Rough Night

Hari ini ditutup dengan penyesalan. Salah satu hal yang terburuk dalam hidup tentu adalah penyesalan. Malam ini, jam 20.00an sepulang kerja saya menaiki angkutan umum, dan duduk di sebelah supir. Tempat duduk paling aman bagi saya, untuk pulang selarut itu. Seorang penumpang di belakang turun, membayar ongkos, lalu berlari mengejar angkutan umum di depannya. Beberapa menit kemudian supir angkutang umum yang saya tumpangi, menyadari bahwa penumpang yang barusaja turun, helmnya tertinggal di kursi belakang. Ia tidak sedikit pun berusaha mengejar angkutan umum berikutnya yang ditumpangi penumpang tersebut. Ia hanya menggerutu. Padahal angkutan umum yang ditumpangi penumpang tadi masih terlihat di depan kami. Dalam hati saya menimbang-nimbang, apakah saya harus turun, mengejar angkutan umum tersebut, lalu mengantarkan helmnya kepada penumpang tadi. Karena rasanya sangat lelah sepulang kerja, dan pertimbangan yang terlalu lama, akhirnya angkutan umum yang membawa penumpang tadi, sudah luput dari pandangan mata. Akhirnya helm pun diambil oleh supir tadi.

Sepanjang perjalanan saya menyesali. Harusnya tadi saya turun, dan mengantarkan helm tersebut kepada penumpang tadi. Pastilah penumpang tadi kehilangan, dan sangat membutuhkan helm tersebut. Ini namanya menunda kebaikan. Padahal saya selalu percaya; kebaikan dibalas pula dengan kebaikan yang lain. Analoginya begini : mungkin, hal selalu membuat saya tetap sehat walaupun tidak berolahraga, selamat ketika menyebrang jalan, tidak terkena demam walaupun kehujanan, adalah buah dari beberapa kebaikan/niat baik yang pernah saya lakukan kepada orang lain. Ini tidak bermaksud sombong, sungguh saya berlindung kepada ALLAH dari menyombongkan diri tentang minimnya kebaikan yang saya lakukan. Artinya, kalau saya mengandalkan pahala/kebaikan ALLAH hanya dari ibadah saya (yang tentu saja minim sekali), tentu saya tidak akan termasuk orang-orang yang diselamatkan. Jadi, satu-satunya harapan saya adalah dengan kebaikan-kebaikan untuk menggapai ridha ALLAH tersebut.

Itulah kenapa saya sangat menyesali kejadian tadi. Saya harusnya menolong penumpang tersebut mengembalikan helmnya. Sentimental, tapi ini sungguh membuat saya menyesal. Dan ini sungguh serius menyiksa. Memaafkan diri sendiri tidak selalu mudah. Apalagi ini berkaitan dengan nurani. So guys, jangan pernah menunda melakukan niat baik, sekecil apa pun, karena bisa jadi penyesalannya justru jauh lebih besar daripada niat baik itu sendiri.

Serius. Saya perlu berbicara dengan orang yang memahami. Semoga ALLAH melindungi saya dari segala kelalaian.

Everyday has it’s own problem, everyday has it’s own blessing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s