Dini Hari

Jadi 2 malam lalu saya bermimpi tentang beberapa orang-orang dari masa lalu saya, yang sudah lama ini kami berhenti berbicara satu sama lain. Saya tidak tahu harus melukiskan mimpi itu ke dalam tulisan bagaimana, hanya beberapa kejadian dari mimpi itu yang masih saya ingat. Rasanya, mimpi tersebut lebih sebagai peringatan, bahwa seharusnya saya tidak berhenti berbicara satu sama lain dengan mereka, dan tidak pernah ada salahnya apabila tetap menjaga silaturahmi.

Saya tidak pernah terlalu mengerti bagaimana orang lain menanggapi mimpi yang dialaminya. Saya adalah tipe yang seringkali terpengaruh, dan memikirkan sekiranya apa isyarat dari sebuah mimpi.

Dini hari itu, seketika terjaga, saya terdiam di sisi tempat tidur. Rasanya hampa, dan tiba-tiba bulir-bulir hangat mengalir di pipi. Banyak sekali orang-orang yang telah datang ke dalam kehidupan saya kemudian saya sakiti, akhirnya mereka menyerah dan pergi. Saya mencoba mengingat satu persatu nama yang saya ingat dari masa lalu saya. Masha ALLAH, mereka baik sekali terhadap saya, tidak selayaknya mereka mendapat perlakuan menyakitkan dari saya.

Saya sangat terenyuh, bagaimana beberapa dari mereka berjuang terus menerus untuk tetap menjadi saudara bagi saya.

Saya seharusnya masih dapat bersama dengan mereka, menjadi saudara. Hati saya hancur, karena ini. Sungguh saya menyesalinya, seraya memohon semoga mereka memaafkan saya dan ALLAH mengampuni saya.

Bayangan saya melayang kepada mereka yang pernah datang ke dalam kehidupan saya yang sebelumnya saya fikir mereka menyakiti saya. Tapi sungguh, mereka tidak seperti itu, sejatinya. Mereka tidak pernah menyakiti saya. Mereka memberi pelajaran kepada saya. Sungguh, seharusnya saya membebaskan diri dari memelihara rasa sakit, dan membuang jauh-jauh sedikit pun rasa dendam semenjak dahulu.

Seharusnya saya lebih memiliki banyak saudara daripada sekarang ini.

2 thoughts on “Dini Hari

  1. Saya juga punya pengalaman seperti ini—dan saya pikir semua orang. Ketika orang-orang yang dulu pernah kita kenal, begitu dekat, sekarang harus menjadi orang yang benar-benar asing. Tapi saya takjub dengan mereka yang bisa “menjadi biasa” orang yang dulunya pernah kenal cukup dekat; bagaimana bisa?!

    1. Entah, mungkin mereka lebih mudah melepaskan, merelakan dan melupakan, lalu kembali ke awal, menjadi stranger.. Sedangkan kita tidak.

      Sedangkan saya merasa orang-orang yang pernah datang ke dalam hidup saya itu sangat penting, (saya banyak belajar dari mereka) rasanya sulit untuk menerima kenyataan bahwa mereka sudah pergi dan melupakan saya.

      My life is me hanging around missing people who were gone, Mas. ehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s