9 Halaman Tentang Tahiti 80 di Kampoeng Jazz

So that was the night. I met my favorite band when I was at senior high school. Tahiti 80. Well, since I met them and saw their performance last night, I said to my self “oh, I still like them, I still know their songs. ”

Nnnggg! Pake Indonesia aja lah, saya sadar diri kalau bahasa Inggris saya buruk sekali.

Jadi begini, Minggu kedua bulan April, saya mendapatkan berita dari teman saya, kalau FH Unpad akan mengadakan acara Kampoeng Jazz. Dia bilang kalau guest performancenya Tahiti 80. Ini kali kedua mereka datang ke Indonesia. Tiketnya 160K, menurut saya mahal. Uwoh! Ok, saya akan melewatkannya.

Lagipula Kampoeng Jazz ? I love any kind of music, but I never really into jazz. I’m not that glamour nor romantic to love jazz. Penyuka Jazz dalam bayangan saya adalah mereka yang cantik dan ganteng, sexy, romantic couples, high classy. Dan saya tidak begitu. Ok, pengecualiannya, saya menggemari Sungsang Lebam Telak (SL*T). Mereka jazz bukan ? hehe.

Skip.

2 hari sebelum mereka perform, saya mendapat telepon dari seorang teman di sebuah harian lokal Bandung yang meminta saya membantu mereka untuk mewawancara Tahiti 80. Di hari tersebut saya masih bersedia untuk membantu teman saya itu. Lagipula saya bisa bertemu dengan Tahiti 80, walaupun tidak akan mungkin menonton konsernya. 2 hari itu saya mulai menyusun draft pertanyaan, mulai koordinasi jadwal mereka dengan pihak penyelenggara, dan akhirnya sepakat untuk mengadakan wawancara di Saung Angklung Udjo jam 9 pagi hari Sabtu, 30 April 2011.

Jumat, 29 April. Waktu sedang tidak bersahabat dengan saya. Dua tugas kuliah dan take home tasks dari kantor tiba-tiba datang. Harus diselesaikan secepat mungkin. Hari itu saya berjibaku dengan kedua hal tersebut. Melupakan bahwa saya harus mempersiapkan banyak hal untuk mewawancarai Tahiti 80. Jumat malam, 29 April, sepupu saya datang dari Jakarta dan minta ditemani berjalan-jalan besok di Bandung. Oh time, please stop joking.

Dini hari, Sabtu 30 April. Saya mendapat telepon dari teman saya (sound engineer untuk Kampoeng Jazz), memberitahu kalau Tahiti 80 sedang melakukan sound check di Unpad. Dia menawarkan, mungkin saja saya ingin bertemu mereka. Dengan sedih, saya menolak.

Sabtu pagi, 30 April jam 04.00. Saya mendapati diri saya tidak percaya diri untuk mewawancarai mereka. Bahasa Inggris saya buruk. Meskipun saya sudah menyiapkan draft list pertanyaan, rasanya akan memalukan dan tidak beretika bila bahasa Inggris saya lebih banyak pasif. Rasanya tidak mungkin jika menunggu mereka menjawab di kertas, lalu saya akan terdiam, atau mungkin mempermalukan diri saya dengan Bahasa Inggris saya yang buruk.

Lagipula pagi ini saya harus menemani sepupu saya liburan di Bandung. Saya ambil handphone, mengirim pesan untuk teman saya, bahwa saya membatalkan rencana untuk mewawancara Tahiti 80. Dear friend.. If you read this, again and again, I’m so sorry, you know how much I regret that. Terima kasih telah mengerti, dan tidak menghakimi. Saya benar-benar kebingungan dan tidak percaya diri dengan Bahasa Inggris saya.

Ok, jadi hari itu saya merelakan untuk melewatkan Tahiti 80 lagi. Sampai kemudian malam hari, jam 20.30. Sebuah telepon dari teman saya (sound engineer) yang mengajak saya untuk menuju venue. Dia bilang, dia akan meminjamkan kameranya untuk sebebas mungkin saya pakai untuk mendokumentasikan setiap momen di Kampoeng Jazz. Tentu bodoh, untuk berkata tidak. Ambil tas, pakai jilbab, pakai sepatu, langsung berangkat. Jarak dari rumah saya ke venue hanya 10 menit (berjalan kaki).

Dan disanalah saya berada. Kampoeng Jazz. Menuju barisan terdepan. Setelah 2 performer, akhirnya segerombolan TAHITI 80 memasuki panggung. Mereka ber 6 (5 full band, 1 sound engineer). Saya berteriak dalam hati (itu mereka!). Sound Engineer mengambil gambar kerumunan, kemudian menuju ke utara panggung untuk mengatur sound. 5 orang Tahiti 80 guys (Xavier, Pedro, Julien, Raphael, Mederic) mengatur alat masing-masing. Saya tidak pernah melihat mereka sedekat ini, kaki mereka panjang-panjang, rupawan!😀

Dan itulah mereka.

>>

#picture

>>

>>

>>

Saya ikut menyanyanyikan beberapa lagu yang saya hafal. Di sekeliling saya, hampir tidak ada yang mengikuti mereka bernyanyi. Atau mereka bernyanyi dalam hati ? Sesekali saya mengambil foto mereka. Postur tubuh saya tidak terlalu tinggi, jadi tidak terlalu menggangu penonton lain ketika saya mengangkat kamera untuk mengambil gambar. Di pertengahan lagu (saya ikut berteriak-teriak di reff). I cried aw along their performance. Saya jatuh cinta lagi kepada TAHITI 80. Suara vokalisnya bersih sekali. Lirik bahasa Inggris, disuarakan dalam sengau Prancis. Sexy!. Xavier sepertinya mendengar teriakan saya di beberapa lirik, lalu menoleh kea rah saya, dan tersenyum. Mau mati rasanya! Di tengah kerumunan, dan dia melihat ke arah saya. Dan cewe di sebelah saya berkata : He smiles at you! Yeah!

Dari sini, saya melihat Xavier memakai pick gitar berwarna hitam (tidak pernah terfikir, kalau akhirnya pick gitar itu akan jadi milik saya). Secara keseluruhan, mereka ber 5 attractive sekali. Sering tersenyum, bercanda dan terbahak di atas panggung. Sound Kampoeng Jazz juga bagus. Menurut cerita teman saya, sound yang dipasang untuk Kampoeng Jazz memang lebih bagus daripada sound yang dipasang ketika konser Justin Bieber. Harusnya memang begitu! Tahiti 80 di Unpad selesai di Heartbeat. Mereka turun dari panggung, dan saya lihat mereka berteriak puas di belakang panggung, lalu memasuki sebuah ruangan tertutup yang dijaga puluhan panitia.

Saya melihat mereka dari kejauhan. Ingin sekali menghampiri mereka, dan menunjukkan kekaguman saya akan penampilan mereka malam ini. Seketika, saya menyesali betapa saya telah melewatkan kesempatan besar untuk bertemu mereka tadi pagi. Sekarang pasti sudah tidak mungkin. How “if only” means so much now. Mengecek telepon selular, yang ternyata mati karena habis baterai. Saya mencari teman saya ke tempat pengaturan sound (itu apa namanya?) ternyata tidak ada.

Lebih dari jam 12 malam. Saya duduk di sebuah halaman dari sebuah ruangan disana. Beberapa panitia bolak-balik melewati saya. Saya masih disana, sambil menunggu teman saya, ketika beberapa panitia bertanya kepada saya dengan wajah “who are you?”.
Salah satu panitia yang melewati saya.

Panitia
: “tehh, lagi nunggu Tahiti yha ?”
Saya : “Ngga. Eh, emang mereka dimana ?”
Panitia : “Tapi mereka ngga ngebolehin foto. Jadi ga boleh ada yang masuk.”
Saya : “loh, saya ngga niat berfoto Mas..”
Panitia : “oh maaf Tehh..”

Tiba-tiba pintu terbuka, dan saya melihat dan mendengar ada Xavier sedang berteriak-teriak menonton pertandingan sepakbola. Jadi pintu di belakang saya ini bisa ruangan mereka ? Pantas saja si panitia barusan dan beberapa panitia memasang muka penuh curiga kepada saya, karena saya duduk di halaman ruangan tersebut.

Saya akan beranjak pergi, ketika tiba-tiba pintu terbuka lagi. Daaan.. saya mendengar bahasa Prancis dari sumber suara di belakang saya. Deg, itu mereka ? Reflek, saya menoleh. Dan Julien dan sound engineer (yang saya lupa namanya) sedang melihat-lihat ke arah halaman.

Saya : (reflek tersenyum ke arah mereka)

Dan saya melihat Julien membalas senyum saya. Deg!

Saya lupa bahasa Inggrisnya tepatnya bagaimana, jadi percakapan yang terjadi adalah begini kalau tidak salah :

Julien
: “Hi, what are you doing here? Ini sudah malam.”

Saya : “Hi, Julien, and.. (saya menjulurkan tangan kea rah sound engineer, dan dia menyebut namanya, yang saya lupa sampai sekarang). I’m waiting for a friend.”

Julien
: “hmm.. (ngomong apa gitu Bahasa Inggris yang saya ga ngerti)”
Saya : “so, this is your room ? where’s is Xavier ?”

Julien
: “dia lagi nonton bola dan istirahat. Bla..bla..bla.. (kebanyakan ga ngertinya)”
Saya : “ahh.. ehmm.. Julien, can I take picture with you and other Tahiti guys ?”
Julien : “Yea, of course!”

Tiba-tiba Pedro datang menghampiri kami, dan mereka ngomong dalam bahasa Prancis. Dan mereka mengangguk-angguk.
Mungkin mereka sedang bilang “anak perempuan kecil ini seperti kurcaci” hehe.

Saya : “Pedro, come here! Join us!”

Saya mengeluarkan kamera saya.

Pedro : ya. Sure!

Kita berempat berjejer.

Saya : “so, how we take picture ?”

(bahasa Inggris saya ancur sekali, tapi mereka berusaha mengerti sepertinya)

Julien :”emm.. How about like this (memperagakan ketika kita berfoto menggunakan kamera ponsel) ?”
Sound engineer : “biar saya saja yang foto, sini kameranya” (mungkin dia bilang begitu, sambil meminta kamera ke arah saya)
Saya : (memberikan kamera). “Just click this, when we are ready”. (nyengir. Pokoknya kerjaan saya nyengir terus dehh)
Pedro : “Kamu emang bisa pake itu ?”
Sound engineer : (lupa jawab apa, yang pasti kemudian mereka tertawa-tawa)

Pedro langsung memegang bahu saya. I’m shaking. Tidak pernah ada lawan jenis yang berani seperti itu sama saya. Saya jengah.

Click..click. Kami mengambil 2 gambar.

>>

>>

Julien mengambil kamera, melihat ke arah gambar dan memperlihatkannya ke arah kami. “cool” katanya.

Julien
: “bla..bla..bla.. you still want to wait Xavier ?” (kalo tidak salah artinya : “Tapi agak lama.. bla..bla..bla.. dia masih asik menonton.”)
Saya : “Yes I can wait.”
Pedro : (mungkin artinya) “kami masuk dulu yha, I will tell Xavier that you are waiting here.”
Saya : “seriously Pedro ? Thank you.”
Pedro : “hemhem..”
Julien : “bla.. bla.. bla.. bla..bla..bla..” (lalu memegang kedua bahu saya, seperti anak ke bapaknya)
Saya : (garuk-garuk kepala).. “Just go on, doing your stuff.. emm sorry, I can’t speak English.”
Julien : “bla.. bla.. we know it.. don’t go anywhere bla.. bla.. hehehe.”
Saya : “Okay.”

Dan mereka memasuki ruangan. Saya masih deg-degan. Malu, senang! Saya mengambil minum di tas saya.
Masih menunggu teman saya, karena teman saya janji akan menemui saya disini tadi, sebelum kami terpisah.
15 menit, saya masih menunggu. Beberapa panitia bolak-balik.

Panitia sengak
: “nunggu siapa Tehh ?”
Saya : “nunggu Tahiti!”
Panitia sengak : “Tapi ngga boleh foto Tehh.”
Saya : “Tadi saya udah izin sama Julien.”
Panitia sengak : “Julien siapa ?”
Saya : “Julien, Pedro, personil Tahiti, Mas!” (muka saya langsung jadi judes)
Panitia sengak : “Tapi mereka udah mau balik, ngga boleh foto. Panitia ngga nyediain sesi foto.”

(Ini pantia minta dilempar bakiak banget. Culun, gaya kaya cewe, celana ngetat, pake kawat gigi.)

Saya : “kita liat aja nanti Mas.”

Dia ngeloyor pergi.. menuju ruangan tersebut.

Pintunya terbuka sedikit. Dari luar saya bisa melihat puluhan panitia sedang antri berfoto dengan Xavier dan bergantian dengan personil lain. Xavier sedang dipeluk-peluk sambil berfoto dengan panitia centil yang cengar-cengir ngga keruan. Si panitia sengak barusan, masuk ke kerumunan itu, dan bergantian berfoto dengan yang lain. Mereka diajak berfoto puluhan kali. Apa-apaan itu ? Orang lain ga boleh foto, kok mereka seenaknya aja berfoto?! Dan dia bahkan tidak tau siapa Tahiti 80 tadi! Dan saya.. harus menahan melihat itu, sembari kesal karena teman saya tidak kunjung datang, dan saya tidak tau dimana dia berada. Rasanya mau nangis!

Saya berbalik, duduk membelakangi pintu. Kemudian mendengar pintu ditutup. Peduli amat! 5 menit kemudian, saya dikagetkan oleh seorang Julien lagi! Dia, dengan tas besar di tangannya. Dia memegang pundak saya, Di belakangnya panitia cewe yang melihat saya dengan muka sinis.

Saya : “Julien!”
Julien : “bla..bla…bla…” (dia ngomong cepat sekali)
Saya : “Julien, seriously, I can’t understand what you said. I think I will going home, I don’t think I can meet Xavier.”
Julien : “hey I told him.. bla..bla..bla..bla.. you have to wait there.. (menunjuk suatu arah) bla…bla…”
Saya : “but, the.. you know..ehmm …they didn’t let me to take photos with Tahiti.”(huu..ngadu!)
Julien : “You can! bla.. bla..you can.. bla..bla..” (err, saya mau nangis, karena tidak ngerti apa yang Julien bilang)..
Saya : “should I go there ?”
Julien : “yess.. and good luck. What’s your name ?”
Saya : “Milta. Thanks Julien, I’m speechless. I don’t know what to say to you.”
Julien : “it’s ok.. bla..bla..bla.. bye.. see you!”
Saya : “see you, Julien!”

Kami tidak memperdulikan ekspresi si panitia cewe di sebelah Julien ketika kami bersalaman. Lalu dia pergi ke arah tempat parkir, diikuti oleh panitia cewe tersebut.

Saya berjalan ke arah yang ditunjuk Julien. Saya sih sudah ikhlas kalaupun tidak bertemu Tahiti. Plan B, saya akan mencari teman saya ke tempat pengaturan sound. Dan.. dari jarak beberapa meter tempat saya berjalan, terdengar percakapan Bahasa Inggris, dan tawa keras. Saya menoleh, itu mereka!. Mereka sedang berjalan di sekitar tempat itu. Dan tiba-tiba Pedro melihat ke arah saya. Memiringkan kepala, memastikan. Lalu menghampiri saya.
Mungkin difikirnya “hihii..si kurcaci belang lagi!”

Saya : (nyengir) “hehe.. I’m still here!”
Pedro : “Good! Bla…bla..bla..”

Menarik saya ke arah rombongan Tahiti 80 yang dikelilinga beberapa panitia. Saya kebingungan. Semuanya terjadi begitu cepat, secepat degup di dada saya. Sambil terus memegang tangan saya, dia menghampiri Xavier, berbicara, dan Xavier terkaget, mengangguk-angguk.

Pedro melepaskan tangan saya. Deg! Xavier menghampiri saya. Dan merendahkan wajahnya melihat ke arah saya.

Xavier
: “Hi.. (mengulurkan tangan ke arah saya). Pedro, why you didn’t tell me that the girl is cute bla..bla..bla..” (boleh percaya atau tidak, kalo ga salah denger sih emang gitu! Berani sumpah!) (orang Prancis emang jagonya yha merayu!)
Saya : (mengulurkan tangan) “Milta.. glad to see you Xavier. Ehhmm.. “
Xavier : “I know you! I saw you from the stage. You sing Big Day, good! You took pictures. Are you photographer ?
Saya : “You saw me ? From the stage ? No, I’m just taking pictures for my collection.” (my collection ? jawaban apa itu?)
Pedro : (ngomong dalam bahasa Prancis, diikuti tawa mereka ber 5. Pasti ngomongin tentang kurcaci! Hmm!)

Xavier dan Pedro berjalan di kedua sisi di sebelah saya. Xavier memegang bahu saya. 3 yang lainnya (Raphael, Mederic, sound engineer) berjalan di belakang kami bersama panitia.

Saya : “Xavier, can I take photo with you all ?”
Xavier : “yes, of course! Julien said bla..bla..bla.. Do you bring your camera?”
Saya : “Ya.. here it is..”

Pedro menghampiri salah satu panitia, daan.. ack! Yang disuruh mengambil foto adalah… adalah..adalah si panitia kawat gigi yang sengak tadi! Karma really exists. Dia melihat kea rah saya dengan wajah malu, saya melihat ke arahnya dengan wajah datar.

Xavier
: “ok.. bla… blaa…” (mengajak personil lain berfoto juga)

Kita berbaris ber 5. Xavier dan Pedro memegang bahu saya. Jengah!. Sebenarnya saya tidak harus jengah seperti itu yha, karena itu kan cara mereka untuk mengakrabkan diri. Saya saja yang tidak biasa, karena saya pakai jilbab. Dan kita telah bersiap berpose, ketika..

Xavier
: “wait..wait.. I have something for you.. ehmmm..where is it?!.. (merogoh ke sakunya)..(mengambil sesuatu).. (menarik tangan saya, membalikkan telapak tangan saya, menyimpan telapak tangannya di atas telapak tangan saya).. this is for you.. for you, sweety.. from me for you..”

(kirain cincin tunangan) Pick gitar! Ini pick gitar yang saya lihat tadi dari bawah panggung. Dia memberikannya untuk saya ?

Pedro : “hey, you got it.. bla..bla..” (kalo tidak salah artinya : dia sudah lama memakainya, dan sepertinya harus berakhir di sini)
Saya : (Cuma bisa cengar-cengir) “Guys, you know I’m speechles!”
Xavier : “You can have it.. and the camera is ready, let’s take picture.”

Click.. (dan saya masih deg-degan)

Panitia : “lagi ?”
Saya : “lagi deh, sekali lagi! hehe..”
Xavier : “lagi..lagi..”

(!!!!, he said “lagi..lagi..”) ahhahaha.

Panitia : “Ok, done!” (lalu memberikan kamera ke arah saya)

>>

>>

Saya sedang memasukkan kamera ke tas, ketika Xavier menarik id card yang saya kalungkan di leher saya.

Xavier : (membaca id card) antusias : “Are you ‘talent’ ? You make music ?” (tulisan ‘talent’ adalah tulisan untuk member tanda kalau pemilik id tersebut adalah performer).
Saya : “No Xavier, this is not mine. I’m just helping my friend here. He is one of sound engineer for this event.”
Xavier : “So, you are here for money ? Good! Bla…bla..bla.. ?”
Saya : “sorry Xavier, my English is not good. I can’t understand what you have just said ? sorry..”
Xavier : “oh.. It’s ..ok! I can bla..bla..bla.. (ngomong panjang, dan saya ngga ngerti) ehhmm..what music should I check ?”
Saya : “ehmm.. Do you listen Maliq n D’Essential ? I saw the sticker on your keyboard.”
Xavier : “oh ya.. bla.. bla.. bla..”
Saya : “emmmhh, my friend have just returned this (saya mencari-cari cd di tas saya). The Trees and The Wild. You can listen them. Easy listening.”
Xavier : (membuka cover album The Trees and The Wild-Rasuk) “hmm.. cool!”
Saya : “you can have it, if you want.”
Xavier : (mengangguk-angguk) “bla..bla…bla.. (dan mengambil cd Rasuk). Do you listen White Shoes and The Couple Company ? bla..bla..bla..”
Saya : “White Shoes ? You know them ?”
Xavier : “yes.. bla..bla..bla..collaboration..amnesty Internasional. Bla..bla..bla..”
Saya : (antusias) “so you know ERK ? Efek Rumah Kaca ? They write a song titled ‘Hilang’ for that album compilation.”
Xavier : “Ummm..Yes, But I haven’t check it. Bla..bla..bla.. “We are going to hang around, wanna join ?”
Saya : Emm.. “I don’t think so. It’s too late. I will go home.”
Xavier : “is it ok to go home alone this late?”
Saya : “My house is around here”
Xavier : “ooh…”
Saya : “Ok, so I’ll go first. Let me say Good bye to them” (menunjuk ke arah Pedro dan lain-lain)

Saya menghampiri Pedro dan yang lain.

Saya : “Pedro, I’m so glad to meet you. Saw your band performance; taking photos with you guys, thank you for made this. Sorry, I can communicate with you perfectly. I’m not good in English.”
Pedro : yaap.. you’re just nice. nice to meet you too.. (membuka tangan akan memeluk saya)
Saya : (menempelkan kedua tangan di depan dada, menolak pelukan Pedro) “sorry..bye Pedro.”
Pedro : (muka bingung, lalu senyum, mengangguk) “byee!”

Saya bersalaman dengan (Raphael). Dia memegang kedua sisi lengan saya. And shaking my body.

Raphael : “why are you so tiny!? Did you enjoy our performance?”
Saya : (nyengir) “yhaa.. of course. I’m gonna miss you guys. Tahiti 80, the best show I ever seen.”

Raphael mengangguk-angguk. Kemudian saya bersalaman dengan sound engineer mereka, dan mengucapkan terima kasih. Lalu kembali ke arah Xavier.

Saya : “I’ll go first yhaa.”
Xavier : “ehhehhemm.. lady’s first or man’s first ?”
Saya : “ahaha. Xavier, Thank you. I’ll post this picture with its story on my tumblr blog.”
Xavier : “you have tumblr account? Let me know..soo.. nice to meet you , sweety.”
Saya : “So do I, Xavier. Ehehe. I’m speechless!”

Xavier akan memeluk saya, daan.. saya menolak dengan menganggukkan kepala. Dan sepertinya dia mengerti, lalu mengulurkan tangan. Yang lain sedang mengobrol lagi bersama panitia.

Saya :” bye Xavier..”
Xavier : “yaaa…byeee!” (sambil melambaikan cd Rasuk)

Saya meninggalkan mereka. Mereka mengucapkan ‘byeeee” bersama-sama. Beberapa meter kemudian saya menoleh ke arah mereka lagi. “byeeee” kata mereka lagi.. hahaha.
Saya tidak tau harus menunjukkan kebahagiaan saya bagaimana. Saya, senidrian, menonton mereka, kita berbincang, berfoto, mereka memegang tangan saya, saya memberikan album The Trees and The Wild, mereka membicarakan White Shoes and The Couple Company, Efek Rumah Kaca.

Semoga ingatan saya tentang semua cerita ini tidak hilang. Mulai sekarang, harus belajar Bahasa Inggris. Saya menyesal, saya tidak pintar berbahasa Inggris. Jadi saya banyak tidak mengerti apa yang mereka ucapkan, dan banyak melewatkan apa yang ingin saya ucapkan. Terima kasih, juga kepada teman saya yang ternyata sudah hampir satu jam mencari dan menunggu saya di pintu keluar. Terima kasih, saya tidak akan melupakan ini semua.

>>

>>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s