Akan Menceritakan Perjalanan Ke Surabaya

Cerita perjalanan kali ini akan diawali dengan kutipan dari salah satu Ustadz favorit saya (Ustadz Miftah Fauzi Rakhmat) melalui sebuah grup di whatsapp, kurang lebih begini redaksinya:

Berpergian itu menyehatkan jiwa. Ia makanan yang terlupa. Bukan saja kita perlu terlepas dari keterikatan “rumah” sementara kita, kita juga wajib mengumpulkan hikmah yang tersebar di semesta. Berpergian membawa kita pada cerminan apa yang bisa dilakukan manusia. Bagaimana batas-batas sempit itu hilang. Berpergian adalah makanan jiwa. Ceritakan tentang tempat-tempat yang didatangi. Tentang masyarakatnya, tentang suka dan dukanya, tentang pahit dan getirnya, manis dan senyumnya. Berpergianlah, sabda Baginda Nabi sawa, kau akan disehatkan.

Ini bulan kelahiran Baginda Nabi sawa. Bulannya bergembira, menurut Bapak saya. Bulannya memulai segala, menurut kakek saya. Menurut kakek (semoga Allah menyayanginya dan menganugerahinya tempat terindah di alam baqa), jika hendak memulai usaha, membangun rumah, menikah, dan melakukan hal-hal yang baik, mulailah di bulan Maulid Nabi sawa. Bulan Maulid Nabi sawa juga seringkali dijadikan awal mula perjalanan ruhani ke berbagai tanah suci, perjalanan ziarah kepada manusia-manusia shalih kekasih palung hati.

(Bahasa dan rima penulisan saya mulai terdengar seperti gaya berbahasa Ust. Miftah, hehe. Ini pasti karena setiap hari membaca tulisannya dan berulang kali membaca buku karyanya.)

Surabaya adalah salah satu tempat yang selalu ingin saya kunjungi sejak kecil dahulu. Kota inilah yang menjadi saksi dan bagian dari perjuangan para pahlawan negeri ini. Sebutan Kota Pahlawan disematkan kepadanya, bukti bahwa negara ini ada karena jasa para pahlawan di kota ini. Berbagai monumen kepahlawanan, museum peninggalan zaman penjajahan, makam para syuhada sejarah negara tersebar di hampir sekeliling kota. Setiap sudut bersejarah, setiap tempat mengingatkan setiap tetesan darah.

Di kota ini pula tinta para ulama terukir. Barisan nisan para penyebar Islam di Indonesia didirikan di tanahnya. Diziarahi tak henti setiap hari. Telusuri peta sebelah utara, makam Sunan Ampel dan mesjidnya tak henti diziarahi para pendoa. Dari sinilah, cerita perjalanan Surabaya saya berawal mula. Kerinduan akan berziarah kepada ulama penyebar Islam di Indonesia. Setidaknya, seperti itulah saya mendengar tentangnya.

Sebenarnya saya bisa saja pergi sendiri ke kota itu. Namun, kali ini saya ingin berbagi perjalanan saya dengan kakak saya. Seminggu sebelum membeli tiket, saya menawarkan apakah dia mungkin ikut bersama saya. Dia sudah pernah melakukan perjalanan ke Surabayanya sendirian tiga tahun lalu, dan menjelajahi kota sekelilingnya. Saya fikir tidak ada salahnya mengajak dia lagi, apalagi dia sudah lama ingin menziarahi Alm. Gusdur di Tebu Ireng, hanya sekitar 2 jam melalui kereta dari Surabaya. Ternyata dia setuju, dengan syarat; dia tidak akan selamanya menemani saya di sana. Dia memiliki acara sendiri dengan beberapa temannya. Saya fikir itu tidak masalah, dan kami sepakat pergi.

Dan lihatlah disana, seorang perempuan muda sedang berlari menuju Stasiun Kereta yang akan membawanya pada perjalanan kota Soera dan Baja..

bersambung..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s