Sanctuary

Seorang bapak tertatih dengan sebelah kakinya; kesulitan berdiri sempurna menuju pintu sebuah rumah. Tidak ada suara ketukan, yang diketuknya adalah pintu dari anyaman bambu. Pintu terbuka, seraut wajah tersenyum dalam balutan kain menutupi kepalanya. Mari sini sayangku, izinkan aku usap peluh penuh debumu..

Kita begitu sering mendengar ketukan di pintu dari anggota keluarga kita, namun seringkali kita tak segera menyambut mereka, kita tidak sehangat itu menyambut kembalinya mereka ke rumah. kita jarang sekali menyadari betapa pentingnya mengucapkan selamat datang dan menyambut dengan tangan terbuka anggota keluarga kita di depan pintu. Padahal sambutan kita itu akan membayar semua peluh dan keluh yang dibawa dari luar sana. Apapun yang sedang kita lakukan, ketika mereka mengetuk pintu selayaknya kita menghentikan pekerjaan kita. Berikan salam terlebih dahulu sebelum mereka melakukannya, biarkan mereka merasa dihargai, dirindukan, dan biarkan mereka mulai merasakan bahwa mereka telah kembali ke rumahnya.

Anggota keluarga selayaknya saling menyambut satu sama lain. Dunia luar sudah cukup keras dan rumit; ketika kita memasuki rumah, kita sedang menuju jalan keluar dari kerumitan itu. Escaping from the cruel world, to enter sanctuary. Menuju rumah, dimana segala rahasia terjaga, segala kerja keras di luar sana terasa menjadi layak diperjuangkan.

p.s : note to self first and furemost, if this means to any of you..all praises belong to Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s