3 Hari Sebelumnya.

2003. Saya membeli cokelat batangan berwarna putih dan coklat.
Mencairkannya, dan membuatnya menjadi berbagai macam bentuk seperti boneka, bintang, hati, dan lain-lain.
Memasukkannya ke dalam freezer. Merangkai kotaknya, dan menyiapkan pita penghias.

2 hari sebelumnya. Dia meminta kami selesai.
Dengan alasan dia ingin lebih berkonsentrasi kepada ujian akhir sekolahnya.
Dengan alasan saya akan mendapatkan jauh yang lebih baik dari dia.
Alasan yang sangat klise untuk mengakhiri itu semua. Not even like a bad boy, more even like a g*y.
Menangis semalam. Menyesali betapa lamanya kami bertahan, sebelum akhirnya menemukan akhir.

1 hari sebelumnya. Sore hari.
Saya sedang duduk di halaman sebuah mesjid paling besar di kota itu. Kalut.
Dengan sekotak cokelat dengan pita di atasnya, di tangan saya.
Membukanya. Memilih yang berbentuk bintang dan memakannya. Hampir saja menangis.
Untungnya segera menyadari bahwa seorang anak kecil sedang melihat ke arah coklat bintang ditangan saya.
Saya memberikan semua cokelat itu kepadanya.
“Sedang menunggu bapaknya yang sedang sholat” kata ibunya.

Hari yang pernah dijanjikan.
Jam pelajaran selesai, saya melihat dia masih di perpustakaan terlarut ke dalam setumpuk buku di sebelahnya.
Seketika itu saya benar-benar rela melepaskannya dari hati saya.
First love actually can die.

>>

Budapest – Is This The Best It Gets ?

Is this the best it gets? How do I know?

Disappointed, disillusioned, re-affirm my view.
We have all a story to sell. We have all a lie that we tell.
And it goes on and on.

(Budapest – Is This The Best It Gets?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s