Bangkutaman : Catch Them When I Fall

 

Sebelumnya, izinkan saya berteriak. aaaa..Bangkutaman, finally I catch you, again.

Di awal 2010, saya berbincang dengan seorang teman tentang bagaimana kami mengagumi beberapa musisi asal Jogjakarta.
Ketika itu kami membicarakan Frau dan Armada Racun.
Ketika perbincangan hampir terhenti karena saya harus beranjak pulang, tiba-tiba dia menyebut nama Bangkutaman.
Reaksi saya kala itu, dengan skeptisnya :
“apa ? Bangku Kosong ? kaya gimana itu ? jangan-jangan musik kaya underground. Sudahlah, lupakan. saya tidak mungkin menyimak.”
Dan saya menghentikan perbincangan, beranjak menuju jalan pulang.

Di pertengahan 2010, kami sedang berbincang, dan dia memutar beberapa lagu di layar di depannya.
Lirik berbahasa Inggris, lalu berbahasa Indonesia, Inggris lagi, Indonesia lagi. begitu terus.
Ini tidak mungkin musisi yang berbeda, suara vokalisnya sama.
Lagu-lagu yang baru saya dengar. (iyha, saya tahu saya ini kampungan, selalu telat tahu tentang musik yang bagus).
Sedikit melirik ke arah layar pemutar tersebut, dan melihat tulisan “Bangkutaman – She Burns The Disco”
Jadi ini Bangku Kosong itu ? (maksud saya Bangkutaman.) 1 album, IX.
Dan sebelum berpisah, terjadilah penggandaan ilegal itu. Dari satu layar menuju sebuah usb yang tak berdosa.
Tanpa sepengetahuan teman saya. Dosa saya ini dua kali lipat sepertinya.

Beberapa hari setelahnya, saya baru menyadari bahwa mereka bernaung di Jangan Marah Record.
Ini mereka yang pernah saya lihat di performnya di Fame, sekilas.
Setelahnya, saya tidak pernah tahu jadwal gigs mereka. Saya ini payah dalam urusan informasi seperti ini.
Gigs mereka di Bandung pada awal Desember pun terlewatkan,
karena waktu yang bersamaan dengan gigs The Trees and The Wild.
Dilihat dari jarak rumah saya, ketika itu saya memilih The Trees and The Wild.
Saya juga tidak pernah terlalu mencari tahu siapa sebenarnya Bangkutaman.
Hanya mendengar musik mereka, bagi saya itu sudah cukup. Mereka banyak menemani di malam-malam tak bisa tidur saya.
Ok, saya mulai mencintai Waiting For The Sun dan Catch Me When I Fall.

Oh iyha, sedikit info tentang mereka, akhir-akhir ini 3 orang ini sedang sering sekali diperbincangkan.
Album kedua mereka “Ode Buat Kota (yang belum saya punya) menjadi album terbaik 2010 versi majalah Rollingston Indonesia.
Dan sebelumnya, hingga saat ini telah direview oleh beberapa reviewer.
Yang membuat saya sedih, saya belum terbeli kepingnya. Saya miskin harta dan apresiasi.
Saya hanya mampu mendengar beberapa lagu dari album tersebut (Coffee People,Alusi, dan Menjadi Manusia) dari beberapa radio lokal.
Malu juga ketika tadi malam sang vokalis menanyakan apakah saya sudah membeli keping mereka atau belum.
Ok, bulan depan, insya ALLAH.

skip

Sebelumnya saya mau bilang, bahwa ini bukan review apapun yha.
Ini hanya cerita pendek tentang kebahagiaan saya akhirnya mampu menyimak mereka di depan mata lagi.
Tadi malam di sebuah kafe yang hanya berjarak belasan meter dari rumah saya. Potluck Cafe, Bandung.
Saya datang 2 jam sebelum mereka tampil. Agak lama juga menunggu mereka tampil.
Untungnya saya menunggu sambil berbincang dengan mereka dan beberapa keluarga Jangan Marah Record.

Adalah Dedyk Eryanto (drum) Justinus Irwin (guitar, vokal), Wahyu Nugroho (guitar, lead vocal) dan Madava (additional keyboardist).
(Mada ini yang pernah menggantikan Adrian Yunan Faisal pada gigs Efek Rumah Kaca di ITB Fair Februari 2010 ?  benar tidak ?)
(Bass, keyboard, kecrek, terus apa lagi itu yang seperti balon ? multitalenta sekali. )
Mereka di depan saya, siap mempamerkan musik kebanggaan mereka, yang memang pantas dibanggakan.
Saya melihat hanya ada 6 lagu di setlist. Tidak ada Waiting For The Sun dan Coffee People.
Untungnya sebelum mereka perform tadi, saya memohon (dengan tanpa rasa malu) untuk Coffee People.
Dan mereka menyetujuinya. Meletakkannya di antara Jalan Pulang dan Menjadi Manusia.

>>

>>

Hilangkan, baru kali ini saya mendengarnya. Tapi telinga saya bersahabat dengan kedua kaki saya.
Ketika mendengarnya,kaki saya bergerak hampir senada iramanya.
Alusi, hanya hafal beberapa kalimat, dan dengan susah payah, saya coba ikut bernyanyi, pelan dan sengau.
Jalan Pulang, kasusnya sama sepeti Hilangkan. Padahal menurut teman saya, ini lagu bagus sekali.
Bagus untuk dinyanyikan bersama. Menyedihkan sekali, karena saya tidak hafal satu bagian pun dari lagu ini.

Time is so hard when things tend to be true”.
Ini Coffee People. Saya juga hanya hafal beberapa potongan liriknya.
Saya baru mendengarnya beberapa kali dari radio lokal Bandung.
Sebuah lagu yang katanya tentang jurnalis yang selalu dikejar pekerjaannya, kopi adalah teman setianya.
Ok, saya ini bukan jurnalis, tapi kurang lebih senasib, dan kopi selalu selalu mengalihkan kepenatan.
Berikutnya Menjadi Manusia. Tentu saja tidak hafal juga.
Satu-satunya kalimat yang saya hafal dari Menjadi Manusia adalah
Tutup mulut dan coba menunduk, kita semua yang terkecil.”

>>

>>

Catch Me When I Fall adalah favorit saya. Beberapa bagiannya saya hafal lirik dan iramanya.
Ini entah lagu tentang apa, tetapi saya mendengar keriangan di dalam iramanya. Sing along-able.
Walaupun mungkin versi saya dan versi mereka berbeda jauh. Kemampuan mendengar bahasa Inggris saya payah.

When she needed friends, there’s a place to hold her tight.
She walks by, when the things have changed.
What would it be ? If you could just say, catch me when I fall.
Catch me, when the sunshine will always shine for you.
And the sunshine will always shine for you, you know it’s true.
(Catch Me When I Fall – Bangkutaman)

Yang paling ditunggu-tunggu tentu saja Ode Buat Kota. Ini adalah lagu wajib bagi mereka.
Dan kami penonton ikut menyanyikannya.
Masalah terjadi ketika ternyata mic yang digunakan mereka bermasalah.
Jadinya kami mendengar langsung suara vokalis tanpa pengeras suara itu.
Mereka adalah Bangkutaman, dengan masalah seperti itupun, toh mereka bukan musisi yang gemar lipsync.
Jadinya tentu saja suara asli mereka tetap menyelamatkan masalah yang terjadi.
Dan sama sekali tidak mengurangi antusiasme penonton dalam mengikuti setiap bagian dai Ode Buat Kota.

>>

>>

Tata cahaya yang seadanya, sound system pun seadanya.
Acara gratis seperti ini sebaiknya terima saja apa adanya. Toh saya puas dan tidak menyesal.
Saya menikmati setiap bagian gigs mereka ini.

Saya ingin mengatakan kepada anda semua, bahwa Bangkutaman adalah salah satu band band yang layak dibeli keping aslinya.
Band yang layak ditonton aksi panggungnya. Dengan sound system seadanya, mereka tetap menghibur.
Lagu-lagu yang asik dinyanyikan bersama-sama.
Gambar-gambar saya diatas memang sama sekali tidak mampu mewakili bagaimana hebatnya aksi panggung mereka.
(kamera saya tidak mampu mengambil gambar dengan hasil yang bagus untuk objek dengan cahaya minim seperti itu)
Anda harus membuktikannya sendiri.
Saya yakin, saya tidak berlebihan mengatakan itu, saya merasakannya.

Mereka selesai. Berterima kasih, memohon maaf dan mengucapkan selamat tinggal kepada kami.
Saya masih bersama mereka setengah jam kemudian.
Sebelum kemudian pamit pulang, dan berjanji bertemu lagi 3 hari kedepan (Selasa, 29 Maret 2011). Semoga.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s