Semesta Rindu

“Setiap mukmin punya dua tanah air; tanah lahirnya dan tanah suci.”

Saya pernah mendengar kutipan di atas beberapa tahun silam.
Kabarnya, ia bersumber dari hadis shahih.
Saya sendiri belum pernah membaca teks asli atau menemukan sumbernya.
Tapi, sepertinya, ia berkata teramat tulus.
Ia bercerita tentang kerinduan yang dimiliki oleh setiap insan.
Nun jauh di kedalaman hatinya, tersimpan selalu kerinduan: pada tanah lahir dan tanah yang disucikan.
Sebagaimana kita merindukan tanah lahir sekiranya dijauhkan,
sebagaimana kita menginginkan pulang setelah lama di perantauan,
sebagaimana kita mendambakan kehangatan keluarga setelah terpisahkan,
seperti itu juga kerinduan dalam hati seorang mukmin terhadap tanah yang penuh keberkatan.

Tanah suci adalah perlambang kemurnian dan kedamaian. Tanah suci juga simbol pelarian.
Bayangkan dunia yang sudah dijejali dengan beragam kesibukan, sederet beban, dan setumpuk permasalahan.
Ingin rasanya menjerit di tengah kerumunan. Ingin rasanya lari sejenak untuk mencari ketenangan.
Ingin rasanya kembali ke dekapan hangat yang penuh dengan kasih sayang.
Ingin rasanya keluar dan menyadarkan diri ini, bahwa dunia dan sekitarnya hanyalah sementara;
bahwa perjalanan yang sesungguhnya bukanlah perjalanan raga, melainkan perjalanan jiwa.
Karena itu, amatlah layak bila kita sesaat meluangkan waktu untuk membina jiwa.
Bukankah seumur hidup telah kita curahkan untuk kebaikan raga?
Tidakkah Dia Yang MahaPengasih senantiasa melimpahkan anugerahNya bagi kita?
Sudahkah ungkapan syukur kita haturkan, dengan bersimpuh penuh seluruh,
di bawah lantai pualam rumahNya yang diagungkan?

Ya Allah, inilah hamba-hambaMu yang mengakui seluruh limpahan nikmat, tetapi membalasnya dengan alpa dan maksiat.
Inilah pengakuan orang yang memohonkan perlindungan kepadaMu dari api neraka.
Ya Allah, anugerahkan pada kami kesempatan, untuk kembali kepadamu sepenuh jiwa,
yakin pada ketentuanMu, tenteram pada pemberianMu, pasrah pada kepastianMu.
Bantu kami mematrikan niat, getarkan lidah kami untuk berjanji sepenuh tekad, di depan rumah kebesaranMu,
di altar suci manusia terpilih sepanjang sejarah, di bawah naungan bendera Rasulullah Saw.

Kerinduan yang kedua di tanah suci, adalah kerinduan pada Rasulullah Saw.
Kerinduan pada sang utusan. Kerinduan pada senyumnya yang menenangkan.
Betapa bahagianya bila diri ini dapat memandang wajahnya.

Ya Allah, inilah kami yang beriman kepadanya tanpa sempat memandang wajahnya.
Anugerahkan pada kami di dunia kesempatan berziarah kepadanya,
dan di akhirat duduk dengannya, bermajlis bersamanya, bercengkerama di kehadirannya.
Rindu kami padamu, Ya Rasul.

Rindu kami padamu, Ya Rasul.
Kepada siapa kami berlari, mencurahkan segenap duka diri.
Kepada siapa kami menghadap, berbagi segala cemas dan harap.
Engkaulah yang dirindukan mentari ketika bersinar pagi. Engkaulah yang membahagiakan hati.
Engkaulah yang kini terbaring dipeluk bumi.
Betapa bahagianya, bila dapat kusampaikan salam kepadamu di samping bumi Madinah yang memeluk jasadmu.

(Rindu Rasul)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s