Beranjak

Akhir-akhir ini banyak ngobrol tentang hijrah dengan salah seorang teman yang saya temui di perjalanan beberapa waktu lalu. Meski nampaknya hijrahnya berbeda dengan saya.

“Saya sedang merencanakan dan mengukur mental untuk sesuatu yang lebih besar dari ini mil.” Katanya.

Sebetulnya sejak 2 tahun terakhir, saya sangat memikirkan untuk beranjak dari Bandung, yang agak jauh.. entah itu Kalimantan atau Sulawesi, atau Nusa Tenggara. Tapi kala itu masih merasa ragu, belum punya bekal untuk memulai kehidupan baru disana (tempat shelter,biaya shelter), juga faktor paranoid sosial (keamanan, penerimaan). Oleh karena itu juga 2 tahun terakhir jadi suka traveling sendiri, sebetulnya mengukur mental dan posisi diri di tempat yang belum pernah saya datangi. Meski pada akhirnya, tak serta merta dapat memahami secara utuh. Memahami posisi diri kita pada sebuah tempat harus melihat secara langsung bagaimana cara masyarakatnya hidup, bagaimana cara mereka mati. (Ah, kangen solo traveling pertama; singapore!).

Sekarang setelah 2 tahun sejak itu, semakin kuat keinginan beranjak. Umur saya juga udah bergerak ke 27 bulan lalu, ingin sebuah perubahan yang besar. (Ah terdengar seklise para motivator!). Rasanya memang sudah terlalu lama di tempat yang sama.

Selain berbincang dengannya, juga membaca buku Perjalanan Pulang (tanpa) Pergi, karya Ust. Miftah. pada dua bulan terakhir. Memang susah lepas dari buku ini, meski telah membaca draftnya di whatsapp sejak setahun lalu. Buku ini terasa begitu personal dan sangat merubah cara pandang tentang sebuah tempat tinggal sementara kita ini.

Buku Perjalanan Pulang (tanpa) Kembali

Sedang memerlukan tempat dan orang-orang yang lebih tangguh dari ini. Alhamdulillah orang tua pun begitu terbuka mengizinkan, mereka faham; anaknya tak pernah terikat dan mengikat pada sebuah tempat pun.

Sudah membuat target untuk ini.. Jika tidak ada perubahan besar yang akan merubah tekad ini, harusnya semua bisa dimulai dengan segera.

***

Sementara itu.. sambil menunggu, mari nyalakan kembali dunia yang terlupa. Melakukan lagi aktivitas yang sejak 3 bulan terakhir ditinggalkan, mengaktifkan lapak jualan saya, hehe. Ini terasa seperti remedy. Apalagi 3 jam setelah diaktifkan, tiba-tiba muncul seorang pembeli. good sign?

Rasanya sudah lama sekali sejak merasakan bahwa saya sangat menginginkan sesuatu, dan terbuka kepada diri sendiri untuk segera menggapainya.

Heads up, life survivor!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s