Looking For The Sunday. Somewhere.

Pines, fences,guitar,padang rumput, camera’s talking!

Jadi ceritanya saya dan teman baik saya punya sebuah tempat favorit dan nyaman untuk nongkrong.
nongkrong?! Iyha, nongkrong..emang anak gahul aja yang suka nongkrong!? ehehe
Tempat rahasia ini nyaman sekali. Banyak pohon pinus, udara segar (lebih dingin ketika mendekati senja), bersih dan aman.
Namanya juga tempat rahasia, jadi saya tidak rela memberi tau tempat indah ini ada dimana.

Minggu siang lalu, sepulang kuliah (iyha tau, wajah pasti lagi kusut-kusutnya), saya dan teman saya (Chui)
berjanji pergi ke tempat ini untuk bercerita (ok, sebenarnya curhat) dan Chui berjanji mengajari saya main gitar.
Memang sudah lama sekali kami merindukan tempat ini.
Rindu dengan aroma rerumputannya (walaupun kami bukan pemakan rumput),
Dengan music folk dan country yang diputar tanpa henti disana.
Dikeliling pohon pinus, dan duduk di altar rerumputan luas, dengan fences di kedua sisi.
Entah, rasanya saya tidak terlalu banyak berhubungan baik dengan orang-orang seusia saya.
Saya bersyukur, punya teman sebaik Chui. Semua hal tersambung.
Banyak hal-hal yang tidak saya bagi ke orang lain, tapi berbagi dengan teman saya ini.

Kemarin itu, kami kesana dalam keadaan hati sama-sama gundah tentang masalah masing-masing.😀
Walaupun sama-sama tinggal di Bandung, kami memang kesulitan memiliki waktu bertemu dan minum kopi bersama.
Jadi, setelah beberapa minggu tidak bertemu, cerita bertumpuk, akhirnya kami berjanji berbagi di tempat ini.
Rencananya, sorenya setelah tempat ini, kita akan pergi menonton gigs Efek Rumah Kaca di Cihampelas Walk.
Kami membayangkan, itu akan menjadi akhir dari hari Minggu yang menyenangkan,
Sehingga bisa lebih segar menghadapi hari-hari berikutnya.

Kami menuju ke altar hamparan rumput dengan fences di kedua sisi tersebut.
Kalau sudah ketemu, malah kebingungan mau cerita apa. Lebih banyak meracau hal-hal yang acak.
Meracau ke music, dan saya mulai minta diajarin main gitar.

>>

>>

>>

Tiba-tiba di luar dugaan, ada yang seenaknya tanpa pamit, seperti paparazzi, memotret kami.
Yang lebih menyebalkan, adalah kamera si paparazzi ternyata jauh lebih bagus dari kamera saya.
Merasa privacy terganggu, akhirnya kami rampas kamera paparazzi tersebut, daan.. mengambil id cardnya.
(tentu saja cerita sebenarnya tidak seperti itu..)

Namanya adalah Itow dan Dessy.
Beberapa menit kemudian, kami sudah berada di satu lingkaran di atas hamparan padang rumput.

>>

>>

Bercerita banyak hal; fotografi, music, tempat asal, tempat tinggal, dan lain-lain.
Kita adalah empat orang yang benar-benar berbeda dalam banyak hal.
Tetapi menyenangkan, karena itulah, perbincangan jadi tidak pernah terhenti selama beberapa jam.
Dan, Itow menawarkan kami untuk mendadak jadi objek kameranya.

Ready girls !?

>>

>>

>>

>>

>>

>>

>>



Beberapa menit kemudian..

Itow : Abis ini pada mau kemana ?
Saya : Mau makan dulu paling, terus mau nonton ERK.
Chui : Kalian, pada mau kemana ?
Desy: Pulang kali.. hehe
Saya : Kosanmu kan deket ke Ciwalk, ke ERK aja. Dengerin ERK ga ?
Itow: Iyha siih..Dengerin Ko. Itu drummernya adiknya Indra Bekti yah ?
Chui: kakaknya Indra Bekti..
Itow: iyha.. nama vokalisnya Kholil kan ? (ngedipin sebelah mata ke Dessy)
Saya : naah..!
Itow : jam berapa emang main ? liat nanti deeh..

Bagian lucunya adalah ini :
Ketika mereka pulang duluan, kami bertukar nomor telepon dan nama akun social network.
Dan ternyataaa… Itow menulis :
Nama : Kholil Hariro
Hp (xxxxx)
Email: xxxxxx

Saya dan Chui : aaaa… jadi nama kamu Kholil!? aaa… kenapa ga bilang dari tadi!?
Kholil : takutnya kalian freak out kaya gini. Hahaha
Saya : you really something, Kholil! Typical. It’s a rare name. ahaha

Thanks Kholil and Dessy, for made my Sunday gone perfect, greatly taking our pictures and being our new friend.😀

Sepulangnya mereka, saya masih disana bersama Chui.
Membicarakan sedikit dari cerita-cerita yang sempat tertunda.
Kebanyakan malah lupa, jadi tidak jadi diceritakan.

>>

>>

Hampir jam 17.00. Dalam fikiran kami, sudah pasti tidak akan sempat lagi menonton ERK.
Tapi akhirnya tetap sepakat ke Cihampelas Walk. Kalau tidak sempat ERK, kita akan cari kopi disana.
Dan sampailah kami di Cihampelas Walk. Mereka di atas panggung. Desember.
Dan lalu melihat punggung-punggung flannel shirt itu menuruni panggung. ERK selesai.

Sunday
. So much to be thanked than to be complained.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s