Day 1 : Sarapan Pagi Sate Klopo Ondomehen, Surabaya

Saya berlari-lari mengejar angkot yang akan membawa saya menuju Stasiun Kiara Condong, tempat kereta saya akan berangkat. Jam menunjukkan 4.15 pm. Harusnya itu bukan jam pulang kerja di kantor, tapi dengan izin dan iming-iming oleh-oleh, akhirnya manajer saya mengizinkan saya keluar kantor lebih awal. Dengan nafas terengah, saya sampai di Stasiun Kiara Condong 30 menit kemudian. Kereta berangkat 15 menit lagi (kalau jam saya dan jam stasiun sama persis).Takut tertinggal kereta, saya berlari, dan menemukan kakak saya di depan pintu masuk menuju jalur kereta. Kami melewati pemeriksaan, dan persis ketika pemeriksaan selesai, kereta datang. Kami naik kereta bisnis Mutiara Selatan dari Bandung (rute Stasiun Kiaracondong, Bandung – Gubeng, Surabaya harga Rp 230.000 bisnis 1, gerbong paling depan).

Kakak saya memilih kursi dekat jendela, ingin melihat pemandangan sepanjang perjalanan katanya. Saya agak sakit hari itu, jadi saya fikir saya akan tidur sepanjang perjalanan, agar esok lebih segar. Sehingga saya relakan saja kakak saya di dekat jendela, dengan kamera di tangannya. Oh ya, ternyata kereta kelas bisnis sekarang tidak mengizinkan pedagang dari luar masuk ya, jadi penumpang tidak akan terganggu. Atau malah menyayangkan karena tidak bisa membeli jajanan dari para pedagang itu?🙂

12 jam 30 menit kemudian, kami sampai di stasiun Gubeng. Perjalanan normalnya 11 jam, tapi kereta terlambat satu jam, dan saya langsung menuju toilet, merapihkan diri. Toilet stasiun selalu saja penuh setiap kali ada kereta luar kota yang barusaja sampai. Inikah kota Pahlawan itu, dalam hati saya. Bahasa yang berbeda dari bahasa saya mulai terdengar di sekitar saya. Seorang teman saya di Surabaya, berjanji menjemput kami di stasiun, dan kami janji akan sarapan bersama.

maaf..maaf..gambarnya blury.. hehe..

Sebenarnya saya sudah membuat daftar tempat apa saja yang akan saya kunjungi, makanan apa saja yang ingin saya makan di sini, berikut dengan perkiraan waktunya. Kegemaran saya travelling, membuat saya mulai membiasakan hal ini, membuat ittenary perjalanan. Walaupun lebih sering tidak berjalan sesuai dengan ittenary, setidaknya saya punya perkiraannya. Pada akhirnya, toh ini sebuah petualangan perjalanan. Kita tidak pernah tahu apa yang akan kita temui sesampainyadi kota yang akan kita kunjungi.

Setelah 30 menit berkeliling di sekitar pusat kota Surabaya, kami masih belum memutuskan kami akan memiliki sarapan dimana. Awalnya hendak mengunjungi Mesjid Laksamana Cheng Ho terlebih dahulu, dan kami sudah berada tepat di depan mesjid tersebut, tapi kami sudah terlanjur lapar. Lagipula sepertinya berkunjung ke Mesjid akan memiliki waktu lebih lama, karena kami berniat mengganti shalat-shalat kami yang harus diganti semasa perjalanan kereta tadi. Akhirnya kami keluar dari komplek mesjid, dan kembali mencari tempat untuk bersarapan.

Sekilas, saya fikir mencari makan pagi di Surabaya itu susah-susah gampang. Hampir tidak saya temui penjual makanan pagi di sekitar area yang saya lewati (Taman Kusuma Bangsa dan sekitarnya). Teman saya ternyata orang rumahan. Menurutnya, hampir selalu makan di rumah, jarang sekali di luar, jadi tidak terlalu hafal tempat-tempat bersantap. Sekali lagi inilah perjalanan. Akhirnya setalah beberapa menit pencarian, dia mengajak ke tempat yang dia tahu buka di pagi hari. Dia mengajak kami ke Sate Klopo Ondomehen. Haha, bahkan tempat ini tidak ada di list saya. Bukan karena tempat itu tidak terkenal, tapi justru karena saya khawatir saya tidak dapat menemukannya, karena saya fikir tempatnya jauh dari beberapa tujuan yang ingin saya tuju.

Benar kata beberapa artikel yang saya baca, tempat ini tidak pernah sepi dari pengunjung. Pagi-pagi seperti ini pengunjung udah penuh, tak ada satu kursi pun yang kosong. Tempatnya sendiri dibuat sederhana, bersahaja. Sudah saya terka, yang mengelola tempat ini pasti seorang Ibu yang sudah lanjut usia. Ciri khas seorang Ibu dalam mengelola sebuah tempat, tempat itu akan selalu terasa rumahan. Feels like home. Meja dan kursinya dibuat seolah di rumah sendiri. Dibuat hangat dan akrab dengan pengunjung-pengunjung tempat itu. Seorang Ibu selalu yang pertama dalam mengakrabkan anggota keluarganya. Saya jadi teringat salah satu hotel di Bandung. Hotel Amaroossa. Dikelola oleh seorang Ibu. Kesan elegan dan keibuan sangat terasa dari hotel ini. Sekali lagi, feels like home.

Tidak sampai 5 menit menunggu, pesanan kami sudah di depan kami. 2 porsi sate klopo (sate dengan bertabur parutan kelapa di bagian luarnya), 3 porsi nasi hangat, dan 3 gelas teh panas tawar. Tidak sampai 10 menit pula, hidangan di depan kami habis tak bersisa. Tidak perlu membuat review untuk rasa sate ini, sudah direview banyak orang. Rasa lezat, perut kami sedang lapar pula, jadi sempurna. Alhamdulillah. Harga persisnya tidak tahu, karena teman saya yang memaksa membayar semua hidangan. Tapi, saya intip tadi sekitar 45.000 yang dia bayarkan.

Di seberang jalan, terdapat kedai sate dengan nama yang sama. Menurut teman saya, kedai sate seberang jalan itu adalah bagian kedai ini. Usaha sate ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Kedai yang pertama kali justru sudah tidak dibuka lagi. Di seberang jalan, tepat di depan Jl. Ondomehen Magersari. Jl. Ondomehen Magersari itu sendiri hanya sebuah gang, saya ragu apakah mobil dapat memasukinya. Jalan utamanya adalah Jl (yang saya tidak sempat mengetahui namanya). Menariknya 3 tahun lalu, kakak saya sempat menyantap sate klopo ini di tempat pertama kali dibuka itu.

This slideshow requires JavaScript.

Perut kami sudah kenyang, Alhamdulillah.. dan perjalanan kami lanjutkan kembali..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s