Surabaya Trip. Day 1 : Wisata Ziarah Sunan Ampel, Surabaya

Tujuan pertama  kami diajak menuju Komplek Mesjid Ampel. Mesjid Ampel adalah tujuan utama saya pergi ke kota ini. Kami melewati kawasan kota tua dan pecinan sebelum memasuki komplek Mesjid Ampel. Hujan gerimis mengawali awal perjalanan kami. Semakin lama hujan semakin membesar. Dilihat dari peta, sepertinya kami juga melewati daerah tempat hotel saya berada. Namun saya belum menemukan dimana persisnya hotel kami berada. Pemandu terus menceritakan tentang tempat-tempat wisata di Surabaya berikut beberapa sejarah dan kebiasaan warga sekitarnya. Sekilas saya memperhatikan, Surabaya sedang giat membangun taman, sama seperti Bandung. Kami melewati taman buah dan taman ekspresi. Salut juga dengan kota ini. Mereka berusaha membangunnya lebih hijau dan segar, karena udara Surabaya terkenal cukup gersang dan panas. Pemandu menceritakan begitu tertariknya warga Surabaya akan pembangunan taman-taman itu.

Kami sampai di komplek Mesjid Ampel. Hujan deras mengiringi kedatangan kami. Ternyata bis menyediakan payung untuk para penumpangnya. Hari itu tanggal 25 Januari 2014. Itu berarti tepat 1 tahun lalu saya juga berada di Mesjid Ampel. Tahun lalu di tanggal yang sama, saya berziarah ke Sunan Ampel bersama rekan-rekan di tempat saya bekerja dalam rangkaian ziarah Wali Sembilan. Terharu juga, hari itu, di tanggal yang sama, saya datang kembali menziarahi orang-orang shalih di sana.

Meskipun hujan deras, ternyata pengunjung tetap ramai. Kami melalui sepetak jalan menuju komplek Masjid Ampel yang penuh sesak oleh para pengunjung dan pedagang. Pedagang di sisi kiri dan kanan jalan kebanyakan keturunan Timur Tengah. Barang yang umum dijual oleh pedagang di kedua sisi antara lain baju muslim, tasbih, minyak wangi, kitab suci, dan buku-buku cerita riwayat tentang Wali Sembilan dan murid-muridnya. Penduduk di sekitar Komplek Mesjid ini pun kabarnya banyak warga keturunan Timur Tengah.

Kita akan berjalan sekitar 75 meter sebelum akhirnya sampai di depan Mesjid Ampel. Makam Sunan Ampel sendiri terletak di belakang mesjid tersebut. Kami hanya memiliki waktu 30 menit disini. Kami mulai memasuki komplek makam. Terlihat banyak peziarah sedang melakukan shalat di mesjid dan berzikir. Yang paling khas dari para peziarah Sunan Ampel adalah rombongan peziarah dari berbagai perkumpulan pengajian dan pesantren terdekat. Sepertinya berziarah sudah menjadi kebiasaan bagi para siswa pesantren itu. Selain rombongan pesantren itu, kita juga akan temui rombongan ibu-ibu dan bapak-bapak dari berbagai daerah mengadakan ziarah bersama. Saya senang bergabung bersama rombongan peziarah ibu-ibu itu. Mereka, ibu-ibu itu, seketika akan tersenyum jika kita menghampiri mereka untuk ikut bergabung dalam doa ziarah mereka.

Di depan mesjid Ampel terdapat persimpangan. Ke kiri adalah akses menuju Pasar Ampel dan Makam Sunan Ampel, di kanan adalah akses menuju Makam Mbah Soleh. Kami memutuskan berziarah dulu ke makam Mbah Soleh. Kami membaca doa ziarah beberapa menit disana. Menurut cerita, Mbah Soleh adalah penjaga mesjid Ampel semasa Sunan Ampel menyebarkan Islam di Jawa Timur. Mbah Soleh karena keshalihannya, dikisahkan meninggal sebanyak 9 kali. Boleh percaya atau tidak dengan kisahnya, tapi begitulah cerita yang dipercayai turun temurun oleh warga sekitar. 9 makamnya terletak di sebelah timur Mesjid Ampel, walaupun hanya satu makam yang ditandai dengan tulisan Makam Mbah Soleh, ditutupi kain putih dan dipagari. Saya juga tidak sempat nanya, apakah yang ditandai dan dipagari itu makamnya yang terakhir ataukah yang pertama.Selesai berziarah dari Mbah Soleh, kami berbalik arah hendak menuju komplek makam Sunan Ampel.

This slideshow requires JavaScript.

Sebelum memasuki komplek makam Sunan Ampel, saya sempatkan berwudhu. Saya percaya, orang-orang shalih itu tetap “hidup” dan mendapatkan rizki dari Tuhannya setelah meninggalkan dunia ini. Bukankah memang kehidupan dunia itu fana, kehidupan akhirat itu yang sesungguhnya? Menurut cerita Ust. Miftah, orang suci yang sudah mendahului kita itu penglihatannya menjadi tajam. Saya memahaminya begini; mungkin para almarhum orang shalih itu jadi bisa melihat gambaran asli jiwa kita seperti apa. Saya pernah mendengar cerita dari seorang teman (meskipun ini mesti ditelusuri kebenarannya) tentang Imam Khumayni yang tertunduk dan ketakutan karena melihat orang-orang yang menyalaminya itu dengan berbagai rupa aslinya. Mesti ditelusuri, karena sekiranya memang benar Imam Khumayni melihatnya seperti itu, saya masih menyangsikan Imam akan mengatakan hal itu kepada orang lain. Bukankah itu akan membuat orang lain tersinggung? Menurut Ust. Miftah juga, berwudu menjadikan hijab bagi penampakan wajah asli kita itu. Toh selain itu juga, tata kramanya memang berwudhu sebelum memulai hal-hal yang baik. Berwudhu menjadikan kita lebih tenang dan khidmat.

Setelah berwudhu, kami mulai memasuki komplek makam Sunan Ampel. Tata krama lainnya di setiap tempat ziarah Wali Sembilan adalah melepaskan alas kaki. Dari gapura tampak terlihat makam Sunan Ampel ditutupi kain putih, dipasang pagar besi di sekelilingnya. Kita tidak akan dapat menyentuh makamnya, karena jarak antara pagar ke makam sepertinya hampir 1 meter. Hujan masih deras, dan saya mendekat ke tempat sebuah rombongan Ibu-Ibu berpakaian dengan warna yang sama sedang membaca rangkaian bacaan tahlil bersama di padepokan dekat makam. Area itu terlindung dari air hujan, hanya saja semakin menjauh dari makam Sunan. Di depan kami beberapa rombongan ibu-ibu dan bapak-bapak berpayung membaca doa sambil berdiri di antara hujan, lebih mendekat ke makam Sunan.

Saya mengambil sebuah buku Yasin dari tumpukan buku Yasin dan Al Qur’an di sebuah rak di dekat saya. Saya fikir, saya tidak memiliki waktu lama. Jadi saya sempatkan membaca surat Yasin, dan beberapa bacaan ziarah. Tidak lama saya selesai membaca surat Yasin dan bacaan ziarah, Ibu-ibu di dekat saya pun sudah selesai membaca doa-doa ziarahnya. Saya menghampiri beberapa dari mereka dan mencium tangannya. Mengambil keberkahan ziarah dari mereka. Saya pun beranjak dari tempat duduk saya, dan menyimpan kembali Buku Yasin itu.

Ketika saya menyimpan buku Yasin itu, saya melihat sampulnya. Bergambar seorang anak perempuan kecil memakai seragam sekolahnya. Saya buka lagi buku Yasin itu. Ternyata buku Yasin itu adalah hadiah Tahlil untuk seorang anak yang meninggal belum genap 3 bulan lalu. Saya melihat wajahnya, terharu. Saya mengambil lagi buku Yasin itu, mencium fotonya dengan haru. Kiranya apa yang membuat anak itu meninggal? Sakitkah? Atau kecelakaankah? Beautiful soul will return to it’s Lord..

Dengan penuh haru, saya keluar dari area pemakaman. Pemandu sudah menunggu kami di depan pintu gapura keluar makam. Di balik tembok sebelah kanan galura keluar makam terdapat kendi-kendi berisi air. Air berkah. Peziarah biasanya berwudhu dengan air itu sebelum memasuki makam, dan pulangnya kembali ke kendi-kendi itu untuk meminum beberapa teguk air. Alhamdulillah atas nikmat setiap tetes air penuh berkah..

Jika di balik tembok sebelah kanan gapura keluar makam adalah kendi air berkah, di balik tembok sebelah kiri ada sebuah pintu yang menghubungkan ke arah makam Mbah Sonhaji (Mbah Bolong) dan beberapa makam para syuhada kecelakaan calon jemaah haji di Colombo tahun 1974. Ada sebuah pintu kecil menuju ke komplek makam Mbah Sonhaji dan syuhada para haji. Kisahnya pernah dibuat di berbagai harian di Surabaya dan Nasional. Bahkan pernah disusun buku khusus mengenai tragedi ini. Dituliskan 182 jemaah haji yang diberangkatkan dari Surabaya dan 9 awak pesawat meninggal karena kecelakaan itu. Sebagian jenazah dipulangkan kembali ke negeri, sebagian lainnya dikubur secara masal di sebuah jalan di Srilanka. Tahun lalu saya sempat membaca doa ziarah untuk mereka, tapi kali ini sepertinya saya lewatkan. Tidak nyaman membiarkan orang lain menunggu saya berdoa. Saya sempatkan mengucapkan salam dalam hati, dari saya untuk kedamaian mereka di alam sana.

Sebetulnya kalau kita perhatikan di sekeliling komplek makam Sunan Ampel itu banyak terdapat makam-makam tak dikenal, nisan tak bernama. Saya tidak pernah menanyakan kepada para penjaga, makam-makam siapakah itu semua. Tapi saya fikir mungkin makam para leluhur, makam para murid Sunan Ampel, dan makam warga sekitar. Kami menuju pintu keluar, tidak akan sempat melaksanakan shalat lagi sepertinya. Saya mungkin akan mengunjunginya lagi nanti sore, atau besok pagi. Jadi sementara dengan rela saya meninggalkan tempat ziarah itu dan kembali menuju bis kami.

Bersambung..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s