Mohon Doa dan Restu

Akhirnya sampailah pada hari ini, sisa-sisa waktu sebelum benar-benar menyerahkan diri,
merelakan semua yang ditinggalkan,
untuk menyerahkan diri kepada haribaan-NYA, menemui Kekasih dari yang terkasih,
menemui para kekasih yang terpilih.
Bagaimana bisa, di dunia ini ada rasa semacam ini ?
Tentang kerinduan tak terperi, di waktu yang sama ketakutan yang semakin memuncak.

Inilah, hati yang dipenuhi kerinduan, menghadap-MU dengan penuh kerendahan,
memohon syafaat nabi-MU dan keluarganya yang suci di setiap langkah perjalanan.
Inilah, hati yang dipenuhi kerinduan, dengan segenap harapan dan permohonan ampunan.

Inilah tetamu terundang, yang datang dari negeri yang paling jauh,
namun dengan membawa persembahan yang paling sederhana.
Inilah tetamu terundang, yang menyadari limpahan nikmat,
namun membalasnya dengan alpa dan maksiat, tanpa munajat.

>>

Saya bersyukur, berterima kasih dan berhutang budi, kepada kedua orang tua, semua saudara dan rekan
yang telah menjadi tempat mengalirnya nikmat ALLAH kepada saya.
Mengalirkan rizki dan nikmat, memberi saya “perbekalan” sebelum perjalanan, membantu memenuhi segala kebutuhan, dan mendoakan.
Sebagaimana kita selalu mengucapkan terima kasih dan berdoa “jazakillah khoiran katsiraan (semoga ALLAH membalas dengan kebaikan yang berlipat)”
Kali ini saya ingin menambahkan sebuah doa yang diajarkan Ustadz Miftah Fauzi Rakhmat “Juzitum ‘anni khairan (semoga ALLAH memberi saya kemampuan untuk membalas kebaikan yang telah anda lakukan)”

Menurut kisah yang sering didengar, disanalah beberapa urusan ditunaikkan,
dosa dibalas seketika, aib dibukakan, sebagaimana nanti di Yaumil Hisab.
Disanalah pula ampunan dibukakan, tekad dicatat, doa dikabulkan, juga kesempatan untuk melakukan kebaikan diberikan seluas-luasnya.
(semoga ALLAH memberi saya kelapangan tempat, keleluasaan waktu, dan kesehatan raga untuk dapat mendekatkan diri kepada-NYA).

Akhir-akhir ini, saya merasa menjadi sangat sensitif dalam arti positif.
Di tengah kerinduan ini, ALLAH sedemikian sering memberi saya nikmat untuk selalu mengingatkan seketika saya melakukan kezhaliman.
Menurut kisah yang sering didengar, ini karena sebagian dari ruh kita telah berada disana.
Seketika terucap niat, di sekitar kita telah diturunkan malaikat penjaga untuk mengingatkan setiap dosa yang terbuat, dan yang melindungi setiap langkah. Wallahu’alam

Saya ingin dapat menghadap-NYA dengan penuh kesucian, yang tentu saja tidak akan terjadi tanpa ampunan ALLAH atas segala dosa,
yang tentu saja tidak akan terjadi tanpa kerelaan dan keridhaan semua teman dan saudara untuk memaafkan dan mengikhlaskan semua kesalahan yang pernah saya lakukan.
Disaat ini pula, saya mohonkan doa dan restu agar setiap langkah diberkati, diselamatkan dan dilindungi.
Disaat ini pula, saya titipkan semua yang ditinggalkan, sebagaimana ALLAHlah sebaik-baik pemelihara.
Sebagaimana yang dikatakan Imam Hussein AS, bukankah perjalanan suci ke rumah ALLAH adalah ritual latihan kematian?
Relakan semua, tidakkah kita merindu ?
Apalah yang harus dikhawatirkan dari sebuah perjalanan suci, ketika seluruh malaikat ALLAH turun untuk melindungi kita dan keluarga yang ditinggalkan.

Bismillahi tawakaltu ‘alallahi laa hawla wa laa quwwata illabillah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s