Jakarta, Jakarta: Face To Face, Heart to Heart Dengan Teman Baik di Kedai Kopi Oey

Ternyata yang paling menarik dari perjalanan Jakarta waktu itu adalah saya bertemu salah satu teman yang berharga buat saya. Saya seringkali sedang berada di Jakarta pula, namun kesibukan kami tidak pernah dapat berkompromi. Tidak pernah ada waktu bertemu. Sudah hampir 2 tahun lamanya kami tidak bertemu muka. Selepas menyelesaikan kuliahnya di kampus paling ahehey di Bandung Utara, dia berkarya di ibu kota, menjadi jurnalis (atau wartawan?) di kantor berita kebanggaan negara. Saya mengaguminya betapa dia begitu cepatnya meraih apa yang dia cita-citakan. Menulis untuk seluruh negeri!

Dan, di sana, di Jl. Sabang itu, saya sedang menunggu teman saya..

Dari kejauhan saya melihat dia sedang celingak-celinguk mencari saya. Saya memanggilnya, dan melambaikan tangan. Kami berpelukan. Dari pelukan, saya jadi bertanya-tanya gerangan apakah yang membuat badannya lebih kurus. Kami langsung ribut sekali! Dan terus-terusan terbahak tak peduli sekitar. Kami berdua sama-sama tak percaya akhirnya kami bertemu kembali. Kami menyebrang jalan, menuju sebuah kedai. Ternyata dia mengajak saya menuju Kopi Tiam Oey! Oh, ini kedai kopi milik ahli kuliner Pak Bondan itu ya.. Kedai ini juga memiliki outlet di Jl. Braga Bandung, namun saya tidak pernah mencobanya. Jadi ini pertama kalinya saya mengunjungi kedai ini, dengan seorang teman baik!

Dia excited sekali mengajak saya ke tempat itu, menarik saya menuju lantai 2, dan memilih tempat duduk di samping jendela. Memandang Jalan Sabang pada malam hari. Saya bilang kepadanya, saya sudah berhenti minum kopi. dia terkaget tak percaya. Lalu menawarkan apakah sebaiknya kami pindah tempat nongkrong. Hehe. Tapi akhirnya, setelah melihat-lihat menu, kami tetap di sana. Toh, di kedai ini tidak hanya melulu menyajikan kopi.

Saya menanyakan padanya rekomendasi menu favorit kedai ini. Sebenarnya banyak sekali yang saya inginkan dari daftar menu, tapi karena saya fikir ini makan malam (dan actually saya lapar sekali), dia merekomendasikan menu santap malam. Pesanan sampai di depan kami. Kami akhirnya menyadari betapa anehnya kombinasi menu yang kami pesan. Saya memesan sup ikan dan hot mint tea. Teman saya, memesan Soto Tangkar dan Es Milo Dinosaurus. Kami memang tidak terlalu memperhatikan estetika kombinasi menu. Hahha.. saya memesan Sup Ikan, karena memang pakai nasi, sehingga bisa kenyang. Dan ternyata sup ikannya memang enak. Bening,  bumbunya tidak terlalu banyak, dan rasa dari nanasnya enak! Hot mint tea, karena sudah terlalu lapar, agar tidak masuk angin dan perut hangat. Terlambat menyadari bahwa mint itu dingin rasanya. Aneh. Teh panas itu paling enak setelah makan nasi, tapi jika itu teh panas rasa mint? Aneh. Teman saya, Soto Tangkar oke lah sebagai menu makan malam. Tapi ditemani milo ice and cream? Sekali lagi aneh. Pramusaji juga tidak interupt dengan kombinasi menu kami, jadi kami teruskan saja makan. Hehe.

>>

.. Milo Dinosaurus dan Hot Mint Tea, Kopitiam Oey, Jl. Sabang ..

>>

.. Sup Ikan dan Soto Tangkar, Kopitiam Oey, Jl. Sabang ..

>>

Kami makan, sambil banyak bercerita. Berebut menyampaikan cerita.  Musik, musik, musik! Dreams, dreams, dreams! Guys, guys, guys! Jobs, jobs, jobs! Religion, culture, politic, everything! Dan kami lebih dari satu jam berada di sana. Dan itu sudah hampir jam 10.00 malam. Karena lebih tertarik dengan apa yang diceritakan masing-masing, saya jadi lupa memotret kebersamaan kami di Oey. Over all, sebenarnya saya tidak perlu memberi review untuk tempat dan menu Oey. Sudah banyak sekali direview orang lain. Saya pribadi, suka tempatnya karena memang Oey Jl. Sabang nyaman untuk sebagai tempat mengobrol dengan teman. Menunya juga layak dengan harganya. Oh ya, teman saya ini memaksa mentraktir saya. Dulu, semasa dia kuliah (dan saya sudah kerja) padahal saya jarang sekali mentraktir dia. Seringnya kami bayar masing-masing. Saya pelit dan irit, dan dia tahu itu! Sekarang, mentang-mentang dia jadi jurnalis terkenal, seenaknya saja mentraktir saya!

Dia memaksa saya menginap di kos-kosannya. Dan saya menyetujui. Kami keluar dari Oey dan menuju ke Seven Eleven terdekat untuk membeli makanan buat nanti tengah malam. Kami fikir kami akan mengobrol sampai pagi, khawatir lapar lagi. Memilih-milih makanan di Seven Eleven, tidak ada yang menarik kami. Dan pula harganya tidak masuk akal, rasa biasa saja, menurut kami. Akhirnya kami keluar lagi. Menuju yang harganya lebih manusiawi, minimarket milik Indonesia. Membeli beberapa bungkus cemilan, minuman, dan alat mandi!

Kami berjalan menyusuri sekitar Jl. Sabang menuju ke kosannya. Sepanjang perjalanan, orang seperti kami tidak akan berhenti mengobrol. Kami sampai di kosannya 15 menit kemudian. Kosannya.. ya kosan jurnalis, sempit dan berantakan! Ehehe. Tapi keren sekali teman saya ini, pintar sekali menyimpan banyak barang bersamanya dalam satu ruangan. Mungkin karena dia juga sudah terbiasa dengan semrawut Jakarta? Kami beristirahat, mandi, dan bercerita lagi!

Ada yang berubah. Dulu dia sarkas sekali. Dan saya sering ketularan. Atau karena kami berdua memang sarkas? Sekarang, cara bercerita kami lebih lembut, bahkan mencoba lebih bijaksana! Hahaha. Sampai kemudian.. saya lupa akhirnya siapa yang terlelap lebih dahulu.. Sampai besok pagi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s