Bangkutaman : Yet Another Story About Them.Epic.

 

Location : Green Café Bandung / 9coustic

Akhir-akhir ini memang cerita tentang mereka sedang menghiasi hari-hari saya.
Di beberapa waktu kemudian setelah saya menulis di blog pribadi saya tentang mereka,
dan mengunggah beberapa foto di halaman facebook saya, beberapa teman ribut sekali akan hal ini.
Beberapa kecewa karena untuk hal sejenis ini (menonton gigs musisi ‘sejenis’ Bangkutaman) saya tidak menyertakan mereka.
Beberapa lainnya bertanya, musik seperti apakah yang dibuat Bangkutaman itu.
Saya kebingungan. Saya merasa bahkan tidak tahu apa-apa tentang musik mereka.
Saya hanya berada di barisan pendengar, tidak pintar untuk menerka-nerka tentang apa sebenarnya konsep musik yang mereka ciptakan ini.
Kalau mau mendengar (dan lalu menilai), silahkan simak sendiri musiknya, dan tonton gigsnya.

and the story goes..

Selalu senang untuk menuliskan tentang bagaimana bahagianya saya
karena telah menghabiskan beberapa jam dalam hidup saya untuk musisi favorit.
Kali ini Bangkutaman lagi, setelah 3 hari sebelumnya menyimak mereka di Potluck/Minimaliste Vol.4
Pergi bersama seorang teman menuju sebuah acara yang mengundang mereka kali ini.
Hampir tidak mempercayai bahwa akhirnya saya sedang berada di depan mereka,
dalam keadaan saya masih memakai ‘pakaian untuk ke kantor’
Siapa peduli !? Yang penting Bangkutaman di depan mata.

Baru beberapa langkah memasuki venue, terdengar mereka sedang meneriakkan Alusi.
Menurut penyimak di sebelah saya, ini baru lagu pertama, artinya saya tidak terlalu terlambat jauh menyimak mereka.
Ini pertama kalinya saya menyimak mereka dengan accoustic set.
Menarik juga melihat Mas Irwin tidak terlalu garang memainkan gitarnya.
Wah, ada Madava lagi disana, dengan gitar akustik.

>>

>>

Mereka membawakan 3 lagu lain setelah Alusi (Jalan Pulang, Catch Me When I Fall dan Ode Buat Kota).
Mereka sepertinya bermain rileks dan sangat menikmati.
Saya pun senada, menikmati setiap bagiannya, sambil sesekali mengambil gambar mereka.
Saya merasa jatuh cinta kesekian kalinya kepada Catch Me When I Fall.
Rasanya tidak ingin mereka berhenti menyanyikan lagu ini di depan saya.
Lagu ini dibawakan full set atau accoustic, tetap saja sempurna di telinga saya.

>>

>>

Ode Buat Kota membuat beberapa penonton-penonton yang sebelumnya tidak terlalu mengarahkan pandangan ke arah mereka,
seketika menghadap ke arah sumber suara. Tau rasa kan !?😀
Ode Buat Kota selalu menyenangkan untuk disimak bersama-sama,
Bagian “na na na.. na na na na.. na na na na.. na na na na na…” selalu menyenangkan untuk diteriakkan bersama,
pun bagi anda yang tidak hafal lirik dari lagu ini secara keseluruhan.
Ode Buat Kota itu tidak mungkin bisa lepas begitu saja di pendengaran pertama.

>>

>>

40 menit yang mengesankan bagi saya. Dan akhirnya mereka harus selesai.
Menyenangkan akhirnya kami berada di satu lingkar meja dan berbincang bersama.
Selalu bagian yang menarik ketika saya bercerita tentang musik (dan bukan tentang musik) dengan musisi yang saya kagumi.
Saya merasa, pertemanan tentu tidak perlu dibatasi dengan batas yang disebut artis dan penggemar.

Oh iyha, tentang foto bersama setelahnya, saya menganggapnya itu sebagai etika dan apresiasi. Asal tidak berlebihan.
Kenapa etika ? Karena kami menganggap mereka teman yang kami senang untuk mengabadikan momen-momen kebersamaan dengannya.
Lagipula rasanya tidak beretika jika hanya menjadikan mereka sebagai objek foto bersama.
Apresiasi ? Karena kami ingin menunjukkan kepada banyak orang, bahwa mereka adalah musisi yang layak untuk diidolakan.
Untuk memberitahukan bahwa seperti inilah gambaran tentang Bangkutaman yang selalu kami banggakan itu.

>>

>>

5 menit kemudian, saya pamit.
Saya harus kembali bekerja, dan mereka pun harus menuju Jalan Pulang.
Terima kasih semuanya, karena telah berada di tempat tersebut.
Great performance, cool guys, epic, addictive.

 

#untuk foto-foto selengkapnya, silahkan menuju ke halaman facebook saya.

 

2 thoughts on “Bangkutaman : Yet Another Story About Them.Epic.

  1. haha tulisan yang bagus, secara saya juga suka bangkutaman,, setelah tersentil dengan “ode buat kota”, yang bagian intro nya kena banget, ternyata bukan cuma saya yang beranggapan seperti itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s