Ziarah Gua Maria Fatima di Kaki Gunung Ciremai

Salah satu tempat yang selalu menarik untuk saya kunjungi adalah tempat peribadatan saudara-saudara saya dari umat lain. Rasanya damai. Saya yakin kedamaian itu karena di setiap tempat peribadatan itu terdapat lintasan-lintasan doa dari para pemuja Tuhan semesta. Di sana, di tempat peribadatan itu, segala niat dipatrikan, segala puji dihaturkan, segala pinta dipanjatkan, segala tekad diteguhkan.

Liburan Idul Fitri tahun lalu, spontan saya memutuskan untuk berziarah ke Gua Maria Fatima di Desa Cisantana, sekitar 5km dari kota Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Desa Cisantana bisa disebut sebagai kaki Gunung Ciremai. Ada jalan yang menuju wisata kemah dan tracking Bukit Palutungan, lalu dilanjut tracking ke Gunung Ciremai. Saya pernah melakukan ini bersama teman-teman semasa SMA dahulu.

Gua Maria Fatima terdapat beberapa di Indonesia. Yang paling besar (dan tentu saja paling rama dikunjungi, adalah Gua Maria di kota Fatima di Lisbon, Portugal. Kota Fatima (nama kota ini diambil dari nama putri tercinta Rasulullah sawa) adalah tempat Bunda Maria mengunjungi anak-anaknya pada tahun 1917 dalam 6 kali penampakan sejak bulan Mei sampai dengan Oktober kepada 3 gembala kecil sederhana : Francesco, Yacinta dan Lucia. Fatima telah menjadi pusat ziarah paling terkenal di Portugal. Dalam penampakannya itu, Bunda Maria menyampaikan banyak pesan bijak tentang Ketuhanan dan kehidupan (harus rajin membaca dari literatur Nasrani jika ingin mengetahui isi-isi pesan bijaknya).

Menurut info dari teman, Gua Maria dibangun di beberapa tempat untuk mengenang dan meneladani Bunda Maria itu. Saya pribadi, selalu tertarik dengan salah satu wanita yang namanya terpatri indah di dalam Al Qur’an, dan menjadi salah satu wanita penghulu syurga selain Sayyidah Asiah, Sayyidah Khadijah, dan Sayyidah Fatima (hope to crossed path with them in heaven, *cries). Jika merujuk ke riwayat Nasrani, penampakan Bunda Maria di kota Fatima saja sudah menarik. Dua nama syurga dalam satu kota.

“Each had a status at her birth that puzzles sages’ minds: this to her date tree resorted, so of fresh ripe dates she ate, giving birth to Jesus without fright, how so when the guard Is the most brave night sojourner?
And to the wall and the door’s slab did this resort, Prophet’s daughter, so she aborted what she was bearing. She fell, and her fetus [Muhsin] fell with her, surrounded by every one of a mean descent and lowly birth: this rogue rebukes her, that one reprimands her, This one dismisses her, that one even kicks her… Though before her was the lion of lions being led By the rope… So, is there a greater calamity?”(Yasin Al Jibouri)

Kembali ke Gua Maria Fatima yang sedang saya tuju, rute menuju Desa Cisantana bagaimana?

Kemarin saya kesana naik angkot. Saya start dari terminal bus Cirendang saja ya.. Dari terminal Cirendang (terminal bus dari arah Jakarta, Bandung, Jawa Tengah) terdapat angkot langsung menuju Cigugur, turun sampai pemberhentian terakhir (ongkos mungkin Rp 5,000) naik ojeg menuju Gua Maria Fatima (tawar, Rp 7,000). Kalau saya kemarin, karena sebelumnya city sight kota Kuningan dulu, saya naik angkutan desa berwarna kuning yang langsung menuju Cisantana, angkotnya ngetem di Jl. Dewi Sartika (ongkos Rp 6.000) sampai pemberhentian terakhir, lalu naik ojeg menuju Gua Maria Fatima (tawar alot, Rp 5.000).

Sepanjang perjalanan Cisantana pemandangan indah sekali. Langsung saya teringat kepada Lembang. Suasananya mirip. Di dua sisi jalan sejauh mata memandang adalah kebun sayuran, kemudian kandang-kandang sapi perah. Karna waktu mendekati senja, udara semakin menusuk kulit. Saya tidak membawa jaket kala itu. Mesti jeli mencari lokasi Gua Maria Fatima, karna papan lokasi hanya sebuah papan kecil di pinggir jalan setapak. Baiknya dengan rendah hati, bertanya kepada petani sayur di sepanjang perjalanan.

Saya berhenti di depan jalan setapak menuju Gua Maria. Beberapa mobil terparkir di depan jalan tersebut. Motor diparkir beberapa meter setelah memasuki jalan setapak. Parkir mobil dan motor gratis, dan masuk ke Gua Maria tidak dipungut biaya sama sekali.

Saya menyusuri jalan setapak itu. Hari sudah mulai gelap, namun saya tetap teruskan mendaki bukit kecil menuju Bunda Maria. Ada sekitar 4 tempat pemberhentian untuk memanjatkan doa. Saya tidak sempat berhenti di masing-masing tempat itu. Hari makin gelap, bahkan saya berpapasan dengan beberapa peziarah yang hendak pulang. Oh ya, jangan sungkan, karena banyak diantara peziarah itu adalah umat selain Kristiani. Saya berpapasan dengan beberapa peziarah Muslim di perjalanan.

Menurut penjaga, Gua Maria Fatima berada hampir di puncak bukit itu. Setelah sekitar 1km perjalanan (saya tempuh sekitar 30 menit mendaki), dan melewati sekitar 100 anak tangga menuju Gua, akhirnya sampailah saya di area gua. Dari kejauhan tampak patung Bunda Maria di bawah cahaya lampu. Suasana sekitar dingin. Kalau tidak salah ini sekitar 700 di atas permukaan laut. Beberapa peziarah sedang memanjatkan doa-doa di kaki gua. Saya sempatkan membaca Al Qur’an, terkhusus surat Maryam sebagai hadiah untuk Sayyidah Mariam, sang Bunda Nabi Isa.

This slideshow requires JavaScript.

Oleh beberapa peziarah, saya diajak minum air berkah yang berada di bawah gua. Kemudian mereka mengajak saya berfoto bersama. Alhamdulillah, sangat merasakan kedamaian yang mereka alirkan. Setelah beberapa saat menikmati kedamaian di sana, saya beranjak pulang. Jika anda berkunjung kesana, sempatkan pula untuk menuliskan doa-doa anda pada secarik kertas, kemudian dimasukkan ke dalam kotak persembahan bersamaan dengan sedekah, bergabung bersama doa-doa dari para pengharap lainnya.

Hari mulai gelap, dan saya menuruni barisan anak tangga itu sendirian. Meskipun di sepanjang perjalanan dipasang beberapa lampu, agak takut juga. Bagaimana kalau tiba-tiba ada yang menyerang atau ada binatang buas macam ular? Hehe. Sebetulnya ada jalur lain menuju perjalanan pulang, dan pasti lebih aman, karena akan banyak peziarah yang mulai turun. Sedangkan yang saya lalui ini adalah jalur menuju gua, sudah malam begini, pasti tidak ada yang mendaki lagi.Kalau berteriak, apakah ada yang mendengar di tengah hutan seperti ini? Tapi saya terus saja berjalan. Sepanjang perjalanan saya memutar latmiya dari handphone saya, agak menenangkan. (ssst, saya juga selalu membawa senjata rahasia setiap kali saya bepergian, hehe).

Akhirnya sampailah saya pada deretan warung penjual oleh-oleh. Itu artinya kita sudah dekat menuju jalan keluar bukit. Ada yang menjual sayuran, patung-patung Bunda Maria, patung Jesus dan kalung dreamcatcher. Lalu saya langsung menuju jalan keluar hutan, hehe. Mencari ojeg di sekitar sangat sulit, karena kalau tidak salah hampir tidak ada lagi pemukiman ke atas. Untungnya saya sudah memiliki nomor telepon ojeg sebelumnya. Saya telepon beliau dan minta antar sampai Kuningan kota (Jl. Dewi Sartika). Saya bayar Rp 17,000.

Alhamdulillah atas nikmat berziarah.

note: selain latmiya, sebetulnya musik yang cocok didengar dalam perjalanan menuju dan dari Gua Maria Fatima adalah album-album dari Bon Iver. Coba Coba simak Holocene, Lisbon OH, dan Towers dari albumnya Bon Iver, Bon Iver. Apa ngga nangis dibuatnya!? Padahal entah liriknya tentang apa.

2 thoughts on “Ziarah Gua Maria Fatima di Kaki Gunung Ciremai

  1. Hi mbak Milta saya seneng baca tulisan ini. Saya rencana akhir Oktober 2015 mau ke GM Fatima Sawer Rahmat ini, kalau dari Jakarta via tol Cipali keluarnya di pintu tol apa ya mbak?

  2. Salam Mba Vera. terima kasih atas kunjungan dan sapaannya.

    Untuk menuju ke Cigugur/Kuningan, dari arah Jakarta via Tol Cipali keluarnya di pintu tol Palimanan Mba, lalu sambung ke arah Kuningan via Plumbon Mba. semoga berhasil🙂

    Selamat berziarah, may you be blessed with a spiritual journey, and may Sayyidah Maryam accept your ziarah.🙂

    jika mungkin, mohon ingat saya di dalam doa-doanya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s