Jogja Invasion : Armada Racun, FRAU.

Hurray, akhirnya ketemu juga gambar-gambar ini..
(Sudah ga ‘update’ juga yha, baru di-posting sekarang. Ahh..siapa peduli, posting- posting aja yha !?)
Gambar-gambar ini saya ambil pada Pasar Seni ITB 10.10.10.
Ketika itu saya berhasil menonton performance dari FRAU dan Armada Racun.
Ini menjadi sangat berarti dan langka, karena di kota saya ini (Bandung) jarang sekali ada acara yang mengundang mereka.
Dan ketika saya mendengar 10.10.10 ini mengundang mereka,
saya segera meyakinkan diri saya harus berada di barisan depan pada pertunjukkan mereka.

Bertempat di stand Wahana Neraka, dan saya kaget ketika pintu masuk padat sekali oleh antrian penonton.
Sepertinya Wahana Neraka ini yang paling dipadati pengunjung.
Ketika saya bergabung di antrian, panitia bilang bahwa di dalam sedang tampil Armada Racun.
Kami baru bisa masuk ketika Armada Racun selesai, dan menonton performer lain setelahnya.
Saya memohon-mohon ke panitia, supaya saya diperbolehkan masuk.
Saya bilang saya menuju Wahana Neraka ini hanya untuk menonton Armada Racun.
Lagipula saya sudah berjanji kepada mereka bertiga untuk menyimak mereka.
Saya bilang kepada panitia kalau mereka bisa mengusir saya setelah Armada Racun selesai.
Mereka nyengir, berbaik hati, akhirnya mereka membolehkan saya masuk.
Beberapa langkah setelah melewati barisan panitia penjaga, saya menoleh ke belakang.
Puluhan mata memandang iri karena hanya saya yang diperobolehkan masuk.
Kali ini giliran saya yang menyeringai. Merasa menang.

Armada Racun, menyenangkan akhirnya bisa menyaksikan mereka di depan mata.
Kala itu saya hanya mendengar Boys Kissing Boys, Tuan Rumah Tanpa Tanah dan Amerika.
Entah berapa lagu yang terlewatkan oleh saya.
Menyaksikan Tuan Rumah Tanpa Tanah di depan mata, di awal lagu terdengar mencibir dan mencaci secara halus.
Di bagian tengah sampai akhir, rasanya seperti melihat mereka sedang kesal,
lalu harus menerima kenyataan bahwa mereka menumpahkan kekesalannya kepada saya.
Sangar, penuh kemarahan dan menakutkan. Memaksa menyerah.
Ok, applause untuk Tuan Rumah Tanah Tanpa Tanah.

Kami tak butuh ‘tuk dimengerti, tak butuh ‘tuk dipahami.
Karena kau tak pernah mengerti, tak pernah fahami.
Bagaimana bisa diungkapkan tuan rumah tanpa tanah.
Bagaimana bisa kuungkapkan, hey ! Tuan rumah tanpa tanah.

(Tuan Rumah Tanpa Tanah – Armada Racun)

>>

>>

Amerika, membuat semua penonton ikut meneriakkan liriknya.
Saya melihat beberapa penonton di sekitar saya terkesima dan beberapa mengatakan ‘eh keren ini..’.
Perempuan di sebelah saya menanyakan kepada saya, mereka band asal mana, albumnya seperti apa dan siapa nama vokalisnya.
Sedangkan saya bersimpuh menghadap kedepan, dan hampir terus-terusan bergumam ‘waw’.
Ya, dengan sound system pas-pasan, Amerika tetap memikat.

Kami bangsa Indonesia mengaku berbangsa satu, Amerika.
Kami bangsa Indonesia mengaku berbahasa satu, Amerika.
Kami bangsa Indonesia mengaku bertanah air satu, Amerika.
Kami bangsa Indonesia mengaku, semuanya Amerika.

(Amerika – Armada Racun)

Hentakkan drumnya Mas Rahmat, raungan bass bung Danny Bastard dan teriakan vokal Bung Fred. Wow, superb.
Gitar ? Anda tidak akan mendengar gitar di penampilan mereka.
Suara Niccodemus Freddy Hadiyanto (he’s taken, if you want to know, sorry.) terdengar berat, khas.
Rasanya saya akan langsung hafal suara ini, pun ketika dia tidak sedang meneriakkan lagunya.

>>

>>

(Ahh.. susah memotret dengan cahaya minim, kamera saya kamera poket..sedih)

Armada Racun, band layak dibeli keping aslinya, dan layak ditonton langsung aksinya.
Tentunya bagi yang suka mengeksplorasi musik lokal Indonesia yang bagus.

Saya menyapa mereka beberapa menit. Hey, akhirnya kita bertemu juga Bungs.
Ehm wait, Feddy’s woman is so beatiful and charming. She took pitures for us.

>>

>>

Satu jam kemudian, saya mendapati diri saya belum terusir dari jajaran penonton.
Dan kali ini lantai Wahana Neraka semakin dipenuhi penonton.
FRAU tampil setelah Tiga Pagi.
Jika bagi banyak orang 2010 adalah tahunnya Lady Gaga dan Katy Perry (what’s so cool from her ?),
bagi saya 2010 adalah tahunnya FRAU.
FRAU dimata saya adalah prestasi dari hasil kreativitas kaum muda yang mampu mengharumkan ranah musik Jogja
bersama Melancholic Bitch (akan lebih sepurna bila acara ini mengundang band ini juga) dan Armada Racun.

Cantik dan anggun sekali, dengan piano, pakaian sederhana, apa ? sendal jepit ?, dan segelas teh atau mungkin kopi di sebelahnya.
FRAU dengan Glow, Insensity Intimately, I’m Sir, Rat and Cat, Mesin Penenun Hujan dan Sepasang Kekasih Yang Bercinta di Luar Angkasa.
Lucu dan menarik, mendengar ia tidak bisa melepaskan aksen bahasa Jawanya di antara sapaannya kepada penonton.

>>

>>

>>

Jarinya dengan lincahnya memainkan pianonya (Oskar),
dan penonton menghadiahkan tepuk tangan yang panjang di setiap akhir lagu.
Sepertinya hampir setiap lagu penonton disini mengikuti liriknya. Menyenangkan, kita menyanyi bersama.
Bagian yang selalu menjadi favorit saya adalah Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Luar Angkasa.
Entah sudah berapa ribu kali saya mendengar lagu ini dalam hidup saya.
Saya pernah memutarnya hampir seratus kali dalam 24 jam, pada suatu hari.
Di rumah, di perjalanan, di meja kerja, di perjalanan lagi, di rumah lagi, sampai terlelap.


Petang melesap, dan udara yang terbakar jauh.
Kita adalah sepasang kekasih yang pertama di luar angkasa.
Seperti takkan pernah pulang.
Kau membias di udara, dan terhempaskan cahaya.
Seperti takkan pernah pulang.
Ketuk langkahmu menarilah, jauh permukaan.

(Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Luar Angkasa – FRAU)

Bersyukur karena akhirnya mampu mendengar dan menyimak lagu ini secara langsung.
Di album aslinya, anda akan mendapati lagu ini dibawakan bersama pemilik aslinya, yaitu Ugoran Prasad (Melancholic Bitch).
Saya selalu menyukai setiap bagian dari lagu ini, sejak pendengaran pertama.
Anggun, mewah, memikat, applause untuk nyonya musik ini.

Oh iyha, teman saya ada yang mau lihat ini katanya, hehe. Silahkan dinikmati.
Muka sayanya tidak usah terlalu dipedulikan. Saya tau, saya ini tidak sepadan berdiri disamping FRAU.
Hey FRAU say ‘hi’ to you, friend, hehe.

>>

>>

Rasanya, pengalaman saya menonton pertunjukkan musik,
hampir lengkap karena telah berhasil menyimak FRAU dan Armada Racun secara langsung.
Saya memang menggemari beberapa musisi Jogja.
Sayangnya seumur hidup, saya belum pernah menonton Melancholic Bitch (Mr. Ugoran Prasad, kapan anda kembali pulang ke Indonesia ?)
dan Risky Smumerbee & The Honeythief juga. Ahh.. Belkastrelka juga.
Berarti pengalaman menonton musik kamu belum sempurna dong, Miltaa… hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s