, Sabtu kedua di Universitas Parahyangan, Sabtu ketiga di Universitas Widyatama,
Dan Sabtu terakhir di tempat kedua personilnya menginjak bangku sekolah menengah atas di Ibukota.
Siapa yang tidak iri ?

Sebenarnya keputusan saya untuk menghadap ke ibukota di hari itu, bukanlah semata-mata untuk mEReKa.
Beberapa waktu sebelumnya memang saya telah merencanakan perjalanan ke ibukota untuk sesuatu yang lain.
Kenyataan bahwa saya sempat hadir ke acara yang mengundang mEReKa adalah bonus.
Tidak pernah menyangka juga, bahwa saya akan sampai ke tempat mEReKa berada waktu itu.
mEReKa sendiri pun terkaget melihat keberadaan saya disana.
Saya ini buta Jakarta, sungguh.
Tapi karena dibimbing oleh salah satu dari keluarga besar mEReKa, akhirnya saya berada di sana.
Senangnya, dan saya menikmati setiap bagian dari perjalananan menuju kesana.

Ketika sampai di pintu gerbang tempat acara berlangsung, saya mendengar suara mEReKa.
Ternyata kali ini saya terlambat lagi. Tidak ada waktu lagi, saya harus segera menghadap mEReKa.
Dan di depan mata saya, mEReKa sedang melantunkan Sebelah Mata.
Sesuai yang dijanjikan, ada Adrian Yunan Faisal disana.
Seketika saya mengikuti naluri untuk mencoba mendekat ke hadapan beliau. Dan kini saya berada tepat lurus di depannya.
Ini dia, yang selalu saya rindukan. Sebelah Mata dengannya.
Saya ini berdosa sepertinya. Bayangkan saya terus menerus menghadap dan mendongak ke arahnya dengan degup di dada.

>>

>>

Penonton disana beragam. Mulai dari siswa-siswi di sekolah tersebut, alumni, beberapa teman dari mEReKa,
dan outsider (seperti saya dan beberapa teman saya).
Untungnya yang di depan kami adalah mEReKa, jadi saya tidak merasa out of place.
Di sini semua bernyanyi dan bertepuk tangan bersama.
Akhir-akhir ini saya selalu menyimak mEReKa bersama beberapa teman yang saya kenal.
Rasanya aneh juga menyimak bersama orang-orang yang baru saya kenal pertama kali di kehidupan nyata.
Rasanya singkuh, walaupun sudah seringkali berbincang di dunia maya.
Akhirnya saya memisahkan diri, dan lebih dekat menuju garis lurus searah Adrian Yunan Faisal.

Saya tidak tau persis saya kehilangan berapa lagu disana.
Menurut teman saya (RuangHampaUdara yang agung) tadi, saya kehilangan 2 lagu sebelum Sebelah Mata.
(Entah itu benar atau tidak) Balerina dan Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa.
Apa ? Jadi saya terlewat Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa dengan Adrian ?
Rasanya kecewa juga. Tapi, memangnya saya bisa apa ? Jakarta macet salah siapa ? (loh ?)
Memang tidak perlu disesali, yang harus disyukuri itu karena saya bisa berada disana.
Di hadapan mEReKa tanpa sehelai benang pun menghalangi pandangan.

Saya berhasil menyimak mEReKa menyajikan 6 lagu berikutnya.
Saya lupa urutannya, kalau tidak salah sih Hujan Jangan Marah, Mosi Tidak Percaya, Banyak Asap Disana,
Kenakalan Remaja Di Era Informatika, Cinta Melulu, Desember.
Tidak ada Hilang disana, padahal jauh di hati saya, keberadaan Adrian membuat saya berharap Hilang.

>>

>>

>>

Sebagai outsider disana, saya tidak terlalu banyak mengikuti lagu.
Mata dan fikiran saya terbagi antara penonton sekitar dan ke depan.
bagian yang saya sukai adalah ketika Kenakalan Remaja Di Era Informatika.
Penonton disini antusias sekali. Semua hampir ikut bernyanyi. Penontonnya seru.
Tentu saja, Ini memang musisi kebanggaan sekolah mereka.
Fikiran saya disana berkecamuk. Ada hal selain mEReKa yang sedang saya fikirkan kala itu.
Jadinya saya tidak begitu menyadari ini hampir berakhir.
Vokalis mempersiapkan gitar akustiknya. Desember adalah penutup.

Satu persatu mEReKa turun dari panggung.
Saya melihat dari jarak beberapa meter mEReKa langsung dikerubungi puluhan penyimak untuk berfoto bersama dan menyapa.
Di awal keberanian saya menghampiri mEReKa, saya pun seperti itu.
Langsung menjerat ketika mEReKa turun dari panggung.
Sekarang saya sudah lebih bermanusiawi, membiarkan mEReKa beristirahat, baru menghampiri dan menyapa.

Beberapa menit kemudian saya melihat mEReKa memasuki sebuah ruangan, lalu menutup pintu.
Di saat yang sama, saya kembali ke teman-teman baru saya tadi yang sempat saya tinggalkan.
Tadinya mau langsung pulang, karena saya punya janji lain di hari tersebut.
Sampai akhirnya Bangku Aco yang baik (single, pekerja keras, ramah, supel, jago dagang, bijaksana, suka kopi)
memaksa saya masuk ke ruangan untuk menyapa mEReKa.
Saya sebenarnya malu mau menghampiri mEReKa, sungguh.
Sudah sesering inipun menonton, berbincang dan berdekatan dengan mEReKa, saya masih tetap segan bertemu.
Tapi Bangku Aco yang baik mengingatkan kalau saya mungkin saja akan dibilang sombong kalo tidak menyapa atau sekedar pamitan.
Deg-degan juga ketika memasuki ruangan, padahal saya ingin sekali menyapa Adrian.

Hampir setengah sadar, akhirnya saya berada di ruangan itu. Adrian dan Akbar. Vokalis entah kemana.
(Additional bassis yang janjian sama saya untuk bertemu disana, bahkan tidak tampak, dan tanpa konfirmasi)
Bersalaman dan bingung harus bicara apa dengan Mas Adrian.
Baru berbincang beberapa menit, Mas Adrian keluar ruangan bersama istrinya.
Beberapa temannya sedang menunggu mereka di kantin sekolah. Semacam reuni kecil-kecilan.
Saya kebingungan, takutnya tiba-tiba saya diserang gadis-gadis karena hanya berduaan dengan Bang Akbar.
(bagian ini bohong, karena sebenarnya ada satu orang selain kami berdua, yang tidak saya anggap keberadaannya).
Akhirnya beberapa teman saya yang lain masuk ke ruangan, juga Mas vokalis.
Terkaget karena saya benar-benar ada disana seperti yang saya janjikan Sabtu sebelumnya kepadanya.

Sekitar 15 menit disana, saya harus segera keluar darisana.
Saya tidak diusir sama Bangku Aco yang baik (jangan berprasangka dulu),
tapi saya harus menepati janji saya dengan teman lain untuk sebuah acara.
Akhirnya dengan terburu-buru dan ditahan habis-habisan sama semua yang disana,
(yang ini juga bohong)
saya keluar ruangan dan menuju jalan pulang bersama teman baru saya yang lain Anggie.
Terima kasih semuanya, telah menemani setiap akhir pekan Februari saya.
Satu pertanyaan yang sampai saat ini belum mEReKa jawab,
sebenarnya mEReKa lebih suka dipanggil Mas, Bang, Kang, Pak, atau apa ? menurut anda ?

Ngomong-ngomong, terus menerus menulis tentang mEReKa membuat bosan tidak yha ?
Saya sendiri sih tidak bosan, walaupun banyak terjadi pengulangan kalimat dan kata.
Tidak bosannya, karena menurut saya, setiap menonton mEReKa di beberapa tempat, atmosfernya berbeda.
Walaupun saya menyampaikannya dengan kata-kata yang sama. Bagi saya sih serupa tapi tak sama. Begitu.
Tapi sejujurnya, bagi penulis blog amatir seperti saya ini, susah sekali menemukan ide tentang kalimat apa lagi yang akan ditulis.
Pemilihan kata dan pengulangan kata di tulisan-tulisan saya tentang mEReKa payah sekali.
Yang saya takutkan itu, adalah kemungkinan setiap tulisan saya tentang mEReKa itu membawa dampak yang buruk bagi pencitraan mEReKa sendiri.
“mEReKa itu lebih keren dan lebih jenius daripada yang kamu bayangin dan kamu tulis, Milta..
Berkualitas dikit kek kalo nulis tentang mEReKa, jangan asal.”
Kan repot juga kalau tiba-tiba ada yang bilang seperti itu. (Sejauh ini sih belum mengalami hal seperti itu)
Entah yha, bagi saya sih setiap tulisan pribadi di sebuah blog seperti ini bersifat subjektif.
(Peduli amat sih, take it or leave it.)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s