Kado Milad Sayyidah Fathimah (as)

Fun! Jadi begini, hari Minggu kemarin, dalam rangka berbagi kebahagiaan atas kelahiran putri Nabi tercinta Sayyidah Fathimah (as) yang jatuh setiap tanggal 20 Jumadil Tsani, saya membuat acara sendiri bersama seorang teman saya, Mba Ina. Melihat saudara kita yang lain berbagi ratusan bunga di Bundaran Hotel Indonesia, kami pun berdua berkeliling sekitar Gedung Sate sampai ke Jl. Supratman. Senang! Berikut foto-fotonya!

???????????????????????????????

This slideshow requires JavaScript.

page

Oh ya, saya juga ingin berbagi kutipan surat seorang ayah untuk anaknya yang saya baca dari salah satu grup di whats app. Ditulis oleh Ust. Miftah F. Rakhmat. Berikut puisi indahnya:

Seorang anak membuka surat dari ayahnya,

“Salamku untukmu anakku sayang, juga rindu untuk ibumu. Aku mulai denganmu dan ibumu karena kali ini akan aku kisahkan teladan Guru Agung dalam keluarga. Tentang seorang ayah dan ibu. Tentang sepasang mentari dan rembulan. Tentang  tempat terbitnya dan terbenam. Ibarat dua lautan yang dipertemukan, tak satu pun mampu melampaui batas yang lainnya. Yang satu pangeran gagah perkasa. Yang lainnya putri teramat jelita.

Merekalah sumber mutiara dan batu merah delima. Yang satu putih bersih, yang lainnya membersit memerah darah. Dan dari keduanya teruntai permata nan tak terpecahkan. 

Sepasang Guru Agung ini mengajarkan rahasia semesta. Yaitu gigih memperjuangkan hak walau tubuh hancur berderai, walau buaian gugur terjuntai, walau rumah berlempung pasir itu terbakar. Ia ajarkan teguh sampaikan kebenaran. 

Atau bersabar demi kebaikan yang lebih besar. Menunggu untuk tujuan yang lebih luhur. Menanti untuk cita mulia, hingga satu saat tertumpah itu rindu.

Sebagai keluarga, mereka dahulukan sesama. Mereka rela lapar asalkan anak yatim, miskin dan tawanan tertidur dengan kenyangnya. Dalam doa yang dipanjatkan, terdapat semua handai taulan, tapi tak satu pun untuk diri sendiri.

Bila sang pangeran berangkat perang, sang putri menunggu sepenuh tenang. Nampan di depan dan kain di tangan menyambut sang ksatria pulang. “Duhai,” ujarnya, “belum lagi lukamu yang lama sembuh, luka baru sudah datang.”

Bila sang putri berdoa, semesta memuja bersamanya. Bila ia berduka, gemintang menangis karenanya.

Kenali mereka, anakku sayang. Karena mereka sumber bahagiamu. Seberat apa pun deritamu, mereka telah memikulnya, bahkan jauh dari itu. Kapan saja ada beban, lihat sinar mereka. Kapan saja ada kesulitan, baca kisah mereka.

Akhirnya.. Let me humbly send congratulation not only to Muslim women but also to all women in the world on the birth anniversary of Sayyidatina Fathimah Zahra (sa), may we blessed enough to follow her step and crossed path with her in heaven. Alhamdulillah for her wiladah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s