Irony.

Mengingat tentang kejadian tadi malam, membuat saya kembali ke beberapa tahun lalu. Di sekitar akhir 2004. Ketika itu melihat pertama kali penampilan mereka di sebuah ruangan di FX, Jakarta. Mereka belum memiliki label, dan salah satu dari mereka mengatakan mereka adalah indie. Beberapa bulan kemudian melihat penampilan mereka kedua kalinya di tempat yang sama. Membawakan cover version Coldplay dan Padi.

Kala itu, mereka tidak setinggi sekarang. Tidak semewah sekarang, dan tersentuh. Dalam hati, saya yakin suatu saat nanti mereka akan menjadi sesuatu. Musik yang bagus. Maksudnya, saya suka. Sejak itu, dimulailah brainwash ke teman-teman terdekat tentang musik mereka, dan teman-teman saya mulai mendengarkan lagu-lagu mereka dari MTv. Dan sampai di akhir 2007, foto kami bersama masih terpasang di hanphone saya. 2005, saya menyimak mereka di sebuah panggung ala kadarnya yang diadakan sebuah kampus di Bandung Utara. Di hari itu, saya sudah memiliki album mereka (kaset dan keping original) yang dirilis sebuah label terkemuka negeri ini. Tetap, masih tersentuh.

Album versi Bahasa Inggris mereka, adalah album mereka yang terakhir saya beli, di 2007. Sejak itu, tidak terlalu mendengarkan musik mereka. Hanya menonton beberapa kali. Sudah 2 album berikutnya, dan tidak tertarik untuk membeli. Entah yha, pemikiran subjektif saya mengatakan bahwa mereka tidak sebagus dulu. Aksi panggung (mungkin saja) semakin hebat, tapi dari segi musik dan lagu, saya tidak menyukai. Juga, tidak ada lagi scarf yang dipakai vokalis. Pencahayaan, tata panggung yang tinggi dan berjarak, juga media, mereka mulai tak tersentuh. Tidak menarik lagi di mata saya, dan saya berhenti pada titik itu.

Sampai tadi malam, ketika 2 keponakan saya (9 tahun dan 6 tahun) memaksa untuk menemani mereka nonton band ini. Mereka barusaja berulang tahun 2 hari lalu, tidak tega menolak ajakan mereka.

Tadi malam, mobil yang membawa mereka melintas di depan kami. Di dalam mobil gelap. Satu-satunya cahaya adalah cahaya yang terpancar dari komputer tablet yang sedang dioperasikan si vokalis. Memakai kaus tanpa leher garis-garis, dan sedang membuka situs twitter.

Di samping mobilnya, beberapa fans histeris meneriakkan namanya. Kemudian si vokalis menoleh ke arah mereka beberapa detik, tanpa senyum, atau lambaian tangan. Lalu kembali ke layar komputer tabletnya. Menyebalkannya, 2 keponakan saya bilang seperti ini:

“tante, aku mau lah foto sama mereka, bisakah tante ? Kita ikuti mobilnya ke sana”

Saya menuruti saja. Jarak kami hanya beberapa puluh centimeter dari mobil mereka. Beberapa security mengelilingi mobil. Ini tidak pernah saya temui di dunia musik indies. Disamping kami, puluhan fans histeris siap dengan kamera masing-masing. Si vokalis, di samping jendela, belum mau turun, dan masih asik dengan komputer tabletnya. Kemudian menoleh keluar ke arah seorang security, dan kemudian turun dari mobil.

Tante, itu ‘dia’ (let’s not calling his name), panggillah!”

Saya dan kakak perempuan saya, hanya beberapa centimeter dari telinga sang vokalis. Kami memanggil namanya, dengan keras. Tidak mungkin rasanya dia tidak mendengar, tidak ada alat kasat mata yang menghalangi dia untuk mendengar suara kami. Bahkan gaya rambut yang pernah menjadi trend setter itu tidak mungkin menghalangi pendengaran. Mengagetkan, dia tidak menoleh sama sekali. Pun kepada puluhan fans yang meneriakkan namanya setelah kami. Setinggi itukah mereka ? Musikmu sehebat apa memangnya, Bung ?

Saya berhenti. Ingin sekali berkata :

Hey man, I’m not that freak. I don’t want to take picture with you. My nephew does. He’s 9.

Gahh. You dind’t even look at us. Are your music that great ?

Saya masih beretika, dan mengurungkan niat.

Ingin sekali menekankan kata “He’s 9”. Musik mereka selera anak bocah. Saya tidak mau mengatakan hal seperti itu di depan mereka. Akhirnya saya tarik kedua keponakan saya. 30 menit menemani keponakan saya menonton mereka, menjadi 30 menit terpanjang dalam hidup saya.

 

>>

>>

>>

2 thoughts on “Irony.

  1. Bukan salah mereka juga jika bersikap seperti itu. Kadang kala ketenaran yang datang begitu mendadak bisa merubah seseorang yang luar biasa alim menjadi orang yang haus akan sanjungan. Dan saat ini tampaknya mereka sedang berada di dalam masa-masa itu.
    Ya…. penyakit band papan atas…..

    1. Salah siapa dong ?😀
      Kata-kata kamu :

      “Kadang kala ketenaran yang datang begitu mendadak bisa merubah seseorang yang luar biasa alim menjadi orang yang haus akan sanjungan.” dan “Ya…. penyakit band papan atas…..”

      Jelas menunjukka kamu juga setuju kalo sikap seperti itu merupakan kesalahan mereka Med..
      Salahnya kenapa ? Itulah kata guru PPKn pentingnya pengendalian diri. Ehehe.

      Serius amat lagian saya nulis posting ini !😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s