Tentang Kepergian

Beberapa saat lalu mendengar kabar mengenai kepergian salah seorang rekan. Sebenarnya saya dengan almarhum tidak begitu saling mengenal, sedikit sekali saling mengobrol untuk waktu yang lama. Namun setiap kali berpapasan, pasti almarhum menyapa lebih dahulu. Bahkan, mungkin.. almarhum tidak tahu nama saya. Hanya menyapa saja, karena itu sudah menjadi karakternya. Sebaliknya, saya hafal namanya, karena begitu seringnya nama almarhum disebut rekan-rekan saya yang lain. Almarhum begitu dikenal oleh kami.

Apa pasal? Mengapa beliau begitu dikenal? Adalah karena pengkhidmatannya yang luar biasa kepada sesama. Saya ceritakan sedikit saja apa yang membuatnya “bersinar”.

Misalkan dalam sebuah acara pengajian, beliau bukan mereka yang duduk di ruangan mendengarkan kajian, namun akan menjadi orang yang pertama membagikan penganan, membereskan sendal dan sepatu, membersihkan ruangan, memunguti sampah-sampah yang tercecer. Beliau juga begitu mudah dimintai tolong. Siapa saja yang pulang kemalaman, beliau akan sedia mengantar.

Saya pernah mendengar dari Ustadz, bahwa kita seringkali diberikan pilihan untuk mengambil atau memberi. Misal ketika berdesakkan di depan dinding Ka’bah, apakah kita akan turut serta berdesakan hingga mampu menyentuhnya, ataukah mendahulukan orang lain untuk menyentuhnya? Melihat orang tua berdiri di bus kota, apakah kita akan memberikan kursi kita kepadanya, ataukah kita akan tetap pura-pura terlelap?

Memberi atau mengambil. Kedua pilihan itu selalu menyertai kita.

Hujan ucapan duka dan doa mengiringi kepulangan rekan tersebut. Kebaikannya dikenang. Dan semua berduka. Betapa bahagianya beliau dapat beroleh kemuliaan yang demikian.

Mengingat rekan saya yang berpulang tersebut, saya memikirkan bagaimana kiranya kepergian saya akan dikenang orang lain.

Advertisements

Milangkala

Bahkan jika doamu hanyalah ucap syukur, mungkin itu cukup.
Bahkan jika penyucian dirimu hanyalah penerimaan diri, mungkin itu cukup.
Bahkan jika pengkhidmatanmu hanyalah rasa belas kasih, mungkin itu cukup.
Bahkan jika yang dapat kamu tawarkan hanyalah empati, mungkin itu cukup.
Bahkan jika ritualmu hanyalah pemberian maaf, mungkin itu cukup.
Bahkan jika yang dapat kau tebarkan  hanyalah rasa damai, mungkin itu cukup.
Bahkan jika tabungan ibadahmu hanyalah kautahan dirimu dari dosa, mungkin itu cukup.

…Selamat berulang tahun.

Kamu berhutang budi yang tak mampu kau tunaikan kepada mereka yang mengucap doa-doa untukmu. Baik mereka yang mengucap doa tertampak di hadapanmu, mengalirkan lautan air matamu. Atau mereka yang melirihkan doa untukmu dalam heningnya, bahkan desau angin tak mampu tiupkan senyap doanya.

Critical Eleven.

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven; sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu.

In a way, it’s kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

***

what kind of things you see on me on our critical eleven?

… Life is too short to hold grudges, happy moments are better to behold …

 

i can’t remember any names who hurt me or i hold grudge to. People are so masha Allah kind to me.. Alhamdulillah.

let go of your angers and grudges, you deserve to sleep peacefully every night. forgive people not because how they hurt you, but because your heart deserves peace.

A Beautiful Light of Imam Khomeini

Membaca postingan di salah satu grup di Bulan Februari ini..

Istri Imam pernah berkata;

”Aku tidak pernah terbangunkan oleh Imam saat ia melakukan Salatul Lail karena ia tidak pernah menyalakan lampu kamar, ketia Ia melakukan Wudhu, Ia akan menempatkan spons/busa di wastafel bawah keran sehingga suara air yang jatuh tidak akan membangunkan saya”

Agha (Panggilan Istri kepada Imam) selalu menawarkan tempat yang lebih baik di dalam ruangan. Dia tidak akan mulai makan sampai aku datang ke meja makan. Dia juga akan meberitahukan anak-anak “Tunggu sampai Ibu datang”, Ia bahkan tidak ingin saya bekerja di rumah, Dia akan selalu memberitahu saya: “Jangan menyapu”. Jika saya ingin mencuci pakaian anak-anak di kolam, dia akan datang dan berkata : ”Bangunlah, kau tidak harus mencuci”.

Secara keseluruhan, saya harus mengatakan, bahwa Imam tidak menganggap menyapu, mencuci piring bahkan mencuci pakaian anak-anak kami sebagai bagian dari tanggung jawab saya. Jika keadaan memaksa dan saya kadang-kadang melakukan juga, Ia merasa kesal karena menganggap hal itu adalah hal yang tidak adil bagi saya. Bahkan ketika saya memasuki ruangan, dia tidak pernah mengatakan “Tutup pintu di belakangmu” tapi menunggu sampai saya duduk dan kemudian Ia sendiri bangkit dan menutup pintu.

Putrinya, Siddika, mengatakan “Ayah saya memiliki rasa hormat yang luar biasa kepada Ibu saya. Dalam Kurun waktu 60 tahun hidup bersama ia bahkan tidak menghampiri atau menyentuh makanan (di meja makan) sebelum istrinya, Ia juga tidak banyak berharapdari (istri)nya. Aku bahkan dapat mengatakan bahwa dalam masa 60 tahun hidup bersama, tidak pernah ada waktu dimana Ia bahkan meminta segelas air, Ia selalu mendapatkan nya sendiri, tidak hanya kepada istrinya, namun juga perilaku tersebut kepada anak-anak putri nya . Jika Ia perlu air, kami semua antusias akan berlalri mendapatkan nya tapi tidak pernah Ia meminta kami mengambil dan memberi nya segelas air ke tangannya.

Selama hari-hari terakhir yang sulit pada sisa hidupnya, setiap kali membuka matanya dan jika Ia mampu bicara, Ia akan bertanya “Bagaimana Khonum (Panggilan Imam kepda Ibunda kami) Perlukah kami minta ia datang kepadamu ? Ia akan menjawab “Tidak, punggungnya sakit, biarkan Ibu mu beristirahat” Dalam sakitnya pun, Imam ga ingin merepotkan istrinya.

Ini salah satu isi Surat Cinta Imam untuk Istri tercinta :

Untuk Istriku Tercinta,

Oh sekiranya aku mati buatmu, aku selalu ingat kepadamu, ketika engkau – cahaya mataku, penopang Jiwaku, jauh dariku, wajah cantikmu bersinar di dalam hatiku seperti pada cermin ….

Aku benar-benar merindukan mu disini di Beirut, banyak tempat indah untuk di kunjungi di kota dan di pantai. Sayang sekali sayangku tidak bersamaku…..Ini perjalanan terbaik sejauh ini tapi kau benar-benar kurindukan.

Aku rindu anak kita, Aku berdo’a agar Tuhan melindungi kalian. Aku sangat mencintaimu.

Do’a dan Salam…

Ruhullah Khomeini

***

cries..cries..cries.. real tears! may Allah light his place in hereafter..

Jalan Kampus Dua

If people knew how far their words went when they hurt other people… if only they knew.

Have you ever thrown the ball to the wall and you underestimated your strength, and the ball ended up back to your face; made it bruises ?

That’s kind of hurtful words do. You think you’re just throwing them at someone’s face but really you’re launching them through their entire body, through their heart, slicing their heart into pieces. You bruise them.

entah saya yang terlalu sensitif atau bagaimana, bahkan cara seseorang melihat saya dengan matanya bisa menyakiti saya begitu rupa. dan terlebih lagi bukan hanya pandangan, ucapan yang menyakitkan bisa lebih melukai saya tanpa ampun.

***

Begitu merindukan teman-teman di rumah itu. Yang akan memeluk saya, “mari sini, pasti lelah seharian di kantor, minum teh dulu..” Ibu itu akan mengantarkan sendiri dengan tangannya aneka kue hidangan di piring ke hadapan saya, dan tak akan pergi sebelum saya mengambilnya. Mereka memasak dengan tangan dan uang mereka sendiri seluruh hidangan untuk para tamu yang sekian banyaknya itu..

“jangan datang dalam keadaan kenyang, datang kesini kapanpun sedang lapar, dan mohon jangan pulang sebelum kenyang..”

Ada berkah dari setiap makanan itu, makanan yang diolah oleh tangan-tangan yang paling lembut di rumah.. dimasak penuh pengkhidmatan. Pengkhidmatannya luar biasa.

Rindu mereka.

Dari sekian banyak orang-orang yang berlalu di sekitarmu, ada seleksi alam yang mengirimkan nama-nama terpilih kepada hatimu. Nama dari orang-orang yang akan menerima dirimu seutuhnya, bukan karena kamu apa atau siapa, karena dirimu saja. Your whole being . Mereka yang tidak akan mengkhianatimu.

Berikan penghormatan kepada mereka, kirimi mereka doa.

Can’t wait to see them tonight.

Teringat potongan lirik dari lagu karya Sunan Bonang yang dipopulerkan Pak Emha Ainun Nadjib; untuk mengobati hati yang luka, untuk mengobati hati yang rusak..

Tombo ati iku limo perkarane

Kaping pisan moco Qur’an lan maknane

Kaping pindo sholat wengi lakonono

Kaping telu wong kang sholeh kumpulono

Kaping papat kudu weteng ingkang luwe

Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe

Salah sawijine sopo bisa ngelakoni

Mugi-mugi gusti Allah nyembadani

.. salah satu obat hati adalah berkumpullah dengan orang-orang shalih ..

***

p.s : reading Osama’s index to calm my heart

  1. What in The Qur’an can help me?
  2. How do we know if God is actually good?
  3. How do I get closer to God?