A Beautiful Light of Imam Khomeini

Membaca postingan di salah satu grup di Bulan Februari ini..

Istri Imam pernah berkata;

”Aku tidak pernah terbangunkan oleh Imam saat ia melakukan Salatul Lail karena ia tidak pernah menyalakan lampu kamar, ketia Ia melakukan Wudhu, Ia akan menempatkan spons/busa di wastafel bawah keran sehingga suara air yang jatuh tidak akan membangunkan saya”

Agha (Panggilan Istri kepada Imam) selalu menawarkan tempat yang lebih baik di dalam ruangan. Dia tidak akan mulai makan sampai aku datang ke meja makan. Dia juga akan meberitahukan anak-anak “Tunggu sampai Ibu datang”, Ia bahkan tidak ingin saya bekerja di rumah, Dia akan selalu memberitahu saya: “Jangan menyapu”. Jika saya ingin mencuci pakaian anak-anak di kolam, dia akan datang dan berkata : ”Bangunlah, kau tidak harus mencuci”.

Secara keseluruhan, saya harus mengatakan, bahwa Imam tidak menganggap menyapu, mencuci piring bahkan mencuci pakaian anak-anak kami sebagai bagian dari tanggung jawab saya. Jika keadaan memaksa dan saya kadang-kadang melakukan juga, Ia merasa kesal karena menganggap hal itu adalah hal yang tidak adil bagi saya. Bahkan ketika saya memasuki ruangan, dia tidak pernah mengatakan “Tutup pintu di belakangmu” tapi menunggu sampai saya duduk dan kemudian Ia sendiri bangkit dan menutup pintu.

Putrinya, Siddika, mengatakan “Ayah saya memiliki rasa hormat yang luar biasa kepada Ibu saya. Dalam Kurun waktu 60 tahun hidup bersama ia bahkan tidak menghampiri atau menyentuh makanan (di meja makan) sebelum istrinya, Ia juga tidak banyak berharapdari (istri)nya. Aku bahkan dapat mengatakan bahwa dalam masa 60 tahun hidup bersama, tidak pernah ada waktu dimana Ia bahkan meminta segelas air, Ia selalu mendapatkan nya sendiri, tidak hanya kepada istrinya, namun juga perilaku tersebut kepada anak-anak putri nya . Jika Ia perlu air, kami semua antusias akan berlalri mendapatkan nya tapi tidak pernah Ia meminta kami mengambil dan memberi nya segelas air ke tangannya.

Selama hari-hari terakhir yang sulit pada sisa hidupnya, setiap kali membuka matanya dan jika Ia mampu bicara, Ia akan bertanya “Bagaimana Khonum (Panggilan Imam kepda Ibunda kami) Perlukah kami minta ia datang kepadamu ? Ia akan menjawab “Tidak, punggungnya sakit, biarkan Ibu mu beristirahat” Dalam sakitnya pun, Imam ga ingin merepotkan istrinya.

Ini salah satu isi Surat Cinta Imam untuk Istri tercinta :

Untuk Istriku Tercinta,

Oh sekiranya aku mati buatmu, aku selalu ingat kepadamu, ketika engkau – cahaya mataku, penopang Jiwaku, jauh dariku, wajah cantikmu bersinar di dalam hatiku seperti pada cermin ….

Aku benar-benar merindukan mu disini di Beirut, banyak tempat indah untuk di kunjungi di kota dan di pantai. Sayang sekali sayangku tidak bersamaku…..Ini perjalanan terbaik sejauh ini tapi kau benar-benar kurindukan.

Aku rindu anak kita, Aku berdo’a agar Tuhan melindungi kalian. Aku sangat mencintaimu.

Do’a dan Salam…

Ruhullah Khomeini

***

cries..cries..cries.. real tears! may Allah light his place in hereafter..

One thought on “A Beautiful Light of Imam Khomeini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s