Posts by Milta M. Andika R.

.. khadim ahlulbayt ..

Menyapa Kembali

Masih ada yang menulis blog dan membaca blog di wordpress kah? Atau sudah pada berpindah ke medium? Statistik menurun tajam ya, artinya nampaknya blog sudah mulai ditinggalkan. Tapi rasanya tidak rela meninggalkan halaman rumah kedua saya ini. Mari kita beres-beres.

Beberapa waktu lalu login lagi ke blog ini dan iseng-iseng merubah theme/tampilan halaman dari blog ini. Mencoba berbagai theme, tapi ga ada yang cocok dengan saya, dan ketika mau kembali ke tampilan sebelumnya, saya lupa nama penyedia theme-nya. Diubek-ubek di dashboard tetap tidak ketemu, haha. Ngubek-ngubek dashboard lagi untuk cari theme yang mungkin saya suka, ada yang saya suka! Eh tapi ko ketika mau atur-atur widgetnya, saya gagap banget! 😀

Dulu padahal urusan atur widget demi tampilan penuh pencitraan bisa sat set sat set lancar. Pengaruh usia, hehehe. Besok-besok lagi deh atur-aturnya. Sekarang fokus di menumbuhkan kebiasaan menulis lagi dulu. Kata salah seorang creative speaker, setidaknya kita itu perlu satu wadah untuk menuangkan fikiran, sehingga semua tidak hanya tertinggal dan berlalu di fikiran. Ya apalagi otak saya kapasitasnya semakin berkurang. Mari menulis lagi!

Tapi dengan keinginan menulis lagi ini, saya jadi kefikiran..Menentukan batasan untuk diri sendiri yang boleh dan tidak boleh dituliskan bagaimana ya?

Tentang Kehilangan Video dan Foto di HP

Sudah lama sekali tidak menulis disini. Tidak sibuk, hanya malas saja, Terbawa arus bahwa platform menulis sebagai “caption” pada sebuah gambar terasa lebih menyenangkan.. yak, instagram dan sejenisnya!

Lagi sedih, ingin menulis agak panjang.

Minggu lalu iPhone saya bermasalah, hanya masuk logo, setelah itu restart terus menerus. Nampaknya, berawal dari keterlambatan updtae iOS ke versi terbaru. Dan keterlambatan itu juga disebabkan karena full storage, lalu malas mengaturnya, sehinggan iOS tidak terupdate secara otomatis, tapi harus manual.

Dibawa ke counter service katanya harus factory reset dan install ulang iOS. Semua data foto, video, dokumen..hilang. Kemarin-kemarin belum terasa sedih, karena masih seneng euphoria bisa pakai hp lagi setelah 5 hari off.

Baru terasa sedihnya hari ini.

Hari ini sejujurnya cape banget, beberapa hari terakhir anak-anak diare.. Lalu yang satu plus sariawan, yang satu plus tumbuh gigi. Keduanya jadi susah makan. Akhirnya beberapa malam terakhir tidur mereka tidak nyenyak, beberapa kali bangun dan menangis. Pastinya karena lapar, sehingga tidur tidak nyaman. Dan ini tanggal tua, hati deg-degan cukup ga uang belanja sampai akhir bulan.

Hari-hari yang bisa dilalui tanpa memarahi anak, adalah hari-hari yang patut disyukuri. Tapi hari ini rasanya meledak. Jadi marah-marah ke anak-anak untuk hal-hal yang seharusnya tidak perlu marah.

Menjelang mereka tidur pun saat-saat yang menguras emosi. Mereka ingin tetap bermain, meskipun badannya sebenarnya sudah menolak dan meminta segera beristirahat. Kalau sang Ibu, memang selalu dari sehabis Magrib battery mulai lemah, sehingga ngantuk-ngantuk. Akhirnya mereka tidur, mungkin dengan sedikit kesal karena harus saling adu menang dengan saya.

Ketika melihat mereka tidur, barulah rekaman demi rekaman tentang mereka muncul di ingatan. Harusnya hari ini saya bisa lebih sabar, lebih menemani mereka dan “benar-benar hadir” bagi mereka. Harusnya lebih banyak bersyukur, mereka adalah anugerah terindah yang diamanahkan kepada saya.

Kalau sedang haru seperti ini, suka ingin melihat kembali masa-masa dari mulai mereka baru lahir, bertumbuh dari hari ke hari. Tidak menyangka kehilangan ratusan foto dan video mereka bisa sesedih ini. Banyak kenangan yang sangat berkesan tersimpan dalam foto dan video yang tak mampu diingat oleh memory otak saya. Merasa kehilangan sekali.

Setidaknya momen 2 tahun 3 bulan dalam kehidupan mereka yang terekam kini jadi tidak dapat diputar kembali, kecuali mengandalkan ingatan. Padahal mereka senang sekali melihat foto-foto dan video-video mereka dulu. Sehari-hari saya senang sekali mengabadikan saat ketika mereka sedang makan, liburam, bermain, tidur..

Betapa luar biasanya pertumbuhan mereka. Ingin menuliskannya disini beberapa saat yang saya anggap berkesan dalam pertumbuhan mereka agar suatu saat dapat kami baca kembali.

  1. proses belajar makan squishy 1 yang mengadopsi BLW. Usia 7mo dia sudah bisa makan sop iga dan mengecap seluruh bagian daging iga beserta tulangnya.
  2. kakinya bergoyang-goyang menikmati setiap sesi makan di kursi makannya.
  3. Squishy 1 seringkali diajak berlibur, dan lebih banyak pula bersosialisasi dengan orang lain. Sedangkan squishy 2 lahir hanya 2 bln sebelum pandemi, sehingga hampir tidak ada momen berliburnya dan sedikit sekali rekaman dia bersama orang lain selain kami.
  4. Foto-foto dan video saat saya memberikan mereka media mainan edukatif. Squishy 1 di usia 15mo sudah dapat mengelompokkan warna. Media permainan kesukaan dia saat itu adalah pompom beraneka warna.
  5. Squishy 1 sangat sering saya ajak earthing, duduk di atas rumput tanpa alas kaki dan tanpa pakaian panjang.
  6. Squishy 2 saya ajarkan makan spoonfed, dan saya perkenalkan perrmainan motorik kasar dengan media menyentuh es batu.
  7. Squishy 2 hingga saat ini (usia 13mo) masih belum nyaman menginjak rumput. Earthingnya sangat terbatas.
  8. Usia 14mo squishy 1 sudah bisa makan pakai sendok sendiri, dan makanan yang paling ia sukai di masa-masa itu adalah bubur kacang ketan hitam dan tekwan.
  9. Squishy 2 dapat meminum dari sedotan tanpa pernah saya ajarkan, dia hanya mencontoh kakaknya.
  10. Saya suka sekali memotret masakan yang saya buat untuk mereka.

banyak sekali..semua berkelebat putus-putus dalam ingatan. Ingatan kita sudah banyak kontaminasi, sehingga untuk merekam semua kejadian 2 tahun terakhir saja begitu sulit.

Momen kebersamaan dengan keluarga lebih penting, “kehadiran penuh” untuk keluarga tak dapat digantikan oleh apapun. Oleh alat penyimpan tercanggih manapun. Berusaha untuk selalu menanamkan kenangan terbaik yang akan mereka rekam dalam ingatan mereka, untuk mereka ingat di masa mereka tumbuh kemudian. Semoga lebih banyak waktu untuk kami bersama dan mengungkapkan cinta satu sama lain.

Menuliskannya sambil menangis.

Tentang Jenis Kelamin Bayi

2 minggu lalu saya melahirkan putri kedua saya, dan kebahagiaan bertambah meliputi diri saya.

Sejak awal kehamilan banyak yang mendoakan “semoga anaknya laki-laki ya, biar sepasang”. Beberapa bertanya “udah usg belum? anaknya laki-laki atau perempuan?”. Ada yang bahkan terang-terangan mengatakan “wah perempuan lagi anaknya, coba lagi satu atau dua kali lagi lah biar dapat anak lelaki”.  why oh why people can be so toxic to others.

Entah bagaimana budaya kita sangat concern terhadap jenis kelamin janin dibanding kondisi kehamilan dan kondisi sang ibu misalnya. Diakui atau tidak, di masyarakat kita gap gender masih sangat tinggi. Anak laki-laki dianggap lebih terhormat kedudukannya, sehingga kehadirannya lebih dinantikan dibanding anak perempuan. Anak laki-laki dianggap lebih mendatangkan tahta, mengamankan harta, dan simbol kebanggaan serta kekuatan sebuah keluarga. Oh ya, tidak jarang terjadi “harapan tinggi” untuk memiliki anak laki-laki itu datangnya dari sang ayah.

Merasakan hamil 2 kali, dan melahirkan 2 kali, merasakan janin bersatu dengan diri di dalam buaian, perihal jenis kelamin janin tidak pernah menjadi concern utama saya. Mestinya memang fikiran seorang ibu hamil dijauhkan dari fikiran-fikiran yang mengganggu. Jenis kelamin janin sudah ditetapkan Tuhan satu paket dengan takdir yang akan meliputinya di masa depan, mengapa harus menjadi fikiran yang mengganggu bagi ibu? Fikiran ibu hamil dan ibu yang baru melahirkan sangat rentan terpegaruh karena mood swing akibat perubahan hormon, ketika sering ditanya mengenai jenis kelamin anak, alam bawah sadarnya akan terus memikirkan pula hal tersebut dan melupakan hal lain yang lebih penting perihal kehamilan yaitu kesehatan Ibu dan janin, nutrisi ibu dan janin, psikologis ibu dan janin, yang justru akan berefek panjang hingga di masa depan.

Berapa kalipun saya hamil dan memberikan kehidupan kepada anak perempuan, saya akan tetap bahagia dan tidak akan membiarkan orang lain menghancurkan kebahagiaan itu.

Memiliki Seorang Putri

and how different my life these daaaaayss!

Karena saya memiliki bayi yang sekarang hampir berusia 8 bulan. Dia yang selama di dalam buaian hampir 40 minggu lamanya itu kini menemukan perwujudannya. Pelipur setiap lara saya. Selalu merasa takjub dengan segala kejutan yang mengiringi kehadiran dan pertumbuhannya.

seketika menangis haru ketika menuliskan ini.

bersambung lain waktu..

Regret

I know its not normal when most of the time i think that current situation might be better if i decided to take the other choice, just not this. It’s a backward-looking, unpleasant feeling in which I tended to blame myself and wish I could undo the past.

Letting go is not as easy as how we think of it. Maybe..maybe time will heal everything. But it’s take everything on me to try to be honest to myself that I made mistake, that I should learn from the mistake instead of drowning myself in regret.

 

Tired of this feeling.

May Allah make it easier for me.

Tentang Kepergian

Beberapa saat lalu mendengar kabar mengenai kepergian salah seorang rekan. Sebenarnya saya dengan almarhum tidak begitu saling mengenal, sedikit sekali saling mengobrol untuk waktu yang lama. Namun setiap kali berpapasan, pasti almarhum menyapa lebih dahulu. Bahkan, mungkin.. almarhum tidak tahu nama saya. Hanya menyapa saja, karena itu sudah menjadi karakternya. Sebaliknya, saya hafal namanya, karena begitu seringnya nama almarhum disebut rekan-rekan saya yang lain. Almarhum begitu dikenal oleh kami.

Apa pasal? Mengapa beliau begitu dikenal? Adalah karena pengkhidmatannya yang luar biasa kepada sesama. Saya ceritakan sedikit saja apa yang membuatnya “bersinar”.

Misalkan dalam sebuah acara pengajian, beliau bukan mereka yang duduk di ruangan mendengarkan kajian, namun akan menjadi orang yang pertama membagikan penganan, membereskan sendal dan sepatu, membersihkan ruangan, memunguti sampah-sampah yang tercecer. Beliau juga begitu mudah dimintai tolong. Siapa saja yang pulang kemalaman, beliau akan sedia mengantar.

Saya pernah mendengar dari Ustadz, bahwa kita seringkali diberikan pilihan untuk mengambil atau memberi. Misal ketika berdesakkan di depan dinding Ka’bah, apakah kita akan turut serta berdesakan hingga mampu menyentuhnya, ataukah mendahulukan orang lain untuk menyentuhnya? Melihat orang tua berdiri di bus kota, apakah kita akan memberikan kursi kita kepadanya, ataukah kita akan tetap pura-pura terlelap?

Memberi atau mengambil. Kedua pilihan itu selalu menyertai kita.

Hujan ucapan duka dan doa mengiringi kepulangan rekan tersebut. Kebaikannya dikenang. Dan semua berduka. Betapa bahagianya beliau dapat beroleh kemuliaan yang demikian.

Mengingat rekan saya yang berpulang tersebut, saya memikirkan bagaimana kiranya kepergian saya akan dikenang orang lain.

On Jealousy

Saya merasa diri saya pencemburu yang parah terhadap suami. Tapi biasanya cemburu saya tidak berbentuk marah-marah dan berargumen keras dengannya. Jika cemburunya terlihat dalam suara yang lebih tinggi, dapat dipastikan itu bukan marah atau cemburu yang sebenarnya, hehe. Kebanyakan wanita memang memilih diam ketika ia marah. Saya termasuk yang demikian. Sebaper drama Korea saja, di dalam hati bergemuruh, menyedih-nyedihkan keadaan, lalu menangis mengasihani diri sendiri, menyalahkan keadaan, akhirnya sulit menentukan; sebenarnya yang membuat saya cemburu kepada suami itu apa.Ternyata hal itu terasa ga sehat banget. Kita jadi tidak respek terhadap diri sendiri. Fikiran juga jadi kalut terus.

Jadi ingat ucapan seorang teman, selayaknya lah semua bermuara dan kembali kepada Pemilik Hati. Kita tidak bisa menggenggam terlalu erat rasa cinta itu. Semuanya berada di genggamanNya.

Sebagai laki-laki, fitrahnya suami adalah makhluk yang bebas. Bebas berkehendak, tetapi setiap perbuatannya diikuti oleh tanggung jawab dan konsekuensi. Berbeda dengan seorang istri, ketika perjanjian agung diikrarkan, ia menikahkan dan menyematkan dirinya kepada suaminya (bukan sebaliknya), mahar dia terima, beberapa hak dalam kebebasannya ditebus. Rasa malu menjadi harga diri dan jihad terbesarnya. Ini bukan gap gender, tapi memang alaminya demikian.

Fitrahnya memang suami tidak dapat menghindar dari aktivitas sosialnya. Gravitasi hidupnya lebih banyak, hak-hak sosialnya lebih luas, oleh karenanya rentan dengan segala resikonya. Perlu tameng lebih lebih ekstra dari dirinya untuk mengendalikan fitrahnya itu. Sehingga, apa yang dapat mengontrolnya adalah tingkatan ilmunya mengenai tanggung jawabnya di dunia dan di akhirat. Harga dirinya ada pada fikiran dan sikapnya.

Sebagai istri, saya tidak berhak membatasi kehidupan interaksi sosial suami, itu jelas melawan haknya. Saya hanya dapat mengingatkan tentang tanggung jawabnya dan bahwa apapun yang kita miliki bermuara dan berakhir padaNya. Seorang istri tidak bisa menjadi gawang terus untuk membatasi gerak suami, lelah sendiri nanti. (:

Betapa manusianya kita yang dapat terlemahkan oleh sesuatu yang kita genggam terlalu erat. May Allah give us strength to manage jealousy…amin.

Cemburu wanita yang berlebihan akan menyebabkan kerusakan, sedangkan cemburunya laki-laki adalah kehormatan

– Imam Ali as

 

p.s : Sudah lama sekali tidak menuangkan fikiran di dalam tulisan, mungkin juga karena berkurangnya aktifitas membaca. Ini jelas sebuah kemunduran, mari berdayakan jiwa lebih baik lagi. (:

Backpacking ke Singapura Part 1 : Belajar Familiar dengan MRT dan Check In Backpacker Hostel

 

Day 1 : 8 Nov 2013

Adalah perjalanan backpacking pertama sendirian (dan dijebak sebetulnya, hehe!). Adalah seorang teman dekat menghadiahkan kado ulang tahun berupa tiket pulang-pergi Bandung-Singapore-Bandung include backpacker hotel di Singapura (he’s too kind!). Janjinya, dia akan pergi bersama..

Di hari-hari menjelang keberangkatan, berdalih pekerjaan di kantornya, dia tidak dapat ikut serta. Belakangan akhirnya tau, bahwa dia menyadari saya begitu menginginkan backpacking sendiri, namun tidak berani untuk memulai. Terjebaklah oleh akal bulusnya! hehe.

Untuk menghibur saya yang berang seketika, dia menyengajakan dirinya terbang dari luar pulau untuk melepas pengalaman saya berangkat backpacking sendiri itu. Such a good friend ya! Kami sampai di Bandara Hussein Bandung jam 9.00, dan flight masih 3 jam kemudian. Kami menunggu di vip lounge Bandara, all you can eat breakfast @75.000/orang, yeay! Sembari melihat ke arah landasan pesawat; minum teh panas, minum fruit smoothie, makan jagung rebus, pasta, coklat, dan entah apa lagi! Full like a bull!

109896099

Sedang asik makan tiba-tiba ada panggilan untuk saya segera melakukan checkin pesawat..bismillah.. (sebelumnya di rumah saya membuat 2 kotak nasi goreng dari rumah, 1 kotak saya berikan padanya, 1 kotak saya bawa terbang ke Singapura)..

Sampai di Bandara Changi 14.45, nervous! Abis ini mau ngapain?! Ini bandara gede banget, katanya salah satu bandara paling ramai (dan salah satu layanan paling bagus di dunia!). Mengisi formulir tinggal sementara (copy dokumen tersebut jangan hilang, simpan di tempat penting, karena akan diminta kembali ketika pulang dari Singapura), yang fungsinya sebagai bukti izin tinggal/bervakansi sementara di Singapura. Jam 05.00 pm nanti ada jadwal bertemu cod tiket wahana wisata sama timnya Mba Fransisca. Nemu threadnya Mba Sisca mengenai tiket wahana wisata melalui thread Kaskus di sini :  http://kask.us/gV0yG  Enak banget kerjasama dengan Mba Fransisca ini, helpful banget dan bahkan sampai kasih rekomendasi buat ittinerary biar waktu selama di sana bisa efektif banget.

Sambil nunggu waktu buat cod, dan belum tau dari Changi itu mesti gimana buat sampai ke St.Orchad, akhirnya explor dulu Bandara Changi sembari cari mushala. Usahakan ambil beberapa brosur/buku panduan wisata Singapura yang tersedia di sekeliling bandara. Ada banyak banget taman tematik di bandara Changi (Sun Flower Garden, Taman Biota Laut, Home Theatre, Bioskop, Kursi yang dapat memijat, dsb dan semua itu free!), tapi karena cuma punya waktu  2 jam dan mesti ada waktu buat belajar MRT, akhirnya hanya mengunjungi taman-taman yang dilewati sebelum menuju St. Changi.

IMG_0896

IMG_6735

SAM_0582

Refill dulu deposit Ez-link (kartu Ezlinknya minjem temen aja guys, biar irit! Hehe) 15SGD (kayanya cukup kalau buat mrt aja! Waktu itu kurs SGD cuma 7ribuan rupiah). Dan setelah refill Ezlink, welcome to the real super fast transportation! Bingung banget mesti gimana belajarnya. Dan dimulailah mempelajari garis-garis rute-rute merah-kuning-hijau-biru dan intersection. Agak mengerti sedikit setelah 30 menitan belajar. Jadi sedikit faham, untuk menuju Orchad mesti naik kemana (lupa rutenya, liat aja sendiri petanya). Yang jelas, setelah berhasil bertanya dan ditemani mas-mas oriental yang mau ketemuan sama pacarnya, akhirnya berhasil sampai di St. Orchad. 1 jam perjalanan, 2 kali intersection, yang ternyata mesti turun naik tangganya entah berapa kali macam di mall untuk mencapai stasiun-stasiun intersection itu.

Dan.. laper melanda! Maan.. sekeliling stasiun MRT include di dalam keretanya itu kan ga boleh makan sama sekali ya, dan ini itu udh lewat jauh dari jam makan siang, dan bahkan hampir sampai di jam makan malem. (notes, baru tau, kalau di lantai paling bawah tiap stasiun MRT itu ternyata surga makanan, banyak foodcourtnya, jadi kalau laper tinggal kesana.) Sepanjang perjalanan Changi-Orchad dibuat bingung, orang-orang Singapura pada makannya dimana ya pada ga laper apa?!

Janjian di St.Orchad jam 05.00 pm, dan jam 4.15 pm udh di St.Orchad. Daripada bingung mau ngapain, akhirnya belajar mrt lagi! Lapar membuat aliran oksigen ke otak jadi agak susah, jadinya cepat lupa, hehe. Akhirnya datanglah Mas Johny, whatsappan (dan wifi St. Orchad itu lambat banget), akhirnya sms yang mahal ampun! Yang penting tiket udah di tangan. Saya pesan: (detail wahana nanti yaaa.. :D)

1 Singapore River Cruise adult @S$11, 1 Singapore Flyer nonpeak (before 6pm) adult @S$21, 1 XD theater adult @S$12 , 2 Song of the Sea 2nd show on 09/11 @S$8.50 : Total S$52,5.

Selesai cod, bersiap lagi masuk ke kereta menuju Clarke Quay tempat hostel saya berada. Tidak terlalu jauh sih dari St. Orchad ke St. Clarke Quay itu, cuma tetap saja naik turun tangga dalam keadaan laper (tapi tetep mesti terlihat kece) itu penuh perjuangan banget! 😀 Dan ketika check out dari mrt St. Clarke Quay, teng-tong, kena fine 2SGD karena kelamaan berada di Stasiun MRT tanpa checkout katanya.. hehe..Fine itu sebetulnya untuk menghindari para penumpang yang modus cari tempat buat tidur di mrt dan menghindari terjadi penumpukan penumpang. Tapi karena Ibu petugasnya baik, akhirnya malah ngobrol cari jalan cepat buat keluar ke arah Clarke Quay.

Dan ketika menemukan wayout, ternyata way outnya itu dari dalam The Central Building. Keluar dari gedung itu rasanya menghirup udara segar, dan ternyata udah gelap banget, which is itu pasti udah lewat magrib. Bingung lagi mau ngapain, akhirnya buka peta buat cari jalan menuju penginapan Woke Home Capsule Hostel di area itu. Sedang kebingungan gitu, tiba-tiba ada mas-mas baik menghampiri dan menanyakan apa saya perlu bantuan. Dan ternyata itu beneran mas-mas loh, dari Jawa Tengah, namanya Hadi! 😀 akhirnya berjalanlah berdampingan (haha!) dengan Mas Hadi itu menuju Woke Home Capsule Hostel, dan baik mas Hadinya, ngga kurang ajar. Saying goodbyenya juga baik-baik, di bawah gedung Woke Home Capsule Hostel.

Woke Capsule Hotel itu berada di Ruko no 61 di South Bridge Road, accesssible banget sebenernya. Lupa di lantai berapa, kalau ngga salah Woke Home Capsule Hostel itu memakai 2 lantai dari ruko 61 itu (lantai 2 untuk campuran, lantai 3 khusus ladies). Lalu checkin, dan mulai ada hal aneh yang menyebalkan. Tapi bukan backpacking namanya kalau ngga menemukan pengalaman itu.

Tiba-tiba stafnya ngasih tau kalau kamar buat saya ngga available karena bocor sehabis hujan, dan akhirnya saya mesti dipindah ke Blissfull Loft (which is itu kondisinya agak lebih ngga nyaman dibanding Woke Home). Blissful Loft cuma berjarak sekitar 50meter dari Woke Home, tapi rukonya lebih terlihat spooky dan sepi. Yang paling membuat ngga nyaman di Blissful Loft itu sebenernya ruangan khusus ladies dan ruangan campuran itu cuma dikasih sekat hordeng doang! Masuk ke ruangan kamar saya mesti melewati dulu barisan ranjang campuran cowo-cewe turis yang lagi pada tidur dan aduh itu ada mas-mas rambut pirang yang bobo ga pakai baju atasan, di ranjang susun seberangnya mba-mba lagi bobo juga sambil peluk carrier!

Masuk ke kamar ladies dan menempati ranjang sesuai nomor yang dikasih staff tadi, bingung melihat sekeliling. Membayangkan di Woke Home pasti akan safety banget dan privacy banget karena tertutup capsulenya, sedangan di Blisfull itu adalah deretan ranjang susun yang open space, jika gorden dibuka oleh cowo.. habislah sudah!

338035_16111617160048783739

blissful-loft-i4376225x1

Mulai unpack dan mandi. Baru hari pertama, sudah rindu rumah. Apa pasal? Adalah karena menyadari bahwa semua toilet yang saya temui di Singapura tidak disediakan air untuk membersihkan, tapi pakai tissue! Dan saya sangat merasa tidak nyaman. Ditambah dengan kenyataan bahwa membeli air mineral untuk membersihkan diri di toilet itu akan sangat mahal sekali man! Alternatif? Jika di hostel masih mending, bisa menadah air di bathroom, lalu dibawa ke toilet, tapi jika di toilet umum? Damn. Akhirnya lifehacknya, membasahi tissue dengan air, dan tissue basah itulah yang dipakai untuk membersihkan. sedikit lebih baik.

Calming down sejenak di public space Blissful sambil makan sedikit nasi goreng yang dibawa dari rumah tadi pagi. Agendanya malam itu akan menuju ke pengajian Muharram di East Coast. Salah satu yang membuat keukeuh ke Singapore meskipun sendiri adalah Pengajian itu. Ada ulama favorit saya asal Iraq (Sayyid Hadi Qazwini) yang akan mengisi kajian Muharram yang diadakan salah satu komunitas di East Coast. Tadinya mau minta tolong bantuan teman saya disana untuk berangkat bersama, ternyata tidak memungkinkan karena faktor keluarganya. Akhirnya berfikir keras bagaimana menuju kesana.

Bertanyalah sejenak ke staff Blissful mengenai rute ke East Coast. Dan maaan, ternyata itu jauh sekali dari tempat saya berada ini. Perjalanan dengan taxi (tanpa macet) bisa 2 jam, dan biaya taxinya akan menghabiskan seluruh dari bekal saya! 😀 akhirnya merelakan pengajian itu, dan rasanya hancur, merasa putus asa karena tersesat padahal tidak tersesat.

…merasa sepi…

<bersambung ke part 2>