Sketsa, Festival dan Hari Sabtu Yang Murni.

Akhir pekan hari pertama (Sabtu pagi) hujan mengguyur lagi daerah sekitar saya, alhamdulillah.
Saya melakukan pekerjaan pagi (mencuci baju, mencuci piring dan memandikan keponakan-keponakan) di selasar belakang.
Hari itu saya mempunyai janji untuk bertemu teman saya, Chui, jam 9 pagi.
Hari ini juga saya berencana memberikan hadiah ulang tahun untuk Chui.
Karena hujan, dengan kesepakatan, akhirnya saya pergi setelah jam 11.
Chui mengajak saya mengunjungi Kikfest hari kedua di Gasibu.
Tadinya tidak mau ikut. Akhir-akhir ini malas saja datang ke acara terlalu ramai.
Lagipula, saya tidak terlalu mengikuti kabar tentang Kickfest tahun ini.
Tidak tau siapa saja dan kapan saja musisi yang dijadwalkan tampil di Kickfest.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, alasan saya mendatangi Kickfest adalah pertunjukan musiknya.

Di perjalanan menuju Gasibu, hujan kembali mengguyur Bandung.
Kabar buruknya, payung saya tertinggal di kantor.
Akhirnya sepanjang jalan, saya memeluk terus kantong plastik berisi sketsa untuk Chui.
Ketakutan sekali, apabila warnanya tiba-tiba rusak karena hujan.
Satu jam kemudian, kami bertemu di depan venue. Chui terlihat speechles ketika melihat hadiah saya untuknya.
Hujan masih menemani. Kami berempat memasuki venue. Saya, Chui, Agung, dan Arief.
Chui dan saya bergantian antara memegang payung dan melindungi sketsa dari hujan.
Melapisinya dengan sweater, dan memeluknya.
Di dalam, kami (saya dan Chui) malah kebingungan mau melakukan apa.
Melihat-lihat pameran local clothing, mau membeli, tapi tidak pas dengan selera dan jumlah rupiah di tangan.
Kami juga tidak tau rundown acara di panggung.
Lagipula, memangnya ada acara apa di panggung selain pertunjukan musik yang diselingi lempar hadiah sponsor?

Sambil berkeliling-keliling, saya menyadari semakin merasakan lapar.
Menyesal, harusnya di rumah tadi makan dulu. Di festival seperti ini susah sekali mencari nasi.
Jajanan lain sih banyak, perut saya maunya nasi. Tak ada kompromi.
Kalau belum nasi, yha belum akan kenyang. Hehe.
Sementara itu, hujan masih masih menurunkan sisa-sisa rintiknya.
Untungnya, salah satu spg Eat347 berbaik hati memberi kami kantong plastik besar untuk melindungi sketsanya.

Satu-satunya yang sepertinya akan menarik hati kami di festival ini
adalah penampilan musisi-musisi lokal Bandung.
Kami menghampiri beberapa panitia yang berkeliaran di sekitar venue.
Maksudnya, kami ingin mengetahui siapa saja musisi yang tampil hari ini.
Kalau tidak ada yang kami suka, kami berencana makan nasi Padang murah di Gegerkalong dan minum kopi.
Sayangnya, acara sebesar ini, susah sekali menemukan panitia yang mengetahui persis rundown acara.
Setiap panitia bertuliskan ‘seksi acara’ bahkan tidak memberikan informasi yang lugas.
Akhirnya kami menemui pantia penyelenggara untuk melihat rundown acara.
Baik sekali dan ramah, mereka memberikan kami rundown acara.
Wah, hari ini ternyata ada The Milo dan Pure Saturday. Sepertinya kami akan suka.
Tapi melihat jadwal mereka, ternyata mereka direncanakan tampil setelah jam 19.00.
Ini masih jam 15.00, 4 jam mau ngapain ?

Informasi mencerahkan datang dari penyelenggara tadi.
Menurutnya, kami boleh keluar venue dulu (jika kami mau) sambil menunggu The Milo dan Pure Saturday main.
Akhirnya kami sepakat pulang dulu. Panitia memberi cap di tangan,
mengingatkan untuk jangan terhapus ketika akan kembali memasuki venue.
Shelter di kostan Chui, dan membeli nasih Padang murah.
Nasi semaunya, telor dadar berbentuk kubus 10 x 8 x 6cm, gulai tahu, sayur nangka, kentang, daun ganja, sambal hijau. Rp 8.000.
Chui dengan antusias segera memasang sketsanya di kamarnya.
Senang, melihat dia bahagia dengan hadiah saya.
Loh, kalau sudah di kosan Chui, bawaannya tidak mau keluar. Homy. Hehe.
Kalau kami sudah bercakap, suka tidak kenal waktu dan tempat.
Di angkot, di jalan, di warung Padang, dimana pun. Hampir tidak peduli keadaan sekitar. Hihi

Kalau tidak karena The Milo dan Pure Saturday, kami sepertinya enggan kembali ke Kickfest.
19.00. Di luar dugaan, malam ini ternyata jalanan setiabudhi – Gasibu macet sekali.
Padahal siang tadi tidak sama sekali. Sampai di venue 20.30. Positive, The Milo sudah terlewatkan oleh kami.
Tapi, kabar tentang Pure Saturday yang sebentar lagi akan tampil, menghibur kami.
Memasuki venue tanpa diperiksa kembali cap di tangan kami. Easy huh ?
Dan sepersekian menit kemudian, kami sudah di barisan paling depan.
Sepertinya orang-orang di belakang kami tidak terlalu khawatir.
Kami tidak menghalangi pandangan dengan terus mengangkat kamera,
dan tentu saja postur kami yang tidak terlalu tinggi di antara penonton sekitar. Telihat seperti 2 kurcaci.

21.15, Pure Saturday naik ke atas panggung. Vokalisnya semakin hari semakin charming. Ehehe.
10 lagu tanpa jeda, kecuali cakap-cakap basa-basi (“Buka”, “Awan”, “Nyala”,”Coklat”, ”Pagi “Kosong” “Spoken”, lagu baru “To The Edge”, “Desire” dan “Enough”).
Saya tidak tau persis urutannya, kalau tidak salah sih memang seperti itu.
Desire, adalah lagu favorit saya malam itu. Dibawakan dengan kolaborasi bersama solois Malaysia.
Namanya lupa, Liyana or who?
Kami ikut menyanyikan beberapa lagu. Puas, entertaining. Vokalisnya attractive.
Penyimak di depan mereka juga tertib, tidak rusuh.
Di dekat kami adalah sepasang paruh baya (yang sepertinya) suami-istri,
dan keduanya antusias dan hafal sekali mengikuti tiap lirik.
Kami sedang berfikit, semoga suatu saat kami bisa seperi itu juga.
Menonton pertunjukan musisi favorit bersama pasangan hidup. ahehey.
Rasanya sudah lama sekali saya tidak menonton langsung Pure Saturday.
Semua kerinduan kepada mereka, terbayar di malam ini.
Akhir tahun ini, semoga segera bisa mendengar karya-karya terbaru mereka.

22.10. Kami pulang. Sudah pasti percakapan tanpa henti. Tentang Satrio ”Pure Satuday” yang hari ini tanpa rokok dan tanpa bir di panggung.
Tentang gitaris yang terlihat nerd, dan berfikir kalau bertemu gitarisnya di jalan, pasti tidak akan mengenalinya.
Tentang “Spoken” yang ditampilkan tanpa bass, tapi tetap tidak mengecewakan.
Meloncat ke Matt Pond PA, Fleet Foxes, ERK, masalah pribadi, ke Bon Iver, pekerjaan, MEW, Sigur Ros, KOC, skripsi. Tentang apapun.
Sampai di rumah. Kopi dan percakapan lagi. Dan kami tidur jam 02.00 lewat.
Goodnight universe.🙂

Quote of the day :

Percayalah terang akan datang di saat yang tidak akan terduga.
Dan malaikat di atas bumi tersenyum lepas.

Nyala – Pure Saturday

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s