Maulidur Rasulallah (sawa) in my village, Kuningan.

>>

Image

>>

Keluarga besar saya berasal dari Palembang, saya lahir di Jakarta. Karena masalah politik, akhirnya saya dan keluarga kerapkali berpindah-pindah. Saya menghabiskan masa kecil saya di sebuah desa di Kabupaten Kuningan.

Di masjid tempat tinggal saya sewaktu kecil itulah saya mengaji. Hari yang terasa seperti hari raya selain dari Idul Fitri dan Idul Adha bagi masa kecil saya  adalah hari Kelahiran Rasulallah (sawa). Bapak-bapak membacakan kidung puji-pujian kepada ALLAH dan bershalawat sepanjang hari di mesjid. Lantunan shalawat itu akan diiringi oleh tabuhan rebana oleh mereka. Rangkaian shalawat dan tabuhan rebana itu di desa kami disebut Asyraqalan. Mungkin karena salah satu bait dari shalawat itu adalah :

Ya Nabi salam alaika, ya Rasul salam alaika

Ya Habib salam alaika, ya Rasul salam alaika

Asyroqol badru ‘alaina fahtafat minhul buduri

Mitsla husnik ma ro’aina, qottu yaa wajhassururi

Anak-anak dan ibu-ibu membawa mangkuk atau gelas berisi air dan bunga ke masjid untuk di simpan di dekat para orang tua (kebanyakan bapak-bapak)  melakukan shalawat. Bunga-bunga yang dimasukkan ke dalam mangkuk air biasanya serpihan bunga mawar, bunga melati, anggrek, dan dan bunga-bunga lain yang harum. Banyak pula yang menambahkan daun pandan ke dalamnya. Filosofinya, air tersebut mengandung berkah dari shalawat yang dibacakan di sekitar tempat tersebut, dan bunga di dalamnya adalah sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulallah (sawa).

Selain air bunga, beberapa orang juga membuat kantong makanan berisi nasi dan lauk-pauk, dan kue-kue tradisional. Daging sapi sangat mahal, kebanyakan lauk pauk utama adalah ikan yang diambil dari kolam mereka. Beruntung sekali apabila ada yang membuat kantong makanan dengan menu utama daging sapi. Kue-kue tradisional yang ditambahkan ke dalam kantong plastik beraneka ragam : bugis (pepais), opak, apem, leupeut, tape ketan, dan aneka macam penganan Jawa Barat lainnya. Adapula yang menambahkan uang lembaran 500 rupiah atau 1000 rupiah ke dalamnya.

Para pembuat kantong makanan itu percaya bahwa dengan bersedekah pada Maulidur Rasulallah (sawa) akan mendatangkan berkah. Oleh sebab itu, kantong makanan itu sendiri di kampung saya disebutnya berkat.

Setelah air bunga dibacakan doa, para penyimpan air bunga tersebut akan mengambilnya untuk dipakai membasuh wajah, berkeramas, atau mandi. Dan kantong makanan tersebut akan dibagikan kepada anak-anak yang mengunjungi masjid pada hari tersebut.

Saya mendapatkan foto ini dari ayuk saya yang tinggal disana. Alhamdulillah, sampai sekarang tradisi tersebut masih berlangsung. Kadangkala ingin kembali ke masa itu. Pagi-pagi mencari bunga segar, lalu mengurai helai-helai kelopak mawar dan melati, menyimpannya pada gelas, dan mengisinya dengan air. Membawanya ke masjid, dan berlomba agar gelas sayalah yang paling dekat dengan Bapak-Bapak yang membacakan shalawat. Kemudian menunggu bapak-bapak selesai bershalawat, kami akan bermain di halaman masjid. Lalu Bapak-bapak akan memanggil kami untuk berdoa bersama setelah selesai bershalawat, dan acara terakhir mengambil air bunga dan mengantri untuk mendapatkan berkat.

SubhanAllah, saya pernah hidup dalam masa kanak-kanak di mana orang-orang sekitar dan orang tua menanamkan kecintaan akan Rasulallah (sawa) kepada kami. Terharu..

#mengusap air mata..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s