Bagian Favorit Cerita Mahabharata

Sudah lebih dari 10x tamat komik serial Mahabharata, saya masih seringkali membaca kembali beberapa episode favorit. Saya ingin menceritakannya disini.

1. Episode Supata Dewi Amba.
Pada episode inilah dijelaskan mengapa Bisma tidak menikah, kemudian menolak menikah dengan putri yang mencintainya, Dewi Amba. Dewi Amba tanpa sengaja terkena oleh panah Bisma, meninggal, sehingga sang putri bersupata untuk membalas sakit hatinya. Supata sang putri dikabulkan oleh Dewata, dan sukma sang Putri menitis kepada Srikandi, hingga pada perang Bharatayudha, Srikandilah yang senjatanya mampu melukai Bisma. Sudah takdir Dewata bahwa Bharatayudha akan dimenangkan oleh Pandawa. Sedangkan Bisma berada di pihak Hastina sebagai pembela negara yang harus berperang dengan Pandawa. Terkalahkannya Bisma oleh Srikandi, dapat dikatakan sebagai awal mula kekalahan Hastina.

2. Lahirnya  Para Kurawa
Ini menarik dicermati filosofinya. Diceritakan bahwa mereka awalnya hanyalah segumpal daging besar yang keluar dari rahim, yang kemudian dalam kemarahan Sang Bunda, daging tersebut ditendang menjadi berkeping-keping. Saya memikirkan, betapa kita itu hanya daging saja, sukma itu bukan milik kita, kemudian kita menjadi sombong seperti para Kurawa itu? Padahal yang kita miliki hanyalah kedagingan..

3. Konflik Ekalaya, Harjuna, Resi Dorna dan Sri Kresna.
Ekalaya adalah putra prabu Magada dari suku pemburu, yaitu Nisada. Kala itu, kekuasaan dinasti Kuru begitu kuatnya dalam kerajaan Hastina. Sehingga, yang boleh menjadi ksatriya hanyalah para putra dari keturunan Kuru di Hastina. Hastina menjadi salah satu kerajaan (jika bukan satu-satunya) yang ditakuti oleh kerajaan-kerajaan sekitar.  Alkisah, kabar tentang kemahsyuran ilmu memanah Resi Dorna tersebar ke seluruh negeri. Masalahnya, Resi Dorna telah diminta (dan telah berjanji) untuk hanya mengajarkan ilmu memanah kepada Kurawa dan Pandawa.
Ekalaya, yang terlanjur berniat berguru kepada Resi Dorna, dengan keras hati membuat patung sang Resi untuk menemaninya berlatih memanah. Berharap mendapat berkah dari patung sang Resi pujaan. Dan ternyata berhasil. Keahlian memanah Ekalaya berada di atas seluruh murid Resi Dorna, termasuk Harjuna.

Dan pada suatu kisah, Harjuna merasa terganggu oleh keahlian memanah Ekalaya. Diteliti, dan diketahuilah bahwa Ekalaya telah menganggap Resi Dorna sebagai gurunya. Menyangka dikhianati, Harjuna dan seluruh Pandawa beserta Kurawa meminta pertanggungjawaban janji Resi Dorna. Resi Dorna terheran dengan keahlian ilmu memanah Ekalaya yang menguasai hampir seluruh ilmu memanah yang dimilikinya. Bagaimanapun,Resi Dorna telah berjanji tak bermurid lagi. Mengamankan posisi sebagai Guru terhormat, akhirnya Dorna meminta bhakti dari Ekalaya. Dimintanya ibu jari tangan kanan Ekalaya untuk diserahkan kepadanya, sebagai syarat bhakti murid kepada guru. Dengan patuh Ekalaya memotong ibu jari tangannya dengan belati, diserahkan kepada Resi Dorna, membuat seluruh Pandawa dan Kurawa takjub atas bhaktinya. Sepersekian detik kemudian, Ekalaya menyadari tipuan Resi Dorna.  Bagaimana mungkin ia dapat memanah tanpa ibu jari di tangannya? Ekalaya kembali pulang dengan luka hati, membawa patung sang Guru.

Waktu berjalan, Ekalaya telah menjadi raja Nisada. Raja Ekalaya demi cintanya pada Sang Guru tak pernah lupa memuja patung sang Guru. Demi cinta guru pula, Ekalaya meminta istrinya Dewi Anggraini untuk mengirimkan bingkisan kepada Sang Guru, Resi Dorna.

Di tengah perjalanan menuju Resi Dorna, rombongan Dewi Anggraini diserang puluhan raksasa. Punggawa pontang-panting dibuatnya. Berlarilah sang dewi melarikan diri ke tengah rimba.

Dikisahkan Harjuna dewasa tengah bertapa di tengah rimba. Dewi Anggraini tanpa sengaja melihatnya. Menujunya, meminta pertolongan kepada ksatriya pertapa. Harjuna bersedia menolong dengan syarat; kehormatan sang dewi harus diserahkan kepadanya. Anggraini berlari dari kejaran Harjuna,dan menerjunkan dirinya ke jurang.

Sampailah kabar perbuatan tak pantas Harjuna kepada Ekalaya. Ekalaya menuntut balas secara ksatriya, turun ke laga melawan Harjuna. Ilmu memanah boleh saja telah ditinggalkan Ekalaya, bahkan itupun tak serta merta hilang dari dirinya. Tapi ia memiliki cincin Ampal di jari tangan kanannya, yang tak satu kesaktian pun dapat menandingi kekuatannya. Harjuna terkena pukulan itu, dan meninggal seketika.

Jasad Harjuna dibawa Sri Kresna menuju sebuah tenda rahasia. Sri Kresna termenung membayangkan kekalahan Pandawa di Bharatayudha tanpa Harjuna. Harjuna adalah kunci dari kemenangan Pandawa. Dan terbayanglah kekuasaan dunia akan jatuh ke tangan durjana.Tak ada selain satu cara, Harjuna harus kembali bernyawa.

Dihidupkanlah Harjuna dengan usapan bunga wijaya kusuma oleh Sri Kresna. Harjuna tak boleh tiada pikirnya, bagaimana nasib keempat Pandawa selain Harjuna? Di lain pihak, Harjuna merasa menanggung malu jika harus tetap hidup, karna Ekalaya tahu ia telah tiada.

Sebuah rencana kembali terancang. Sri Kresna dan Harjuna dalam ilmu bayangan mendatangi kemah Ekalaya. Ekalaya tengah bertapa, memuja sang patung Guru tercinta. Krisna dalam balutan suara Dorna meminta Ekalaya melepas cincil Ampalnya. Ekalaya patuh, tanpa curiga. Seketika, hilanglah kekebalan dirinya. Tiba-tiba, dari balik patung sebilah belati menembus perut Ekalaya. Belati dari tangan Harjuna dalam bayangan. Sri Kresna dan Harjuna membunuh Ekalaya secara tak ksatriya. Dalam sekaratnya, Ekalaya mengira patung Resi Dorna lah yang telah menusuknya. Inilah kali pertama kiranya sang dewa membuat noda.

Jasad Ekalaya melayang, menitis kepada putra dari Pancala, Drestajumena. Tujuannya pasti, menuntut balas kepada Resi Dorna di Bharatayuda. Adalah takdir dewata, Resi Dorna meninggal di tangan Drestajumena.

Ekalaya adalah salah satu tokoh favorit para penggemar Mahabharata, meskipun bukan tokoh populer.

4. Karna Tandingan
Ini juga bagian yang akan selalu diingat,karena menguras air mata.
Alkisah Dewi Kunti dalam masa remajanya sedang menghafal ilmu pengasihan. Tanpa diduga, Betara Surya dari angkasa terpesona dengan kecantikan Dewi Kunti, oleh sebab mantra ilmunya. Betara Surya mengirim rasa berkasih mesra, seraya menanamkan benih di rahim Kunti perawan. Kunti kaget, dalam rahimnya terdapat jabang bayi. Betara Surya menerangkan, dan menganugerahi persalinan Kunti melalui telinga (Karna). Demi harga diri, bayi Karna dihanyutkan dan diketemukan oleh kusir Hastina.

Karna tumbuh mendombrak batas kasta-kasta. Beliau belajar memanah ke berbagai Brahmana, ditolak Resi Dorna, namun mendapat guru yang sepadan. Tubuhnya dilindungi tamsir dan anting anting anugerah dari Betara Surya. Tak ada satu senjata pun melukai tubuhnya,karena tamsir dan anting itu melekat di tubuhnya.

Karna dewasa, dengan modus untuk melawan Pandawa, diangkat menjadi Adipati Awangga oleh Duryudhana. Karna adalah satu-satunya yang mampu menandingi Arjuna. Karna,sudra menjadi raja dari negara petalukan Hastina. Karna berjanji akan membela Hastina, tanah tempat ia dibesarkan.

Betara Indra, ayahanda virtual Arjuna merasa tak aman. Bagaimana mungkin Pandawa meraih kemenangan jika tak ada satu senjata pun yang mampu menembus kulit Karna di Bharatayuda kelak. Seluruh dewata pun sudah mafhum, Karna akan berada di pihak Hastina di masa depan.

Karna yang pemurah diperdaya. Baju tamsir dan anting diserahkannya kepada Betara Indra yang merupa seorang Brahmana. Di saat yang sama, Betara Surya membisikkan Karna untuk menukar tamsir dan anting dengan Konta, tombak yang tak satu musuh pun mampu menghindarinya.

Bharatayuda tinggal menunggu hitungan hari. Sri Kresna, demi kemenangan Pandawa mendatangi Karna, memberitahukan status Karna sebenarnya. Ksatriya putra Kunti,putra Betara Surya. Pandawa yang tiga (Yudistira,Bima, Arjuna) adalah adik kandungnya, yang dua (Nakula dan Sadewa) adalah adik tirinya. Hatinya hancur redam. Teringat persaingan dan penghinaan satu sama lain dengan saudaranya.

Sri Kresna memintanya berada di pihak Pandawa. Namun, sekali lagi Karna adalah ksatriya. Pantang bagi ksatriya menyalahi sumpahnya. Dharmanya telah diserahkan untuk membela negaranya. Jauh dalam hatinya, Karna menyadari, yang dibelanya bukanlah Kurawa, tapi negara tempat tumpah darahnya.

Dalam semedi menenangkan hatinya yang dipenuhi kekalutan, Karna didatangi Ibu Kunti. Inilah saatnya, pikir Kunti. Karna harus mendengar sendiri darinya. Kunti mencintai seluruh keenam putranya. Mereka tak boleh saling melawan fikirnya.

Terjadilah percakapan paling mengharukan antara seorang Ibu dengan putra pertamanya. Demi cintanya kepada Bunda, Karna berjanji tak ada siapapun yang akan dilawannya di antara Pandawa yang lima, kecuali Arjuna. Ilmu kedua putra betara itu setara. Bunda dan ananda itu berjanji tak akan memberitahukan kepada Pandawa tentang persaudaraannya dengan Karna. Di saat itulah, semua rasa sakit hati Karna atas penghinaan dari Pandawa, dibebaskan dari hatinya. Dialah sebaik-baik kakanda, sebaik-baik ksatriya yang menjaga sumpahnya. Begitu besarnya kecintaannya pada Pandawa, Pandawa tak boleh tahu bahwa dia adalah sang kakanda. Pandawa yang berbudi tak mungkin akan berani melawannya jika mereka mengetahuinya.

Pada Bharatayudha, Karna dikalahkan oleh Arjuna di senja hari. Matahari tak bersinar, sebagai tanda putra Betara Surya telah dikalahkan oleh Betara Indra. Di akhir cerita, Ibu Kunti yang memberi tahukan bahwa Karna adalah kakanda bagi para Pandawa. Pandawa, dalam kehancuran hatinya, menaburkan abu kakanda tercinta di tepi Yamuna.

Karna adalah tokoh favorit saya sepanjang masa dalam serial Mahabharata.

5. Wejangan Sri Kresna kepada Harjuna (Bhagawatgita)

Dapat dikatakan di episode ini adalah titik balik Arjuna menuju kebijaksanaan sesungguhnya. Arjuna, tidak pernah menarik hati saya sebelum bagian ini.

Diceritakan di atas bukit,sehari sebelum Bharatayuda dimulai, Arjuna lunglai menceritakan kegundahannya kepada Sri Kresna. Busur dan panahnya dibiarkan tergeletak di atas tanah. Bagaimapun tak dapat dimengerti bagi Arjuna, bagaimana ia harus melawan orang-orang yang dihormatinya, 100 saudara sepupunya, dan mengorbankan rakyat demi sebidang tanah.

Di suatu hening angin senja, berdiri memandang dalam pada padang Kurusetra dari kejauhan dan ketinggian dataran. Kemudian menyapa dan menjawab Arjuna yang sedang berkabung dalam keluh kesah dan bimbang, dengan penuh lemah lembut. Maka Sri Kresna memulai elaborasi nilai perlawanan dalam peperangan:

“Engkau telah berduka cita kepada mereka yang tak patut disedihkan, akan tetapi engkau berbicara dengan kata-kata yang penuh mengandung pengetahuan. Orang yang bijaksana tak sedih pada yang mati pada yang hidup. Tak pernah ada suatu waktu dimana aku tidak ada, tidak juga kau, pun juga tidak raja-raja ini. Tidak juga di sana akan ada sesuatu waktu sesudah ini bahwa kita akan musnah dari hidup ini.”

“Sebagai jiwa yang melalui badan ini pada waktu kecil, muda, dan tua. Begitu juga di dalam masuknya ke badan yang lain, jiwa yang tenang itu tidak dipengaruhi oleh keadaan proses ini. Penghuni di dalam badan dari tiap-tiap orang, oh Arjuna (!) adalah kekal dan tidak dapat dimusnahkan. Oleh karena itu engkau seharusnya tidak bersedih hati pada makhluk apapun.”

“Selanjutnya setialah pada kewajibanmu, engkau tidak boleh ragu-ragu, karena tidak ada kebaikan yang lebih besar dari seorang ksatria daripada peperangan yang dilakukan demi karena kewajiban. Camkanlah hal ini, oh Arjuna!”

“Berbahagialah para ksatria, oh Arjuna, yang mendapat kesempatan untuk berperang, yang muncul tanpa dicari, karena hal itu tidak ada bedanya dengan pintu terbuka ke sorga baginya. Bila engkau tidak melaksanakan perang kebenaran ini, maka engkau akan ingkar pada kewajiban dan kehormatanmu akan cemar, serta engkau akan berdosa. Disamping itu, orang akan selalu membicarakan keburukanmu, dan bagi ia yang telah mendapatkan kehormatan, keburukan adalah lebih hina dari kematian.”

“Para pahlawan besar akan berpikir bahwa engkau telah lari dari peperangan disebabkan karena ketakutan dan mereka yang dahulu menyanjungmu tidak akan berbuat demikian lagi. Juga musuhmu mengecam akan keberanianmu dan akan mengatakan mengenai dirimu sesuatu yang tak pantas diucapkan. Hal apa yang lebih menyedihkan daripada ini?”

“Jika terbunuh di medan perang, engkau akan ke Sorga. Oleh karena itu, bangkitlah hai putra Pandu, putuskanlah untuk berperang.”

“Dengan memandang sama kedukaan dan kebahagiaan, keuntungan dan kerugian, kemenangan dan kekalahan, berperanglah! Dengan demikian engkau tidak akan berdosa. Inilah ajaran Samkhya Yoga yang telah diberikan kepadamu. Sekarang dengarkanlah tentang Yoga, jika engkau dapat mengertikannya engkau akan dibebaskan dari ikatan pekerjaan.”

Kemudian Sri Kresna mengajarkan semua ajaran yoga kepada Arjuna sampai selesai. Guna memperkuat keyakinan Arjuna, maka Sri Kresna menjelmakan dirinya menjadi Batara Wisnu dengan ukuran tubuh yang sangat besar, seraya berkata:

“Lihatlah bentuk-Ku, beratus kali lipat, beribu kali lipat, bermacam corak suci, bermacam warna dan bentuk. Akan tetapi engkau tidak dapat melihat Aku dengan mata manusiamu. Aku akan memberikan padamu mata yang berkekuatan luar biasa. Kemudian lihatlah kekuatan suci-Ku.”

Maka Arjuna merasa kagum, takut, dan bulu kuduknya berdiri, menundukkan kepala pada Tuhan, dengan tangan tercakup menyembah dan berkata:

“Aku melihat-Mu dengan bentuk tanpa batas pada semua sisi, dengan tangan, muka dan mata yang tak terbatas jumlahnya. Akan tetapi aku tidak dapat melihat batas akhir, pertengahan dan permulaan, oh Wisma Rupa, Tuhan dari alam semesta ini…” Kata Arjuna seraya menyembah.

Nah, sejak Bhagawatgita itulah, Arjuna berubah menjadi sosok yang penuh kebijaksanaan. Arjuna memang sejak awal telah ditetapkan sebagai tokoh sentral. Sebagian besar cerita kehidupannya yang paling dibahas dalam epik Mahabharata.

Bagaimanapun, saya terlanjur jatuh cinta dengan Karna..hehe

(note : Bhagawatgita meruapakan bagian tersendiri dalam kitab Hindu, pastinya lebih banyak lagi mengajarkan tentang kehidupan. Di atas, dibuat hanya ringkasan dan pengembangan bahasa dari Mahabharata versi R.A Kosasih.)

6. Tugas Perlaya/Gatotkaca
Satu lagi tokoh yang banyak difavoritkan. Adalah Gatotkaca putra Bima. Kesaktiannya tak ada yang mampu mengalahkan. Tubuhnya, selayaknya Bhisma, tak ada senjata yang mampu melukainya.

Alkisah, Sri Kresna telah melihat kekuatan Hastina dalam Bharatayuda yang tak dapat dianggap enteng. Disana ada tokoh yang sulit dikalahkan; Bhisma, Dorna, Karna, dan Salya. Pandawa tak mungkin meraih kemenangan jika keempat tokoh itu tK ditaklukan.

Karna, memiliki Konta yang sudah ia tekadkan hanya akan digunakan untuk melawan Arjuna. Konta, senjata tumbak yang hanya dapat digunakan satu kali, namun ketika dikeluarkan tak akan kembali ke pemiliknya. Konta harus meminta korban, dan Karna fikir hanya akan diarahkan untuk Arjuna. Dan Arjuna tak akan mampu menghindar dari Konta.

Terbayanglah oleh Sri Kresna bagaimana kekalahan Pandawa tanpa Arjuna. Tak ada cara lain, Konta harus dipancing untuk dikeluarkan oleh Karna sebelum Karna berhadapan dengan Arjuna. Terbayanglah oleh Sri Kresna wajah Gatotkaca, ksatriya tanpa pamrih untuk memancing agar Konta diarahkan kepada dirinya.

Gatotkaca menunaikan tugas perlaya itu dengan sempurna. Ia meninggal di udara, tubuh kebalnya ditembus oleh senjata Konta yang dikeluarkan Karna dan diarahkan kepadanya. Karna tak punya pilihan kala itu, Gatotkaca begitu sulit ditaklukkan.

Bagi saya, ini merupakan salah satu pengorbanan terbesar dalam Bharatayuda. Bagaimana tidak, Gatotkaca dengan rela menyerahkan dirinya asalkan Pandawa tetap lima dan beroleh kemenangan.

7. Debu Suci untuk Jasad Kakanda Karna

Air mata!

Pada bagian inilah diceritakan bahwa Kunti meminta Yudistira dan seluruh Pandawa memperabukan jenazah Karna. Seluruh pahlawan sudah diperabukan oleh para Pandawa, satu yang tersisa kata Bunda Kunti. Satu jasad belum diperabukan. Pandawa bingung. Lalu diceritakanlah oleh Dewi Kunti tentang persaudaraan 6 putra tersebut. Hati Pandawa hancur luluh, terlebih Arjuna yang merasa telah membunuh Karna.

Nah, itulah bagian-bagian favorit saya dalam epik Mahabharata. Ada yang ingin berbagi juga bagian favoritnya? Silahkan..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s