Cerita : The Trees and The Wild, Paris Van Java, Bandung | July 1, 2012

>>

>>

Diatas adalah gambar kaki Remedy Waloni dari The Trees and The Wild di atas panggung tadi malam, yang diambil teman saya.
Tidak banyak yang bisa diceritakan tentang penampilan mereka tadi malam di Paris Van Java.
Saya ingin menceritakan kabar baik dan kabar buruk tentang apapun berkaitan dengan The Trees and The Wild tadi malam.
Karena kita, perempuan menyukai happy ending, saya akan mulai dari menceritakan tentang kabar buruk terlebih dahulu, kemudian kepada kabar baik.

Kabar buruknya, baru membawakan 2 lagu, mereka menghentikan penampilan atas permintaan panitia.
Sedih sekali, ketika lagu ketiga (Our Roots) Remedy (sang vokalis) mengatakan bahwa ini lagu terakhir mereka di penampilan kali ini.
Menurutnya, mereka sendiri tidak tau kenapa seperti itu.
Lebih buruknya lagi,setelah kejadian itu merubah seluruh mood penonton dan penampil menjadi buruk,
Tiba-tiba panitia meminta Remedy untuk membacakan daftar pemenang hadiah acara!
Dan terlihatlah wajah Remedy yang kebingungan, dan setengah hati membacakannya..
Dari sisi panggung, saya bilang “sabar yha Remyyy..”
Kan memang sudah bukan rahasia, hal sejenis ini terjadi di acara-acara di Indonesia.
Negeri yang sulit menghargai sesama dan sulit menghargai waktu.

Kabar buruk lainnya, pertama memasuki venue, sejauh mata memandang,
saya dikagetkan dengan puluhan (atau ratusan?) pemuda-pemudi berpakaian “aneh”.
Mungkin ini yang sering dibilang orang “hippies, hipsters”, yang saya sendiri tidak tahu apa arti sebenarnya.
Hampir 3 tahun lalu, pertama kali saya menyimak The Trees and The Wild, rasanya penyimak berpakaian “normal” dipandang mata.
Berpakaian sewajarnya saja. Bukan seperti sedang akan mengikuti karnaval.
Penonton pun riuh rendah ikut bernyanyi atau diam mendengarkan bukannya mengobrol di venue sehingga mengganggu penyimak yang lain.
Life’s change. Dahulu, rasanya saya melihat orang menonton musik untuk menikmati musiknya,
Kalau menceritakan tentang musiknya, kan bisa kita tunda sampai akhir pertunjukkan, atau di perjalanan pulang.
Tapi, seiring waktu, sepertinya keadaan berubah.
Menonton musik (apalagi musik yang orang bilang indies) berubah menjadi sebuah lifestyle; tempat kongkow, mengobrol di venue, cekakak cekikik (padahal ini bukan acara stand up comedy).
Akhirnya, orang yang pergi kesana karena ingin benar-benar menikmati musik dan ingin ikut meneriakkan lirik, jadi terganggu.

Belum lagi area di depan panggung dan di samping panggung yang dipenuhi pengambil gambar yang membawa kamera besar (dan kamera kecil, juga sama banyaknya).
Kadangkala, tidak beradabnya, mereka mengambil foto sesering mungkin agar dapat memilah-milah gambar yang bagus di rumah nanti.
Hampir sepanjang penampilan dari penampil, pemoret-pemotret yang seperti ini akan terus mengangkat kameranya ke arah panggung sehingga menghalangi pandangan penyimak di belakangnya.
Kasihan sekali bagi yang memiliki postur kecil seperti saya dan kebanyakan muda-mudi Indonesia lainnya secara fisik, memang tidak memiliki postur terlalu tinggi.😀

Adalagi yang lebih mengganggu, mungkin bagi performer.
Ini pernah saya lihat di gig Tahiti 80 di Kampoeng Jazz. Yang akhirnya membuat salah satu personil Tahiti 80 melarang salah satu pengambil gambar tersebut untuk tidak memotretnya lagi.
Bayangkan si pengambil gambar menaiki panggung, mengarahkan kamera hanya beberapa puluh sentimeter di dekat wajah personil Tahiti 80 tersebut. Berkali-kali.
Sangat menggannggu memang, merusak fokus konsentrasi performer. (kita saja yang melihatnya merasa terganggu)
manakala pengambil gambar bahkan sampai naik panggung, mengambil gambar dengan mengarahkan kameranya dekat sekali ke area performer, dan mengambil gambar terus menerus.
Dan menyebalkannya, kadangkala bukan hanya satu orang pengambil gambar saja yang mengambil gambar dengan cara seperti itu.
Sebenarnya di beberapa gigs lain juga hal seperti ini sering ditemui.
Kalau tadi malam? Sebenarnya saya sih tidak menemukannya (yang sampai naik panggung).
Pujian tertinggi untuk para pengambil gambar yang lebih beradab. Mengambil berbagai gambar dengan cara yang beradab pula.
Menahan emosi, sampai mengambil gambar dengan berlutut di bawah panggung karena tidak ingin mengganggu penyimak.

Kita menuju kabar baik. Kabar baiknya, bagi saya pribadi, saya senang datang kesana untuk menyimak musik mereka, karena sudah lama sekali tidak menyimak.
(Terakhir menyimak mereka Desember 2011. Waktu itu terakhir kalinya mereka bersama Iga Massardi, betul tidak ?)
Hanya 3 lagu pun tak apa. 2 lagu baru, satu diantaranya Saija, kalau lagu yang pertama, saya tidak tau judulnya, lalu lagu terakhir Our Roots.
Ini bukan kali pertama saya menyimak Saija, tapi setelah mendengar lagu pertama tadi, rasanya kecintaan saya kepada The Trees and The Wild semakin bertambah.
Saya semakin menyukai musik mereka yang ‘kaya’. Banyaknya alat musik yang dimainkan.
Remedy memainkan gitar dan 2 alat musik lain yang dimainkan (yang saya tidak tau apa namanya), injak-injak pedal board, lalu kembali ke instrumen lain, lalu injak-injak pedal lagi, mengatur nada, berteriak menyanyi, sibuk sekali.
Pun, Tamy. Dengan lincahnya memainkan alat musik ini-itu,entah apa namanya.
Di belakang mereka, Andra dan Tyo fokus kepada gitar dan bass, di samping Tamy, Innu duduk manis menghentak drum.
Kaya suara musik, menyenangkan. Saya suka musik yang mereka buat!

Di sekitar panggung selepas acara, saya bertemu dan sempat menyapa Andra dan Innu.
Lalu, ketika hendak pulang, ternyata ada Mas Arif (dulu saya mengenalnya ketika dia bersama manajemen Efek Rumah Kaca) sedang bersama dengan Remedy.
Akhirnya mengobrol dengan Arif dan Remedy juga. Padahal tidak sengaja, sungguh.
Mau menghampiri Remedy, malu kalau saja tidak ada Mas Arif. Hehe.
Akhirnyaaa… berceritalah sekian menit bersama Remedy, dengan penuh degup jantung.
Bagaimana tidak, pemirsa ?!

>>

>>

>>

Iyha tau, fotonya tampak seperti ustadzah dan para ulama yang sedang berdiskusi untuk memutuskan sebuah fatwa halal atau haram.😀
Sungguh pun saya tidak meminta dipotret, teman saya iseng mengambil gambar-gambar tersebut.

Oh iya, semalam ada yang juga lucu. Sebenarnya antara lucu dan bukan sesuatu hal yang lucu. Hanya bingung, istilah yang tepat apa.
Semua sepakat wajahnya Remedy itu menyenangkan untuk dipandang ?
Iseng-iseng, di antara jeda lagu, saya memperhatikan sekeliling penonton.
Pasti setuju, bahwa hampir seluruh penonton perempuan mengarahkan pandangan kepada sang vokalis, hampir tanpa henti.
(cie Remedy cieee…)
Memang, charming! Kalau kata teman saya secakap-cakapnya wajah lelaki Indonesia adalah Remedy Waloni.
Menurutnya, cakapnya seperti Nabi Yusuf. Walaupun sudah pasti teman saya itu belum pernah melihat Nabi Yusuf, kecuali mendengar ceritanya dari Al-Qur’an.
(hahaha.. Remedy! Penasaran apa reaksimu andaikan membaca bagian ini)

Kabar baik yang terakhir, saya hendak membagi gambar Remedy Waloni yang diambil teman saya tadi malam.
Girls! Ready ?

>>

>>

>>

>>

>>

>>

>>

Bagaimana? Ada yang mau turut mengatakan secakap Nabi Yusuf juga tidak ?😀

Aaaa… Too much talking!😀

(photos credit : someone you don’t have to know)

2 thoughts on “Cerita : The Trees and The Wild, Paris Van Java, Bandung | July 1, 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s