Ke Samsat.

Tadi pagi saya sudah bersemangat sekali untuk mengunjungi kantor Samsat guna melakukan pembayaran pajak kendaraan bermotor. Samsat beroperasi mulai pukul 8. Dan saya ingin sampai kesana sebelum pukul 8. Dan ternyata, Samsat cabang Bandung Trade Mall Cicadas ini baru buka mulai pukul 9. Alhasil, saya menunggu di luar mall (yang juga baru akan buka pukul 9). Saya mendengar beberapa dari pengunjung mengeluhkan jam kerja Samsat cabang ini. Ternyata ada jalur khusus pintu masuk menuju Samsat. Mengapa harus menunggu mall buka untuk mulai beroperasi? Bukankah layanan masyarakat itu harus mulai buka jam 8 pagi? Kementrian Bu Susi Pujiastuti bahkan mulai memberlakukan jam kerja jam 7 pagi.

Sulit rasanya berharap kemajuan untuk pelayanan masyarakat yang demikian. Yang lebih menjengkelkan, para penjaga mall itu tidak bisa ramah sedikit saja kepada pengunjung Samsat. Memperlakukan pengunjung seperti para peminta, padahal pengunjung datang ke Samsat untuk berkontribusi bagi negara ini. Beberapa dari mereka berbicara seenaknya dan tidak sopan, bahkan kepada orang tua. Menyesali, sedari pagi harus melihat yang demikian. Lack of humanity. Perlu banyak revolusi.

Ketika mall mulai dibuka, para pengunjung berlarian menuju Samsat. Ternyata berebut mengantri untuk mengambil nomor antrian. Orang tua yang sedari pagi menunggu itu, terdahului oleh yang lain, yang larinya lebih cepat menuju petugas pemberi antrian. Setelah antrian dibagikan, kantor Samsat belum juga mulai dibuka. Kami harus menunggu lagi sekitar 20 menit, baru pintu kantor mereka dibuka. Saya dapat antrian nomor 20, padahal saya bisa yakinkan, jika kantor itu buka jam 8 tepat, saya bisa dapat antrian paing tidak nomor 4.

Sembari menunggu, sejak tiba saya sudah menghabiskan lebih dari 80 halaman dari buku saya. Tiba-tiba ada seorang pengunjung mengajak saya berbincang, mengeluhkan lambatnya jam buka Samsat ini. Saya hanya mengiyakan. Tak disangka, pengungjung itu memberikan nomor antriannya kepada saya. Katanya; dia sudah terlalu terlambat dan harus segera ke tempat kerjanya (karena keterlambatan jam buka Samsat ini) sehingga tidak berniat menunggu lebih lama, dan memutuskan untuk datang lagi besok. Dia memberikan nomor antriannya kepada saya, nomornya 10. Dia berpamit dan wishing me a good luck. Baik sekali, dan indah pula dalam dalam penampakan hehehe. Hal-hal seperti ini yang selalu membuat saya percaya lagi akan humanity. Saya pun memberikan nomor antrian saya kepada yang lain.

Setelah checkout dari transaksi bersama Samsat, saya klik “Tidak Puas” pada layar survey pelayanan mereka. Mari sama-sama berbenah untuk Indonesia lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s