Jejak-Jejak Rasul : Masjid Nabi Nan Berwibawa, Nabawi.

>>

>>

Inilah satu dari sekian tempat suci bagi umat Muslim. Disanalah jejak-jejak Rasulullah terpatri. Disanalah rumahnya berdiri, di sanalah makamnya diziarahi, dan disanalah taman-taman surga. Berjalanlah kaki kita dengan penuh kerendahan di atas lantainya . Kita sedang berada di lantai yang masih terpatri jejak-jejak kaki Rasulullah di atasnya. Bayangkan di setiap jejak langkah kaki kita, Rasulullah pun pernah melangkahkan kaki di sekitarnya. Mungkin pula di sekitar tempat kita beritikaf, disanalah tempat Rasulullah pernah bermajlis dan berdoa. Begitu dekatnya kita dengan manusia terpilih yang disucikan Tuhan. Kita, yang telah dipisahkan oleh jarak yang begitu jauh dan rentang sejarah yang begitu lama. Layangkan pandang ke arah kubah hijaunya. Disanalah tanda sebuah tanah yang diberkati, menjadi tempat jasad sang Nabi dipeluk bumi.

Saya mencermati, bahwa pengertian masjid yang kita lihat sekarang di sekitar kita, tentu saja berbeda dengan pengertian masjid pada zaman Nabi. Jika masjid yang kita lihat sekarang adalah sebuah bangunan tempat shalat dan berdoa, dengan kubah di atasnya, dengan lantai di bawahnya, maka, menurut riwayat sejarah, masjid Nabawi zaman Nabi adalah bangunan di samping rumah beliau, tanpa atap, tanpa lantai. Pada zamannya, Nabi memang shalat di atas tanah. Beritikaf di atas tanah, berdiri di atas tanah, rukuk di atas tanah, bersujud menempel ke tanah. Bangunan tanpa atap, karena di sekitarnya masih tumbuh pohon-pohon kurma menjulang. Mungkin itu pula sebabnya bahwa tiang di di dalam masjid Nabawi berdiri tidak beraturan letaknya. Karena menurut riwayat, tiang-tiang itulah yang didirikan untuk men-situskan pohon-pohon kurma yang pernah tumbuh di sekitar masjid. Dan ALLAHlah Yang Maha Tahu kebenaran.

Menurut sejarah, Masjid Nabawi adalah masjid kedua yang dibangun Rasulullah di Madinah setelah Mesjid Quba. Pada awal pembangunannya, masjid ini berukuran sekitar 50m x 50m, dengan tinggi atap sekitar 3,5 m (Wikipedia). Rasulullah turut membangunnya sendiri bersama keluarga dan kaum muslimin di masa itu. Melekat pada salah satu sisi masjid, dibangunlah kediaman Rasulullah dan kediaman Sayyidah Fathimah & suaminya, sayyidina Ali Bin Abi Thalib. Ada pula bagian undakan, yang dahulu zaman Nabi saw, digunakan sebagai tempat sahabat yang tinggal di sekitar rumah Nabi saw, dan tidak memiliki tempat tinggal. Belakangan, para sahabat tersebut dikenal sebagai ahlus sufah (para penghuni teras mesjid). Masjid Nabawi terdiri dari banyak pintu, terpisahkan antara pintu masuk laki-laki dan pintu masuk perempuan.

Ada pula riwayat tentang taman-taman syurga di sekitar mimbar dan rumah Rasulullah.Rasulullah pernah bersabda ” Antara rumahku dengan mimbarku adalah taman dari taman-taman surga”.

Oleh karena itu, setiap harinya dari dulu sampai sekarang, setiap waktu, wilayah Raudhah selalu dipenuhi peziarah, yang berdoa dan melakukan shalat di sekitar Raudhah. Wilayah Raudhah ditandai dengan karpet berwarna hijau, dan hanya dengan izin ALLAHlah kita dapat berziarah kepada Rasulullah dan berdoa kepada ALLAH disana. Wilayah Raudhah bagi perempuan hanya dibuka pada waktu-waktu tertentu; sehabis Shubuh sampai sebelum Zuhur, sehabis isya sampai sebelum tengah malam. Sedangkan bagi laki-laki, wilayah Raudhah terbuka 24 jam.

Karena sulitnya mencapai Raudhah, seringkali para jamaah berebut untuk memasukinya dan hampir menyakiti yang lain. Alangkah indahnya, apabila kita dapat membantu orang lain dan memberi kesempatan kepada orang lain untuk dapat saling menjaga ketika shalat dan berdoa di Raudhah, di hadapan Rasulullah.

Semoga dengan kerelaan dan kepasrahan kita memasuki taman surga, Rasulullah menjawab salam kita dan menerima ziarah kita, dan dengan kedudukannya di sisi ALLAH, doa kita di-ijabah ALLAH.

Menutup mata, kita sedang berada di atas pemadani hijaunya, langkahkan kaki dengan penuh kerendahan, mendekat ke pusaranya. Inilah salah satu bangunan yang paling menggetarkan hati ketika berada di dekatnya. Ziarahilah beliau dengan penuh kerendahan. Ucapkan salam bagi yang terkasih dengan penuh sayang. Bayangkan bahwa ia sedang menatap peziarahnya penuh kasih dan penuh sayang. Kita yang mendapat musibah, karena terputusnya wahyu sepeninggalnya.

Salam bagimu, yang kelahirannya dinanti, dan kepergiannya ditangisi. Kami telah ditimpa musibah karena kepergianmu, wahai kekasih kalbu kami. Betapa besar musibah itu, karena wahyu telah terputus dari kami dan kami kehilanganmu. Maka, sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya jua kami akan kembali.

#foto diambil dengan terlebih dahulu memohon izin kepada beliau, dengan tujuan memelihara kerinduan akan beliau dan Nabawi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s