Catatan Dari Peringatan Hari Raya Ghadir 1434H

Alhamdulillah, hari Sabtu lalu menyempatkan diri menghadiri peringatan Hari Raya Ghadir di sekitar Jl. Gatot Subroto Jakarta. Seperti diketahui, pengikut mazhab Ahlul Bayt memperingati Hari Raya Ghadir setiap tanggal 18 Zulhijah. Pengikut mazhab Ahlul Bayt, percaya bahwa pada hari tersebut (tepatnya tanggal 18 Zulhijah 10H), pada khutbah Haji Wada (haji terakhir) Rasulullah (sawa), beliau dengan perintah Allah mengangkat Imam Ali Ibn Abi Thalib (as) sebagai washi/pewaris kepemimpinan setelah beliau. Pengikut mazhab Ahlul Bayt meyakini, pada saat itulah penyempurnaan dan keridhaan Islam itu. Hal tersebut didasarkan pada kutipan ayat surat Al Maidah ayat 3 “…pada hari ini telah kusempurnakan untukmu nikmat-KU, dan telah kuridhai Islam sebagai agamaamu…”  Berbagai dalil, bukti, argumentasi dikemukakan berkaitan dengan kejadian ini. Bila ditelusuri dari rujukannya, lebih dari 110 riwayat hadis dari rujukan kitab-kitab Ahlussunnah telah mengemukakan tentang kejadian ini. Lebih dari 100.000 (kebanyakan perawi menyebutkan yang hadir sekiar 120.000 jamaah) Muslim yang hadir untuk mendengar khutbah Haji Terakhir tersebut.

Saya ingin kutip untaian kisah berkaitan kejadian ini dari salah seorang guru saya.

Beberapa khutbah Haji Terakhir disampaikan Nabi di beberapa tempat yang berbeda-beda. Ada yang disampaikan di Masjidil Haram, ada yang disampaikan di Arafah, ada yang disampaikan di Mina, ada yang disampaikan di Mesjid Khaif. Hampir di seluruh tempat itu, Nabi akan menengadah ke langit dan berkata “Allahumma fashad.. Allahumma fashad.. Ya Allah saksikanlah..”

Dalam perjalanan pulang, di sebuah tempat bernama Khumm, Nabi meminta semua jamaah berhenti. Yang sudah mendahului diminta kembali, yang belum menghampiri dinanti. Disusunlah bongkah-bongkah batu dan pelana unta, untuk tempat Nabi berkhutbah lagi.

Khutbah Nabi panjang sekali, dan betapa indahnya khutbah itu. Hampir seluruh rangkaian khutbah Nabi itu menyampaikan kembali apa yang telah Nabi sampaikan selama ini. Yang dicatat oleh ratusan sahabat, dimuat dalam puluhan kitab, adalah Sabda Nabi berikut ini seraya mengangkat tangan Imam Ali “man kuntu mawlaahu, fahadza ‘Aliyyun mawlaahu, barang siapa menjadikan aku pemimpinnya hendaknya ia menjadikan Ali pemimpinnya juga”.

Sebagian jamaah terdekat melekatkan tangannya kepada Imam Ali sebagai baiat dan ucapan selamat, sebagian lainnya dari kejauhan mengangkat tangannya menunjukkan baiat.

Di sinilah pangkal seluruh perbedaan terjadi. Di sinilah kemudian sejarah mencatat pengelompokkan itu dimulai. Pengikut mazhab Ahlul Bayt meyakini, bahwa kata mawla yang disampaikan Nabi itu artinya pemimpin. Akar katanya adalah waliyya. Bagi mereka, itulah wasiat pelantikan Ali Ibn Abi Thalib sebagai Imam sepeninggal Nabi. Pengikut mazhab Ahlussunah berbeda pendapat. Bagi mereka, kata mawla disana berarti kekasih, pecinta. Bagi mereka, Nabi mengatakan “barangsiapa yang mencintai aku, maka cintai Ali juga”.

Diskusi, argumentasi, dalil dan bukti dikemukakan silih berganti. Bagi pengikut mazhab Ahlulbayt, Ali adalah pemegang otoritas kepemimpinan sepeninggal Nabi. Mereka yakin di Ghadir Khum itu Nabi bersabda “tidak ada satu ilmu pun kecuali telah aku ajarkan Ali mengenainya”. Nabi menjadi kota ilmu, dan Ali adalah pintunya. Begitu menurut pengikut Mazhab Ahlul Bayt.

Saya sendiri, seringkali membaca berulang-ulang lembaran-lembaran khutbah Haji Terakhir Nabi ini. Betapa indahnya rangkaian khutbah beliau. Diawali dengan pujian panjang untuk Ilahi, diakhiri baiat dari para jemaah haji. Maka tidaklah heran, betapa pentingnya peristiwa ini bagi para pengikut Mazhab Ahlul Bayt. Tradisi itu tidak pernah putusnya dilaksanakan, di berbagai negara, dalam pekan yang sama. Di Indonesia, tak ketinggalan pula. Dilaksanakan di berbagai daerah dalam sepekan. Perhelatan yang paling besar dilaksanakan oleh IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bayt Indonesia) di Jakarta, Sabtu lalu. Tidak kurang dari 3000 kaum Muslimin menghadiri acara tersebut.

Acara tersebut diisi oleh Seminar Internasional yang menghadirkan pembicara dari Indonesia, dari Iran, dan Kedutaan Paraguay. Beberapa tokoh yang menjadi narasumber pada acara ini berasal dari berbagai kalangan, baik dari pemerintahan, budayawan, dan tokoh agama berbagai mazhab.  Selingan diisi oleh pembacaan shalawat dan pertunjukan angklung duta Indonesia untuk  Festival Kebudayaan Iran dari Sekolah Muthahari Bandung.

Rangkaian acara selama 4 jam berlangsung khidmat. Para hadirin di dalam gedung sepertinya tidak terpengaruh dengan sekelompok demonstran di luar gedung yang berorasi meminta acara dihentikan. Sehari sebelumnya, para demonstran telah menyebarkan berita dan mengerahkan masa untuk membubarkan acara. Apresiasi layak diberikan kepada jajaran brigade keamanan dari Kapolres Jakarta Selatan dan jajaran Brimob yang telah membantu menjaga keamanan selama berlangsungnya acara.

Alhamdulillah.

Berikut beberapa gambar yang terkait peringatan Idul Ghadir tersebut (mohon maaf atas kualitas gambar dari camera phone ini) dan ternyata gambarnya kecil sekali setelah dicombine!😀

>>

image

 

>>

..khalayak yang hadir..

image

 

..opening acara..syair untuk Imam Ali dan lagu Indonesia Raya..

image

 

Budayawan H. Ridwan Saidi dan Ketua PP ‘Aisiyyah sekaligus Rektor Universitas Muhamadiyyah Jakarta: Prof. Dr. Masyitoh Chusnan M.A. Senang, melihat pembicara perempuan juga diundang berbicara pada acara seminar ini. Kita memang butuh lebih banyak wanita berbicara tentang Islam. Terlebih, kita butuh orang-orang lebih banyak mendengarkan ketika wanita berbicara.

image

 

Duta Besar Paraguay di Indonesia, menceritakan conversion storynya menjadi Muslim. Hari itu, tepat sebulan beliau menjadi Muslim, dan menemukan keindahan Islam itu di Indonesia. Dengan begitu, beliau menjadi satu-satunya duta besar Paraguay di dunia yang memeluk Muslim. Dan gambar sebelahnya adalah pembicara dari Rais Syuriah PBNU : KH. Syaifuddin Amtsir.

Pembicara lainnya; Asisten Deputi Gubernur DKI Jakarta bidang Pengendalian Kependudukan, Chairperson dari Center of Iranian Studies Azad University of Iran, penasehat untuk Kementrian Kebudayaan Republik Islam Iran, Atase Kebudayaan Iran, dan Ketua Dewan Syura IJABI tidak sempay saya dokumentasikan.

Alhamdulillah atas nikmat peringatan Idul Ghadir yang khidmat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s