Sebuah Narasi : Teladan Abadi Imam Ali Bin Hussayn (as) al Zainal Abidin as Sajjad

Alfatihaah ma’ash shalawat untuk syahadah cucunda Rasulullah : Imam Ali Zainal Abidin As Sajjad, pada hari ini, 25 Muharram.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun.. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadamu, pada hari anda dilahirkan, pada hari anda syahid dan pada hari anda dibangkitkan hidup kembali.

Syahadah ibunya Syahzanin, memulai rangkaian derita dalam kisah hidupnya. Pada usia empat tahun, ia menyaksikan kakeknya yang dicintainya pulang dari masjid dengan berlumuran darah. Dengan hati kanak-kanak yang masih bening, ia mendengarkan nasehat terakhir Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib, kepada ayah dan pamannya. Kata agung lafzul jalalah “Allah, Allah” yang diucapkan Imam Ali, berulang kali yang terucap di sela-sela pembicaraannya, tidak pernah hilang dari kalbunya.

Sejak usia dini, Imam Ali As Sajjad mereguk kefasihan bicara dan kesucian hati dari Imam Ali Bin Abi Thalib. Setelah Ali pertama dibaringkan di perut bumi Kufah, di atas bumi Madinah kaki-kaki kecil Ali kedua melangkahi jejak yang ditinggalkannya. Dunia tidak pernah kehilangan Ali yang berlidah fasih dan berhati suci.

Dengan telinganya sendiri, ia mendengar para penguasa dan ulama yang disewa menghamun maki kakeknya di mimbar-mimbar Jum’at. Padahal seluruh muslim pun tahu, kalau tidak karena buyutnya Rasulullah (saw) dan pedang Ali bin Abi Thalib, mimbar itu tidak akan berdiri tegak.

Dengan matanya sendiri, Ali kecil melihat upaya pamannya, Imam Hassan untuk menegakkan keadilan dihancur leburkan Muawiyyah. Para pengikutnya dipecah belah dengan ancaman dan godaan. Seorang demi seorang pengikutnya meninggalkannya, sebagian karena takut, sebagian karena dibeli. Ketika berusia 12 tahun, Ali remaja ikut menangisi syahadah pamannya, Hassan Al Mujtaba yang diracun istrinya Ja’dah binti Asy’ats atas perintah penguasa. Dari sinikah muncul istilah haram jadah ?

Ketika ia mengantarkan jenazah yang mulia untuk dikuburkan di samping pusara kakeknya Rasulullah, ia melihat muka-muka garang dan galak menentangnya. Mereka bukan saja menggertak dengan makian, mereka juga menghujaninya dengan anak panah. Ia melihat ayahnya Hussayn berusaha mengendalikan dirinya dan mengalihkan jenazah pekuburan ke Baqi. Kelak jenazah suci inilah yang termasuk satu di antara beberapa pekuburan yang paling banyak diziarahi di Baqi.

>>

image

>>

picture

Dari ayahnya ia belajar mengendalikan diri menentang kezaliman. Ia mengerti, bahwa jalan yang harus ditempuh Ahlil Bayt ditaburi duri pengkhianatan dari orang-orang terdekat, dan hujan anak panah dari musuh yang jauh.

Akhirnya, pada puncak kemudaannya, Ali Bin Hussayn menjadi saksi hidup dari tragedi terbesar umat Muhammad saw; Karbala. (setiap kali dikisahkan tentang tragedi Karbala, hati manusia mana yang tidak tergetar ? Kuduk siapa yang tidak merinding, merasa ngeri ?). Di sanalah pengkhianatan sahabat dan kelaliman musuh bergabung. Betapa beratnya mata memandang. Pemandangan di Karbala yang mengerikan, tidak pernah lepas dari mata hatinya.

Bagaimana mungkin ia melupakan bongkah-bongkah daging yang bersimbah darah tercabik-cabik; padahal itu adalah jasad-jasad ayahnya, saudara-saudaranya, karib kerabatnya, dan sahabat-sahabatnya? Siapa yang dapat melupakan jerit tangis keluarga Nabi saw yang dibiarkan kehausan dan kelaparan, di arak ratusan kilometer sebagai tawanan ? Ia yang menguburkan jasad suci ayahnya, saudara-saudaranya, tanpa kafan setelah 3 hari lamanya jasad-jasad suci itu terasing di Karbala.

Salam atasmu wahai Hussayn syahid di Karbala, salam atasmu wahai Abu Fadl Abbas pengambil air di sungai Furat yang terpotong kedua tangannya dan terpenggal kepalanya, salam atasmu para ruh syahid di Karbala. Sungguh seluruh makhluk di langit dan bumi menangisi kalian. Sungguh, betapa berat musibah yang menimpamu, wahai Rasulullah saw, kekasih kalbu kami.

Di sisa hidupnya, dua puluh tahun lamanya Ali Bin Hussayn menangisi Karbala. Setiap kali makanan dan minuman dihidangkan, ia menangis seraya “Bagaimana mungkin aku bisa makan, padahal Aba Abdillah dibunuh dalam keadaan lapar ? Bagaimana mungkin aku dapat minum, padahal Aba Abdillah dibunuh dalam keadaan haus ?” Kadang-kadang Ali berangkat ke pasar. Bila ia melihat tukang jagal yang akan menyembelih binatang, ia mendekatinya. Ia bertanya, “Sudah kau beri minumkah dia?” Jagal itu menjawab, “tentu saja duhai putra Rasulullah. Kami tidak pernah menyembelih hewan sebelum memberinya minum walaupun sedikit.” Tangis Imam pecah, seraya bergumam “Abu Abdillah disembelih dalam keadaan kehausan”.

Hatinya lembut, karena berbagai musibah yang mewarnai senarai doa-doanya. “Aku adukan derita dan dukaku kepada ALLAH”. Imam memilih mengungkapkan kepedihan hatinya dalam ibadat dan munajat. Ia basahi tempat sujudnya dengan air mata. Ia bersujud setiap kali selesai shalat, setiap selesai membaca Al Qur’an, sehingga begitu seringnya ia bersujud, sehingga gelar As Sajjad sang ahli sujud disematkan padanya. Maha Suci Allah, yang Tiada yang Suci Selain-Nya.

Wahai Dia yang tak tersembunyi bagi-NYA

Berita orang-orang yang menyampaikan pengaduan

Wahai dia yang tak memerlukan kesaksian para saksi

Untuk mengetahui kisah mereka

Wahai Dia yang pertolongan-NYA dekat dengan orang yang teraniaya

Wahai Dia yang pertolongan-NYA jauh dari orang yang menganiaya

Ia beribadat berlama-lama. Bekas-bekas shalat tampak pada bagian-bagian tubuhnya yang mengeras. Karena itu ia digelari Dzu Tsafanat, yang memiliki kulit yang keras. Ketika ia beribadah, ia tidak lagi berada di tengh-tengah kita. Ruang dan waktu sudah tidak mengikatnya lagi. Dia tidak beribadat karena pahala atau siksa. Ia beribadat karena cinta. Sosoknya menjadi keindahan para abid, dia menjadi Zainal Abidin.

>>

image

>>

Narasi sebagian besar dikutip dari Kata Pengantar Shahifah Sajjadiyyah : Gita Suci Keluarga Nabi. Shahifah Sajjadiyyah adalah sebuah karya suci dari Imam Ali Zainal Abidin. Inilah senarai doa dari seorang wali ALLAH, yang bukan saja mengajari kita menyampaikan keperluan kita kepada ALLAH dengan bahasa yang indah, tetapi juga membimbing kita ke dekat-NYA. Sebuah senarai doa yang sangat indah dan menggetarkan hati. Teladan dalam berdoa dengan mengangungkan setinggi-tingginya DIA yang kepadaNYA kita berdoa, dan merendahkan diri sehina-hinanya diri yang penuh dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s