Pelajaran Yang Bisa Diambil Dari Film Gravity

>>

image

 

>>

Setelah menonton Gravity, jadi tertarik untuk menuliskan pelajaran-pelajaran yang bisa kita ambil dari menonton film tersebut. Film ini banyak long take shoot yang menampilkan keindahan luar angkasa dan lapisan bumi. Selain itu, saya juga suka karena di film ini tidak melibatkan banyak pemeran. Pemeran utama hanya berjumlah 3 orang. Dan tentu saja saya menyukai di film ini Sandra Bullock dipasangkan dengan George Clooney. Akting mereka yang bagus di film ini, menunjukkan bahwa kehadiran mereka bukan semata-mata untuk menjual nama mereka untuk keuntungan film. Percakapan antara Sandra Bullock (Dr. Ryan Stone) dan George Clooney (Matt Kowalsky) di film ini menyegarkan. Dan kenapa George Clooney harus mati di film ini?!

Sebenarnya inti dari film ini adalah tentang perjuangan. Jika manusia memilih untuk hidup, maka dia harus berjuang. Pada saat terjadi ujian, manusia kadangkala baru teringat dengan Tuhannya. Selalu ada yang dapat dilakukan untuk dapat bertahan hidup.

..Karena kehidupan menjadi berharga dikarenakan perjuangannya..

Dikisahkan bagaimana akhirnya pemeran utama Dr. Ryan Stone (Sandra Bullock) begitu ketakutan mengingat kematian yang mungkin akan dijelangnya sendirian di angkasa.

>>

image

 

picture

>>

Saya suka bagian ini. Ini (kalau tidak salah) adegan ketika akhirnya Dr. Stone menemukan tempat penyelamatan dirinya di ISS (?) sebelum akhirnya meledak juga. Selain merasa selamat, di adegan ini juga Dr. Stone merasakan kesendirian yang ditakutinya. Suka sekali pose fetus yang diambil untuk film ini. Sayang sekali filmnya sudah tidak tayang lagi di sinema terdekat, padahal saya masih ingin menontonnya sekali atau dua kali lagi!

Pelajaran lainnya adalah mengajak penonton untuk lebih menghargai kehidupan dengan seluruh nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita. Karena ketika nikmat itu sudah pergi, kita baru akan menyadari betapa berartinya nikmat itu bagi kehidupan kita. Edaran matahari setiap hari yang tidak pernah cermati, suara-suara di sekeliling kita (yang karena dalih kesibukan) begitu saja terlewati. Setiap nikmat cahaya, suara, aroma, dan rasa. Semua itu adalah nikmat Tuhan yang seringkali begitu saja kita lewatkan percuma.

Film ini sarat animasi dan visual effect. Dari mulai penampakan galaksi sampai hukum fisika yang terjadi. Sulit untuk disandingkan dengan teknologi perfilman Indonesia (iya lah, pemerintah supportnya tidak serius terhadap industry kreatif!). Sutradara film ini (Bapak Alfonso) detil sekali memperhitungkan berbagai elemen agar menyatu padu dan tepat posisinya: gambar/benda/orang yang mana harus masuk kapan dan bagaimana, atau kamera harus menyorot apa dan bergeser ke mana dan kapan, atau kapan suara dan musik harus masuk. Seperti sebuah sendratari, dengan aktor, kamera, efek visual, efek suara, dan musik sebagai penarinya. Sepulang dari menontonnya, saya langsung browsing behind the scene-nya. Ternyata, hampir seluruh adegan di angkasa dilakukan sederhana, tapi tentu saja animasi dan visual effect yang membuat istimewa. Banyak sekali long take yang hanya diisi audio visual dan teknik audio untuk tetap “bercerita”.

Contohnya ini :

>>

image

picture

 

>>

Dari keindahaan visual effect itulah penonton diajak lebih memuji Tuhan, betapa Ia Mahasegala. Hamparan bumi yang dipijak kita saja (bahkan itu pun tidak semua dapat kita jangkau!) tidak ada apa-apanya dibanding seluruh kerajaan Tuhan. Itu hanya semesta jagat raya. Itu baru yang kasat mata, belum termasuk yang rahasia.

Tuhan telah menciptakannya dengan sempurna untuk manusia-manusia terpilih yang mensyukuri nikmat-Nya. Jagat raya berada dalam tata letaknya dan garis edar yang sempurna. Tidak mungkin bagi matahari mendapatkan bulan, begitu pun sebaliknya.

“Allah lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi.
Perintah /hukum-hukum/ Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.”
(QS. Ath-Thalaq (65) ayat 12)

Dan betapa kecilnya bumi manusia dilihat dari atas sana. Penghuninya hanyalah debu kosmik yang berterbangan di kerajaan-Nya. 

catatan kecil: Salah satu ciri khas film Amerika adalah menyisipkan pesan politik untuk mendukung invasi mereka kepada dunia. Tentu saja salah satunya adalah menyampaikan pesan “buruk” mengenai lawan politiknya. Saya melihat film ini pun tidak luput dari hal itu. Pada film tersebut diceritakan awal mula kegagalan misi Astronot (Dr. Ryan Stone dan Matt Kowalsky) adalah karena puing-puing ledakan satelit Rusia. Yang kedua adalah diceritakan bagaimana astronot tersebut dapat berlindung pada Stasiun Luar Angkasa milik China, namun tidak bertahan lama, karena stasiun tersebut juga rentan terbakar.Bagi saya, ini menunjukkan Amerika sedang menyampaikan pesan agar penonton bahwa teknologi canggih Rusia dan produk negara China mungkin saja membahayakan bagi kehidupan manusia. In my humble opinion.. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s