Jakarta, Jakarta : Malam Terakhir Bersama Juwita (Malam)

Teman saya yang wartawan itu, Juwita sepertinya jadwalnya padat sekali. Kalau tidak salah tadi malam sebelumnya dia bilang bahwa dia akan mengantar pacarnya mencari kosan malam ini. Jadi dia akan pulang agak larut. Sebagai “penumpang” yang baik, saya tidak complain, tentu saja. Saya fikir, sembari menunggunya  pulang, saya akan berjalan-jalan di sekitar Jl. Sabang.

Tempat yang selalu ingin saya kunjungi  di daerah yang baru saya datangi adalah pasar tradisional dan tempat-tempat ibadah yang ada di sekitarnya. Dari sanalah kita bisa mengenal orang-orang yang tinggal di daerah tersebut. Namun kala itu, sudah memasuki senja, dan sepertinya tak ada pasar terdekat. Gerimis pula. Saya putuskan mencari mesjid terdekat. Ternyata ada sebuah mesjid di sekitar Jl. Sabang. Saya memasukinya dan bergabung bersama jemaah yang lainnya.

Berbicara dengan orang asing selalu berkesan bagi saya. Hal itu seperti terapi jiwa. Kita membuka hati kita untuk mendengar kisah mereka, kita mempercayakan pada mereka untuk mendengar kisah kita. Saling mengenal, kita jadi punya teman atau bahkan saudara.  Di mesjid itu saya berbicara dengan beberapa jemaah. Ada yang berkunjung sembari beristirahat sepulang kerja, ada yang sedang menunggu untuk janji bertemu. Semua percakapan itu hanya diawali oleh satu senyum.  Saya fikir 90% orang akan membalas senyum kita apabila kita memberi senyum lebih dulu.

Selesai ibadah, saya beranjak keluar. Mencari tujuan untuk makan. Jl. Sabang tidak perlu diragukan untuk urusan kuliner. Sepanjang tepi jalan tersebut berderet tenda-tenda penjual makanan untuk dikunjungi. Tinggal pilih yang sesuai selera. Saya memutuskan untuk makan Soto Betawi di salah sebuah tenda di dekat mesjid. Saya penggemar Soto Betawi. Santan dan emping, tidak sehat katanya, namun enak jika tidak berlebihan! Hehe.

Di tengah makan malam saya, tiba-tiba teman saya mengirim pesan. Katanya dia sedang dalam perjalanan pulang, menuju Jl. Sabang. Akhirnya saya mengajaknya makan bersama. Lalu kami pulang menuju kosannya, sekali lagi dengan tak berhenti bercerita. Berbicara dengan teman lama pun terapi jiwa.

Kami sampai di tempat kosnya. Dia sepertinya lelah sekali. Beberapa menit kami sampai di kamarnya, di tengah perbincangan kami, ternyata dia sudah terlelap lebih dahulu. Saya masih terjaga, menonton film di laptopnya, sampai beberapa jam kemudian.

Esok paginya, kami bangun lebih pagi. Alarm sengaja kami pasang agar kami bangun pagi tepat waktu. Hari itu rencananya kami berangkat bersama. Hmm.. berarti hari terakhir kami bertemu. Sulit menuliskan rasanya seperti apa, saya sedih sekali di dalam hati. Saya fikir, entah kapan lagi kami dapat bertemu. Jakarta-Bandung memang dekat, namun kesibukan kami tidak pernah dapat berkompromi. Kami tidak ingin membicarakan perpisahan kami, tak rela. Kami lebih rela mengisinya dengan tetap saling bercerita sembari berdandan.

Setelah kami bersiap, kami menuruni tangga, menuju kantin kosan untuk sarapan bersama. Ada yang berbeda lagi, makan paginya tidak selayaknya anak kuliahan yang juga anak kosan. Sarapan paginya hanya satu buah pisang dan segelas air putih. Sehat, katanya. Saya melihat menu sarapan saya di atas piring. Satu porsi nasi rames dan segelas susu kedelai. Bagi saya, butuh energi yang ekstra untuk menaklukan kerasnya Jakarta.

Selesai sarapan, kami menuju Jl. Jaksa. Itu adalah salah satu akses menuju transportasi ke arah kantor teman saya. Memang bukan yang terdekat, tapi kami sepakat melalui jalan itu karna meeting point saya dengan tim di sekitar Jl. Jaksa pula. Adalah kami.. menyusuri Jl. Jaksa pagi hari. Saya baru melihat keadaan jalan tersebut dengan jelas pagi itu. Ketika pertama kali melaluinya 2 hari lalu kan malam hari, jadi tidak terlalu jelas melihat sepanjang jalan tersebut. Sekilas, jalan ini mengingatkan saya akan Jl. Braga di Bandung. Tekstur badan jalannya mirip.

Saya meminta teman saya menceritakan tentang kehidupan masyarakat di sekitar Jl. Jaksa. Tentang tuan rumah dan tamunya. Tentang kehidupan siang dan kehidupan malamnya. Sembari mendengarkannya bercerita, saya melihat kedua sisi Jl. Jaksa. Kedai-kedai yang buka hingga menjelang Shubuh,  sedang mulai dibersihkan dan dirapihkan. Kursi-kursi diangkat dan ditumpuk di atas meja. Botol dan kaleng minuman ditumpuk dan dikumpul ke dalam kantong-kantong besar. Mobil pengangkut tak lama lagi akan menepi, mengangkut kantong-kantong itu.

Yang khas di Jl. Jaksa, kita akan sering berpapasan dengan turis asing yang menginap di penginapan-penginapan sekitar Jl. Jaksa. Kami berpapasan dengan beberapa diantaranya. Beberapa dari mereka barusaja keluar dari hotel tempat mereka menginap. Beberapa hanya menggenakan kaus tanpa lengan, celana sebatas lutut, dan hanya beralaskan sandal jepit. Namun di balik punggungnya, sebuah backpack menempel. Mereka sedang bersiap menelusuri Jakarta hari itu sedari pagi. Beberapa warga Indonesia mengajak mereka berfoto bersama. Dulu saya pun begitu. Rasanya wah jika melihat orang asing. Seringkali saya ajak mereka berfoto bersama. Sekalian melatih keberanian berbahasa Inggris saya yang di bawah pas-pasan.

Kami hampir sampai di ujung jalan, dan di sanalah kami akan berpisah. Kami saling berpelukan dan berjanji satu sama lain untuk saling tetap menghubungi. Meski dalam hati kami, tidak pernah tahu kapan akan benar-benar bertemu lagi.  Saya ingin menunjukkan foto kami berdua yang kami ambil pagi itu. Dalam 3 hari itu, hanya pada foto inilah kami sama-sama berpose. Aneh juga, saking asik bercerita, kami hampir lupa mengambil foto.

Dan saya sudah bertemu dengan tim saya, dan teman saya pun mulai menjauh. 5 menit kemudian, kami berkirim pesan, dengan harapan semoga kami dapat segera bertemu kembali.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s